TripTrus.Com - Jika mendengar nama kota Tangerang, mungkin akan langsung terbesit wisata kuliner Pasar Lama, atau wisata sejarah Klenteng Tua Boen Tak Bio. Namun, ternyata kota Tangerang memiliki satu lagi objek wisata yang wajib Anda kunjungi jika berada di kota tersebut.
Terletak di pusat jantung kota Tangerang, dan menjadi pintu gerbang dari objek wisata Tangerang, tempat wisata dengan nama Kampung Berkelir ini wajib untuk dikunjungi Saat berkunjung ke sini, Anda bisa berpose dengan latar belakang lebih dari 1.121 mural dan grafiti yang Instagramable.
Kampung ini sengaja dibuat penuh warna dengan menghabiskan sekitar 1.435 kaleng cat, dibantu oleh 120 seniman dari berbagai kota di Indonesia, dan warga kampung babakan sendiri yang dengan antusias bekerja hingga 24 jam.
Tak hanya berswafoto, saat berada di sini, Anda juga bisa berkeliling kota Tangerang, dan menikmati segala objek wisata menggunakan kendaran khas kota Tangerang, yaitu odong-odong yang juga berhias mural dan grafiti.
Mulai dari pijakan, dinding, hingga atap, semua penuh warna dan dihiasi mural warna-warni.
Saat menginjakkan kaki di tempat ini, Anda juga bisa sekaligus mencicipi makanan khas Kampung Berkelir, seperti nasi ulam, getuk, emping jengkol, Tauge Kacang Hijau, Sayuran Hidroponik, Jahe Merah, Dodol Jahe Wijen, dan Sambel Pecel khas Kota Tangerang. (Sumber: Artikel viva.co.id Foto housing-estate.com)
...moreTripTrus.Com - Gunung Pancar tak hanya menyajikan suasana alam pedesaan yang adem dan asri. Gunung yang berada di wilayah Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat ini juga dikenal dengan penghasil kopi robusta.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor, bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berkolaborasi menjadikan kawasan itu sebagai kampung lopi. Disebut demikian karena Babakan Madang sebagai penghasil kopi terbesar di Jawa Barat untuk jenis robusta.
"Produksi kopi robusta sebanyak 2.844.528 kilogram per tahun," kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Irma Villayanti di Cibinong, Senin, 6 Agustus 2018.
View this post on Instagram
Diveraifikasi perkeebunan kopi dengan sayur. Ada enaknya Ada ga enaknya Enaknya, kita bisa memiliki dua penghasilan. Tanah padat termanfaatkan maksimal. Habis jual kopi lalu panen sayur. Asyik kan, duitnya banyak Xixixixi Salah satu ga enaknya adalah ketika salah satu tanaman sayur atau kopi terkena hama. Dan menular ke pohon lain, lalu terjadilah transfer penyakit. Jadi kami harus telaten menyemprot dengan fungisida. Kami sedang riset fungisida alami menggunakan bahan yang ada di kebun. Bahannya sangat mudah ditemui misalnya gadung, mimba, mahkota dewa, lengkuas, jahe, kunyit, dan serai. Ah, bertani itu penuh tantangan, kesabaran dan mengasyikkan. Bangga saat hasilnya memuaskan, sabar ketika belum sesuai harapan. Semua itu tak lain agar kita pandai bersyukur dan selalu ikhtiar. Sudah sore ya, siap-siap pulang kerja ya bosku? Pulangnya ngopi dulu☕☕☕ #pirocoffee #kopisukabumi #kopijabar #javapreanger #scai #kopigayo #kopimalaysia #kopibogor #kopijakarta #kopibekasi #kopidepok #kopibali #kopitoraja #kopipapua #kopijogja #kopisurabaya #kopibandung #kopicianjur #kopijatim #kopipuntang #manualbrew #coffeeroaster #sukabumi #sukabumi_ #sukabumifoodies #sukabumikuliner #sukabumiupdate #sukabumitoday #geoparkciletuh #arabika
A post shared by Piro Coffee Halimun Sukabumi (@kopigununghalimunsukabumi) onOct 5, 2018 at 3:06am PDT
Luas area tanaman kopi saat ini, berdasarkan catatan Irma, mencapai 6.059 hektare terdiri dari 408 hektare kopi jenis arabika dan 5.651 hektare robusta. Data rata-rata produksi 750 sampai 800 kilogram per hektare. Hasil ini belum mengarah ke produktivitas maksimal. "Hasil yang sesungguhnya seharusnya bisa mencapai 1.500 sdampai 2.000 kilogram perhektare."
