shop-triptrus



8 Tempat Wisata Keren di Indonesia yang Jarang Banget Orang Tahu

TripTrus.Com - Indonesia emang punya banyak banget tempat seru dan alam yang aduhai. Beberapa tempat eksotis ini udah cukup tenar di dunia maya, tapi belum banyak yang nyamperin karena letaknya masih pada tempat tersembunyi. Nah, buat lo yang lagi liburan tengah tahun 2022, waktunya nih mampir ke tempat-tempat keren yang belum banyak orang tahu.       View this post on Instagram A post shared by INDONESIA TRAVEL & EXPEDITIONS (@come2indonesia) Kesel banget kan kalo selalu liburan ke destinasi yang mainstream? Makanya, buat momen liburan akhir tahun ini beda dari yang lain, coba dateng ke tempat-tempat unik yang masih jarang dijamah, keren banget, dan blom banyak yang kenal. Soalnya, pasti pada rame ke tempat wisata yang udah tenar. Jadi, berikut nih beberapa destinasi keren yang worth it tapi masih low-key: 1. Pulau Kakaban Pulau Kakaban, bagian dari kepulauan Derawan di Kalimantan Timur. Salah satu hal keren tentang pulau ini adalah Danau Kakaban, danau unik yang ada di tengah pulau. Danau ini udah eksis sejak jaman prasejarah, punya dinding karang setinggi 50 meter yang bikin air lautnya enggak bisa keluar. Di danau ini, kamu bisa nemuin ubur-ubur yang enggak nyengat dan bisa fotosintesis. Keren banget kan? Terus, ada juga Kehe Daeng alias Lubang Ikan yang muncul saat air laut surut. 2. Kepulauan Kei Kepulauan Kei itu gugusan pulau yang ada di Maluku. Kalo lihat di peta, dia ada di selatan Kepala Burung Irian Jaya. Ada banyak pantai keren di sana, kayak Pantai Ngurbloat dan Pantai Ngurtafur yang punya pasir putih panjang. Pantai Ngurtafur juga jadi tempat migrasi burung pelikan dari Australia. Di samping itu, ada Snake Island yang muncul pas air laut surut. 3. Kepulauan Widi Kepulauan Widi juga ada di Maluku, dekat Kepulauan Kei. Kepulauan ini bisa dibilang kayak Maldives-nya Indonesia. Pasir putih, laut jernih, terumbu karang, dan ikan-ikan cantik bisa kamu temuin di sana. Di samping itu, kamu juga bisa memancing. Jangan lupa bawa tenda karena belum ada hotel di sana. 4. Pulau Weh Pulau Weh atau Pulau Sabang ada di Aceh. Pulau ini terkenal karena hutan tropisnya yang bagus. Kamu bisa mampir ke Monumen 0 KM Indonesia buat lihat pemandangan laut yang keren. Selain itu, ada pantai-pantai lain kayak Pantai Sumur Tiga, Pantai Iboih, Danau Aneuk Laot, Gua Sarang, dan Taman Laut Pulau Rubiah buat yang suka diving dan snorkeling. 5. Pantai Ngetun Pantai Ngetun adalah pantai berpasir putih yang masih tersembunyi di Gunungkidul, Yogyakarta. Kesulitan buat sampe ke sana jadi bikin tempat ini sepi dari wisatawan. Pantainya diapit oleh dua bukit atau tebing karang. Selain pemandangan yang masih alami, kamu juga bisa mencoba mancing lobster dan lihat penyu bertelur kalo lagi berkemah. [Baca juga : "10 Spot Keren Dan Ide Liburan Seru Di 10 Destinasi Pariwisata Andalan!"] 6. Danau Labuan Cermin Danau Labuan Cermin ada di Kalimantan Timur. Danau ini punya air yang jernih banget, sampe kamu bisa lihat dasarnya. Anehnya, di permukaan air asin, tapi di dasar airnya tawar. Buat kesana, kamu perlu perjalanan darat sekitar 6-7 jam dari Tanjung Redeb, Kalimantan Timur. 7. Danau Napabale Danau Napabale ada di Sulawesi Tenggara. Airnya asin karena bersebelahan ama laut yang terhubung sama terowongan alam. Kalo air laut surut, terowongan ini bisa dilalui. Di sekitar danau ini, kamu bisa nikmatin pemandangan keren, batu karang, hutan hijau, dan pantai berpasir putih yang indah. 8. Air Terjun Sipiso-piso Air Terjun Sipiso-piso ada deket Danau Toba, Sumatera Utara. Ini namanya Sipiso-piso karena air terjunnya tinggi banget, sampe mirip pisau. Air terjun ini ada di daerah berhawa sejuk dan bisa lihat Danau Toba, serta Pulau Samosir dari sini. Jadi, itu dia daftar tempat-tempat keren yang belum banyak orang tahu. Jangan lupa asuransi perjalanan sebelum jalan-jalan ya! (Sumber Foto @adriamarti_) 
...more

