shop-triptrus



Napak Tilas ke TPU Karet Bivak, Dari Kebun Karet ke Rumah Abadi Para Pahlawan Kemerdekaan

TripTrus.Com - Bro-sis traveler, pernah nggak lo mikir kalau di tengah hiruk-pikuk Jakarta ada satu spot yang nggak cuma sunyi tapi juga penuh cerita perjuangan bangsa? Yup, TPU Karet Bivak, yang awalnya cuma kebun karet milik seorang keturunan Tionghoa, Tan Tieng Sien, sekarang jadi rumah terakhir banyak tokoh penting Indonesia. Bayangin deh, tanah seluas 16,2 hektar ini nyimpen ribuan kisah, dari pejuang kemerdekaan sampe seniman legendaris yang kontribusinya bikin Indonesia kayak sekarang. 1. Dari Kebun Karet ke Makam Legendaris Awalnya, bro-sis, area ini tuh cuma hamparan kebun karet yang rindang. Tapi zaman berubah, dan di awal abad 20, lahan ini bertransformasi jadi pemakaman umum yang sekarang dikenal sebagai TPU Karet Bivak. Nggak cuma luasnya yang bikin melongo—sekitar 48 ribu makam ada di sini—tapi juga kisah di balik nama-nama yang dimakamkan. Lo bakal ngerasa kayak lagi baca buku sejarah terbuka, tapi dalam bentuk nyata. 2. Peristirahatan Para Pahlawan Kemerdekaan       View this post on Instagram A post shared by Jakarta Walking Tour (@jktgoodguide) Di sini, lo bisa nemuin makam Fatmawati, Ibu Negara pertama RI yang menjahit bendera pusaka Merah Putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945. Ada juga Mohammad Husni Thamrin, tokoh Betawi yang lantang melawan penjajahan Belanda, serta Chairul Saleh, pejuang revolusi yang perannya nggak kecil di masa awal kemerdekaan. Jalan di TPU ini tuh kayak lorong waktu yang bikin lo nyadar, kemerdekaan yang kita nikmati sekarang itu ada harga yang dibayar mahal sama mereka. [Baca juga : "17an Anti Mainstream Di TPU Tanah Kusir, Ziarah, Nostalgia, Dan Ngisi Spirit Kemerdekaan"] 3. Napak Tilas & Penghormatan Ziarah ke TPU Karet Bivak bukan cuma soal doa, tapi juga kesempatan buat lo ngerasain getaran perjuangan yang pernah berkobar di hati para pahlawan. Setiap batu nisan jadi saksi bisu perjuangan yang nggak lekang dimakan waktu. Di momen kayak Hari Kemerdekaan atau Hari Pahlawan, suasana di sini terasa beda—lebih hangat, lebih haru, kayak ada bisikan sejarah yang ngajak kita buat nggak lupa sama pengorbanan mereka. Jadi, bro-sis traveler, TPU Karet Bivak bukan cuma tumpukan batu nisan di tengah kota, tapi monumen hidup yang menyimpan jejak perjuangan. Napak tilas ke sini adalah cara kita buat mengingat, menghargai, dan menjaga semangat para pahlawan kemerdekaan. Mereka udah kasih segalanya buat kita, sekarang giliran kita yang rawat memori itu. Jadi kalau lo lagi main di Jakarta, sempetin mampir, resapi sejarahnya, dan bawa pulang rasa bangga jadi bagian dari negeri ini. (Sumber Foto @fitri_nurvita12)
...more

