Alat musik yang satu ini konon sudah digunakan masyarakat di Rote, Nusa Tenggara Timur sejak abad ke-7. Inilah sasando, alat musik khas Pulau Rote yang sekilas mirip gitar.
Sasando memiliki bagian utama berbentuk tabung panjang yang terbuat dari bambu. Pada bagian tengah alat musik berdawai ini berbentuk melingkar dari atas ke bawah. Dawai-dawai pada sasando direntangkan di tabung dari atas ke bawah yang sudah diberi ganjalan-ganjalan.
Berdasarkan struktur nada, sasando dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, sasando gong dengan sistem nada pentatonik memiliki dua belas dawai. Sasando jenis ini biasanya hanya bisa digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional masyarakat di Pulau Rote.
Kedua adalah sasando biola. Sasando ini memiliki sistem nada diatonik dengan jumlah dawai mencapai 48 buah. Kelebihan dari sasando ini terletak pada jenis lagu yang bisa dimainkannya lebih bervariasi. Sasando ini diperkirakan mulai berkembang di akhir abad ke-18 dan berkembang di Kupang.
Sasando biasanya dimainkan untuk mengiringi lagu pada tarian tradisional masyarakat Nusa Tenggara Timur. Sejak tahun 1960-an, alat musik ini telah dimodifikasi menjadi sasando elektrik atas prakarsa seorang pakar permainan sasando di NTT bernama Edu Pah.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...moreTripTrus.Com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, tempat wisata lokal di dalam wilayah aglomerasinya masing-masing tetap beroperasi saat larangan Lebaran 6 sampai 17 Mei 2021. Namun, wajib menerapkan protokol kesehatan disiplin dan ketat.
Sandiaga Uno menegaskan pemerintah melarang masyarakat mudik saat libur Lebaran 2021, guna mencegah penyebaran dan peningkatan kasus COVID-19. Sandiaga mengatakan, untuk mengisi waktu liburan saat mudik dilarang, maka objek wisata lokal diperbolehkan buka dengan protokol kesehatan ketat.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Jogja Malam Hari (@jogjamalam_)
“Keputusan pemerintah untuk meniadakan mudik agar dihormati dan dipatuhi. Belajar dari pengalaman mudik tahun lalu dan Nataru (Natal dan Tahun Baru), jumlah peningkatan kasus (COVID-19) saat mudik lebaran naik 94 persen dan saat libur nataru mencapai 70 persen,” kata Sandiaga Uno saat Weekly Press Briefing di Gedung Sapta Pesona Kantor Kemenparekraf, Jakarta Pusat, Senin 19 April 2021.
[Baca juga : "3 Daerah Di Bali Siap Jadi Kawasan Wisata Bebas COVID-19"]
Kemudian terkait wisata lokal lanjut Sandiaga Uno, Kemenparekraf memastikan wisata-wisata lokal harus siap menerapkan protokol yang ketat dan disiplin. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan penerapan PPKM skala mikro dengan baik, seperti membatasi kapasitas wisatawan hingga jam operasional destinasi, hal itu untuk mengantisipasi mobilitas masyarakat karena tidak melakukan mudik saat lebaran 2021.
“Kita perlu antisipasi masyarakat saat menghabiskan waktu libur lebaran. Keputusan akhir berada di ranah pemerintah daerah dan Satgas COVID setempat, jika terjadi peningkatan jumlah COVID-19 di daerah tersebut, keputusan untuk menutup destinasi wisata ada di tangan daerah setempat,” ujarnya. (Sumber: Artikel okezone.com Foto saiul038 )
...moreTripTrus.Com - Yo, Desember udah di depan mata nih, bulan paling rame buat jalan-jalan di Indo! Banyak banget acara seru, dari tradisi unik sampai konser musik keren, bikin akhir tahun lo makin pecah. Nah, gue udah rangkumin nih beberapa event kece yang sayang banget kalo dilewatin. Yuk, simak biar lo bisa atur liburan lo sekarang juga!
View this post on Instagram
A post shared by W Stage Picture (@wstagepict)
1. Katastrop 2024 (2 Desember) Suka sastra atau teater? Langsung gas ke Ekspresi Sastra 2024 dari anak Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Lokasinya di Auditorium Driyarkara, Kampus II USD, mulai jam 5 sore. Serius, ini GRATIS bro!
2. Jelajah Ruang Menoreh Geo Heritage Run & Walk (7 Desember) Olahraga sekalian healing? Lo kudu banget ikutan event ini di Kawasan Geo Heritage. Dapet jersey, medali, voucher UMKM, plus vibes udara segar! Kombo parah, kan?