Mengenang Pertempuran Laskar Paling Heroik di Serpong

TripTrus.Com - Pertempuran  Serpong  yang terjadi pada 26   Mei  1946   merupakan pertempuran rakyat paling heroik  pada class I di daerah sekitar Jakarta.  Pasalnya,  inilah pertempuran laskar rakyat dengan modal semangat yang memakan waktu panjang. Dan korban dari kedua belah pihak yang cukup panjang. Pertempuran bermula dari informasi yang diterima laskar rakyat, bahwa Belanda telah mendarat dan mengusai daerah Serpong . Sekitar  300 tentara Belanda sudah menempati pos –pos strategis.  Salah satunya, mendirikan pos komando di pertigaan  Cilenggang  - Cisauk.      Mendengar  Belanda yang  mengedepankan tentara KNIL-nya sudah menduduki Serpong  23 Mei 1946 pasukan laskar dari Desa Sampeureun, Kecamatan Maja berangkat  dengan jalan kaki  menuju Serpong.   TMP Seribu Serpong, tempat peristirahatan 238 pejuang yang tewas saat melakukan perlawanan terhadap tentara Jepang, tepatnya pada 25 Januari 1946. . . . . . #cagarbudaya #situssejarah #monumen #tamanmakampahlawan #TMPseribu #serpong #daanmogot #pahlawan #indonesia #exploretangsel #tangsel A post shared by Glorio Makaminan (@gloriogm) onJan 21, 2017 at 7:22pm PST Pasukan berkekuatan 400 orang dibawah pimpinan KH Ibrahim ini  sesampai di Tenjo pasukan bergabung dengan pasukan laskar dari Tenjo yang dipimpin oleh KH Harun, seorang ulama yang terkenal sebagai Abuya Tenjo. Laskar Tenjo berjumlah sekitar 290 orang. Alhasil, dengan bergabung lascar Tenjo, semangat pun makin berkobar. 25 Mei 1946 kedua pasukan tersebut dengan menggunakan senjata tajam terus berjalan kaki menuju Parung  Panjang, daerah yang terletak  di sebelah barat Serpong. Disepanjang perjalanan menuju sasaran pasukan bertambah terus , di antaranya bergabung  pasukan laskar dari Kampung Sengkol yang dipimpin  Jaro Tiking. Dan bergabung pula  pasukan dari Rangkasbitung pimpinan Mama Hasyim dan Pasukan Laskar pimpinan Nafsirin Hadi dan E.Mohammad Mansyur. [Baca juga : Candi Jiwa, Wisata Purbakala Di Pesisir Karawang] Pada  25 Mei 1946 malam, para pimpinan pasukan berunding di daerah Cisauk dan diteruskan di Cilenggang untuk mengatur siasat pertempuran. Esoknya, 26 Mei 1946  sekitar jam 08. 30 Serpong di serang. Pasukan Pimpinan KH Harun menyerang dari belakang sedangkan Pasukan Pimpinan KH Ibrahim, pasukan pimpinan Mama Hasyim dan pasukan pimpinan E.Mohammad Masyur menyerang dari depan dengan melalui jalan raya Serpong. Dalam gerakan menuju sasaran pasukan mengumandangkan takbir “Allahu Akbar”.  Pasukan laskar rakyat maju terus dengan mengumandakan takbir dan Pasukan Belanda gencar menembaknya sehingga korban berjatuhan. Suara Takbir lambat  terus berkumandang.  Pertempuran berlangsung seru. Banyak  anggota lascar yang berhasil merebut  senjata Belanda. Dan Senjata tersebut lalu ditembakan ke mereka. Banyak pasukan Belanda yang mati.  Pertempuran yang berlangsung hingga pukul 20.00  WIB  itu  membuat   sekitar 238 laskar gugur, termasuk KH Ibrahim dan Jaro Tiking. Sementara pihak Belanda sekitar 102 orang tewas.   Selamat Hari Pahlawan #haripahlawan #pahlawan #tamanmakampahlawan #tmpseribu #serpong #tangerang A post shared by Ibank Muhammad (@ibank_ant) onNov 9, 2017 at 4:36pm PST Setelah pertempuran yang sengit, pihak  laskar pun berunding dengan  pihak Belanda  untuk  menguburkan  jenazah rekan mereka . Kesepatan terjadi.  Hanya saja, Belanda hanya mengizinkan  empat orang yang bertugas  menguburkan. Tak heran  jika mereka dimakakam ditumpuk dalam dua lubang . Makam mereka terletak tak jauh dari pertigaan Cilenggang – Cisauk, Kelurahan Cilenggang, Serpong. Namun karena  perkembangan zaman, makan  mereka  dipindahkan   di Jalan Raya Puspiptek. Mereka dikuburkan satu kubur satu jenazah. Dan tempat pemakaman  tersebut diberi nama Taman Makam Pahlawan (TMP) Seribu. Letaknya di jalan Raya  Pahlawan Seribu , Kecamatan Setu, Tangsel tak jauh dari Taman Tekno di BSD City. Meski namanya “ TMP Seribu ”, bukan berarti ada 1.000 makam pahlawan yang ada di TMP yang memiliki luas 9.835 meter persegi ini.  Tapi hanya ada 238 makam pahlawan yang ada di sini, ditambah dua makam lagi, sehingga total semuanya adalah 240 makam. Dengan rincian 151 makam dengan nama. 87 pahlawan tanpa nama. Dengan tambahan   enam makam baru. (Sumber: Artikel cipasera.com, Foto vakansinesia.com)
...more