Juli Full Gaya! 5 Festival Paling Kece Buat Lo yang Doyan Healing Plus Budaya

TripTrus.Com - Bro-sis traveler, fix banget Juli 2025 ini bakal rame parah sama festival kece dari ujung Pacitan sampe Bali utara! Lo yang udah suntuk kerjaan atau kuliah, saatnya cuti bentar, gas liburan, dan nikmatin vibes lokal yang dibungkus cara kekinian. Gak cuma ngopi-ngopi doang, di sini lo bisa nyaksiin parade budaya, konser musik chill, fashion show etnik, sampe jajan kuliner khas yang rasanya lokal banget. Pokoknya ini bukan liburan biasa—lo bisa healing, nambah insight, plus dapet konten kece buat feed lo. Yuk, intip lima festival gokil yang kudu lo sambangin di Juli ini. 1. Festival Ronthek Pacitan: Musik Bambu yang Bikin Lo Nggak Bisa Diam ๐Ÿ“ Pacitan, 7–9 Juli Buat lo yang demen suasana malam meriah tapi tetap tradisi, Ronthek Pacitan bakal jadi pengalaman unik. Di sepanjang jalan Alun-Alun, lo bakal dengerin suara bambu digebuk rame-rame dari alat musik lokal kayak thethek, seruling, gong, sampe gendang bambu. Tapi ini bukan festival jadul ya—anak-anak muda Pacitan udah nge-blend musik dan fashion-nya biar tetap kece buat Gen Z! Ada juga bazar UMKM lokal yang jualan snack, kriya, dan pernak-pernik kece buat oleh-oleh. Suasananya tuh kayak street parade, tapi beneran dari hati! 2. Banyuwangi Ethno Carnival: Malem-Malem Tapi Colorful Abis! ๐Ÿ“ Taman Blambangan, 11–13 Juli       View this post on Instagram A post shared by ๐Ÿ‘‘ POETRA COLLECTION ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ (@putra_collection98) Kalau lo tim yang gak bisa jauh dari aesthetic dan lighting syahdu, gas ke Banyuwangi Ethno Carnival. Sepanjang 2,5 km berubah jadi runway penuh LED dan kostum etnik super niat. BEC tahun ini punya tema World Class Ethnic Attraction, dan semua digelar malam hari, bro-sis. Kostum nyala, tarian megah, musik tradisi, semua tampil dalam vibes magical kayak lagi di dunia dongeng. Lo juga bisa ngintip workshop budaya, jajan di bazar, bahkan liat lomba poster pelajar. Satu kata: GOKIL! 3. Manakarra Fair Mamuju: Pantai, Budaya, dan Local Pride Gabung Jadi Satu ๐Ÿ“ Anjungan Pantai Manakarra – Pertengahan Juli Bro-sis yang pengen chill di pinggir pantai tapi tetap dapet vibes budaya, Manakarra Fair di Mamuju cocok banget buat lo. Lo bisa nongkrong pinggir pantai sambil nonton pertunjukan seni tradisional Sulbar, jajan makanan khas yang susah lo temuin di kota besar, dan ikut workshop kriya bareng seniman lokal. Anak-anak kreatif Mamuju beneran totalitas ngasih yang terbaik—bikin lo makin cinta lokal dan bangga jadi bagian dari Indonesia. Suasananya adem, tapi semangatnya panas! [Baca juga : "Gaskeun, 7 Festival Paling Gokil 2025 Buat Lo Healing, Hunting & Explore!"] 4. Geopark Night Specta 7.0: Musik, Alam, dan Bintang-Bintang di Langit Jogja ๐Ÿ“ Embung Nglanggeran, Gunungkidul – 18–19 Juli Kalau lo tipe senja-senja club, penggemar alam, dan suka musik chill, wajib banget ke Geopark Night Specta. Venue-nya di UNESCO Geopark Gunung Sewu, dan acaranya tuh gabungan antara edukasi, konser musik, dan pelestarian alam. Ada Letto, Tami Aulia, Hasan Aftershine, sampe musisi lokal lainnya tampil dengan gaya Georkestra yang syahdu. Ditambah lagi ada Festival Coklat yang ngajarin lo soal sustainability sambil icip-icip coklat lokal. Lo healing sambil nambah ilmu? Siapa takut! 5. Lovina Festival Bali: Sunsetan, Paddle, dan Bantuin Laut Tetap Bersih ๐Ÿ“ Lovina, Buleleng – 18–22 Juli Bro-sis, lo yang lagi cari vibes Bali tapi pengen yang beda dari Kuta-Canggu, Lovina Festival tempatnya! Di pantai utara Bali yang tenang dan eksotis, lo bisa join acara ramah lingkungan kayak stand-up paddle, underwater cleanup, cooking class, sampe fashion show budaya. Festival ini ngajarin lo jaga laut sambil having fun. Gak ketinggalan ada pameran UMKM, workshop kriya, dan seminar soal pariwisata berkelanjutan. Fix banget, healing lo jadi meaningful! Pokoknya, jangan sampe lo nyesel cuma rebahan di rumah doang, bro-sis! Festival-festival kece ini GRATIS alias tinggal dateng! Dari tabuhan bambu di Pacitan sampe sunset di Lovina, semuanya punya cerita lokal yang dikemas modern. Lo bisa stay stylish, tetep jalan-jalan, plus nambah wawasan budaya yang makin bikin lo bangga jadi anak Indonesia. Buruan ajak bestie, pacar, geng lo, atau solo trip sekalian juga seru banget. Juli 2025? Harus jadi bulan paling penuh warna di hidup lo! (Sumber Foto @gedekresna__)
...more

