shop-triptrus



5 Festival Kece 2025 yang Bikin Liburan Lo Nggak Cuma Healing Tapi Juga Berfaedah!

TripTrus.Com - Bro-sis traveler! Tahun 2025 ini tuh vibes-nya gak main-main, bro-sis! Dari ujung barat sampe timur, banyak festival kece yang siap lo sambangin buat healing, cari konten estetik, nambah insight budaya, sampe explore hal baru yang pastinya gak zonk! Lo bisa nikmatin parade, musik, kuliner, seni, sampe bazar handmade—all in one package! Jadi, dari sekarang mending lo tandain kalender, siapin outfit kece, dan gas bareng bestie buat eksplor festival hits ini. Cek deh, list paling kece tahun ini yang udah gue acak-acak tapi tetep gokil buat lo! 1. Tong Tong Night Market – Malang, 24–27 Juli 2025 Lo suka vibes pasar malam yang nostalgic tapi pengen versi glow up? Tong Tong Night Market di Malang ini jawabannya, bro-sis! Empat malam penuh lampion lucu, live music indie, booth jajanan lokal kekinian, sampe street food yang packaging-nya Instagramable banget. Bayangin aja lo nyicipin dessert viral sambil chill bareng DJ set low-key—suasana taman jadi magical dan cozy parah! Mulai dari penganan tradisional yang dibikin aesthetic, sampe spot foto temaram buat konten story lo yang dreamy abis. Terus, tiap malam ada live performance, musisi muda nongol satu-satu bawa vibe yang slow tapi nagih. Dan nih ya, sesi akhir acara ada workshop DIY & mini talk soal upcycle barang bekas—lo bakal pulang gak cuma kenyang, tapi juga makin sustainable mindset-nya. Gas gak tuh? 2. Solo Keroncong Festival – Solo, 25–26 Juli 2025 Nah buat lo yang mau ngerasain kombinasi musik tradisional tapi tetap nempel di lidah Gen Z, Solo Keroncong Festival ini destinasi lo, sis bro! Diadain dua hari di area Gladag sampe Puro Mangkunegaran yang epic abis, event ini bukan sekadar konser, tapi juga cultural healing spot. Paduan antara keroncong klasik + hip hop fusion bikin telinga lo happy dan hati lo adem. Ada juga workshop bareng musisi muda, diskusi musik santai, sampe spot bazar makanan tradisional yang dikemas dengan vibe cafe kekinian. Jangan skip juga experience “Becik Ketitik” yang dalam tapi catchy banget—kayak quote kehidupan yang lo bawa pulang. Lo bakal makin cinta budaya tapi tetap relevan sama zaman. 3. Asia Africa Festival – Bandung, 25–27 Juli 2025       View this post on Instagram A post shared by bdg.humas (@humas_bandung) Siap-siap, Bandung bakal geger sama event satu ini, bro-sis traveler! Asia Africa Festival balik lagi dan kali ini vibes-nya makin rame, makin niat! Bayangin lo nyusurin jalan Braga sampe Cikapundung Barat, sambil jajan kuliner lokal, hunting barang UMKM kekinian, dan cari angle buat feed IG lo yang on point. Acara full tiga hari ini ada parade budaya, fashion show, sampe penampilan komunitas lokal dan internasional yang bikin lo merasa kayak lagi di festival luar negeri—padahal lokal pride, bro! Jangan lupa mampir ke Asia Africa Corner, tempat nongki sambil cicip makanan khas, fashion bazar, sampe barang limited edition yang punya story. Tips gue: dateng hari kedua atau ketiga biar dapet vibes paling maksimal dan food stall yang lebih chill! [Baca juga : "Juli Full Gaya! 5 Festival Paling Kece Buat Lo Yang Doyan Healing Plus Budaya"] 4. Alunan Budaya Pringgasela Raya – Lombok Timur, 20–26 Juli 2025 Mau dapet experience budaya yang autentik tapi tetap kekinian? Cuss ke Desa Pringgasela Raya, Lombok Timur. Selama tujuh hari penuh, lo bakal disuguhin tenun Sasak asli, upacara adat, musik tradisional, dan talkshow seru seputar pelestarian budaya. Highlight-nya? Demo langsung dari para penenun, workshop bikin motif tenun lo sendiri (yes, bikin bukan cuma beli!), plus pertunjukan tari dan musik adat yang dikurasi biar tetap cocok sama selera Gen Z. Jangan heran kalo malem terakhir lo bakal baper gara-gara staging-nya yang megah dan nuansa budaya Lombok yang deep banget. Siap-siap bawa pulang bukan cuma oleh-oleh, tapi juga pengalaman yang soulful abis! 5. Kenduri Seni Melayu – Batam, 16–18 Mei 2025 Bro-sis, ini nih festival yang cocok buat lo yang cinta budaya Melayu tapi pengen tampil modern. Kenduri Seni Melayu di Batam bawa suasana Melayu serumpun—dari Indonesia, Brunei, Malaysia, sampe Singapura—semua tumplek blek dalam satu panggung kece di Harbourbay! Mulai dari fashion show etnik, bazar kuliner khas Melayu modern, live music lintas negara, sampe workshop batik dan kriya, semua bisa lo temuin di sini. Jangan lupa juga ada kompetisi seni tradisional ala Gen Z yang fresh. Dan penutupnya? Panggung kolosal plus kembang api yang bakal bikin malem terakhir lo pecah banget. Cocok buat lo yang suka vibes internasional tapi rooted ke budaya lokal. Tahun 2025 tuh bukan sekadar nyari liburan doang, tapi soal bikin momen yang memorable, meaningful, dan pastinya penuh warna! Dari festival keroncong sampe night market, dari vibes Melayu sampai parade budaya internasional—semuanya bisa jadi story kece buat lo share di medsos. Jadi jangan cuma wacana, yuk atur waktu, ajak bestie lo, dan eksplor festival-festival ini bareng. Karena hidup tuh terlalu singkat buat liburan yang biasa aja. Let’s make 2025 your most colorful journey ever! (Sumber Foto @nanang_malik)
...more