Candi Jiwa, Wisata Purbakala di Pesisir Karawang

TripTrus.Com - Selain terkenal dengan sebutan daerah lumbung padi, ternyata Kabupaten Karawang juga kaya akan peninggalan sejarah.Di daerah lumbung padi Jabar ini, telah ditemukan sejumlah candi dan situs purbakala. Seperti, Situs yang ditemukan di kawasan Candi Jiwa, Desa Segaran, Kecamatan Batujaya. Menurut catatan sejarah, Situs purbakala tersebut pertama kali ditemukan oleh peneliti dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1984. Awalnya, mereka melakukan penelitian di Cibuaya. Saat itu, ditemukanlah dua arca yang konon bernama Arca Wishnu. Benda tersebut, kemudian dibawa ke Jakarta untuk diteliti. Dan akhirnya, sampai sekarang di simpan di Museum Jakarta. [Baca juga : Wisata Edukasi Ke Rumah Sejarah Kalijati Di Subang Jawa Barat] Penemuan dua arca itu, kemudian di dengar oleh sejumlah masyarakat Cibuaya. Kemudian, masyarakat tersebut memberitahu kepada para peneliti itu, bahwa di Kampung Sumur RT 11/04, Dusun Sumur Jaya, Desa Segaran banyak ditemukan benda seperti itu. Setelah datang ke Segaran, ternyata di desa itu terdapat banyak gundukan tanah (tanah duwur) yang di tumbuhi rumput dan ilalang. Setahun kemudian, tepatnya 1985 para peneliti dari Fakultas Sastra UI tersebut, kembali lagi ke Segaran. Mereka, langsung melakukan penelitian dan gundukan-gundukan tanah itu pun mulai digali. Proses penggalian memakan waktu sampai 10 tahun. Benar saja, saat penelitian ditemukan situs yang berbentuk batu, dengan luas lokasi 5X5 kilometer persegi. Kemudian, situs tersebut dibersihkan, diukur, digambar, dan di dokumentasikan. Setelah itu, di bawa ke Jakarta untuk di bahas di forum studi kelayakan. Dari penelitian itu menyimpulkan, jika candi tersebut dibangun antara abad 4 sampai 5 Masehi. Bahkan, ada juga ahli sejarah yang menyebutkan candi tersebut se-zaman dengan Kerajaan Tarumanegara. Namun, ada juga yang menyebutkan candi tersebut merupakan peninggalan zaman megalitikum. Dengan bukti, bangunannya merupakan batu berbentuk tegak (menhir) dan terdapat batu besar (dolmen). Komplek percandian tersebut, berdasarkan topografi berada di dua desa dan kecamatan. Yaitu, sebagian masuk ke wilayah Desa Segaran Kecamatan Batujaya, dan sebagian lagi masuk ke Desa Telagajaya Kecamatan Pakisjaya. Namun, masyarakat umum lebih mengenalnya komplek percandian Batujaya. Lokasi tersebut, terletak pada koordinat 107:08:14,08-107:09:04,91 Bujur Timur, dan 06:05:21,86-06:06:30,31 Lintang Selatan. Candi tersebut, merupakan peninggalan ajaran Budha. Karena, di situs tersebut pada bagian atas kaki candi, terdapat susunan bata melingkar bentuknya membulat. Bentuk tersebut, diduga sebagai sisa susunan stupa. Pada tahun 2005, pemerintah pusat melalui pejabat yang terkait, mendatangi lokasi penggalian situs bersejarah itu. Setahun kemudian, baru diadakan pemugaran sampai sekarang ini. Saat ini, sudah terlihat empat titik candi.   Bangga jadi orang karawang punya banyak sejarah didalamnya, eh ngomong ngomong aing kan orang Pebayuran bekasi😂keun lah karawang oge indonesia sarua wae indonesia, pokokna mah bangga jadi orang indonesia. . . . #explorekarawang #candibelandongan #candijiwa #sejarahindonesia #wonderfulindonesia #pesonaindonesia A post shared by Pratama Rizki (@rizki_pratama1996) onApr 5, 2018 at 5:57am PDT Di antaranya, Candi Blandongan, Jiwa, Serut dan Pendopo. Ukuran Candi Blandongan, paling besar yakni 25X25 meter. Kemudian disusul Candi Jiwa, dengan ukuran 19X19 meter, Candi Serut diperkirakan ukurannya 12X12 meter, dan Candi Pendopo luasnya 5X6 meter. Muralih (34), salah seorang juru pelihara BPCB Komplek Situs Candi Jiwa, mengatakan, sampai saat ini sudah ditemukan 40 situs candi. Namun, yang sudah dilakukan pemugaran baru empat candi. Sisanya, belum dilakukan pemugaran. Muralih menjelaskan, sejumlah situs purbakala ini memiliki luas sekitar 500 hektare. Situs ini, berada di area persawahan milik warga setempat. Adapun candi yang sudah dipugar, masing-masing, Candi Serut, Blandongan, Jiwa dan Telagajaya 8. “Dari empat situs yang telah dipugar itu, yang terluas yaitu Candi Blandongan. Untuk luas candinya saja mencapai 18 meter persegi. Akan tetapi, luas sama halamannya mencapai 1,5 hektare,”terang dia. Sedangkan, sambung dia, Candi Serut secara keseluruhan luasanya sekitar 7.000 meter. Kemudian, Candi Jiwa luasnya sekitar 2.000 meter. Sedangkan Candi Telagajaya 8, luasannya sekitar 5.000 meter. Sementara itu, Nasri (50), pengelola museum Batujaya mengatakan, situs candi yang ada di wilayahnya menjadi salah satu destinasi wisata. Baik wisatawan lokal ataupun luar kota. Mayoritas, wisatawan yang berkunjung masih status pelajar dan mahasiswa. Selain situs, juga ada museumnya.   Candi Blandongan, masih satu area dengan candi batu jiwa Karawang. Tunggu kisahnya bersama Doel suka kelayaban. #karawang #candijiwa #candiblandongan #batujaya #sukakelayaban #candi #temple A post shared by Nanang al batawie (@nanang_albatawie) onFeb 12, 2018 at 12:46am PST “Setiap bulannya, lebih dari seribuan orang wisatawan yang datang ke museum. Tapi, yang mengunjungi situs sepertinya lebih dari seribu orang. Untuk masuknya, wisatawan hanya bayar se-ikhlasnya,” ujarnya. (Sumber: Artikel inilahkoran.com, Foto vakansinesia.com)
...more