Lembah Harau Salah Satu Lembah Terindah di Indonesia

Perjalanan 1,5 jam dari Bukittinggi ke arah barat tidak akan sia-sia karena Anda akan disuguhkan suasana alam pegunungan dihiasi jejeran air terjun indah setinggi sekitar 100 meter. Belum lagi tempatnya dilalui empat buah sungai yang jernih siap memanjakan mata Anda. Lembah Harau merupakan lembah yang subur terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Berada sekitar 138 km dari Padang dan sekitar 47 km dari Bukittinggi atau sekitar 18 km dari Kota Payakumbuh dan 2 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota. Tempat ini dikelilingi batu granit terjal berwarna-warni dengan ketinggian 100 sampai 500 meter.  Transportasi umum siap mengantarkan Anda yang datang melalui Bukittinggi. Menyewa minivan atau sepeda motor akan memastikan waktu berkunjung Anda di dataran tinggi Minangkabau lebih tepat. dan inilah salah satu lembah terindah di Indonesia. Harau diyakini berasal dari kata ‘parau’, istilah lokal yang artinya suara serak. Dulu, penduduk yang tinggal di atas Bukit Jambu sering menghadapi banjir dan longsor sehingga menimbulkan kegaduhan dan kepanikan. Penduduknya sering berteriak histeris dan akhirnya menimbulkan suara parau. Dengan ciri suara penduduknya banyak yang parau didengar maka daerah tersebut dinamakan ‘orau’ dan kemudian berubah nama menjadi ‘Arau’ hingga akhirnya penyebutan lebih sering menjadi ‘harau’. Bila anda ingin membaca artikel ini lebih detail silahkan klik website dibawah ini. Sumber:pasaharau.com/lembah-harau-salah-satu-lembah-terindah-di-indonesia/  travel.kompas.com Foto:https://travel.akurat.co/id   Kindly inform all of you we will have spectacular event on July, 13th to 15th 2018, these traditions of the Minangkabau will be presented at the Pasa Harau Art & Cultural Festival, the will be centered at the beautiful Harau Valley in Limo puluah koto Regency. Located about an hour’s drive from Bukittinggi city. The Harau Valley dubbed the Yosemite of Indonesia, has green rice fields hemmed in by huge granite rocks. Where refreshing waterfalls tumble down to irrigate the fields!!! โคโคโคโค Check it out and DON'T MISS IT!!!!! https://pasaharau.com/ Are you ready to find another heaven in Indonesia? Come on! #indonesia #pasaharau #pasaharauartandculturefestival #minangkabau #westsumatera #limopuluahkota #limapuluhkota #art #culture #wonderfulindonesia #pesonaindonesia #ayokeindonesia #welcometoindonesia #travelling #event #duniamenujuharau #roadtopasaharau2018 #beautifuldestinations A post shared by siska oktaviani (@chu8y) onApr 10, 2018 at 2:17am PDT
...more

