TripTrus.Com - Kepala Dinas Pariwisata Medan, Yuda Setiawan, bilang begini nih, guys, mereka bakal bikin pameran keren banget buat perusahaan-perusahaan start up, yang judulnya "Medan Start Up Exhibition" bulan Oktober 2023. "Nih, tanggalnya, insyaallah, 24 Oktober 2023," kata Yuda ke ANTARA di Medan, hari Rabu kemarin.
Dia ngejelasin, acara ini buat ngumpulin anak-anak muda yang lagi ngerintis start up, yang berhubungan sama ekonomi kreatif Medan. Yuda lanjutin lagi, salah satu target mereka adalah anak-anak yang lagi ngerintis start up di kampus-kampus di Medan nih.
Mereka bakal diajak ketemu sama pemilik start up yang udah sukses biar bisa tukeran cerita dan ilmu. "Kita juga bakal undang pengusaha start up kawakan dari Medan dan sekitarnya. Biar bisa bagi-bagi rahasia kesuksesan," ucap Yuda.
Sekarang, Dinas Pariwisata Medan lagi fokus banget nih buat bikin acara seru, dari yang skala nasional sampe internasional, buat bikin ekonomi kreatifnya Medan makin kuat dan buat nambahin wisatawan yang dateng ke Medan.
[Baca juga : "Sumbar Gelar FWBTb, Festival Keren Warisan Budaya Tanpa Batas Di Kota Payakumbuh!"]
Selain pameran perusahaan start up, Yuda bilang mereka bakal bikin macem-macem acara keren lainnya, kayak Anugerah Musisi Medan, festival makanan enak, dan acara yang nampilin pesona keberagaman budaya Medan.
Nah, buat ngadain acara-acara kaya gitu, Dinas Pariwisata Medan bakal kerja sama sama penyelenggara acara yang udah jago-jago di Medan. Buat pertunjukan budaya, kaya yang pesona multietnis, Yuda ngerasa ini penting banget, guys, soalnya di Medan kan banyak banget suku-suku yang tinggal di sini.
Pemerintah Kota Medan juga ngerasa kalo melestarikan budaya itu penting banget. "Pasti buat ngadain acara kaya gini, kita bakal koordinasi sama temen-temen yang peduli budaya di Medan," ujar Yuda. (Sumber Foto @antaranews.com)
...moreTripTrus.Com - Tak perlu lagi ke Maldives untuk mencoba menginap di resort mewah di tepi laut andalannya itu. Nyatanya, Indonesia memiliki beberapa pulau yang menyediakan resort serupa. Misalnya di Pulau Bintan.
Salah satu pulau unggulan Provinsi Kepulauan Riau ini menerima ribuan wisatawan mancanegara setiap tahunnya. Berikut beberapa destinasi Pulau Bintan yang menjadi "surga" para wisatawan.
1. Lagoi Bay
View this post on Instagram
There’s “I need a holiday” then there’s “I need a break”. Right now I’m feeling for both . . . . . #travel #photography #nature #love #instagood #photooftheday #sky #beautiful #art #picoftheday #like #travelphotography #shirtlessguys #sea #photo #landscape #travelgram #instagram #sunset #sun #traveling #happy #beach #life #instatravel #trip #fun #summer #wanderlust #love
A post shared by Edo Septiando (@edo_septiando94) onMar 3, 2019 at 4:44pm PST
Wisata ini merupakan tempat berkumpulnya resort-resort mewah di Bintan. Meski namanya belum sepopuler Bali, tetapi Lagoi Bay telah menjadi destinasi favorit wisatawan mancanegara. Kamu bisa menikmati pemandangan Laut China Selatan dan mencoba berbagai aktivitas olahraga air, dari yang ringan hingga ekstrem.
2. Bukit Pasir Busung
View this post on Instagram
Stunning photo by @aprizal__ijal · IF @siti_baharin . ๐Bukit Pasir Busung, Bintan, Kepulauan Riau ------------------- Mention your friends who want to be invited here. Share your travelling photos also by Tag & Mention to #travelleindokece as much as possible... . . ๐๐๐๐ Follow @hijabindotraveller Follow @ootdindokece
A post shared by Indotravellers|KeluarBentar (@travellerindokece) onNov 10, 2017 at 3:50am PST
Selain di Bromo, Indonesia juga memiliki gurun pasir atau bukit pasir di Pulau Bintan. Lokasi ini dulunya merupakan bekas penambangan bauksit. Kemudian penambangan tersebut dihentikan dan menjadi pemandangan yang mengundang kekaguman wisatawan.
Selain bisa berfoto-foto, kamu juga bisa bermain di antara gundukan pasirnya. Tetapi sayangnya, masih belum ada atraksi wisata. Akhir-akhir ini, Bukit Pasir Busur mulai naik daun di kalangan para traveler.