Wisata Edukasi ke Rumah Sejarah Kalijati di Subang Jawa Barat

TripTrus.Com - Subang, salah satu kabupaten di bagian utara Jawa Barat menjadi saksi sejarah penting di Indonesia. Terdapat museum berbentuk rumah yang menjadi saksi bisu kejadian penting pada masa itu. Di mana rumah tersebut menjadi lokasi penyerahan kekuasaan Belanda terhadap Jepang di Indonesia.   Biasa ke Kalijati (Subang) sesuka hati sih kalau lagi mumet banget. Tapi berasa seperti pecinta sejarah yang jahat karena selalu nggak punya waktu buat datang ke sini. Ini padahal nggak jauh amat dari rumah uwak sendiri -_- #RumahSejarahKalijati #8Maret1942 A post shared by Fajar Muhammad Rivai (@fajar.reconquista96) onSep 13, 2016 at 6:23pm PDT Sebagaimana kita tahu, Belanda telah menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Dan tepatnya pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda kemudian menyerahkan kekuasaannya di Indonesia kepada Jepang. Rumah Sejarah Kalijati sendiri diresmikan sebagai museum pada tanggal 21 Juli 1986. Rumah Sejarah Kalijati dibangun untuk mengenang kejadian penting pada masa itu. Agar pengunjung yang datang dan mengunjungi lokasi tersebut mengetahui dengan jelas seperti apa kejadian dan bisa melihat foto-foto sejarah yang ada disana. [Baca juga : 4 Wisata Sejarah Dan Edukasi Di Bogor Ini Cocok Untuk Liburan] Berlokasi di kawasan Pangkalan Udara TNI AU Lanud Suryadarma Kalijati Subang, Rumah Sejarah Kalijati cukup mudah diakses dan mudah ditemukan keberadaannya. Perjalanan yang ditempuh baik dari Bandung maupun dari Jakarta kurang lebih sekitar 2 jam perjalanan darat. Rumah Sejarah Kalijati berada dibawah naungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Subang. Rumah yang menjadi museum ini berbentuk seperti rumah biasa pada umumnya yang terdiri atas beberapa ruangan dan terpajang foto maupun keterangan cerita kronologis peristiwa penting yang terjadi di rumah tersebut. Beberapa ruangan yang ada didalamnya juga menjelaskan miniatur kejadian yang terjadi saat penyerahan kekuasaan Belanda terhadap Jepang. Dimana terdapat ruangan yang ada seperangkat kursi dan di atas kursi tersebut ada keterangan nama-nama tokoh yang melakukan perundingan di masa itu. Pengunjung yang datang akan dipandu oleh petugas yang bertugas menjaga dan memandu pengunjung disana. Rumah yang dulunya digunakan sebagai tempat tinggal Perwira ini kini masih dalam kondisi terawat. Karena ada 3 petugas juga yang bertugas untuk menjaga dan membersihkan Rumah Sejarah Kalijati. Dengan mengunjungi museum Rumah Sejarah Kalijati, pengunjung merasa terbawa suasana masa lalu. Selain itu pengunjung bisa lebih mengenal sejarah dan kejadian penting yang terjadi saat itu. (Sumber: Artikel purwasuka.id, Foto tempatangker.com)
...more