Wae Rebo: Kampung Adat yang Mengglobal

Anda tak akan menyangka jika di pedalaman Flores, tepatnya di kabupaten Manggarai  akan menemukan sebuah “kampung internasional”, yang mana Anda akan menyaksikan orang dari berbagai negara bertemu dalam satu lokasi yang sama, tidur, dan makan dalam satu atap Mbaru Niang, demikianlah nama untuk rumah kerucut Wae Rebo. Semenjak mendapatkan anugerah Award of Excellence dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO untuk kawasan Asia Pasifik. Kampung Adat Wae Rebo setidaknya telah dikunjungi tiga ribu lima ratus pengunjung yang menjadi angka penutup di penghujung tahun 2014. Katarine misalnya, seorang turis asal Firlandia, meninggalkan moment Natal bersama keluarga untuk traveling ke Flores untuk mengunjungi Kampung yang namanya mulai tersehor di daratan Eropa sejak penetapan UNESCO. Begitu juga dengan para pengunjung dari berbagai Negara, mereka menganggap Wae Rebo seperti magnet yang baru muncul yang energinya mulai menarik para pengunjung di seluruh dunia. Kampung adat Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Wae Rebo mempunyai makna "mata air". Wae Rebo secara fisik terdiri atas tujuh rumah adat yang disebut Mbaru Niang, berbentuk kerucut yang mempunyai diameter 12-15 meter, dengan ketinggian 8-10 meter. Bagian atap yang menjuntai hingga menutupi sebagian besar bangunan ini dibuat dari rumput khusus dengan dilapisi ijuk agar lebih kuat jika diterjang angin dan air hujan. Kampung ini  juga dibangun di atas Pegunungan Pocoroko dengan ketinggian 1100 mdpl yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Selain unik dari sisi arsitek dan pemilihan lokasinya, pola susun rumah adat Wae Rebo juga unik, karena polanya melingkar dan tepat di tengah-tengahnya terdapat batuan yang disusun membentuk persegi. Pada bagian persegi itu terdapat semacam altar yang terbuat dari bambu untuk meletakan sesembahan para leluhur. Susunan batuan itu disebut sebagai Compang untuk upacara adat. Bentuk rumah adat ini selalu dikaitkan dengan bentuk sarang laba-laba yang juga terjadi dalam pola pembagian sawah yang ditanami padi oleh Suku Manggarai. Pola pembagian sawah ini juga menyerupai sarang laba-laba yang mengerucut dibagian tengah, dengan alur pembagian seperti petak-petak yang dibuat oleh laba-laba untuk menjerat mangsanya. Anda dapat menemukan sawah yang berbentuk sarang laba-laba ini di Lembor dan Cancar, saat perjalanan menuju Kota Ruteng. Masyarakat Wae Rebo percaya bahwa nenek moyang mereka yang bernama Maro berasal dari Minangkabau, yang kemudian belayar menuju ke selatan dan akhirnya menemukan Pulau Flores. Setelah itu mereka mencari lokasi, pertama kali Mereka pindah ke Liho Dari Liho, kemudian pindah ke Ndara, Golo Damu, dan Golo Pandu, setelah itu pindah ke pegunungan Poncoroko. Kedekatan budaya mereka dengan Suku Minang dapat dilihat dari bentuk rumah dan tradisi pernikahan mereka yang hampir sama. Jika Anda mengunjungi kampung adat Wae Rebo, banyak hal yang akan Anda dapatkan, di antaranya adalah nikmatnya kopi yang dibuat secara tradisional oleh penduduk setempat, selain itu juga perpaduan antara rumah adat dan hijaunya hutan bagaikan permadani  menyelimuti kokohnya gunung-gunung yang mengelilingi kampung Wae Rebo.  Perpaduan ini menjadi sebuah kolaborasi apik yang akan memanjakan mata Anda di sana. BAGAIMANA KE SANA? Wae Rebo dapat di tempuh dengan start perjalanan udara dari Bandara Ngurah Rai Denpasar menuju Bandara Labuan Bajo, yang terdapat di Kabupaten Manggarai Barat. Selanjutnya  Anda harus menempuh perjalanan darat selama 4 jam menuju Kota Ruteng, sebuah kota kecil di Kabupaten Manggarai Tengah. Selama perjalanan Anda dapat menikmati sawah yang berbentuk sarang laba-laba di Lembor atau Cancar. setelah itu perjalanan dapat dilanjutkan menuju Desa Denge yang merupakan desa terakhir sebelum trakking selama empat jam menuju Wae Rebo.    Profile Campa Tour: Create awareness of history by traveling all around the world. Discover the hidden treasures and enjoy cross-century experience. We aim to take our customer into unforgettable journey when they are taken out of their comfort zones, discover new stories, reveal the truth about ancient history, experience land before times and traditional culture, and find their true selves. Website: http://www.campatour.com/ Twitter: @CampaTour      
...more

Mantap! Ini Dia Libur Lima Hari di Agustus 2023 yang Bisa Kamu Nikmati!