Holeo Atraksi Wisata Pertama Di Indonesia Yang Cocok Untuk Berekreasi Dan Berelasi

Jakarta, 4 Oktober 2023 - HOLEO Golf & Museum muncul sebagai angin segar bagi industri hiburan dan pariwisata. HOLEO Golf & Museum menghadirkan sejumlah terobosan yang menarik, yaitu mini golf bertema 4 musim dan museum dessert yang menggemaskan. Selain seru untuk berekreasi, HOLEO juga seru untuk menggelar berbagai acara dan berelasi, seperti ulang tahun, gathering, dan acara korporat. Ini dia 5 alasan mengapa HOLEO Golf & Museum adalah destinasi seru untuk berekreasi dan berelasi!       Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Fina🌻 (@finandyanigeliia) Arena mini golf pertama di Indonesia yang memiliki 18 holeHOLEO Golf & Museum yang berlokasi di Jl. Cilamaya No.3, Cideng, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat ini hadir sebagai wahana permainan mini golf pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memiliki 18 hole dengan tema 4 musim yang memanjakan mata. Keempat musim tersebut, yaitu spring, summer, fall, dan winter. Keempat musim tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing, seperti bunga, dedaunan, igloo, dan ombak. Terus berinovasi dengan menghadirkan konsep yang freshSelain HOLEO Golf & Museum yang terletak di Cideng, HOLEO juga pernah membuka Pop-Up Mini Golf di COVE Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara dengan konsep “Golf by the Sea”, yakni mini golf 9 hole yang mengasyikkan dengan pemandangan tepi laut yang indah dan bermain mini golf dengan konsep “Glow in the Dark” di malam hari. Hal ini mencerminkan semangat HOLEO untuk selalu berinovasi dengan konsep tempat yang fresh yang menarik lebih banyak pengunjung. Bisa untuk menggelar berbagai acaraHOLEO Golf & Museum ternyata tidak hanya seru untuk bermain. Di sini, kamu bisa menggelar sejumlah acara, seperti ulang tahun, gathering, dan acara korporat. HOLEO memiliki beberapa jenis group package yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan acaramu. Ingin menyajikan alternatif hiburan baru yang disruptif dan inovatifSelain menyajikan arena mini golf dan museum dessert, HOLEO juga turut memberdayakan lahan tak produktif untuk memberikan alternatif hiburan baru bagi masyarakat. “Di HOLEO, kami memanfaatkan lahan yang tak terpakai menjadi sarana hiburan yang disruptif dan inovatif. Berpusat dan beroperasi di Jakarta, Indonesia, industri hiburan saat ini sangat siap untuk inovasi.” ujar Andre Husada, Co-Founder & CEO HOLEO. [Baca juga : "Persembahan Dari Andre Husada, Co-Founder & CEO HOLEO, 'Startup Safari': Buku Bisnis Yang Ramah Anak"] Harga tiket masuk HOLEO Golf & MuseumUntuk Anda yang tertarik mengunjungi HOLEO, berikut ini rincian harga tiket masuk HOLEO Golf & Museum:Weekdays: Golf (include 1 putter & 1 ball, durasi maks 3 jam): 80k Museum (Include 1 totebag/canvas & painting kit, durasi maks 3 jam) 80k All access: golf & museum masing-masing arena berdurasi 3 jam 129k Unlimited all access: golf & museum tanpa batas waktu 179k Weekends: Golf (include 1 putter & 1 ball, durasi maks 3 jam): 90k Museum (Include 1 totebag/canvas & painting kit, durasi maks 3 jam): 90k All access: golf & museum masing-masing arena berdurasi 3 jam 149k Unlimited all access: golf & museum tanpa batas waktu 199k Kehadiran HOLEO Golf & Museum diharapkan menjadi referensi utama sarana rekreasi yang menyenangkan bagi seluruh warga Jakarta dan dapat menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan selama bermain dan menggelar acara di HOLEO. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi media contact HOLEO Golf & Museum: WhatsApp: 081299955088 atau Email: hello@holeomuseum.com
...more