3. Gelegar Musik Prambanan (7 Desember) Mau karaoke bareng ribuan orang? Dateng ke konser ini! Mahalini, Juicy Luicy, sampe Yura Yunita bakal manggung epic di depan Candi Prambanan. Tiketnya? Langsung sikat di PLN Mobile. Jangan sampe telat!
4. Closing Ceremony JAFF ke-19 (7 Desember) Buat pecinta film, festival ini bakal nutup acara dengan vibes gokil. Empire XXI jadi saksi kolaborasi Jogja Hip Hop Foundation, dan lo bisa nikmatin GRATIS!
5. Saemen Fest 2024 (14 Desember) Lagi galau abis putus? Atau butuh lagu healing? Dateng ke Saemen Fest di Stadion Mandala Krida. Pamungkas, Tulus, sampe Bernadya bakal bikin lo nyanyi sampe lupa patah hati.
[Baca juga : "Desember Penuh Warna, Festival Asik Buat Liburan Lo Di 2024"]
6. Bantul Culture Run (15 Desember) Lari sambil nostalgia sejarah? Gaskeun di Bantul Culture Run. Start di Alun-alun Wukirsari, Imogiri. Hadiahnya? Gokil sih, bisa dapet mobil atau kambing! Siapa tau hoki lo lagi on fire.
7. Amikom Fest (21 Desember) Event anak muda banget, bro! Stadion Mandala Krida bakal rame sama Braves Boy, Rumah Sakit, dan lainnya. Tiketnya cuma 65 ribu. Worth it parah buat malem minggu lo.
8. Sasi Kiruna (22 Desember) Buat lo yang demen lari, Sasi Kiruna wajib masuk agenda. Rutenya di Embung Giwangan bikin mata adem, plus doorprize kece. Cuma modal 200 ribu, lo bisa sekalian ketemu komunitas lari Jogja.
9. Swara Prambanan (31 Desember) Tutup 2024 lo di Swara Prambanan! Ada Raisa, Mocca, Nadin Amizah, sampe JKT48 bikin countdown lo makin epik. Tiketnya mulai dari 250 ribu, bro. Jangan sampai kelewatan vibes keren ini!
Jadi, lo mau rebahan doang akhir tahun ini atau mau gas ke Jogja? Biar gak FOMO, buruan atur itinerary, siapin outfit keren, ajak bestie lo, dan pastiin tiket udah aman di tangan. Yuk, tutup 2024 lo dengan vibe yang gak bakal lo lupain! See you in Jogja! π (Sumber Foto @ferandy_ardhianto)
...moreTripTrus.Com - Desember udah dekat, tanggal merah terakhir 2024 udah siap disambut, bro! Daripada bengong di rumah, mending gas liburan ke Bali bareng temen atau keluarga. Walau musim hujan, banyak banget hal seru yang bisa lo explore di sana.
View this post on Instagram
A post shared by Uluwatu Temple & LBS Beach (@uluwatu.temple)
Nih, 5 destinasi yang wajib banget lo coba buat ngeramein akhir tahun di Bali:
1. Eksplor Pantai-Pantai Keren di Bali
Musim hujan gak berarti pantai di Bali sepi pesona! Lo bisa mampir ke Pantai Padang Padang yang punya vibes hidden gem banget atau Pantai Pandawa dengan tebing-tebing epic di sekitarnya. Kalau pengen suasana yang lebih chill, Pantai Jimbaran bisa jadi pilihan pas buat liat sunset sambil nikmatin seafood langsung di tepi pantai. Dan buat lo yang demen aktivitas lebih menantang, Benoa Harbor udah siap dengan pilihan olahraga air yang bikin jantung lo deg-degan! Mulai dari jet ski, parasailing, sampai banana boat, dijamin bikin liburan lo makin seru.
2. Jelajahi Kuil-Kuil Mistis dengan Vibes Magis
Bali dikenal dengan kuil-kuilnya yang punya aura magis dan nuansa yang kental banget sama budaya lokal. Tanah Lot, misalnya, letaknya di atas batu karang di tengah laut, jadi spot yang pas buat lo yang suka nuansa alam dan mistis. Apalagi kalau cuaca lagi mendung, suasana magis makin terasa! Atau lo bisa ke Pura Uluwatu yang ada di tebing tinggi, cocok buat lo yang suka hunting foto dengan latar sunset dan ombak besar. Di beberapa kuil juga ada pertunjukan tari tradisional, kayak tari Kecak di Uluwatu, yang bakal nambah pengalaman budaya lo selama di Bali.