3. Danau Biru
View this post on Instagram
Yukk tag dan mention teman - teman kamu yang belum pernah main ke sini!! . Pulau Bintan terdapat beberapa danau yang memiliki kemiripan serta nampak identik. Airnya pun biru, dan juga indah salah satunya terletak di Desa Busung yang letaknya berdampingan dengan Bukit Pasir Bintan. Danau Biru ini memang tergolong tempat wisata baru yang diresmikan oleh pemerintah setempat pada April 2017 lalu. Terciptanya danau ini pun tergolong unik, karena ternyata danau tidak tercipta secara alami melainkan bekas penambangan pasir yang hingga kini masih beroperasi. Penambangan pasir tersebut menciptakan sebuah lubang yang cukup besar dan luas. Seiring berjalannya waktu, air hujan pun mengisi lubang tersebut dan akhirnya terbentuklah sebuah danau yang indah | #PP_Riau . ๐ Location : Danau Biru Busung, Bintan, Kep. Riau ๐ท Photo by : @aprizal__ijal ๐ท In Frame : @gatiayusya . Media Partner : ๐ @indogreatspot ๐ @jelajah_pendaki . Yuk bagikan foto - foto petualangan terbaikmu di @pergipedia dengan hastag #pergipedia siapa tau foto kamu yang direpost berikutnya!! . #danaubiru #danaubirubintan
A post shared by PERGIPEDIA (@pergipedia) onJan 7, 2018 at 5:17pm PST
Danau biru di Bintan ini sebenarnya bukan tempat wisata, melainkan area penambangan pasir yang masih aktif. Cekungan dari penambangan banyak terisi air sehingga menjadi danau.
Uniknya, warna air danaunya yang sangat biru jernih. Kecantikannya mampu membuat takjub. Setiap akhir pekan, banyak anak muda datang ke lokasi untuk menyaksikan keindahannya.
[Baca juga : "5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Jakarta - Part 4"]
4. Pantai Trikora
View this post on Instagram
Photo Of The Day @dilamw Lokasi :๐Pantai Trikora, Bintan . Please keep the place clean when you visit Yuk mention teman kalian disini mana tau next photo kalian di post berikutnya Bagaimana cara di repost : • Gunakan Hastag #amazingkepri • Tag akun @amazingkepri • Tulis Lokasi Ya __________________________________________________ . Ayo Jelajahi Keindahan Alam, Budaya dan Kuliner Provinsi Kepri. Follow juga partner kita : @jelajahbatam @gotokepri @wonderfulbatam __________________________________________________ . #pesonaindonesia #wonderfulindonesia #wonderfulkepri #amazingkepri #wonderfulbatam #goexplorekepri #pesonakepri #jelajahbatam #Instagram #InstaTravel #Travel #InstaDaily #Traveler #picoftheday #Travelgram #ProvinsiKepri #Kepri #Batam #Bintan #TanjungBalaiKarimun #Dabo #Tanjungpinang #Anambas #Kepulauananambas #Natuna #Tanjungbatu #Barelang #PantaiTrikora
A post shared by Amazing Kepri (@amazingkepri) onOct 25, 2017 at 12:44am PDT
Selain di Belitung, pantai di Bintan juga memiliki batu granit besar yang menambah kecantikan alamnya. Salah satunya yakni Pantai Trikora. Pantai Trikora dibagi menjadi kawasan resort dan umum. Kamu bakal dimanjakan pemandangan air yang jernih dan dangkal, serta dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang lengkap.
5. Crystal Lagoon
View this post on Instagram
Having the crystal lagoon to myself with this silly-looking pegasus. ๐คฃ . . . . #crystallagoonbintan #bintan #sggetaway #treasurebay #treasurebaybintan
A post shared by Shalen Aik (@shalenaik) onDec 24, 2018 at 10:14am PST
Pernahkah kamu melihat pantai yang jernih dan indah? Jika bertandang ke Crystal Lagoon, kamu bakal lebih terpesona lagi! Tempat ini menjadi laguna air laut buatan pertama di Asia Tenggara.
Meskipun buatan, pemandangannya gak kalah mengagumkan dibandingkan dengan pantai yang asli. Coba deh datang ke sini!
Mumpung akhir pekan ini ada long weekend, bisa banget nih liburan ke Bintan. Puasa bukan halangan untuk traveling, ya kan? (Sumber: Artikel idntimes.com Foto idntimes.com)
...moreTripTrus.Com - Masih berada di kawasan wisata Kota Tua, tidak jauh dari gedung Fatahillah ada sebuah jembatan yang berwarna merah marun. Sangat kontras dilihat dengan kondisi di sekelilingnya. Jembatan ini kini dikenal dengan nama Jembatan Kota Intan. Dahulu jembatan ini berfungsi sebagai penghubung antara benteng Belanda dengan benteng Inggris, tapi kini menjadi salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Termasuk Anda!
Jalan-jalan ke Kota Tua memang menyenangkan, ada banyak bangunan bersejarah di sini seperti Jembatan Kota Intan. Diberikan nama demikian karena letaknya dekat dengan salah satu Bastion Kastil Batavia bernama Bastion Diamont (intan). Mungkin tidak banyak yang mengetahui jika sebenarnya nama jembatan ini sempat berganti-ganti.
[Baca juga : 6 Tujuan Wisata Kota Tua Jakarta]
Jembatan Kota Intan ini awalnya adalah jembatan biasa yang dibangun pada tahun 1628 yang bernama Jembatan Engelse Brug atau Jembatan Inggris. Jembatan kayu ini memiliki panjang 30 meter dan lebar 4,43 meter. Jembatan tersebut berfungsi sebagai penghubung antara benteng Belanda (VOC) dan Inggris (IEC) yang saat itu berseberangan dan dibatasi oleh Kali Besar. Setahun kemudian tepatnya tahun 1629, jembatan ini sempat mengalami rusak parah akibat serangan Kerajaan Banten dan Mataram yang menyerang Benteng Batavia.