5 Spot Keren Buat Nonton Satwa Liar di Indonesia

TripTrus.Com - Buat kamu yang suka ngintip binatang liar, Indonesia punya tempat-tempat keren buat ngeliatin mereka! Mulai dari komodo raksasa di Pulau Komodo sampe berenang bareng lumba-lumba di Pantai Lovina, Bali. Yuk, intip lima tempat seru di Indonesia buat nonton binatang liar! 1. Kadal Raksasa di Pulau Komodo Siapa yang gak kenal komodo? Kadal gede banget yang jadi predator tertinggi di lingkungannya ini mirip monster naga dari mitos-mitos dunia. Komodo cuma ada di Indonesia, tepatnya di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Beda sama di kebun binatang, di sini lo harus ditemenin naturalist guide atau pemandu. Mereka bikin perjalanan aman dan tahu trek yang dilewatin, plus kasih tahu spot-spot komodo keren buat dilihat. 2. Orangutan Liar di Bukit Lawang Trekking di hutan Bukit Lawang di Sumatera itu cara terkenal buat liat orangutan liar. Tiap tahun, ribuan turis datang ke desa kecil di perbatasan Taman Nasional Gunung Leuser buat lihat orangutan Sumatera dari dekat. Orangutan Bukit Lawang banyak yang bekas penangkaran, jadi perilakunya beda sama yang liar. Banyak pemandu yang biarin wisatawan kasih makan dan sentuh mereka, tapi kalau mau liat yang beneran liar, pakai pemandu ya. 3. Tarsius Mata Belo di Cagar Alam Tangkoko Cagar Alam Tangkoko di Gunung Tangkoko, Kabupaten Bitung, Sulawesi Utara, sekitar sejam dari Manado, terkenal banget. Tarsius, primata terkecil di dunia yang cuma seukuran kepalan tangan, cuma ada di Sulawesi. Mata mereka gede banget, lucu deh. Mereka cuma bisa dilihat malam hari karena hewan nokturnal. Penduduk setempat nyebut mereka Astangkasi. [Baca juga : "Festival Lamaholot Masuk Kharisma Event Nusantara 2024"] 4. Gajah terlatih di Way Kambas Pusat Pelatihan Gajah ini udah berdiri sejak tahun 1985. Tempatnya sekitar 9 km dari gerbang taman nasional Plang Ijo. Tujuannya buat lindungin gajah dan bikin hubungan yang saling menguntungkan buat gajah dan manusia. Di sini, lu bisa ngeliat gajah ngelakuin macem-macem tugas kayak bawa kayu atau bajak sawah. Selain itu, lu juga bisa liat mereka ngelakuin aktivitas khusus kayak main bola atau pertunjukan lainnya. 5. Renang bareng Lumba-lumba di Pantai Lovina       View this post on Instagram A post shared by Wina Amir (@winaamir17) Satu-satunya cara buat lu bisa renang bareng lumba-lumba di Bali itu dengan ikutan tur perahu dari Lovina, kota kecil di Pantai Utara Bali. Di Lovina, mereka manfaatin populasi lumba-lumba alaminya. Setiap pagi, puluhan perahu wisata berangkat buat liat lumba-lumba sama langit pagi yang keren abis. Gak cuma liat lumba-lumba dari atas air doang, penduduk lokal juga pasang ayunan di samping semua perahu nelayan yang bawa turis keluar. Dari ayunan itu, lu bisa masukin kepala ke air dan liat lumba-lumba berenang dan main. Jadi, buat kalian yang pengen ngalamin petualangan alam liar di Indonesia, jangan lupa mampir ke tempat-tempat keren ini. Dijamin, pengalaman ngeliatin binatang liar secara langsung bakal bikin liburanmu makin seru dan berkesan! Ayo, mulai rencanain petualanganmu sekarang juga!(Sumber Foto @rosmawati_ardyn) 
...more