Dispar Buleleng Kembali Gelar Lovina Festival di Juli 2023, Menjadi Daya Tarik Wisatawan Mancanegara

TripTrus.Com - Setelah mengalami vakum selama dua tahun akibat pandemi COVID-19, Dinas Pariwisata (Dispar) Buleleng akan menggelar kembali Lovina Festival. Festival Lovina rencananya akan digelar pada bulan Juli 2023. Hal ini memberikan harapan baru bagi pelaku pariwisata dan UKM di Buleleng. Lovina Festival memiliki daya tarik yang besar bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait persiapan festival yang akan berlangsung di Pantai Lovina.       View this post on Instagram A post shared by Anjar Tri Astuti (@triastutianjar) "Kami telah mendorong komunitas seni dan para pelaku industri pariwisata di kawasan Lovina untuk bersama-sama menyelenggarakan Lovina Festival yang pertama kali setelah pandemi COVID-19," ujar Kepala Dispar Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, pada Kamis (20/4/2023). Dalam menentukan waktu penyelenggaraan, Dody mempertimbangkan periode high season pada bulan Juli. High season diharapkan dapat menarik minat sebanyak mungkin dari wisatawan mancanegara. Selama tiga hari, wisatawan dapat menikmati Lovina Festival yang menampilkan pertunjukan seni dan budaya serta kuliner khas Buleleng. Festival ini akan lebih mengutamakan perkembangan sektor seni dan budaya serta ekonomi kreatif. "Dalam penyelenggaraan Lovina Festival tahun ini, akan diadopsi banyak ide dan gagasan baru," jelasnya. [Baca juga : "Pengaruh Pertandingan FIFA Matchday Indonesia Vs Argentina Terhadap Pariwisata Menurut Sandiaga"] Event ini juga menjadi momentum untuk memulihkan sektor pariwisata di kawasan Lovina. Melalui Lovina Festival, Dispar Buleleng akan menunjukkan bahwa Lovina sebagai kawasan wisata memiliki beragam talenta seni dan budaya yang khas. "Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan seni dan budaya kepada para tamu wisatawan yang akan menjadikan Lovina Festival sebagai agenda tetap setiap tahun, sehingga mereka dapat kembali pada periode high season berikutnya, bahkan mengajak keluarga dan kerabat mereka untuk datang ke sini," tambahnya. (Sumber Foto @cityzens_reports) 
...more