3. Belanja Seru di Pasar-Pasar Lokal Bali
Ubud Market dan Seminyak Square adalah surganya belanja buat lo yang suka hunting barang unik. Dari baju surfing yang kekinian, perhiasan perak handmade, sampe kopi Luwak yang khas banget Bali, semua ada di sini. Lo juga bisa nemuin barang-barang kerajinan tangan yang bikin dompet auto tipis! Buat yang suka nyari oleh-oleh atau barang unik buat dekorasi rumah, tempat-tempat ini wajib masuk daftar kunjungan lo. Dan enaknya lagi, pasar lokal ini bisa jadi pilihan pas hujan turun—jadi lo tetap bisa belanja dengan nyaman sambil nunggu cuaca cerah.
4. Petualangan Seru di Bali Safari & Marine Park
Pengen liburan yang beda dan bosen sama pantai? Coba deh mampir ke Bali Safari & Marine Park. Di sini lo bisa liat hewan-hewan eksotis kayak macan, gajah, sampai burung hantu dari jarak dekat. Bukan cuma lihat-lihat, tapi juga ada safari tour yang bakal ngajak lo keliling area dengan mobil khusus. Ada juga pertunjukan teater dengan tema alam dan budaya Bali yang bikin pengalaman liburan lo makin berkesan. Cocok banget buat lo yang liburan bareng keluarga, karena anak-anak pasti juga bakal enjoy banget di sini.
[Baca juga : "Bau Nyale, Dari Cinta Putri Mandalika Sampai Festival Seru Di Pantai Seger"]
5. Party Tahun Baru yang Gak Ada Duanya!
Bali terkenal banget sama perayaan malam tahun barunya yang heboh abis! Lo bisa mulai malam dengan dinner di beach club kayak Potato Head atau Finns Beach Club, yang biasanya punya acara DJ internasional dan fireworks yang keren banget. Atau kalo lo pengen suasana lebih monumental, dateng aja ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, di mana lo bisa nikmatin vibes party sambil ditemani patung megah GWK yang ikonik. Seru banget buat nutup tahun dengan gaya yang unforgettable!
Gak lengkap rasanya kalau liburan ke Bali tanpa tau tips menghadapi musim hujan. Biar liburan lo tetep jalan tanpa ribet, nih ada beberapa tips yang bisa lo ikutin:
1. Cek Ramalan Cuaca – Sebelum pergi atau tiap pagi pas liburan, coba cek ramalan cuaca dulu biar itinerary lo gak berantakan. Ini penting banget biar lo bisa atur rencana dengan fleksibel.
2. Selalu Siapin Payung atau Jas Hujan – Musim hujan itu unpredictable banget, jadi jangan lupa bawa payung atau jas hujan biar gak basah kuyup tiba-tiba. Simple, tapi wajib!
3. Rencanakan Aktivitas Indoor – Kalau cuaca gak mendukung buat aktivitas outdoor, coba cari alternatif aktivitas indoor yang tetep asik. Lo bisa coba kelas masak masakan Bali atau bikin parfum yang unik banget di beberapa tempat workshop di Bali.
4. Pilih Pantai yang Aman di Musim Hujan – Beberapa pantai di Bali kayak Kuta kadang ombaknya lebih tinggi pas Desember. Coba pilih pantai yang ombaknya lebih kalem kayak di Nusa Dua atau Pandawa buat liburan yang lebih aman.
5. Fleksibilitas Itinerary – Musim hujan itu unpredictable banget, jadi jangan terlalu strict sama rencana outdoor. Fleksibel aja, biar lo bisa adjust sesuai kondisi cuaca pas hari H.
Siapin koper lo, bro! Bali udah nunggu buat tanggal merah terakhir yang penuh kenangan seru. Pantai, kuil, belanja, safari, sampe party tahun baru—Bali punya semua buat bikin liburan akhir tahun lo epic banget! (Sumber Foto @beautyfong1023)
...moreTRIPTRUS - Di belantara hutan Gunung Boliyohuto, terdapat sekelompok orang yang hidup terpisah dengan masyarakat di kaki gunung itu. Mereka dijuluki sebagai Suku Polahi. Kabarnya, anggota Suku Polahi dahulu adalah pelarian dari Belanda yang menjajah Gorontalo di abad ke-17. Meski sudah ratusan tahun berlalu, tetapi mereka tetap tidak mau meninggalkan hutan. Suku Polahi pun menutup dirinya dari dunia luar. Mereka hidup berpindah-pindah di dalam hutan. Namun kini Suku Polahi berada di daerah Paguyaman, Suwawa, dan Sumalata di Gorontalo.