Juli Full Gaya! 5 Festival Paling Kece Buat Lo yang Doyan Healing Plus Budaya

TripTrus.Com - Bro-sis traveler, fix banget Juli 2025 ini bakal rame parah sama festival kece dari ujung Pacitan sampe Bali utara! Lo yang udah suntuk kerjaan atau kuliah, saatnya cuti bentar, gas liburan, dan nikmatin vibes lokal yang dibungkus cara kekinian. Gak cuma ngopi-ngopi doang, di sini lo bisa nyaksiin parade budaya, konser musik chill, fashion show etnik, sampe jajan kuliner khas yang rasanya lokal banget. Pokoknya ini bukan liburan biasa—lo bisa healing, nambah insight, plus dapet konten kece buat feed lo. Yuk, intip lima festival gokil yang kudu lo sambangin di Juli ini. 1. Festival Ronthek Pacitan: Musik Bambu yang Bikin Lo Nggak Bisa Diam 📍 Pacitan, 7–9 Juli Buat lo yang demen suasana malam meriah tapi tetap tradisi, Ronthek Pacitan bakal jadi pengalaman unik. Di sepanjang jalan Alun-Alun, lo bakal dengerin suara bambu digebuk rame-rame dari alat musik lokal kayak thethek, seruling, gong, sampe gendang bambu. Tapi ini bukan festival jadul ya—anak-anak muda Pacitan udah nge-blend musik dan fashion-nya biar tetap kece buat Gen Z! Ada juga bazar UMKM lokal yang jualan snack, kriya, dan pernak-pernik kece buat oleh-oleh. Suasananya tuh kayak street parade, tapi beneran dari hati! 2. Banyuwangi Ethno Carnival: Malem-Malem Tapi Colorful Abis! 📍 Taman Blambangan, 11–13 Juli       View this post on Instagram A post shared by 👑 POETRA COLLECTION 🇮🇩 (@putra_collection98) Kalau lo tim yang gak bisa jauh dari aesthetic dan lighting syahdu, gas ke Banyuwangi Ethno Carnival. Sepanjang 2,5 km berubah jadi runway penuh LED dan kostum etnik super niat. BEC tahun ini punya tema World Class Ethnic Attraction, dan semua digelar malam hari, bro-sis. Kostum nyala, tarian megah, musik tradisi, semua tampil dalam vibes magical kayak lagi di dunia dongeng. Lo juga bisa ngintip workshop budaya, jajan di bazar, bahkan liat lomba poster pelajar. Satu kata: GOKIL! 3. Manakarra Fair Mamuju: Pantai, Budaya, dan Local Pride Gabung Jadi Satu 📍 Anjungan Pantai Manakarra – Pertengahan Juli Bro-sis yang pengen chill di pinggir pantai tapi tetap dapet vibes budaya, Manakarra Fair di Mamuju cocok banget buat lo. Lo bisa nongkrong pinggir pantai sambil nonton pertunjukan seni tradisional Sulbar, jajan makanan khas yang susah lo temuin di kota besar, dan ikut workshop kriya bareng seniman lokal. Anak-anak kreatif Mamuju beneran totalitas ngasih yang terbaik—bikin lo makin cinta lokal dan bangga jadi bagian dari Indonesia. Suasananya adem, tapi semangatnya panas! [Baca juga : "Gaskeun, 7 Festival Paling Gokil 2025 Buat Lo Healing, Hunting & Explore!"] 4. Geopark Night Specta 7.0: Musik, Alam, dan Bintang-Bintang di Langit Jogja 📍 Embung Nglanggeran, Gunungkidul – 18–19 Juli Kalau lo tipe senja-senja club, penggemar alam, dan suka musik chill, wajib banget ke Geopark Night Specta. Venue-nya di UNESCO Geopark Gunung Sewu, dan acaranya tuh gabungan antara edukasi, konser musik, dan pelestarian alam. Ada Letto, Tami Aulia, Hasan Aftershine, sampe musisi lokal lainnya tampil dengan gaya Georkestra yang syahdu. Ditambah lagi ada Festival Coklat yang ngajarin lo soal sustainability sambil icip-icip coklat lokal. Lo healing sambil nambah ilmu? Siapa takut! 5. Lovina Festival Bali: Sunsetan, Paddle, dan Bantuin Laut Tetap Bersih 📍 Lovina, Buleleng – 18–22 Juli Bro-sis, lo yang lagi cari vibes Bali tapi pengen yang beda dari Kuta-Canggu, Lovina Festival tempatnya! Di pantai utara Bali yang tenang dan eksotis, lo bisa join acara ramah lingkungan kayak stand-up paddle, underwater cleanup, cooking class, sampe fashion show budaya. Festival ini ngajarin lo jaga laut sambil having fun. Gak ketinggalan ada pameran UMKM, workshop kriya, dan seminar soal pariwisata berkelanjutan. Fix banget, healing lo jadi meaningful! Pokoknya, jangan sampe lo nyesel cuma rebahan di rumah doang, bro-sis! Festival-festival kece ini GRATIS alias tinggal dateng! Dari tabuhan bambu di Pacitan sampe sunset di Lovina, semuanya punya cerita lokal yang dikemas modern. Lo bisa stay stylish, tetep jalan-jalan, plus nambah wawasan budaya yang makin bikin lo bangga jadi anak Indonesia. Buruan ajak bestie, pacar, geng lo, atau solo trip sekalian juga seru banget. Juli 2025? Harus jadi bulan paling penuh warna di hidup lo! (Sumber Foto @gedekresna__)
...more

Travelling Jadi Hobi Nge-Hits Anak Muda Milenial!