7 Destinasi Wisata Kopi di Indonesia

TripTrus.Com - Perkembangan zaman membuat kopi tak lagi hanya sebatas minuman tetapi telah menjelma menjadi gaya hidup. Ajakan untuk ngopi berarti ajakan untuk nongkrong santai sambil berbincang-bincang bersama rekan sejawat. Dalam hal ini, bukan saja kenikmatan aroma dan rasa kopi yang penting, tetapi juga kebersamaan yang tercipta.   Kopi Gayo . . . #kopigayo #kebunkopi #kopiumang #kopi #singleorigin #acehtengah #kopitakengon #penikmatkopi #pecandukopi #sukakopi #carikopi #maukopi #coffe #kopihitam #kopisusu #kopiindonesia #kopijava #kopitoraja #kopikintamani #kopilampung #kopikerinci #arabika #pohonkopi A post shared by Coffe Arabica Gayo (@peminatkopi) onFeb 9, 2018 at 6:26pm PST "Tak heran, industri kopi semakin lama semakin populer. Aneka bisnis berbasis kopi mulai bermunculan dan menawarkan pengalaman baru bagi para penikmatnya. Misalnya, aktivitas minum kopi yang diracik sendiri. Lainnya, jelajah destinasi wisata kopi di berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia." 1. Takengon Takengon menawarkan banyak tempat wisata diantaranya Danau Lut Tawar di Dataran Tinggi Gayo. Objek wisata kopi dengan ketinggian 1.100 meter ini menyuguhkan pemandangan alam yang memesona dengan hawa yang sejuk. Sambil menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, Anda bisa menyeruput segelas kopi Gayo, hasil perkebunan milik warga yang diolah secara tradisional. Petani kopi di Takengon memang bukan hanya menanam kopi, tetapi juga mengolahnya supaya bisa langsung dinikmati. Inilah magnet yang menarik wisatawan dan penggemar kopu untuk berkunjung. 2. Lampung Lampung memproduksi sekitar 100.000 ton biji kopi per tahun. Daerah ini adalah salah satu penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia. Bagi penggemar kopi hitam yang militan, kopi lampung bisa masuk dalam daftar Anda. Salah satu wisata kopi sekaligus perkebunan kopi di Lampung adalah Liwa, Lampung Barat. Jika berkunjung ke daerah ini, Anda akan segera mencium aroma kental seduhan kopi di udara yang berasal dari warung-warung sepanjang jalan. Begitu menariknya daerah ini, Liwa juga menjadi salah satu lokasi adegan di film Filosofi Kopi (2015). Apakah Anda tertarik untuk berkunjung ke sana? 3. Ambarawa Jika Anda penggemar kopi dan sedang berada di Ambarawa, maka Kampung Kopi Banaran tak boleh terlewatkan. Perkebunan kopi yang berada di bawah pengelolaan PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero), tepatnya di wilayah Areal Perkebunan Kopi Kebun Getas Afdeling Assinan kini memiliki fungsi lain sebagai destinasi wisata kopi. Berada di Jalan Raya Semarang – Solo Km. 35 membuat Anda tak sulit mencapainya. Anda hanya perlu berkendara sekitar 1 km dari Terminal Bawen. Kampung Kopi Banaran berada di ketinggian 480-600 meter dpl. Suhu udara mencapai 23-27 derajat Celcius. Jadi, suasananya sangat sejuk. Untuk menjelajahinya, Anda bisa menyewa mobil golf dan berkeliling selama 30 menit. Selain melihat perkebunan kopi dari dekat, Anda juga dapat mengamati proses pemeliharaan kebun kopi. Namun, yang paling penting adalah mencicipi kenikmatan kopi Banaran yang benar-benar menggoyang lidah pecinta minuman berkafein ini. Oh, ya, Anda juga bisa membeli oleh-oleh kopi dalam kemasan praktis. 4. Bali Bukan hanya pesona alam dan keindahan budayanya yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bali. Kota Dewata ini ternyata memiliki destinasi wisata kopi yang menarik. Menurut sejarah, perkebunan kopi di Bali dimulai oleh para petani dari Lombok pada awal abad ke-20. Daerah yang dianggap ideal karena kesuburan tanah dan iklimnya yang sesuai adalah Kintamani. Awalnya, kopi yang ditanam adalah kopi robusta karena tahan lama dan mengandung kafein tinggi. Namun, jenis itu kini diganti dengan kopi arabika karena harganya lebih tinggi dan rasanya tidak terlalu asam. Jika berkunjung ke Bali, jangan lewatkan kesempatan untuk melihat cara pengolahan kopi paska panen yang khasK. Kopi Bali diproses dengan cara tradisional, yaitu dengan proses basah. Artinya, kulit dan daging kopi dibuang sebelum bijinya mengering. Biasanya, buah kopi dikeringkan dahulu untuk kemudian diproses. Ini yang menyebabkan kopi Bali memiliki warna yang lebih terang daripada jenis kopi lainnya 5. Toraja Siapa yang tidak mengenal kopi Toraja? Bukan hanya masyarakat lokal, kenikmatan rasa kopi Toraja juga sudah diakui oleh masyarakat internasional. Dengan merk dagang Toraja Arabica Coffee, kopi ini dapat dengan mudah ditemukan pada kedai kopi papan atas di Denmark, Swedia, Finlandia, dan sebagainya. Ketenaran kopi Toraja dapat Anda nikmati jika berkunjung ke perkebunan kopi Sulotco yang terletak di Bittuang, tepatnya di Bolokan, Kabupaten Tana Toraja. Tak hanya sedapnya aroma kopi, tetapi Anda dapat berwisata kopi dengan menjelajah perkebunan kopi seluas  800 ha. Perkebunan ini asalnya adalah milik seorang Warga Negara Belanda bernama  H.J. Stock van Dykk. Saat Belanda hengkang dari Indonesia, kepemilikan lahan pun berganti dan dikuasai oleh Jepang hingga kemudian diambil alih oleh negera Indonesia selepas kemerdekaan. Kini, Perkebunan dikelola oleh  PT. Sulotco Jaya Abadi dan terus mengembangkan produksi kopi khas Toraja. 6. Manggarai Kopi Manggarai mungkin belum terlalu dikenal di kalangan pecinta kopi yang masih awam. Sebenarnya, kopi yang berasal dari Manggarai Timur, NTT, ini telah dinobatkan sebagai kopi Indonesia terbaik 2015 dalam kontes yang diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia. Untuk pengalaman yang lebih banyak, cobalah datang ke Kampung Melo di Sanggar Budaya Compang Toe, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat. Di sini, Anda akan dapat merasakan enaknya kopi khas Manggarai tersebut. 7. Wamena Destinasi wisata kopi lain yang bisa Anda kunjungi adalah Wamena, sebuah kota kecil yang berada di Lembah Baliem Pegunungan Jayawijaya, Papua. Cuaca di daerah ini sangat dingin, mencapai 15-20 derajat Celcius. Tak heran, masyarakatnya suka minum kopi untuk menghangatkan badan. Wamena merupakan salah satu daerah penghasil kopi arabika yang cukup terkenal. Rasa kopinya sangat berbeda karena tumbuh di lahan yang subur tanpa menggunakan pupuk kimia. Nah, apabila Anda memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Wamena, ini saatnya mencecap kehangatan kopi tubruk dengan sederhana. (Sumber: Artikel aeroticket.com, Foto nontonthehighestreet.com)
...more