Karena hidup di hutan, Suku Polahi pun hidup dari apa yang dihasilkan hutan. Untuk itu, mereka hidup berpindah-pindah mencari lokasi tanah untuk bercocok tanam dan sumber air yang mudah dijangkau. Hutan belantara pun sudah seperti halaman depan rumah mereka. Pemerintah Gorontalo pernah mencoba memberikan rumah untuk merelokasi suku Polahi. Sembilan rumah layak huni (Mahayani) yang dibangun di Desa Bina Jaya untuk ditempati kini malah terbengkalai karena menurut suku Polahi rumah itu tidak nyaman untuk dihuni.
Semua yang ada di hutan digunakan oleh suku Polahi untuk mendukung kehidupan mereka. Mereka bahkan tidak memercayai obat-obatan dari dokter, dan lebih memilih ramuan dari tumbuhan yang ada di hutan. Namun, sebagian kelompok suku Polahi mulai membuka diri mereka kepada dunia luar. Akibat maraknya pertambangan liar dan pencari rotan, para penambang dan pencari rotan yang beristirahat di hutan bisa menumpang menginap di rumah suku Polahi.
Sebagian suku Polahi juga mulai bercocok tanam dan memperdagangkan hasil kebun mereka setiap kali hari pasar. Para petambang juga yang mulai mengenalkan nilai uang kepada suku Polahi, dengan mempekerjakan mereka sebagai buruh angkut. Dengan uang yang diperoleh sebagai buruh angkut, suku Polahi bisa membeli makanan dan tidak hanya makanan yang dihasilkan oleh hutan. Suku Polahi yang dahulu dikenal tidak mengenakan busana, mulai mengenakan pakaian, bahkan kini beberapa orang telah memiliki telepon seluler.
Satu tradisi unik suku Polahi adalah mereka bisa menikah dengan anggota keluarga sendiri. Misalnya seorang anak laki-laki bisa saja menikahi adiknya, ataupun ibunya sendiri. Menurut mereka, tindakan inses itu adalah sesuatu yang wajar karena mereka hidup terisolir sehingga tidak banyak orang yang ada di suku mereka. Suku Polahi juga tidak memiliki agama tertentu. Mereka hanya mengenal alam dan percaya kepada alam.
Meski hidup dengan penuh keterbatasan dan kesederhanaan di dalam hutan, suku Polahi enggan tinggal dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Namun demikian, ada sebagian kecil anggota suku Polahi yang hidup dengan berbaur dengan masyarakat. Sementara, yang lainnya tetap memilih berada di hutan karena nenek moyang mereka memperingati agar jangan pernah ada suku Polahi yang meninggalkan hutan, agar mereka tidak ditimpa bencana.
Photos & Sources taken from: Kompas.com, Indopos.co.id, Tribunnews.com
...moreTripTrus.Com - Banten merupakan salah satu provinsi yang ada di wilayah Tatar Pasundan. Dulunya Banten merupakan bagian dari provinsi Jawa Barat sebelum akhirnya dilakukan pemekaran pada tahun 2000. Provinsi yang memiliki 4 kota ini ternyata memiliki potensi wisata yang layak untuk kamu datangi.
Wisata di Banten berikut ini tidak hanya sekadar menyajikan pemandangan yang indah, namun tersemat nilai edukatif akan sejarah di dalamnya. Lokasi-lokasi wisata berikut patut kamu datangi jika ingin mengenal peninggalan Banten di masa lampau.
1. Istana Keraton Kaibon
Bung @andibachtiar & Kang @Gol_A_Gong #IstanaKaibon #BaladaSiRoy #instadroid #andrography
A post shared by Doneh Abe (@downnee) onJan 26, 2013 at 11:20pm PST
Tempat bersejarah pertama ada istana keraton kaibon. Jika dilihat dari namanya, Kaibon sendiri berati keibuan. Nah, keraton ini dulunya dibangun karena pada kala itu sultan Syaifusin masih berusia lima tahun, sehingga tidak bisa atau belum mampu memegang pemerintahan, sehingga sang ibu, yakni Ratu Aisyah, yang jadi wali sementara dan dibangunlah istana ini. Sayangnya pada 1832 bangunan ini dihancurkan oleh Belanda.
Meski sudah hancur, namun jejak peninggalan sejarah masih bisa kita temukan dari bebatuan seperti bangunan gerbang juga pintu-pintu kokoh besar. Dulunya bangunan ini memiliki corak islam yang kental seperti masjid yang memiliki pilar-pilar menjulang.