TripTrus.Com - Menurut survey terkini yang dilakukan oleh situs expedia, generasi millenial lebih memilih melakukan liburan ke tempat baru daripada membeli mobil. Mereka yang lahir antara tahun 1982 dan 1999 ini lebih ingin berpetualang dan menikmati hidup, bahkan menunda untuk menikah, demi mendapatkan pengalaman di tempat baru. Beberapa hal ini lho yang dituding jadi penyebab kebiasaan mereka untuk traveling. Maraknya Penggunaan Internet Mudahnya mendapatkan akses internet membuat banyaknya situs-situs baru blog, forum maupun media sosial yang mengulas tempat-tempat wisata. Review yang ditulis dengan bahasa gaul dan foto-foto yang memanjakan mata mengundang pencinta petualang untuk ikut menjajal destinasi wisata yang unik dan eksotik. Menyukai Risiko Generasi millenial dikenal sebagai suka mengambil resiko. Mulai dari keuangan, relationship, hingga urusan pekerjaan pun terkadang dinomerduakan jika berhubungan dengan traveling. Nggak heran jika terkadang mereka punya pengalaman yang kurang menyenangkan sampai menantang maut. Mencari Pengakuan Maraknya media sosial saat ini membuat generasi millenial membutuhkan pengakuan dari ‘teman-teman’ maya yang mereka miliki. Secara nggak sadar, mereka berlomba-lomba mencari like atau follower dengan mengunggah foto liburan di media sosial. Tapi perilaku ini lebih banyak dijumpai di Asia, yang aura persaingan antar individu emang lebih ketat. Ingin Mengenal Budaya Lain Mengenal budaya lokal di tempat yang disambangi biasanya menjadi salah satu poin penting yang dicari oleh para generasi millenial. Ketimbang menggunakan travel agent, mereka lebih senang “nyasar” dan mendapatkan pengalaman bertemu penduduk asli, tanpa jadwal padat dan bujet terjangkau. Tata cara hidup sehari-hari dan kuliner lokal biasanya wajib dicicipi saat sedang traveling. Ingin Menyendiri Hidup di jaman modern yang penuh dengan tekanan dan kesibukan mudah membuat pikiran merasa stres. Melepaskan diri sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan dan kehidupan dapat menyegarkan jiwa dan pikiran. Melihat pemandangan dan kebiasaan yang beda dari sehari-hari juga bisa membuka wawasan akan hal baru dan memberikan ide-ide segar. Buat generasi millennial, liburan sudah jadi kebutuhan penting. Selain untuk tujuan refreshing, juga memberikan pengalaman hidup yang berharga. (Sumber: Artikel frameatrip.com Foto stylus.com)
...more

Menyelami Exsotisnya Batuan Granit Belitung

Menyelam dan melihat terumbu karang yang cantik nan memukau di dasar laut memang sangat menggairahkan, tetapi menyelam dan menyusuri bebauan granit bawah laut, masuk diantara sela batuan granit tersebut memberi pengalaman tersendiri bagi saya. Belitung terkenal dengan pantai yang indah dan dipadu dengan batuan granit besar yang menambah kesan exotisnya. konon tempat seperti itu hanya ditemukan di dua tempat di dunia yaitu Belitung dan satu lagi di kepulauan Seychelles, Afrika Tengah. Penyelaman kali ini saya lakukan di salah satu spot diving di perairan Tanjung Kelayang, sisi utara pulau Belitung. Spot tersebut bernama Batu Malang Penyu. Nama Batu Melang Penyu sendiri diambil karena spot penyelaman ini berada di sekitaran batu granit besar yang berbentuk penyu dan berada sendirian di tengah lautan, yah sungguh malang. Kita bisa melihat batu ini dari kejauhan ketika kita berada di pantai Tanjung Kelayang. Baiklah, sekarang akan kita mulai cerita penyelaman kita menyusurui batuan granit bawah laut Belitung. Ketika mulai penyelaman, sajian terumbu karang yang cantik menyambut kita di kedalaman dua meter. Semakin masuk ke dalam kita akan melewati celah yang terbentuk dari reruntuhan batu granit tersebut. Adrenalin mulai terpacu, celah tersebut mulai menyempit dan hanya bisa di lewati oleh satu orang. Kita harus hati-hati dan tidak boleh memegang sembarangan karena banyak sisi yang tajam dan mungkin bisa melukai kita. Penyelam harus cepat melewati celah tersebut karena terkadang ada arus yang bisa melemparkan kita apalagi jika kita menyelam di musim Barat yaitu periode November – Februari karena ombak dan arus di Belitung akan lebih kuat saat musim tersebut. Keluar dari celah tersebut kita akan melihat reruntuhan batuan granit yang sudah di tumbuhi terumbu karang di atasnya. Batuan granit tersebut tersusun cantik berpadu dengan warna-warni coral dan ikan karang yang bermain seakan menggoda kita. Menyusuri dan menyelami batuan granit Belitung tidak hanya memanjakan mata dan juga adrenalin kita. Dari segi ilmu pengetahuan kita juga bisa mencoba mengetahui dan meneliti dari mana Batuan granit tersebut berasal. Batu Granit besar yang kita lihat di daratan Belitung ternyata hanya sebagian kecil. Di dasarnya Batuan granit tersebut menyambung antara satu batu dengan batu yang lain. Setelah puas diving kita bisa memanjat ke atas Batuan tersebut dan melihat landscape yang sangat indah dari atasnya. Di atas batu Malang Penyu ini kita bisa menemukan telur burung Camar dan juga banyak Ular laut yang bersembunyi disela bebatuan. Petualangan diving menyusuri bebatuan granit bawah laut Belitung sungguh tak terlupakan. Belitung sungguh indah, begitu pun Indonesia. Jaya Nusantara.
...more