Kondisi yang memprihatinkan itu segera dipulihkan oleh Belanda, mengingat fungsi jembatan yang sangat vital dan berganti nama menjadi jembatan De Hoenderpasar Brig atau Jembatan Pasar Ayam. Disebut demikian karena lokasinya yang berdekatan dengan pasar ayam. Dua puluh lima tahun kemudian atau tepatnya tahun 1655, jembatan ini lagi-lagi mengalami kerusakan dan perbaikan. Tapi kerusakan kali ini bukan karena peperangan melainkan karena bencana banjir dan korosi air asin yang berasal dari laut. Setelah pasca perbaikan, namanya pun kembali berganti menjadi Jembatan Het Middelpunt Brug yang berarti Jembatan Pusat.
Pada 1938 fungsi jembatan diubah menjadi jembatan gantung. Tujuannya agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan mencegah kerusakan akibat banjir, namun bentuk dan gayanya tidak pernah diubah. Nama jembatan inipun kembali berubah menjadi Jembatan Phalsbrug Juliana atau Juliana Bernhard, karena waktu itu Ratu Juliana yang menjadi ratu di Belanda. Sebelumnya, jembatan juga diberi nama Jembatan Wilhemina (Wilhemina brug), ibu dari Juliana.
Jembatan Kayu Ini Memiliki Panjang 30 Meter dan Lebar 4,43 Meter. Jembatan Kota Intan adalah sebuah jembatan ‘jungkit’ yang berwarna merah marun warisan Belanda dengan konstruksi besi dan kayu yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta [Berbagai Sumber] . . . ๐ธ June 16, 2018 . . . #oldtown #bridge #jembatankotaintan #kotatuajakarta #jakartaoldtown #historical #heritage #underconstruction #visitjakarta #wheninjakarta #enjoyjakarta #holiday #cityexplore #walkingtour #citysightseeing #architecture #publicarea #trip #travel #traveling #adventure #tourism #jakarta #wisatakotatua
A post shared by Fransiska Tan (@fransiskatan) onJun 16, 2018 at 3:43am PDT
Kemudian pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, nama jembatan inipun lagi-lagi diubah menjadi seperti yang kita kenal hingga kini yakni Jembatan Kota Intan. Nama ini disesuaikan dengan nama lokasinya yang berdekatan dengan bastion Kastil Batavia yang diberi nama Bastin Diamont (Intan). Selama perjalanan Jembatan Kota Intan ini Belanda sempat membangun beberapa jembatan serupa di Batavia atau yang sekarang menjadi Jakarta. Namun jembatan-jembatan itu sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanyalah Jembatan Kota Intan. Untuk melestarikan keberadaannya, maka pada tahun 1972 Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, menetapkan Jembatan Kota Intan sebagai benda cagar budaya.
Saat ini Jembatan Kota Intan menjadi salah satu objek wisata sejarah yang banyak dikunjungi wisatawan. Tak sedikit pula yang menjadikan Jembatan Kota Intan ini sebagai objek foto untuk prewedding atau pra-menikah. Selain karena nilai historisnya, jembatan ini memiliki keunikan pada bangunannya.
Untuk mengunjungi Jembatan Kota Intan ini, Anda tidak dipungut biaya tiket, hanya saja dimintai biaya untuk kebersihan dan parkir. Jembatan Kota Intan terletak di Ancol, Pademangan, Jakarta Barat. Untuk menjangkaunya dapat menggunakan bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M – Kota. (Sumber: Artikel jakarta.panduanwisata.id, Foto flickr.com)
...moreTripTrus.Com - Berbicara soal Tangerang memang banyak menyimpan cerita dan tidak bisa dipisahkan oleh budaya Tionghoa-nya. Kebudayaan yang berasal dari daratan Cina tersebut sudah berkembang di sana sejak berabad-abad lalu. Hal ini tidak mengherankan jika wilayah Propinsi Banten itu memiliki beberapa klenteng atau wihara tua. Seperti yang ada Di pesisir utara Kabupaten Tangerang terdapat Klenteng Tjo Soe Kong. Tempat ibadah yang juga dikenal dengan nama Klenteng Tanjung Kait itu diperkirakan sudah berusia lebih dari tiga abad. Nama klenteng yang terletak tidak jauh dari Pantai Tanjung Kait itu semakin dikenal luas karena merupakan satu-satunya bangunan yang bertahan dari hempasan tsunami dahsyat saat Gunung Krakatau meletus.
View this post on Instagram
The wrong one will find you in peace and leave you in pieces. The right one will find you in pieces and lead you to peace. . . . #klentengtjosoekong #tjoesoekongbio #visittangerang #culturephotography
A post shared by Iqo citra khaula (@iqocitra21) onJun 16, 2018 at 11:39pm PDT
Masuk ke wilayah Kota Tangerang, Anda bisa menjumpai Wihara Boen San Bio. Klenteng yang kerap disebut Wihara Nimmala ini dibangun tahun 1689 oleh pedagang keturunan Cina bernama Lim Tau Koen. Klenteng di daerah Pasar Baru, Karawaci itu dikenal karena arsitekturnya yang khas dan mewah. Pada bagian atapnya terdapat patung burung hong (phoenix) yang mengapit mutiara. Tempat batang hio di sana tidak seperti hiolo di klenteng lain karena terbuat dari batu pualam.