Tak kurang dari 40 kelompok tani kopi di Gunung Pancar berhimpun. Mereka mendapat binaan, berupa pelatihan peningkatan produksi dan promosi. "Menurut data, pecapain tersebut setelah ada 40 kelompok tani yang menjadi binaan," kata Irman.
Untuk meningkatkan produktivitas, menurut Irma, perlu adanya sistematika dan sinergisitas dengan Dinas Pariwisata. "Ini sistematika membuka peluang usaha agar tercapainya kemandirian dan penyegaran di bidang pariwisata guna menjadikan kampung wisata kopi," ujar Irman sembari menambahkan bahwa sektor pariwisata, hasil perkebunan dan hasil bumi harus bersinergi menjadi obyek wisata alam.
Di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, petani kopi robusta memasuki akhir panen. Berdasarkan pantauan di Desa Tepusen, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, harga biji kopi robusta di tingkat petani pada awal panen Rp 24 ribu per kilogram, saat ini turun menjadi Rp 23 ribu per kilogram.
[Baca juga : "Festival Kopi Temanggung Sediakan 1000 Gelas Kopi Gratis"]
Menurut petani kopi di Dusun Nolopo, Desa Tepusen, Mujiono, mengatakan meskipun harga biji kopi turun, namun harga kopi gelondong masih bertahan Rp 5.500 per kilogram untuk petik campur, yakni merah dan hijau, sedangkan petik merah bisa mencapai Rp6.000 sampai 6.300 per kilogram. "Penurunan harga kemungkinan karena produksi kopi tahun ini melimpah dibanding tahun lalu," kata pria 60 tahun ini.
Petani warga Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Eko Susilo, menjelaskan produksi kopi tahun ini memang lebih baik dari tahun lalu karena pada saat berbunga disertai hujan yang cukup. "Kami menyayangkan harga biji kopi turun di akhir masa panen ini," kata Eko yang memprediksi pada akhir Agustus ini kemungkinan panen kopi selesai. (Sumber: Artikel tempo.co Foto pixabay.com)
...moreTripTrus.Com - Tim destinasi Ramadan mengunjungi Kota China kecil di Lasem, Jawa Tengah. Tepatnya ke sebuah pesantren bernuansa negeri Tirai Bambu. Untuk sampai Kabupaten Rembang ditempuh dengan penerbangan dari Jakarta ke Semarang. Setelah itu dilanjutkan lewat jalur darat selama tiga jam menyusuri Jalur Pantura. Seperti ditayangkan Liputan6SCTV, untuk menuju ke kota santri ini, para pengunjung bisa naik sepeda. Olahraga kecil sambil bernostalgia menikmati arsitektur khas negeri China.
Ponpes kauman lasem #explore#explorelasem#vakansinesia#lasemkotapusaka#lasemkotatua
A post shared by L A S E M ❤❤❤ Tour guide (@yanto.ryan) onMay 13, 2018 at 7:40am PDT
[Baca juga : Dua Pantai Indah Indonesia Versi Media Amerika Serikat]
Setiap melewati rumah, beragam pintu terdapat huruf kanji yang berisi kalimat-kalimat bijak. Memasuki kawasan pesantren, wisatawan akan disambut pos ronda berwarna merah. Saat masuk, disambut dengan ornamen-ornamen China. Perpaduan budaya China dan Jawa sangat melekat di pesantren ini.
PonPes dan Pecinan menyatu dlm Pesona Lasem #kesengsemlasem #pesonaindonesia #rembangkece #pecinanlasem #ponpeslasem
A post shared by Desi PanaLukan (@panalukan) onNov 5, 2016 at 7:09am PDT
Toleransi antar etnis dan agama juga terlihat dari warga sekitar yang menyumbang lampion untuk pesantren. Yang menarik, tinggi toleransi di tempat ini membuat warga etnis China di sekitar tertarik untuk mempelajari Islam dan memilih menjadi mualaf. Salah satunya Ustaz Javier.
Destinasi selanjutnya adalah berziarah ke Pasujudan Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim. Semasa hidupnya, Sunan Bonang telah menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Pasujudan Sunan Bonang untuk mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah SWT berwujud batu. Tak heran banyak pengunjung penasaran melihat batu tempat bersujudnya Sunan Bonang.