TripTrus.Com -  Bro, udah masuk Agustus 2023, nih! Bulan sejarah banget buat Indonesia. Eh, ada satu tanggal merah nih di bulan Agustus yang harus kita abadikan. Libur nasional, guys! Pemerintah udah tetapin tanggalnya dan kasih tahu lewat Surat Keputusan Bersama dari tiga menteri, yaitu Menag, Menaker, dan Menteri PANRB. Jadi, ada SKB baru yang ngegantikan yang lama buat atur libur nasional dan cuti bersama di tahun ini. Maklum aja, SKB nomor 624 Tahun 2023 sama nomor 2 Tahun 2023 jadi andalan. Nih, tanggal merah cuma ada satu di bulan Agustus ini dan cuma jatuh di hari biasa, yakni tanggal 17 Agustus, yang notabene adalah Hari Kemerdekaan RI. Mantap! [Baca juga : "TMII Makin Keren, Revitalisasi Selesai, Siap Bikin Gebrakan Di 18 Agustus!"] Tapi, ada cerita menarik nih yang sempet viral di medsos. Sebenernya kita bisa dapetin libur lima hari di bulan Agustus 2023 ini. Caranya gimana? Gampang! Kamu tinggal ambil cuti pada tanggal 16 Agustus 2023, Rabu, dan tanggal 18 Agustus 2023, Jumat. As simple as that, deh! Nah, ini dia detil libur lima hari di bulan Agustus 2023 yang bisa kamu nikmati: Rabu, 16 Agustus (ambil cuti), Kamis, 17 Agustus (libur tanggal merah) Hari Kemerdekaan RI, Jumat, 18 Agustus (ambil cuti), Sabtu, 20 Agustus dan Minggu, 21 Agustus 2023 (libur akhir pekan). Enak, kan? Jadi, dari SKB 3 Menteri tadi, totalnya kita bakal dapetin 16 hari libur nasional dan 11 hari cuti bersama di tahun 2023. Wow, puas banget!  (Sumber Foto @tawatchai07) 
...more

Komunitas Heritage On Jeep Menawarkan Cara Berwisata yang Beda

TripTrus.Com - Jeep digunakan untuk offroad ataupun wisata alam lainnya adalah hal yang sudah biasa, namun apabila jeep digunakan untuk berwisata di tengah kota dengan mengunjungi objek wisata di tengah kota adalah sesuatu yang baru khususnya di Kota Palembang. Adalah komunitas Heritage On Jeep, sebuah komunitas jeep yang terdiri dari para pemandu wisata yang menawarkan pengalaman mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Kota Palembang dengan mengendarai mobil jeep. Mobil jeepnya pun terhitung lawas dibuat mulai dari tahun 1940 an hingga tahun 1980 an. “Selain mengunjungi heritage, jeep kami juga masuk heritage karena jeep lawas, kurang lebih ada di zaman perang dunia ke dua, rata- rata,” ujar Zaim, Kordinator Komunitas Heritage On Jeep dalam acara Bincang Komunitas.       Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh HERITAGE ON JEEP (@heritageonjeep) Ia mengatakan salah satu visi komunitas ini dibentuk adalah ingin memberikan alternative wisata kepada orang yang berberwisata di Palembang, namun tidak menutup kemungkinan orang Palembang sendiri ikut menggunakannnya karena banyak orang Palembang sendiri yang tidak mengetahui destinasi wisata heritage di Kota Palembang. “Peserta tour kami justru banyak dari orang Palembang. Kami membuka tour setiap hari, kapanpun mau jalan bisa kontak kami,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sebetulnya banyak objek-objek wisata di Palembang namun tidak semua terekspose dan juga tidak ada fasilitas untuk mendatangi. “Misalnya orang sering lewat di tugu tentara pelajar di talang semut dan di seberangnya ada museum tekstil, tapi orang lewat saja. Orang banyak penasaran dengan spot tersebut, nah kami akan fasilitasi. Memakai jeep untuk mengakomodir ke spot-spot daripada jalan sendiri. Menggunakan jeep bisa kelihatan kanan dan kiri karena mobil kami terbuka bagian sampingnya sehingga dapat mendapatkan pengalaman empiric,” tukasnya. Ia menjelaskan destinasi wisata yang dikunjungi komunitas Heritage On Jeep terutama adalah destinasi yang memungkinkan mobil bisa parkir. “Kita mulai dari jembatan ampera, masuk ke jalan merdeka dan berhenti di kantor walikota. Kemudian ke lorong Borotan, gedung Jacobson Van den berg, geraja Ayam, SMP negeri 1, jalan HangTuah, kolam renang Garuda yang dibuat tahun 1920-an, kisaran talang semut, tidak jauh-jauh, banyak heritage pemukiman eropa disana. Ke kawasan skanak, jalan merdeka. Jalan merdeka, sangat menarik terutama perang 5 hari 5 malam, di sana banyak laskar yang bermarkas di situ. Ke pasar pempek 26 ilir, rumah A.K. Gani, markas pejuang, tugu tentara pelajar. Jeep dulu digunakan untuk berperang. A.K . Gani punya jeep dan sekarang ada di museum A.K. Gani. Jeep digunakan untuk melawan lupa. Jeep sebagai mesin waktu bukan hanya kendaraan,” ujarnya. [Baca juga : "4 Lokasi Wisata Di Sumbar Ini Ternyata Bekas Tambang Yang Ditinggalkan"] Jeep juga memiliki kesan menarik terutama bagi kaum milenial sebagai objek foto yang instagramable. “Banyak yang Tanya boleh foto di jeepnya tidak?, skalian saja kami ajak jalan-jalan,” tukasnya. Ia menambahkan anak muda banyak yang lupa sejarah, menurutnya sejarah penting sebagai indentitas diri bangsa. "Harapannya semakin banyak tour guide, menyadarkan bahwa sejarah itu penting, minimal sejarah kita sendiri tahu, tidak harus ke kota-kota lain,” ujarnya. (Sumber: Artikel sonora.id Foto @heritageonjeep ) 
...more