View this post on Instagram
Tari Kipas, vihara nimmala, #inkekirei #klenteng #boensanbio
A post shared by Inke Kirei (@inke_kirei) onNov 6, 2017 at 2:43pm PST
Masih di Kota Tangerang, tepatnya di Jalan Bhakti, terdapat Wihara Boen Tek Bio. Tidak ada catatan pasti kapan klenteng tersebut dibangun. Tatapi berbagai artefak yang ada di dalamnya menunjukan bahwa tempat ibadah masyarakat Tionghoa tersebut sudah ada sejak beberapa ratus tahun lalu. Klenteng ini memiliki tradisi khusus yaitu Gotong Toapekong. Acara yang diikuti oleh perwakilan klenteng seluruh Indonesia ini berlangsung setiap 12 tahun sekali.
View this post on Instagram
Kwan Im Seijit #temple #BoenTekBio
A post shared by Claudius Gilbert Clay (@gtrgilbert) onJul 28, 2018 at 5:30am PDT
Selain itu, Kota Tangerang juga memiliki Klenteng Sampo Tay Jin yang berlokasi di Jalan Otto Iskandardinata. Menurut masyarakat sekitar Konon, klenteng ini sudah ada sejak pelayaran sang laksamana ke tanah air. Klenteng ini cukup terbilang unik karena memuja Sampo Tay Jin atau Ceng Ho. Untuk menghormati Ceng Ho yang merupakan muslim, para pemujanya turut tidak mengkonsumsi daging babi meskipun tidak memeluk agama Islam. Di sini juga terdapat benda pusaka berupa keris yang merupakan peninggalan salah seorang adipati Jawa.
Sedangkan di Kota Tangerang Selatan terdapat Klenteng Boen Hay Bio. Klenteng tertua di Serpong itu diperkirakan sudah berusia tiga ratus tahun. Menurut penuturan pengurus, tempat ibadah umat Budha tersebut dibuat tahun 1694. Selain dikunjungi untuk beribadah, Wihara Boen San Bio juga banyak didatangi oleh orang yang ingin belajar Bahasa Mandarin. Pengurus klenteng memang mengagendakan pelajaran Bahasa Cina sebagai salah satu kegiatan bakti sosial rutin.
View this post on Instagram
๐๐ป๐๐ฎ๐ฉ๐ญ๐ฐ#boenhaybio #flavorbliss
A post shared by krisna mulyadi (@tjoakrisnamulyadi) onJun 9, 2017 at 6:41pm PDT
[Baca juga : "Dear Warga Tangsel, Sayangilah Jejak Sejarah Daan Mogot Di BSD Ini"]
Jika anda Tertarik melihat klenteng-klenteng tua di Tangerang, Silakan datang langsung ke Tangerang. Dari Jakarta silakan ikuti Jalan Tol Jakarta-Tangerang untuk memulai penjelajahan Anda. (Sumber: Artikel kabar3.com Foto buddha.id)
...moreMasih ingat heboh penamaan KRI Usman Harun? Tak dinyana si pemberani Harun Thohir yang menuai kontroversi karena namanya dipakai sebagai nama kapal perang itu adalah orang Bawean. Ya, pulau yang berada di Laut Jawa dan termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik JawaTimur itu memang dikenal luas di Singapura dan Malaysia sebagai tanah asal para pelaut yang bekerja di kapal2 mereka. Orang Bawean dan kawasan pemukiman mereka di kedua negara jiran itu mendapat julukan sebagi Orang Boyan dan Kampung Boyan.
KEINDAHAN PULAU NOKO & TANJUNG GHE'ENG
Warna lain dalam kegiatan wisata di pulau yang nyaris bulat bentuknya ini, adalah wisata yang agak bernuansa alam liar. Seperti ke pulau Noko, Gili Noko dan mendaki bukit batu pualam menuju Tanjung Ghe’eng. Di pulau gosong seperti Noko pengunjung bisa snorkeling dan jika cuaca mendukung bisa lanjut berlayar ke Pulau Gili Noko yang juga memiliki kecantikan luar biasa di alam bawah airnya. Karena gelombang laut sedang tinggi, sekitar 1,5-2 meter, kami tidak bisa mencapai Pulau Gili Noko dan cukup puas menikmati hamparan pasir putih dan laut jernih di Pulau Noko.
Hamparan pasir putih dan laut biru di Pulau Noko
ZIARAH DAN ALAM INDAH
Sedikit lebih liar adalah menembus jalan desa, jalan setapak dan mendaki bukit batu marmer menuju bukit batu karang yang cukup berbahaya jika lengah sedikit saja saat melangkah. Tanjung Ghe’eng. Pemandangan yang fantastis bisa dinikmati dari puncak bukit ini. Ikan-ikan dan terumbu karang bisa dilihat dari atas bukit. Nampak beberapa gua yang menanti dieksplorasi karena keelokan sekitarnya. Perbukitan yang ada di sekeliling Tanjung Ghe’eng menghamparkan nuansa alam yang tak kalah indah seperti di Tanah Lot Bali saat matahari mulai terbenam.
Masih banyak lagi obyek wisata yang menakjubkan di Pulau Bawean. Termasuk tempat-tempat ziarah yang bertebaran di pulau ini. Namun sayangnya potensi alam, wisata kuliner dan kekayaan budaya yang bisa mendatangkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah Bawean ini belum sungguh-sungguh digali dan dimaksimalkan untuk kemakmuran dan kemajuan masyarakat.