Ada juga Masjid Sunan Bonang. Masjid ini sudah ada sejak tahun 500 masehi. Masa dimana Sunan Bonang menjalankan misinya menyebarkan agama islam. Dan sekarang saat mencari suasana alam di Rembang untuk ngabuburit. Pantai Karang Jahe dapat menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu sambil menanti azan maghrib. (Sumber: Artikel liputan6.com, Foto vakansinesia.com)
...moreTripTrus.Com - Kemenparekraf baru aja ngebocorin target besar mereka buat tahun 2024, guys. Salah satunya nih, nilai devisa pariwisata tembus Rp202,3 Triliun! Tapi, jangan seneng dulu, soalnya ada tantangan besar yang bakal dihadapi nih oleh industri pariwisata.
Menurut si bos besar Astindo, Pauline Suharno, tantangan paling kenceng yang lagi dihadapi itu masalah konektivitas penerbangan. Gede banget masalahnya, guys! Nah, terus solusinya apa dong?
View this post on Instagram
A post shared by Nikolett Fekete • travel creator (@fktnikolett)
Buat yang penasaran, nih, saksikan obrolan seru antara Shinta Zahara dan Pauline Suharno di Profit CNBC Indonesia. Hari Kamis (30/11/2023), mereka bahas rinci tentang hal ini, lho!
Dan Wisata Santai atau "Slowcation" Diprediksi Bakal Jadi Gemesin Banget di 2024, Nah Ini Alasannya! Kabarnya, Pinterest udah nebak-nebak nih, tren wisata kece buat tahun depan. Dalam laporannya yang berjudul Pinterest Predicts 2024, katanya, wisatawan bakal lebih milih perjalanan yang santai alias slowcation.
Jadi begini, guys, Gen Z dan millennial tahun depan lebih suka destinasi yang tenang, nggak terlalu rame, gitu. Mereka mau perjalanan yang nggak terlalu padet jadwalnya, biar bisa meresapi kehidupan lokal dan kebudayaannya.
[Baca juga : "Gili Islands Jadi Pilihan Cool Liburan 2024 Ala National Geographic!"]
Slowcation ini artinya kita bisa menjelajahi tempat-tempat yang masih sepi dari kunjungan wisatawan. Di sini kita bisa ngobrol sama warga setempat, mampir ke seniman atau pengrajin lokal. Keren, kan?
Oh iya, menurut Pinterest, tahun depan kata kunci pencarian populer bakal berhubungan sama konsep slowcation. Ada yang nyari hotel staycation, solo traveling, hidup santai, tantangan detoks digital, dan tidur ASMR.
Selain slowcation, Pinterest juga nebak kalau para Boomer dan Gen Z bakal suka banget sama wisata alam. Mereka bakal sering camping, hiking, atau off-road. Makin seru nih liburannya. So, jangan lewatkan keseruan slowcation dan serunya generasi Boomer serta Gen Z yang hobi petualangan alam, ya! (Sumber Foto @h_trip)
...moreTripTrus.Com - Jadi, Dispar Natuna, Kepulauan Riau, lagi heboh-promosiin 29 kegiatan keren lewat Calendar Of Event 2024, loh.
Ketemu Kardiman, Kepala Bidang Pemasaran Dispar Natuna, nih, pas ngobrol di ruang kerjanya tanggal 12 Januari 2024. Dia bilang, dari 29 event pariwisata yang masuk ke Kalender Of Event 2024, ada yang level Internasional, bro! Ada Natuna GEO Run, Natuna Fishing Festival, Natuna GEO Ride, dan Parade Jet Ski di Serasan.
View this post on Instagram
A post shared by sanggar seni antan-antan bate (@antan_antan_bate)
"Iya, kita udah keluarin kalender Even Kegiatan Wisata tahun 2024, loh. Ini kolaborasi sama OPD, Pemerintah Kecamatan, Desa, Sekolah, dan Komunitas di daerah," paparnya.
[Baca juga : "Bro, NTB Nyemplungin 36 Event Keren Buat Tahun 2024 Nih!"]
Kardiman ceritain, kegiatan ini tujuannya buat ngundang wisatawan ke Natuna, sekaligus biar pada kenal sama obyek wisata di daerah sini dan melestarikan budaya Natuna.