Taman Nasional Bunaken

Taman Nasional Bunaken ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai taman nasional pada tahun 1991. Obyek wisata ini luas sekitar 89.065 hektare, berada di wilayah Kabupaten Minahasa, Kotamadya Manado, Sulawesi Utara. Di sebelah utara taman nasional, ada pulau Bunaken, Manado Tua, Montehage, Siladen, Nain, Nain Kecil, dan sebagian wilayah pesisir Tanjung Pisok. Sementara di bagian selatan, meliputi sebagian pesisir Tanjung Kelapa.Lokasi ini merupakan perwakilan ekosistem perairan tropis Indonesia yang terdiri dari ekosistem hutan bakau, padang lamun, terumbu karang, dan ekosistem daratan atau pesisir. Pulau-pulau di dalamnya kaya akan flora dan fauna. Perairan Taman Nasional Bunaken memiliki 13 genera (genus) karang hidup yang didominasi oleh jenis terumbu karang tepi dan terumbu karang penghalang. Tercatat sekitar 91 jenis ikan yang hidup di perairan ini, diantaranya ikan kuda gusumi (Hippocampus kuda), oci putih (Seriola rivoliana), lolosi ekor kuning (Lutjanus kasmira), goropa (Ephinephelus spilotoceps dan Pseudanthias hypselosoma), ila gasi (Scolopsis bilineatus). Di tempat wisata ini banyak kegiatan wisata bahari yang ditawarkan, seperti: diving, snorkeling, berjemur, dan berenang di laut. Di pantai Kalase, yang berada di pinggir Kota Manado, terdapat sebuah diving center bernama Dragonet yang pernah menjadi sekretariat acara Sail Bunaken yang memecahkan rekor MURI dengan lebih dari 2.000 penyelam mengikuti upacara bendera di dasar laut. Bapak James, pemilik Dragonet Diving Center, mempekerjakan instruktur selam bersertifikasi SDI (Scuba Diving International) yaitu Bapak Ferry. Dragonet menawarkan pelajaran menyelam bagi pemula, yang meliputi dasar-dasar menyelam (breathing, buoyance control, mask clearing, ear equalization) selama 15 menit, dan setelah paham akan langsung diajak menyelam selama 45 menit di kedalaman hingga 6 meter. Dengan bantuan instruktur selam yang sudah berpengalaman seperti Bapak Ferry, para pemula dijamin bisa menyelam.Selain melalui Pantai Kalase, Taman Nasional Bunaken juga dapat dicapai melalui Pelabuhan Manado, Marina Nusantara Diving Centre (NDC) di Kecamatan Molas yang memakan waktu sekitar 20 menit, dan dari Marina Blue Banter dengan waktu tempuh sekitar 10 – 15 menit menggunakan kapal pesiar. Jika berangkat dari pelabuhan Manado, bisa menggunakan perahu motor menuju pulau Siladen yang dapat ditempuh sekitar 20 menit, ke pulau Bunaken sekitar 30 menit, ke pulau Montehage sekitar 50 menit, dan ke pulau Nain sekitar 60 menit. Biaya masuk ke lokasi ini sebesar Rp 2.500 per hari untuk wisatawan domestik, dan Rp 150.000 per tahun untuk wisatawan asing. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Grebek Sudiro, Tradisi Jawa-Tionghoa yang Gokil Abis di Solo!