Meski begitu, setahun belakangan ini Bawean memang mulai berbenah diri. Termasuk membangun pembangkit listrik yang tidak lagi tergantung pada pasokan BBM. Sehingga mati hidupnya listrik tergantung pada faktor cuaca yang mempengaruhi pelayaran kapal pembawa BBM. Sejumlah ruas jalan utama yang rusak mulai diperbaiki dan disesuaikan dengan sifat tanahnya dengan membuat jalan konblok daripada aspal yang mudah hancur dan tidak menyerap air.
KENDALA SEBAGAI DESTINASI UTAMA
Berikut adalah catatan kami mengenai kendala yang dihadapi untuk mengembangkan Pulau Bawean sebagai tujuan utama wisata Jawa Timur :
Transportasi laut masih sangat tergantung pada kondisi cuaca, apalagi jika kapal terbuat dari bahan yang mudah pecah dihantam gelombang besar
Minimnya sarana keselamatan yang memadai, seperti life jacket terutama pada perahu2 kayu yang melayani tamu berkeliling (hoping island)
Infrastruktur jalan, air dan listrik (penerangan jalan) ke lokasi wisata masih sangat minim dan perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pihak terkait.
Prasarana umum seperti toilet dan kamar mandi bilas masih menggunakan milik penduduk di kawasan wisata – kurag layak sebagai fasilitas umum destinasi wisata.
Angkutan umum sangat terbatas jumlahnya dan beroperasi hanya sampai jam 10.00 pagi, sedangkan sewa mobil atau motor untuk berkeliling menuju tempat2 wisata cukup menguras kantong jika berniat tinggal lebih dari 2 hari.
8 penginapan dengan 75 kamar tersedia semuanya berada di kawasan pemukiman/pusat kota, tetapi tidak ada yang di kawasan wisata. Satu2nya home stay ada di pulau Gili Noko
Lapangan terbang adalah sebuah solusi jitu mengatasi kendala transportasi dari dan ke Bawean, sayangnya realisasi proyek ini bandara ini masih jauh dari sempurna.
Masyarakat Bawean yang sudah merasa makmur karena kiriman uang dari TKI asal Bawean masih belum berorientasi pada upaya melayani tamu/wisatawan secara professional. Sikap terbuka, tulus hati dan ramah menjadi modal utama. Tetapi pengunjung tetap diminta untuk berpenampilan sopan selama berada di pulau Bawean. Masyarakat Bawean pada umumnya belum “touristic oriented”. Perlu sosialisasi oleh tokoh masyarakat dan didukung generasi muda yang berpikiran ingin maju tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Bawean.
Pemandian air panas masih sangat tradisional dan bisa jadi mengundang kontroversi jika dikomersilkan. Padahal debit airnya yang cukup tinggi diperkirakan bisa mengisi kolam pemandian yang lebih besar dan kamar-kamar privat untuk mandi para tamu.
Jarak tempuh pendek tetapi memakan waktu lama karena buruknya infrastruktur jalan padahal nuansa dan pemandangan alam Bawean banyak yang luar biasa menakjubkan
Masyarakat perlu diberi kesadaran pentingnya menjaga kelestarian alam dengan tidak membiarkan hutan terbakar.
Perlu melatih lebih banyak lagi tour guide yang memahami dengan baik budaya, lokasi dan pengetahuan tentang sejarah serta destinasi-destinasi yang ada di Bawean; untuk mengantisipasi jumlah kunjungan wisatawan yang makin meningkat ketika pulau Bawean semakin dipublikasikan dan semakin diminati untuk dikunjungi.
Kesenian asli Bawean disarankan untuk lebih disiapkan sebagai sajian kesenian yang bisa ditampilkan kepada pengunjung/wisatawan pada malam ramah tamah menyambut tamu. Misalnya disiapkan dalam gedung/ruangan tertentu sambil makan malam bersama
Perlunya dibuat standar itinerary atau rute wisata yang efektif, yang menyesuaikan dengan jadwal kapal cepat; sehingga wisatawan dapat mengunjungi sebagian besar atau seluruh point of interest Bawean dalam 3 hari.
Sebelum lapangan terbang siap beroperasi, jika berminat melihat keindahan Pulau Bawean, disarankan untuk berkunjung pada bulan April, Mei, Juni, Oktober, Nopember dan Desember karena gelombang laut tidak terlalu besar . Tetapi tidak dianjurkan untuk dating pada bulan Januari, Pebruari, Maret, Juli, Agustus dan September karena ombak sangat terasa kuat dan kapal cepat belum tentu berlayar. Naik kapal ferry jika tahan dengan goyangan kapal selama 8 jam juga bisa dilakoni, namun beberapa tempat yang berhubungan dengan wisata bawah laut mungkin tidak bisa dinikmati.
Ayo berkunjung ke Pulau Bawean !
Klik rangkaian artikel tentang Pulau Bawean di bawah ini.
Pulau Bawean: Antara Legenda dan Keindahan Alam - 1
Pulau Bawean: Antara Legenda dan Keindahan Alam - 2
Pulau Bawean: Antara Legenda dan Keindahan Alam - 3
...moreTripTrus.Com - Sumatera Utara, dengan wilayah seluas 72.981,23 kilometer persegi, telah lama dikenal memiliki keindahan alam yang memukau. Tidak dapat dipungkiri, provinsi ini diberkahi dengan berbagai potensi wisata yang dapat memanjakan mata. Ketika berbicara tentang wisata di provinsi paling utara Pulau Sumatera ini, pasti yang pertama terlintas adalah Danau Toba. Danau alami yang begitu luas ini bahkan telah menjadi salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP) di Indonesia.