Buat pelaksanaannya, Dispar Natuna bakal bekerjasama sama OPD, Pemerintah Kecamatan, Desa, Komunitas, dan Pemerhati Wisata di daerah. Seru, kan? Jadi, siap-siap buat merapat ke Natuna, guys! (Sumber Foto @danil.sanjaya)
...moreTripTrus.Com - Bro dan Sis traveler, siap-siap deh buat pengalaman yang nggak cuma selfie doang! Pulau Bintan itu nggak cuma keren karena pantainya, resornya, atau sunsetnya, tapi dia nyimpen warisan budaya yang gue yakin bakal bikin lo chill sekaligus mikir. Dari desa tradisional yang rumah panggungnya unyu sampai kuil kuno yang penuh aura spiritual—semua bisa lo temuin di Bintan. Jadi jangan cuma bawa baju pantai, bawa juga rasa penasaran lo buat ngebongkar kisah di baliknya. Yuk, mulai jejak budaya kita!
1. Kampung Panglong – Rumah Panggung & Dapur Arang yang Khas
Di Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, ada Kampung Panglong yang vibe-nya tuh beda, bro. Rumah-rumah panggung kayu berdiri di atas, jalurnya setapak, suasananya tuh kaya lo lagi time travel ke masa lalu Melayu. Nah, dapur arang kubah di situ itu, mirip rumah es-kimo, dulu Panglong ini jadi produsen arang terbesar di Bintan tahun 1920-an. Meskipun sekarang produksi arangnya udah nggak jalan, bangunan uniknya tetep ada, jadi saksi bisu sejarah. Lo bisa ngerasain banget atmosfer budaya tradisional yang udah berdiri kokoh meski zaman udah ganti.
2. Masjid Raya Sultan Riau – Majestic & Penuh Arsitektur Multikultur
View this post on Instagram
A post shared by Rizky Budiarto (@buruhurban)
Abis dari Panglong, lo bisa nyebrang ke Pulau Penyengat buat mampir ke Masjid Raya Sultan Riau. Warnanya kuning-hijau yang mencolok, bikin kesan kerajaan Melayu yang elegan. Arsitekturnya tuh ga biasa: campuran gaya Melayu, Arab, India, bahkan Turki. Uniknya lagi, bangunan ini pake putih telur sebagai bahan perekat, loh—ya, putih telur! Cocok sama pasir dan kapurnya, jadi selain indah juga awet strong. Di dalemnya ada Al-Quran tulisan tangan tua yang umurnya lebih dari 150 tahun, bikin suasana mistis plus ngebawa lo ke zaman dimana religi dan arsitektur jadi satu kesatuan sakral.
3. Desa Senggarang – Jejak Tionghoa & Kehidupan Nelayan yang Damai
Sis, kalo lo suka suasana adem, damai, dan tradisional, Desa Senggarang wajib masuk list. Ini tempat imigran Tionghoa periode abad ke-18 menetap. Ada kuil Lau Ya Keng dan Kuil Banyan Tree yang udah lebih dari 200 tahun umurnya, plus rumah panggung, gang-gang kecil, cermin di atas pintu (katanya tolak roh jahat) yang bikin nuansanya magis. Loe bisa nongkrong sambil ngerasain kayak di kampung halamannya orang-orang tua, sambil nyicipin jajanan lokal yang sederhana tapi rasanya ngena.
[Baca juga : "Liburan Santuy Dekat Pelabuhan Merak, Nih Spot Hitsnya!"]
4. Grotto Santa Maria – Ziarah & Kedamaian Tropis
Buat lo yang pengen merenung sambil adem udara laut, Grotto Santa Maria di dekat Pantai Trikora jadi spot yang pas. Ada jalan salib, ada patung Bunda Maria beratnya sekitar 250 kg yang menyambut lo di area ini. Tempat ini dibangun sejak tahun 1960-an oleh komunitas Katolik kecil, tapi spiritualitas dan ketenangannya tuh berasa banget. Alam tropis + suara ombak + doa + patung-patung di sepanjang jalan → kombinasi yang bikin hati relax tapi juga mikir betapa kayanya keragaman budaya dan iman di Bintan.
5. Vihara Ksitigarbha Bodhisattva alias Kuil 500 Lohan – Patung Banyak & Meditasi Visual
Terakhir bro & sis, jangan lupakan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, yang terkenal juga sebagai Kuil 500 Lohan. Begitu masuk halaman, lo bakal disuguhi ratusan patung Arhat / Lohan, masing-masing dengan ekspresi dan detail yang beda-beda, lo bisa liat wajah damai, serius, kontemplatif, semuanya tertata rapi. Atmosfernya sunyi tapi kuat, cocok banget buat yang pengen break sejenak dari hiruk pikuk. Di sinilah lo merasakan kekayaan spiritual dan visual yang bukan cuma Instagrammable, tapi juga punya kedalaman makna.