TripTrus.Com - Lo udah denger belum soal Grebek Sudiro? Kalo belum, sini gue kasih tau, bro! Ini tuh acara keren yang jadi bukti nyata akulturasi budaya Jawa sama Tionghoa di Solo. Vibes-nya naik level banget, kayak Solo jadi panggung budaya internasional gitu!       View this post on Instagram A post shared by dhawisa07 (@dhawisa07) Grebek Sudiro tuh tradisi yang asalnya dari Jawa. Kata "Grebek" sendiri artinya syukuran ala Jawa, sedangkan "Sudiro" diambil dari nama kampung Sudiroprajan yang deket banget sama Pasar Gede. Nah, di acara ini, ada dua kegiatan utama yang nggak boleh lo skip: Sedekah Bumi – Ini tuh ajang syukuran buat warga sama pedagang Pasar Gede. Semacam doa bareng biar rezeki lancar. Kirab Budaya – Bayangin deh, tarian Jawa digabung sama barongsai dan liong. Vibes-nya estetik parah, bro! Pokoknya epic banget. Grebek Sudiro udah ngehits dari tahun 2007, gengs. Awalnya acara ini diinisiasi sama tiga tokoh keren: Oei Bengki, Sarjono Lelono Putro, sama Kamajaya. Mereka pengen banget bikin kampung Sudiroprajan jadi naik kelas, kayak Kampung Sewu gitu. Tiap tahun temanya beda-beda, bikin acara ini nggak pernah bosenin. [Baca juga : "Cap Go Meh Singkawang, Vibes Mistis, Atraksi Gila, Lo Harus Dateng!"] Lampion kece yang bikin Solo makin estetik? Udah pasti ada. Ditambah jajanan khas Tionghoa yang ngilerin abis. Lo tau nggak, pemerintah Solo udah masukin Grebek Sudiro ke kalender resmi mereka. Jadi, jangan sampai lo kudet soal acara ini. Grebek Sudiro ini juga bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) yang digarap sama Kemenparekraf. Jalan Jenderal Sudirman, Balai Kota Solo, dan Pasar Gede dihias full sama 5000 lampion cantik, gengs! Kebayang kan vibes-nya? Selain itu, ada 20 booth UMKM yang jualan makanan enak sama aksesoris kece. Plus, ada karnaval budaya yang ngegabungin Jawa sama Tionghoa. Pokoknya, seru banget buat lo yang suka vibes budaya unik dan instagrammable. Jadi, jangan lupa tandain kalender lo, bro. Grebek Sudiro tuh bukan sekadar event biasa, tapi pengalaman gokil yang bakal bikin lo makin cinta sama budaya Indonesia! (Sumber Foto @sevendrone)
...more

Melihat Penangkaran Tukik di UPTD Pusat Konservasi Penyu Pariaman

Selain dikenal dengan objek wisata jam gadang, Sumatera Barat juga ternyata memiliki satu destinasi eko-wisata yakni Pusat Konservasi Penyu di Kota Pariaman. Di sini, kita dapat melihat bagaimana penyu-penyu yang hidup di kawasan Pariaman dipelihara dalam sebuah penangkaran. Untuk bisa menuju pusat konservasi yang terletak di Jalan Syeh Abdul Arif, Desa Apar, Kecamatan Pariaman Utara, Sumatera Barat, tidaklah begitu sulit. Dari Pusat Kota Pariaman hanya memerlukan waktu 10 menit untuk sampai ke destinasi ini. Begitu sampai di pusat konservasi ini, aneka jenis tukik seperti menyambut keberadaan kita. Ada beberapa jenis tukik yang bisa kita lihat di sini seperti penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik. Sejak 2009 tempat penangkaran penyu ini telah melakukan penangkaran kurang lebih 30.000 ekor tukik. Setelah melewati masa penangkaran, sebagian besar tukik-tukik tersebut kemudian dilepaskan ke laut. Untuk dapat lebih dekat dan bahkan ingin menyentuh tukik-tukik ini, UPTD Pusat Konservasi Penyu Pariaman ini memiliki beberapa fasilitas yang dapat dikunjungi pengunjung seperti, ruang inkubasi peneluran penyu, hacthery, dan ruang karantina. Pengelola juga menyediakan ruang informasi untuk pengunjung yang ingin mengetahui lebih banyak informasi mengenai tukik-tukik yang ada di pusat konservasi ini.   Selain berfungsi sebagai pusat konservasi, saat ini UPTD Pusat Konservasi Penyu Pariaman juga menjadi salah satu objek eko-wisata. Tidak hanya wisatawan dari Pariaman dan Padang pada umumnya, namun wisatawan mancanegara juga menjadikan destinasi wisata ini sebagai salah satu tempat yang mereka kunjungi ketika berada di Pariaman. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