View this post on Instagram
A post shared by Erwinsyah Pasaribu (@erwinpasaribu_)
Namun, di balik pesona yang dimiliki Danau Toba, ternyata terdapat surga-surga tersembunyi lainnya di daerah ini.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika Anda juga dapat menikmati panorama indah di beberapa destinasi "tersembunyi" yang ada di Sumatera Utara, tentunya ketika situasi telah membaik dan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Berikut ini adalah informasi mengenai destinasi-destinasi tersebut.
1. Air Terjun Efrata
Air Terjun Efrata adalah salah satu surga tersembunyi yang tak akan mengecewakan mata Anda. Saat Anda mengunjungi tempat ini, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan aliran air yang menuruni bukit-bukit.
Lokasi air terjun ini berada di Desa Sosor Dolok, Kecamatan Harian, Samosir. Memotong-lika bukit yang membentang luas, air terjun ini mengalirkan air dari Bukit Barisan dan memiliki tinggi sekitar 20 meter.
Anda dapat duduk santai menikmati pemandangan di sekitar air terjun. Namun, Anda juga dapat bermain air dan merasakan kesegaran bermain di bawah aliran air terjun.
Rute menuju Air Terjun Efrata sangat mudah dijangkau, karena lokasinya yang dekat dengan Danau Toba. Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi destinasi ini jika Anda berada di sekitar Danau Toba.
2. Air Terjun Namu Belanga
Air Terjun Namu Belanga, terletak di Desa Rumah Galuh, Kabupaten Langkat, adalah destinasi selanjutnya yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Sumatera Utara. Aliran airnya tidak hanya tenang, tetapi juga jernih bak kristal. Pemandangan ini benar-benar memukau dan dapat memberikan ketenangan serta melepaskan penat.
Kejernihan airnya memungkinkan Anda dengan mudah melihat dasar permukaan air tanpa ada hambatan. Namun, perlu diingat bahwa pemandangan ini hanya dapat dinikmati pada waktu-waktu tertentu, seperti saat musim penghujan.
Untuk mencapai Air Terjun Namu Belanga, Anda harus melewati jalur trekking yang menantang namun menawarkan panorama yang memukau. Destinasi wisata ini masih belum banyak diketahui orang, sehingga sangat cocok bagi Anda yang menginginkan ketenangan dan kedamaian.
3. Bukit Singgolom
Ketika mengunjungi Danau Toba, jangan lupa meluangkan waktu untuk mengunjungi Bukit Singgolom yang terletak di Desa Lintong Nihuta, Kabupaten Toba. Dari bukit ini, Anda dapat menikmati pesona keindahan Danau Toba yang memukau.
Tempat ini menjadi salah satu spot favorit bagi wisatawan untuk menikmati pemandangan luasnya danau biru dari Danau Toba serta keindahan Pulau Samosir. Bukit ini merupakan tempat yang sempurna bagi Anda yang ingin mencari ketenangan sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.
Selain itu, Anda juga dapat menyaksikan matahari terbenam yang memukau saat hari telah menjelang pukul 18.00 WIB. Tidak hanya menikmati pemandangan, para petualang juga dapat mendirikan tenda di puncak bukit ini untuk menghabiskan malam yang seru.
4. Kawah Putih Tinggi Raja
Salah satu objek wisata dengan pesona alam yang unik adalah Kawah Putih Tinggi Raja. Kawah ini terletak di kawasan Cagar Alam Dolok Tinggi Raja dan memiliki luas sekitar 4 hektar di tengah hutan yang lebat.
Sesampainya di sana, Anda akan terpesona oleh keindahan bukit kapur yang memukau dan aliran air panas yang menakjubkan. Tidak hanya itu, kolam air panas juga mempesona dengan warna biru kehijauan yang memikat.
Kawah ini terbentuk akibat panas bumi yang mengandung belerang. Dari sinilah terbentuk bukit putih dengan sumber air panas yang suhunya mencapai 90 derajat Celsius. Aliran air panas ini membentuk undakan batuan kapur dan kawah yang dapat digunakan untuk berendam.
Keberadaannya yang tersembunyi di dalam hutan lebat menjadikan Kawah Putih Tinggi Raja tidak diketahui banyak wisatawan. Untuk mencapainya, Anda harus menempuh perjalanan sejauh 95 kilometer dari Kota Medan.
Namun, segala lelah perjalanan melintasi jalan berbatu akan terbayar lunas begitu Anda tiba di sana. Anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat indah dan tempat yang tenang untuk relaksasi.
[Baca juga : "Nikmati Banyaknya Tanggal Merah Di Bulan Juni 2023 Dengan Menyusun Rencana Liburan Anda Dari Sekaran"]
5. Kolam Abadi Pelaruga
Kolam Abadi Pelaruga terletak di Kota Langkat, lebih tepatnya di Desa Galuh, Kecamatan Sungai Bingai. Nama "Pelaruga" berasal dari komunitas Pelaruga (Pemandu Alam Rumah Galuh) yang bertanggung jawab dalam menjaga dan melestarikan keindahan kolam pemandian alami ini.
Objek wisata ini awalnya dikenal dengan nama Air Terjun Teroh-Teroh, yang dalam bahasa Batak berarti "bawah". Selain itu, air di tempat wisata alam ini berasal dari mata air yang jernih dan bersih, sehingga aman untuk diminum.