Labuan Bajo, Tempat Keren Di Ujung Indonesia

TripTrus.Com - Labuan Bajo, bener-bener tuh surga tersembunyi di timur Indonesia. Desanya ada di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nah, dia bersebelahan sama Nusa Tenggara Barat dan dipisahin sama Selat Sape. Gini nih, Labuan Bajo itu salah satu dari lima Destinasi Super Prioritas yang lagi dikembangin di Indo. Jadi, ini tempatnya buat masuk ke Taman Nasional Komodo yang punya pemandangan alam keren dan hewan-hewan prasejarah terkenal. Mulai dari komodo yang jadi ikon di Pulau Rinca dan Pulau Komodo, pulau-pulau eksotis, keragaman hayati di bawah laut, sampai pantai yang bikin mata terpukau, semuanya bisa loe dapetin pas loe mampir ke Labuan Bajo.       Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Hendra Bangkit Pramana๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ (@hendraar) Gak cuma itu, nonton langit senja juga bisa jadi pilihan yang asik di Labuan Bajo. Spot paling oke buat nangkep senja ada deket Bandara Internasional Komodo. Loe bisa milih Bukit Cinta, Puncak Amelia, atau Puncak Silvia buat nyetel sunset yang bikin hati adem. Oh ya, ada juga Gua Rangko yang kaya oasis, punya kolam air asin yang berasa nyegerin banget. Kalo loe doyan petualangan, coba trekking sebentar ke Air Terjun Cunca Wulang. Atau, pengalaman unik lainnya tuh live-on-board, di mana loe bisa tidur di kapal pinisi selama beberapa hari sambil jalan-jalan ke pulau-pulau cantik, dan kalau loe mau, bisa nyelam buat liat keindahan bawah laut Labuan Bajo yang luar biasa. Labuan Bajo sama Taman Nasional Komodo tuh kayak dua dunia yang gak bisa dipisahin. Mereka saling nyatu gitu, jadi kalo loe ada di Labuan Bajo, wajib nih mampir ke Taman Nasional Komodo. Caranya gampang, bisa naik feri atau kapal cepat, banyak pilihan dari pagi sampe sore. Taman Nasional Komodo yang udah masuk Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1991 ini punya pulau-pulau keren, kayak Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan beberapa pulau lainnya. Komodo, yang sebenernya kadal gede banget, pertama kali dibahas di jurnal ilmiah tahun 1912. Jadi, dari situ, Labuan Bajo mulai dikenal di mata dunia karena banyak turis dan ilmuwan yang dateng buat liat langsung komodo alias ora, panggilan lokal buat makhluk itu. Di Taman Nasional Komodo, loe bakal dikasih tontonan keren, salah satunya foto bareng komodo. Luar biasa banget kan, bisa foto sama binatang langka yang cuma ada di Indonesia. Selain komodo, pemandangan di taman nasional ini juga keren abis. Bagi loe yang suka foto, wajib banget masukin beberapa spot di sini ke list tempat buat berfoto. Ada Pulau Padar yang punya bukit-bukit unik dan laut biru di belakangnya. Pulau Kelor juga enggak kalah bagus, pemandangan pulau dan laut biru jernih dari puncaknya itu bener-bener bikin terpana. Jangan lupa juga Pantai Pink, atau yang orang lokal panggil Pantai Merah. Tau gak, warna merah