6 Tempat Wisata Sejarah yang Wajib Dikunjungi di Semarang

TripTrus.Com -  Semarang menjadi salah satu kota di Indonesia yang menjadi saksi perjuangan rakyat melawan penjajah. Tidak heran, di kota lumpia ini banyak ditemui bangunan bekas zaman kolonial yang masih berdiri kokoh. "Tak jarang pula, kawasan bersejarah di Semarang menjadi objek wisata yang kerap dikunjungi turis lokal maupun mancanegara yang ingin mengetahui soal sejarah bangsa Indonesia." Jika Anda berkesempatan mengunjungi Semarang, jangan lewatkan tempat wisata bersejarah berikut ini: 1. Lawang Sewu   Upload foto lama... #kangen #semarang #lawangsewu #fotolama A post shared by bibilombok (@bibibolang) onJan 3, 2018 at 6:40am PST Cerita tentang kisah-kisah mistis yang terjadi di Lawang Sewu justru menjadi daya tarik tersendiri. Tempat ini dulunya dibangun saat Belanda masih menduduki Indonesia, dan difungsikan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api saat itu. Disebut Lawang Sewu karena bangunan ini memiliki jumlah pintu yang sangat banyak – sewu dalam bahasa Jawa berarti seribu. Jika tertarik merasakan nuansa yang lebih mencekam, Anda bisa menjelajahi Lawang Sewu di malam hari dengan dampingan pemandu. 2. Masjid Besar Kauman   "Gerbang Masjid Agung Kauman Semarang" #smg470 #semaranghebat #semarang #oudestad #oldtown #kotalamasemarang #arsitekturindonesia #arsitektur #architecture #architecturephotography #masjidindonesia #masjid #masjidagungsemarang #masjidkaumansemarang #mosque #mosqueindonesia A post shared by Suwito (@suwitowito21) onMay 28, 2017 at 11:00pm PDT Dilihat dari bentuk bangunanya, Masjid Besar Kauman memang tidak lagi memiliki rupa yang sama dengan saat awal didirikan. Namun, masjid ini masih menjaga cerita sejarah sebagai masjid tertua yang ada di Pulau Jawa. Berdasarkan prasasti yang tertulis dalam bahasa Belanda di gerbang masuk, Masjid Besar Kauman dibangun pada abad ke-18, tepatnya di tahun 1750. 3. Kota Lama Semarang   "Walk" . Tentang pejalan . . . . #streetphotography#photography#photohunt#mind#street#streetphoto#streetphotographyindonesia#hunting#ig_street#snapseed#street#mobilephotography#urbanlife#photograph#insta_pic#instagood#instaphoto#dimension#humaninterest#humaninterestphotography#portrait#urban#semarang#jawatengah A post shared by angga (@noviannuliangga) onAug 14, 2017 at 5:21am PDT Sama seperti di beberapa kota besar di Indonesia lainnya, Semarang juga memiliki wisata kota tua yang menarik untuk dikunjungi. Di kawasan Kota Lama, Anda akan menjumpai puluhan gedung-gedung kuno dengan arsitektur khas Eropa klasik yang dibangun pada zaman kolonial Belanda. Di sekitarnya juga terdapat kanal-kanal air yang sampai sekarang masih terjaga kondisinya. Turis yang datang lebih sering berfoto dengan latar bangunan kuno tersebut. 4. Gereja Blenduk   Jon Cuan Quotes: "Karena hidup butuh cuan dan liburan!" A post shared by Dhayan Amiey (@amieykha) onAug 1, 2017 at 4:09am PDT Salah satu landmark di kawasan Kota Lama Semarang adalah Gereja Blenduk. Uniknya, tempat ibadah umat Kristiani ini tidak dibangun dengan menara-menara yang menjulang seperti gereja lain pada umumnya. Sebaliknya, bangunannya memiliki kontur fisik yang memiliki kubah, dan sangat menonjol. Dengan gaya artsitektur neo-klasik, gereja yang dibangun pada tahun 1753 ini masih difungsikan sebagai tempat ibadah sampai saat ini. 5. Gedung Kesenian Sobokartti   Blue hour #bluehour #sobokartti #eos #eosm #canon📷 A post shared by Tjahjono Rahardjo (@tjahjonorahardjo) onSep 27, 2017 at 2:48pm PDT Bagi pencinta seni dan sejarah, tempat ini wajib masuk dalam daftar kunjungan Anda di Semarang. Gedung Kesenian Sobokartti didirikan oleh Herman Thomas Karsten di tahun 1929 karena kecintaannya terhadap budaya Jawa. Sampai saat ini, gedung teater masih sering menampilkan pertunjukan kesenian berupa pedalangan, tari tradisional, membatik, membuat wayang, serta pentas karawitan. 6. Kelenteng Sam Poo Kong   Panas bener . . . . #vsco #sampookong A post shared by qonita izza (@kntazza) onJan 3, 2018 at 8:09pm PST Dibangun di atas lahan seluas 3,7 hektare, Klenteng Sam Poo Kong menjadi magnet wisata di kota Semarang. Bangunan kuno ini pertama kali didirikan pada tahun 1724 oleh masyarakat Tionghoa di Semarang. Meski telah banyak mengalami perubahan bentuk bangunan, masih banyak turis yang datang untuk melakukan wisata religi. Itulah beberapa tempat wisata bersejarah yang bisa Anda kunjungi di Semarang. Untuk menjelajahinya, tentu dibutuhkan waktu lebih dari sehari. Karena itulah, memilih akomodasi terbaik saat berwisata menjadi prioritas untuk kenyamanan liburan Anda. (Sumber: Artikel bisnis.com, Foto vakansinesia.com)
...more