Salah satu hal yang membuat kolam abadi ini begitu eksotis adalah kejernihan airnya yang berwarna biru kebiruan. Suasana di sekitar kolam sangat tenang, dengan udara sejuk yang mengalun di tengah hutan.
Sebenarnya, kolam abadi ini terbentuk dari mata air yang mengalir seperti air terjun di bagian atasnya. Ketika sinar matahari menyinari kolam ini, cahaya yang memantul menciptakan efek yang memukau, sehingga dasar kolam terlihat jelas seperti kaca yang transparan. (Sumber Foto @toky.harahap)
...moreTripTrus.Com - Ada lima acara keren yang bakal menggelegar dari sekarang sampe Desember akhir di Kota Tangerang, guys! Infonya, nih!
View this post on Instagram
A post shared by KOTRET (@komunitastamanpotret)
Banyak acara seru yang bakal bikin gempar dunia pariwisata, keagamaan, dan olahraga di kota ini. Ada lima acara keren yang pastinya bikin Kota Tangerang makin asik. Nah, buat kalian yang di sini, diharap mampir dan ikutan ramein setiap acaranya. Bos Disbudpar, Rizal Ridolloh, ngomong kalo empat acara ini diharapkan bisa nambahin pundi-pundi ekonomi dan wisata di Kota Tangerang, lho. Gak cuma itu, diharapkan juga bisa nambahin jumlah pengunjung yang datang ke Kota Tangerang.
Dia juga ngebocorin kalo semua acara ini bisa dihadiri semua orang, alias terbuka untuk umum dan gratis! Buat warga Kota Tangerang dan yang di luar kota, jangan lupa dateng ya, bawa keluarga, teman, sahabat, atau pacar biar makin rame!
[Baca juga : "Event Pariwisata Sulawesi Selatan Di Desember 2023"]
Oke, ini dia empat acara keren yang bakal digelar di Kota Tangerang:
Festival Cisadane: 22-26 November di Bantaran Sungai Cisadane. Ada seni, budaya, kuliner, sampe olahraga.
Kejuaraan Jantung Sehat Tingkat Nasional: 2-3 Desember di GOR Dimyati Kecamatan Tangerang. Pesertanya dari seluruh Indonesia, loh!
Kejurnas Panjat Tebing: 14-17 Desember di Tangerang City Sport Climbing Center. Bakal ada atlet panjat tebing top dari seluruh Indonesia.
Cullinary Day: Desember 2023 di Taman Elektrik. Kuliner khas Kota Tangerang nongol semua, guys!
Kejurnas Balap Motor: Desember 2023 di Selapajang. Pembalap motor keren dari seluruh Indonesia bakal ngegas di sini.
Buat yang mau dateng, cari info lebih lanjut di sosial media resmi Pemkot Tangerang, misalnya @tangerangkota, @tangerangtv, atau @humas_kota_tangerang. Kabarnya, bisa aja nih acara makin nambah. Kalo ada yang baru, pasti diumumin terus, jadi stay tuned aja terus, guys. (Sumber Foto @tempo.co)
...moreAnda tak akan menyangka jika di pedalaman Flores, tepatnya di kabupaten Manggarai akan menemukan sebuah “kampung internasional”, yang mana Anda akan menyaksikan orang dari berbagai negara bertemu dalam satu lokasi yang sama, tidur, dan makan dalam satu atap Mbaru Niang, demikianlah nama untuk rumah kerucut Wae Rebo. Semenjak mendapatkan anugerah Award of Excellence dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO untuk kawasan Asia Pasifik. Kampung Adat Wae Rebo setidaknya telah dikunjungi tiga ribu lima ratus pengunjung yang menjadi angka penutup di penghujung tahun 2014.
Katarine misalnya, seorang turis asal Firlandia, meninggalkan moment Natal bersama keluarga untuk traveling ke Flores untuk mengunjungi Kampung yang namanya mulai tersehor di daratan Eropa sejak penetapan UNESCO. Begitu juga dengan para pengunjung dari berbagai Negara, mereka menganggap Wae Rebo seperti magnet yang baru muncul yang energinya mulai menarik para pengunjung di seluruh dunia.
Kampung adat Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Wae Rebo mempunyai makna "mata air". Wae Rebo secara fisik terdiri atas tujuh rumah adat yang disebut Mbaru Niang, berbentuk kerucut yang mempunyai diameter 12-15 meter, dengan ketinggian 8-10 meter. Bagian atap yang menjuntai hingga menutupi sebagian besar bangunan ini dibuat dari rumput khusus dengan dilapisi ijuk agar lebih kuat jika diterjang angin dan air hujan. Kampung ini juga dibangun di atas Pegunungan Pocoroko dengan ketinggian 1100 mdpl yang menghadap langsung ke Samudera Hindia.
Selain unik dari sisi arsitek dan pemilihan lokasinya, pola susun rumah adat Wae Rebo juga unik, karena polanya melingkar dan tepat di tengah-tengahnya terdapat batuan yang disusun membentuk persegi. Pada bagian persegi itu terdapat semacam altar yang terbuat dari bambu untuk meletakan sesembahan para leluhur. Susunan batuan itu disebut sebagai Compang untuk upacara adat.