di pantai ini berasal dari hewan mikroskopis dan pecahan batu karang merah di sekitar pantainya. Kalo loe mau bawa oleh-oleh dari Labuan Bajo, ada beberapa suvenir khas yang wajib banget diambil, salah satunya kain songke khas Tanah Manggarai. Kain ini biasanya hitam dengan motif warna-warni. Motifnya juga banyak macemnya, loh! Ada motif Ranggong (laba-laba) yang simbolnya kejujuran dan kerja keras. Trus, Wela Kawu (bunga kapuk) yang artinya keterkaitan manusia sama alam sekitar. Wela Runu (bunga runu) melambangkan orang Manggarai yang kecil tapi jadi sumber keindahan. Ntala (bintang) yang berarti harapan dan doa baik. Terus ada Ju'i (garis-garis batas) yang filosofinya, semua punya batas. [Baca juga : "15 Tempat Instagrammable Di Bali Yang Harus Banget Dikunjungi!"] Kalo loe mau beli kain songke, bisa cek di pusat oleh-oleh depan Bandara Internasional Komodo. Jangan lupa juga cobain kuliner khas Labuan Bajo. Ada yang bisa bikin lidah bergoyang nih, seperti kopi manggarai yang terkenal dengan rasa pahit yang unik, roti kompiang yang terbuat dari terigu dengan taburan wijen di atasnya, atau camilan dari tepung beras dan kelapa parut yang namanya rebok. Labuan Bajo bisa dijangkau lewat darat, laut, atau udara. Keindahan Pulau Komodo dengan keberagaman budaya lokal dan pulau-pulau cantik di sekitarnya bikin Labuan Bajo jadi tempat wisata yang banget diminati. 1. Jalur Udara Kalo loe mau terbang, Transnusa Airlines punya penerbangan langsung ke Labuan Bajo dari beberapa kota di Indonesia, kayak Makassar, Semarang, Balikpapan, Kupang, dan Mataram. Kalo loe dari Jakarta, Batik Air dan Citilink juga punya penerbangan ke Labuan Bajo. Waktu tempuh dari Jakarta ke Labuan Bajo sekitar empat jam. Lainnya, loe bisa terbang ke Labuan Bajo dari Bandara Gewayantana di Flores, Bandara Frans Sales Lega di Ruteng, atau Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende. Cek jadwal penerbangan di situs web maskapai, ya! 2. Jalur Darat Road trip ke Labuan Bajo via Flores juga seru, Sob! Rutenya bisa dari Flores, Bajawa, Ruteng, Nancar, sampe Labuan Bajo. Atau dari Flores, ke Riung, Wera, Ruteng, Nancar, dan Mboera sebelum nyampe di Labuan Bajo. Perjalanan darat ini bisa makan waktu sampe 12 jam. Alternatif lain, loe bisa naik bus dari Bali ke Mataram, Lombok. Dari sana, loe bisa lanjut ke Bima di Sumbawa, terus melanjutkan perjalanan ke Sape. Nah, dari Sape, loe bisa naik kapal feri ke Labuan Bajo. 3.    Jalur Laut Kalo loe pengen ngejar perjalanan laut, loe bisa naik kapal Leuser dari PELNI yang berangkat dari Makassar, Sulawesi Selatan, atau kapal PELNI KM Binaiya yang berangkat dari Denpasar (Benoa) ke Labuan Bajo. Cek jadwal kapalnya di www.pelni.co.id. Nah, itu dia yang perlu loe tau tentang Labuan Bajo. Selain bisa nyoba serunya Labuan Bajo, loe juga bisa abadikan momen-momen kece dari sana pake gawai atau kamera loe. Enjoy your trip, Bro! (Sumber Foto @pranayoga) 
...more