Bro & Sis traveler, Pulau Bintan itu bukan cuma destinasi liburan biasa—ini panggung hidup budaya, sejarah, religi, dan spiritualitas yang saling bersinergi. Setiap sudut punya cerita: dari Panglong yang kayak museum terbuka sampai kuil dan masjid yang berbicara lewat arsitektur dan ritual. Jadi waktu loe ke Bintan, jangan cuma selfie di pantai atau resort doang, tapi explore juga warisan budaya yang bikin lo makin ngerti tentang manusia, lingkungan, sejarah. Loe bakal pulang nggak cuma dengan kulit yang gosong, tapi dengan hati yang kaya oleh makna. Selamat jelajah, bro & sis, semoga petualangan budaya lo paling memorable! (Sumber Foto @genpiindonesia)
...moreMemasuki salah satu situs bersejarah di Minahasa Utara ini butuh sedikit perjuangan untuk mencarinya. Letaknya yang berada di belakang perumahan dan lahan penduduk membuat salah satu situs bersejarah di Sulawesi Utara ini agak tersembunyi. Inilah Situs Waruga Sawangan yang merupakan kuburan tua peninggalan zaman megalitik orang Minahasa.
Waruga di Minahasa diperkirakan berkembang pada sekitar awal abad ke-13 sebelum Masehi. Kemunculan Waruga pertama kali di daerah Bukit Kelewer, Treman, dan Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara. Kemunculan Waruga kemudian terus berkembang di berbagai daerah di Sulawesi Utara hingga awal abad ke-20 Masehi.
Pada zaman pra-sejarah masyarakat Minahasa masih percaya jika roh leluhur memiliki kekuatan magis. Untuk itu, kuburan dibuat secara khusus dengan seindah mungkin. Waruga terdiri dari dua bagian, bagian badan dan bagian tutup. Bagian badan berbentuk kubus dan bagian tutup berbentuk menyerupai atap rumah.
Uniknya, waruga tidak dibuat oleh kerabat atau keluarga dari orang yang meninggal akan tetapi dibuat sendiri oleh orang yang akan meninggal. Ketika orang itu akan meninggal maka dengan sendirinya akan memasuki waruga yang dibuatnya itu setelah diberi bekal kubur lengkap. Suatu hari bila itu dilakukan dengan sepenuhnya akan mendatangkan kebaikan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Sebenarnya di Sulawesi Utara banyak terdapat situs Waruga, salah satunya di Desa Sawangan Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara. Terdapat 143 buah Waruga di desa ini yang dibagi dalam beberapa ukuran yang dikelompokkan menjadi 3 kelompok.
Kelompok pertama, Waruga berukuran kecil dengan ketinggian antara 0-100 cm sebanyak 10 buah. Kedua, Waruga berukuran sedang dengan ketinggian antara 101-150 cm sebanyak 52 buah. Ketiga, Waruga berukuran besar dengan ketinggian antara 151-250 cm sebanyak 81 buah.
Waruga sendiri berasal dari bahasa Tombulu, yakni dari suku kata Wale Maruga yang memiliki arti rumah dari badan yang akan kering. Waruga juga memiliki arti lainnya yakni Wale Waru atau kubur dari Domato atau sejenis tanah lilin.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...moreTripTrus.Com - Di sisi lain saat dipakai untuk memotret saja, shutter kamera hanya akan terbuka sebentar dan menangkap cahaya yang diperlukan. Akan tetapi saat dipakai untuk merekam atau melihat gerhana matahari secara langsung, shutter akan terbuka dalam waktu lama, memungkinkan banyak cahaya untuk masuk dan akhirnya berpotensi merusak sensor kamera.
Alasan yang sama juga dipakai oleh fotografer untuk menghindari memotret langsung menghadap matahari terlalu sering. Bahkan, mengarahkan kamera ke matahari dalam waktu lama juga dipercaya bisa membakar shutter dan mekanisme bukaan lensa kamera.