Curug Cikondang, Pelengkap Liburan di Cianjur

TripTrus.Com -  Berkunjung ke Cianjur, rasanya belum lengkap jika tidak singgah ke perkebunan teh atau ke Curug Cikondang di Desa Sukadana, Kecamatan Cempaka, Cianjur, Jawa Barat. Keindahan alam Cianjur ini jaraknya tidak jauh dari situs Gunung Padang, hanya 7 km. Curug yang berada di ketinggian sekitar 50 meter, terletak di tengah perkebunan teh PTP VIII Penyairan ini akan membawa Anda pada situasi yang bisa memanjakan mata dan memanjakan pikiran. Karena disekitar lokasi terdapat juga sawah-sawah dengan sistem teras siring yang tidak kalah indah dengan yang ada di Bali. Bahkan di situs National Geographic Indonesia di sebutkan jika Curug Cikondang ini adalah Niagara Mini-nya Indonesia. Pasalnya, aliran air yang mengalir dari mulut curug begitu deras dengan diameter aliran sekitar 30 meter. Seperti wisata curug atau air terjun lainnnya, di Curug Cikondang juga diperlukan stamina yang ekstra. Karena untuk mencapai lokasi, pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar satu kilometer lagi. Harga tiket masuk tidak mahal, hanya sayangnya karena dikelola warga sekitar, nominalnya sering berubah. Terkadang Rp 3.000 per orang dan di lain waktu bisa Rp 5.000 per orang. Selain itu, karena masih asri, dianjurkan untuk Anda menggunakan sepatu olahraga agar bisa meringankan langkah. Dengan kendaraan pribadi, dari Jakarta menuju Situs Gunung Padang butuh waktu perjalanan sekitar 2,5 jam ditambah 1 jam lagi jika ingin melanjutkan ke Curug Cikondang. Bahkan, untuk Anda yang berasal dari Bandung atau sekitarnya, Situs Gunung Padang dan Curug Cikondang bisa dinikmati satu hari tanpa menginap. Larangan Mandi Meski memiliki keindahan alam yang memanjakan mata dan pikiran. Ternyata, saat Anda ke curug ini lebih baik tidak melakukan aktivitas menceburkan diri atau coba-coba membasuh diri. Alasannya, Di sekitar curug ada penambangan emas dan timah yang sisa limbahnya mencemari air. Jika tidak tahan, kulit akan gatal-gatal atau memerah. Lebih baik, Anda keluarkan kamera ponsel atau kamera DSLR Anda untuk memgambil momen keindahan sekitar curug atau tepat berada di bawah air terjun yang jatuh saja. (Sumber: Artikel/Foto netralnews.com)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Open Trip Dieng Plateau
17 - 19 Apr 2026
Open Trip Sebesi Krakatau
17 - 19 Apr 2026
Open Trip Dieng Plateau
24 - 26 Apr 2026
Open Trip Sebesi Krakatau
24 - 26 Apr 2026
×

...