Tradisi Bakar Batu Jelang Buka Puasa di Papua

TRIPTRUS - Kaum muslim yang berada di Wamena, Pengunungan tengah Papua memiliki tradisi unik saat bulan puasa. Adalah tradisi bakar batu. Tradisi itu adalah memasak menggunakan batu yang dipanasi dengan dibakar di atas api sejak nenek moyang warga Papua sebelum memeluk agama Islam. Selama bulan Ramadan, tradisi ini tetap dilakukan untuk memasak makanan berbuka puasa. Karena memasak dengan cara bakar batu memakan waktu lama, warga memanggang batu di atas kayu bakar hingga membara. Menunggu batu siap digunakan para kaum perempuan membersihkan sayuran, umbi-umbian, dan daging ayam yang telah dicuci bersih. Begitu batu siap, warga membuat lubang kecil dan menaruh alang alang sebagai alas, lalu batu panas dimasukkan ke dalam lubang beralas alang-alang. Bahan makanan seperti singkong betatas serta jagung ditaruh di atas batu panas disusul sayur-mayur yang terdiri daun singkong dan daun betatas, daging ayam lalu ditutup menggunakan daun pisang. Butuh waktu sekitar 2 jam hingga tak ada asap yang keluar dari lubang dan seluruh bahan makanan matang dan siap untuk berbuka puasa Komunitas Muslim Wamena yang berjumlah sekitar 24 kepala keluarga. (Sumber: Artikel dan Foto tv.liputan6.com)
...more

4 Tren Wisata di Tahun 2021

TripTrus.Com - Memasuki pertengah tahun 2021, pandemi COVID-19 di dunia belum akan berakhir. Namun, di tengah pandemi yang terjadi, keinginan untuk menikmati liburan yang menyenangkan akan selalu ada. Prediksinya, di tahun 2021 orang lebih suka berlibur di dalam kota dan ke tempat-tempat yang terbuka atau di alam.        Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh J.u.s.t. Jas ๐Ÿ‡จ๐Ÿ‡ฆ (@j.u.s.t.jas) Seperti apa tren wisata di tahun 2021? Agoda, sebuah platform perjalanan digital melangsungkan survei global dengan tema ‘What Matters 2021’. Survei secara online yang berlangsung pada 10-16 Desember 2020 diikuti total 16.064 responden usia 18 tahun ke atas ini mendapati orang cenderung ingin berwisata dengan cara yang berbeda di tahun 2021. Berikut hasilnya:1. Menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas dengan keluarga dan teman Tahun 2021 disebut akan menjadi tahun untuk fokus pada orang terkasih dan melakukan hal yang bermakna. Memasuki tahun 2021, satu dari tiga orang menantikan untuk menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama orang terdekat mereka. Hal ini terutama dinantikan oleh responden dalam kelompok usia 25 hingga 54 tahun. 2. Berwisata tanpa hambatan Sebanyak 24% resonden menginginkan wisata yang tanpa hambatan. Menariknya, responden usia 55 tahun ke atas adalah yang paling menantikan untuk bepergian tanpa hambatan. Begitu pula dengan responden dari Singapura, Korea Selatan dan Jepang yang paling menginginkan wisata tanpa hambatan. Selain itu, para traveler juga menginginkan suasana berlibur yang lebih santai dan tanpa banyak aturan. 3. Berlibur sambil melakukan hal-hal bermakna atau membuat perubahanAnak muda usia 18-24 tahun adalah kelompok yang paling semangat untuk membuat perubahan di tahun 2021, termasuk dalam hal berlibur. Melakukan hal-hal yang bermakna atau membuat perubahan adalah yang paling ditunggu oleh responden dari Indonesia, Taiwan, dan Vietnam. Salah satunya, mereka memiliki komitmen untuk perjalanan yang lebih ramah lingkungan. [Baca juga : "5 Tren Wisata Yang Berubah Di Masa New Normal Pandemi Covid-19"]4. Semakin dekat dengan alamMelakukan kegiatan outdoor adalah hal yang paling dinantikan para wisatawan di tahun 2021. Responden Indonesia (16%), Thailand (14%) dan Jepang (13%) memilih untuk mengunjungi destinasi wisata yang tidak terlalu touristy di tahun yang baru ini. Termasuk destinasi wisata alam yang masih belum terjamah banyak wisatawan. (Sumber: Artikel femina.co.id Foto freepik.com) 
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography
×

...