Seba Baduy Angkat Potensi Wisata Banten

TripTrus.Com - Prosesi budaya seba Baduy bakal digelar di Serang, Banten pada 20 sampai 22 April 2018. Seba baduy selalu istimewa, bukan hanya even tersebut saja yang bisa dinikmati, potensi alam Banten dan wisata sejarahnya menjadi paket lengkap bagi wisatawan. “Potensi pariwisata Provinsi Banten sangat besar dan sangat lengkap. Baik itu wisata bahari, wisata alam, wisata sejarah. Semua itu dibalut dengan budaya yang sangat kaya. Dengan Festival Exciting Banten on Seba Baduy kami akan mengangkat itu semua,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eneng Nurcahyati dikutip sportourism.id. Banten selama ini memang menjadi tujuan warga Jakarta tersebut untuk berwisata. Bukan hanya jaraknya yang dekat, tetapi juga pesonanya yang luar biasa. Banten punya beberapa pantai yang menarik. Diantaranya Pantai Anyer, Pantai Carita, Pantai Karang Bolong, Pantai Sawarna, serta kawasan Tanjung Lesung. Deretan pantai ini selalu menjadi pilihan warga ibukota untuk berwisata. “Bahkan Pantai Sawarna merupakan salah satu spot favorit untuk berolahraga surfing. Karena, ombaknya cukup baik,” Eneng menambahkan.   "Lojor henteu meunang dipotong, pendek henteu meunang disambung" (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung) Filosofi itulah hingga kini tetap aktual bagi Masyarakat Baduy dipedalaman Lebak yang merayakan tradisi upacara Seba sebagai wujud ungkapan syukur kepada Bapak Bapak Gede (Bupati atau kepala pemerintahan daerah). Perayaan adat Seba, menurut warga Baduy, merupakan peninggalan leluhur tetua (Kokolot) yang harus dilaksanakan sekali dalam setiap tahun. Acara itu digelar setelah musim panen ladang huma, bahkan tradisi sudah berlangsung ratusan tahun sejak zaman Kesultanan Banten di Kabupaten Serang. Seba itu sediri merupakan menyerahan hasil tani atau hasil bumi pada pemerintah setempat yang biasa kita sebut dengan upeti pada kerajaan, itu semua merupakan rasa syukur masyarakat baduy luar dan baduy dalam karena mendapatkan hasil panen yang melimpah ruah, kegiatan seba ini tanpa ada paksaan dari manapun masyarakat baduy luar yang dipimpin oleh Jaro maupun baduy dalam yang dipimpin oleh Puun, bersama-sama berbondong-bondong membawa hasil tani tersebut pada pemerintah. Diperkirakan Perayaan adat Seba tahun ini dimulai tanggal 20 April di Lebak, 21 April di Pandeglang dan berakhir 22 April di Kota Serang. Mari kita menonton Seba Baduy, Seba Baduy bukan sekadar kita menonton melainkan ada tuntunan didalamnya. Dok. Foto @explore_serang Seba Baduy 2016 #sebabaduy #lebak #pandeglang #kotaserang #banten #indonesia #excitingbanten #banten7wonders #ayokebanten #genpibanten #exploreserang #explorebanten #exploreindonesia #wonderfulindonesia #pesonaindonesia A post shared by Explore Serang (@explore_serang) onApr 18, 2018 at 6:41pm PDT Banten juga mempunyai beberapa pulau yang sangat cantik. Sebut saja Pulau Tunda dengan panoramanya yang rupawan. Pulau Sangiang yang begitu eksotis. Atau Pulau Dua yang menjadi persinggahan burung-burung langka dari berbagai belahan dunia. Belum lagi gunung api fenomenal, Gunung Anak Krakatau. Gunung yang juga menjadi bagian dari Provinsi Lampung itu, pernah menghebohkan dunia dengan letusannya. Letusan yang dirasakan diberbagai benua dan ikut mempengaruhi iklim dunia. [Baca juga : Trip Sehari, Wisata Sejarah Di 3 Pulau] “Mempunyai pantai dan pulau yang indah tentunya Banten juga memiliki pemandangan bawah laut yang sangat mempesona. Tidak kalah dengan pesona bawah laut daerah lainnya di Indonesia,” ucap Eneng. Selain itu, Provinsi Banten juga memilik Taman Nasional Ujung Kulon. Taman Nasional ini menjadi rumah terakhir bagi badak bercula satu yang sangat langka. Bukan itu saja Provinsi Banten memiliki banyak peninggalan cagar budaya masa lalu yang terhampar dari Tangerang Selatan hingga Banten Lama. Peninggalan cagar budaya tersebut berupa situs sejarah yang telah menjadi bagian perkembangan budaya Banten sejak dahulu kala. “Kalau peninggalan sejarah, Banten punya banyak. Pasalnya Banten merupakan salah satu kota pelabuhan tertua di Pulau Jawa. Hal ini berlangsung sejak jaman kerajaan Banten. Ada Benteng Speelwijk, Keraton Kaibon, Masjid Agung Banten, Vihara Avalokitesvara, Keraton Surosawan serat Museum Situs Purbakala Kerajaan Banten,” terang Eneng. (Sumber: Artikel palapanews.com, Foto Achmad Anwar Sanusi)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Treaking Gunung Papandayan
31 Jul - 01 Aug 2026
Open Trip Dieng Plateau
31 Jul - 02 Aug 2026
Open Trip Pulau Pahawang Lampung
31 Jul - 02 Aug 2026
×

...