Demi keselamatan smartphone atau kamera, sangat disarankan untuk menambahkan filter khusus yang ditempatkan di depan lensa untuk mengurangi paparan cahaya saat memotret gerhana matahari. (Sumber: Artikel merdeka.com Foto indogamers.com)
...moreTripTrus.Com - Pabrik Gula Madukismo didirikan pada tahun 1955 pada awalnya bernama Pabrik Gula Padokan. Pada masa pejajahan Belanda pabrik ini hancur lebur dan selanjutnya dirintis kembali oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Selanjutnya didirikan kembali Pabrik Gula Padokan dengan nama Pabrik Gula Madukismo. Gagasan pendirian Pabrik Gula Madukismo bertujuan menolong rakyat karena banyak dari karyawan pabrik yang kehilangan pekerjaan semenjak pabrik tersebut dihancurkan oleh Belanda. Pembangunan kembali Pabrik Gula Madukismo diharapkan dapat menampung lebih banyak lagi orang bekerja dan terlibat dalam usaha Pabrik Gula Madukismo.
black smoke💨 •••••••• Lokomotif PG Madukismo nomor 3 yang sedang menarik lori isi tebu menuju penggilingan dan seorang pegawai yang sedang menabur pasir supaya roda gak selip #pgmadukismo #pabrikgulamadukismo #madubaru #madukismo #loritebu #dieselhidrolik #veblokomotivbau #karlmarx #babelsberg
A post shared by Novian Ananda Perdana (@novian_rf_daop6yk) onMay 23, 2018 at 2:30am PDT
Akan banyak para petani terlibat proses penanaman, pemeliharaan, panen dan pabrik sendiri akan banyak menyerap tenaga kerja terutama pada saat musim giling. Perjalanan Wisata Agro Industri adalah melihat proses dari produksi yang dilakukan Pabrik Gula Madukismo. Wisatawan dapat menaiki gerbong yang ditarik lokomotif tua. Wisata ini biasanya dilaksanakan saat musim giling yaitu bulan Mei – September.Wisatawan dapat menyaksikan dari dekat proses produksi gula secara langsung. Proses ini diawali dengan pemerahan nira untuk mendapatkan sari gula kemudian pemurnian nira dengan cara sulfitasi, penguapan nira, kristalisasi, puteran gula dan pengemasan gula.
[Baca juga : "Banten Lama, Cerita Yang Memudar"]
Saat musim penggilingan tebu datang pada bulan Mei – September, wisatawan dapat melihat ritual cembengan yang dilaksanakan warga sekitar dan karyawan pabrik. Ritual tersebut bertujuan memohon doa restu agar proses penggilingan berjalan dengan lancar. Selama ritual, wisatawan dapat melihat kirab tebu temanten dan berbagai acara kesenian lainnya seperti pasar malam, jathilan dan wayang kulit semalam suntuk. Selain mencermati proses produksi gula, wisatawandapat melihat mesin-mesin tua yang menjadi alat produksi Pabrik Gula Madukismo.
Pabrik Gula Madukismo dengan Jembatan Sungai Kwai di Thailand
Besi – besi bekas dari mesin produksi di Pabrik Gula Madukismo ini pernah diangkut ke Thailand yang selanjutnya digunakan untuk membangun Jembatan Sungai Kwai. Jembatan tersebut merupakan penghubung antara Thailand dengan Burma yang dahulu merupakan lokasi pertempuran hebat pada masa Perang Dunia ke 2 dan sudah pernah dipakai dalam pembuatan film The Bridge of the River Kwai termasuk dalam Best Movie yang dalam penayangannya berhasil memenangkan 7 Oscar pada tahun 1957.
Pabrik Gula Madukismo dengan Jembatan Sungai Kwai di Thailand Besi – besi bekas dari mesin produksi di Pabrik Gula Madukismo ini pernah diangkut ke Thailand yang selanjutnya digunakan untuk membangun Jembatan Sungai Kwai. Jembatan tersebut merupakan penghubung antara Thailand dengan Burma yang dahulu merupakan lokasi pertempuran hebat pada masa Perang Dunia ke 2 dan sudah pernah dipakai dalam pembuatan film The Bridge of the River Kwai termasuk dalam Best Movie yang dalam penayangannya berhasil memenangkan 7 Oscar pada tahun 1957. #pabrikgulamadukismo #yogya_istimewa
A post shared by Rbt (@bintang_rbt78) onAug 3, 2017 at 11:04pm PDT
Sekarang jembatan yang dibangun dari besi bekas dari Pabrik Gula Madukismo menjadi obyek wisata ziarah andalan negara Thailand untuk mengenang para pekerja romusa dan pertempuran dengan Sekutu. (Sumber: Artikel njogja.co.id Foto @noviannuliangga )
...more