Bentuk rumah adat ini selalu dikaitkan dengan bentuk sarang laba-laba yang juga terjadi dalam pola pembagian sawah yang ditanami padi oleh Suku Manggarai. Pola pembagian sawah ini juga menyerupai sarang laba-laba yang mengerucut dibagian tengah, dengan alur pembagian seperti petak-petak yang dibuat oleh laba-laba untuk menjerat mangsanya. Anda dapat menemukan sawah yang berbentuk sarang laba-laba ini di Lembor dan Cancar, saat perjalanan menuju Kota Ruteng.
Masyarakat Wae Rebo percaya bahwa nenek moyang mereka yang bernama Maro berasal dari Minangkabau, yang kemudian belayar menuju ke selatan dan akhirnya menemukan Pulau Flores. Setelah itu mereka mencari lokasi, pertama kali Mereka pindah ke Liho Dari Liho, kemudian pindah ke Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu, setelah itu pindah ke pegunungan Poncoroko. Kedekatan budaya mereka dengan Suku Minang dapat dilihat dari bentuk rumah dan tradisi pernikahan mereka yang hampir sama.
Jika Anda mengunjungi kampung adat Wae Rebo, banyak hal yang akan Anda dapatkan, di antaranya adalah nikmatnya kopi yang dibuat secara tradisional oleh penduduk setempat, selain itu juga perpaduan antara rumah adat dan hijaunya hutan bagaikan permadani menyelimuti kokohnya gunung-gunung yang mengelilingi kampung Wae Rebo. Perpaduan ini menjadi sebuah kolaborasi apik yang akan memanjakan mata Anda di sana.
BAGAIMANA KE SANA?
Wae Rebo dapat di tempuh dengan start perjalanan udara dari Bandara Ngurah Rai Denpasar menuju Bandara Labuan Bajo, yang terdapat di Kabupaten Manggarai Barat. Selanjutnya Anda harus menempuh perjalanan darat selama 4 jam menuju Kota Ruteng, sebuah kota kecil di Kabupaten Manggarai Tengah. Selama perjalanan Anda dapat menikmati sawah yang berbentuk sarang laba-laba di Lembor atau Cancar. setelah itu perjalanan dapat dilanjutkan menuju Desa Denge yang merupakan desa terakhir sebelum trakking selama empat jam menuju Wae Rebo.
Profile Campa Tour:
Create awareness of history by traveling all around the world. Discover the hidden treasures and enjoy cross-century experience. We aim to take our customer into unforgettable journey when they are taken out of their comfort zones, discover new stories, reveal the truth about ancient history, experience land before times and traditional culture, and find their true selves.
Website: http://www.campatour.com/
Twitter: @CampaTour
...moreTripTrus.Com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan dapat mendorong 1,2--1,4 miliar kunjungan wisatawan nusantara pada tahun 2023. Generasi Z dan milenial menjadi harapan utama untuk mencapai target tersebut.
View this post on Instagram
A post shared by Mei (@mvn_m3)
Menurut hasil Sensus Penduduk 2020, jumlah generasi Z di Indonesia mencapai 75,49 persen atau setara dengan 27,94 persen dari total populasi di Indonesia. Sementara itu, generasi milenial mencapai 69,38 juta jiwa atau sekitar 25,87 persen. Dengan demikian, persentase populasi milenial dan generasi Z di Indonesia mendominasi dengan 53,81 persen. Menurut data IDN Research Institute 2022, 49 persen responden kalangan milenial menyatakan telah siap berwisata, sedangkan proporsi generasi Z lebih besar dengan 55 persen. Milenial yang dimaksud adalah mereka yang berusia antara 26 hingga 40 tahun, sedangkan generasi Z adalah yang berada pada rentang usia 13 hingga 25 tahun.
"Generasi milenial dan generasi Z ini merupakan target yang mudah ditemui. Dari segi nilai, mereka tidak tinggi, tetapi jumlahnya banyak, sehingga purchasing power-nya tinggi. Mereka harus dikenalkan tentang Indonesia dan pariwisata di Indonesia saja," kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf Ni Made Ayu Marthini dalam Rakornas Kemenparekraf 2022 di Grand Sahid, Jakarta, Jumat (16/12/2022).
Mayoritas dari generasi Z dan milenial sensitif terhadap harga, sehingga wisata domestik menjadi pilihan utama. "Kalau murah, langsung mencari tiket, tetapi kalau mahal, mereka menunda untuk sementara waktu," ucap Made. Tak heran jika mayoritas dari mereka memilih bepergian menggunakan mobil (50 persen), sedangkan yang memilih naik pesawat mencapai 50 persen.
[Baca juga : "Wisata Lokal Lebih Disukai Oleh Generasi Millennial Dan Gen Z"]
Prioritas mereka saat berwisata hampir sama, yaitu wisata alam, kuliner, urban, dan staycation. Namun, generasi Z juga menyelipkan budaya sebagai atraksi wisata yang juga dinikmati. Selain itu, Made memprediksi bahwa sport tourism akan menjadi tren wisata ke depan di kalangan generasi muda.
"Dengan sport tourism, mereka bisa berkeliling ketika ada acara. Ini dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan KONI, misalnya satu cabang olahraga, satu acara, dibuat 34 acara cabang olahraga untuk junior. Yang akan datang nanti tidak hanya peserta, tetapi juga orangtuanya, kakaknya, adiknya, dan lainnya. Jadi, sangat cocok jika BBWI (Bangga Berwisata di Indonesia) menargetkan generasi milenial dan generasi Z," jelasnya. (Sumber Foto @komodo_wisata)
...more