2. Masjid Agung Banten
"Banten Empire Mosque" Pertama kali eksplorasi di Banten Lama, melihat kemegahan Kesultanan Banten di masa lalu. Rekomendasi untuk yang berminat wisata sejarah. Menilik kembali bagaimana perdagangan global di masa keemasan Kerajaan Islam, serta masa awal era kolonialisme di Nusantara. #mosque #tower #masjidagungbanten
A post shared by Nuansa Bayu Segara (@segaranuansabayu) onApr 6, 2018 at 6:18am PDT
Banten merupakan salah satu daerah di Indonesia yang juga terkenal akan kentalnya budaya islam. Salah satu bukti tersebut dapat kita temukan dari Masjid Agung Banten. Masjid yang selalu ramai oleh para peziarah tidak hanya lokal saja, melainkan dari banyak penjuru tanah air. Yang menjadikan masjid ini unik adalah menaranya, di mana mirip sekali dengan mercusuar yang tinggi.
Konon masjid ini dibangun pada tahun 1552 oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Jika kamu tertarik berkunjung ke sini datang saja ke desa Banten, atau jika kamu dari Serang jarak yang ditempuh adalah 10 km atau sekitar 25 menit saja.
[Baca juga : Lasem is Awesome!]
3. Benteng Speelwijk
#1585ad. Dibina oleh #belanda diatas keruntuhan #kesultananbanten #sejarahpastiberulang #bentengspeelwijk
A post shared by ahmad idris (@ahmad.idrisss) onFeb 4, 2018 at 10:55pm PST
Benteng Speelwijk berlokasikan di kampung Pamarican, atau bisa juga ditempuh selama lima belas menit jika kamu dari Serang. Mitosnya benteng ini merupakan bangunan peninggalan Belanda, namun ternyata bangunan ini sendiri dibangung oleh Kesultanan Banten di mana fungsi dari benteng ini sendiri adalah sebagai alat penahan jika sewaktu-waktu ada serangan laut. Bentuk bentengnya yang unik menjadikan daya tarik tersendiri bagi kamu yang ingin menyentuh atau bersinggungan dengan sejarah di masa lampau.
4. Danau Tasikardi
Gerimis Pagi Oleh : Aliza Mehayu "Eh, kapan datang?" Tanyamu, Pagi. "Jalan yuk, kita udah telat." Tanpa menunggu aku menjawab engkau sudah pergi menuju keramaian. Aku belum beranjak dari dudukku. Menikmati indahnya gerimis pagi. "Hayuk!" Kali ini kau agak berteriak. Kau menunjuk jam di pergelangan tanganmu. Jadwal kereta masih 15 menit lagi. Tapi kau selalu begitu, well prepared. Selalu dalam posisi standby. Selau pertama hadir, selalu menunggu bukan yang ditunggu. Aku yakin kau sudah tiga kali mengecek isi ranselmu. Memastikan tidak ada satu barangpun yang tertinggal. Aku selalu menyukaimu, Pagi. Berlari kecil aku mengejarmu. " Di kereta juga bisa liatin hujan," ucapmu ketika langkah kita sejajar. Ingin aku protes, "ini gerimis bukan hujan," tapi pasti kau sudah siap menjawabnya dengan argumen-argumen cerdasmu. Saat ini aku tidak sedang ingin beradu argumen, aku hanya ingin mensyukuri dan menikmati pagi. Foto : hasil gugling #danautasikardi #bantenlama #fiksimey
A post shared by Meyliza (@alizamehayu) onFeb 8, 2017 at 2:21pm PST
Selain menawarkan akan keindahan juga ketenangannya, Danai Tasikardi akan membawa kalian pada sejarah Banten di masa lampau. Danau yang berlokasikan di desa Margasana, Kramatwatu ini memiliki arti danau buatan. Danau yang dibuat oleh Sultan Banten ini dulunya difungsikan sebagai penampung air dari sungan Cibanten yang selanjutnya digunakan sebagai pengairan sawah-sawah penduduk. Juga, selain itu danau ini sendiri dipakai sebagai pemasok air di keraton.
5. Vihara Avalokitesvara
Belajar sejarah π
#viharaavalokitesvara #viharaavalokitesvarabanten #indonesia #banten
A post shared by Ibnurestu (@restu_9) onJan 11, 2017 at 4:25am PST
Vihara Avalokitesvara bisa dikatakan vihara tertua, sebab dibangun pada abad ke 16. Vihara sendiri konon tidak bisa dilepaskan dari sosok Sunan Gunung Jati dalam pembangunannya. Jika kamu dari Serang hanya dibutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke vihara yang berlokasikan di kecamatan Kasemen ini. Bangunan ini sempat mengalami musibah, namun tenang karena bentuk bangunannya sendiri masih utuh dan bisa dinikmati keindahan seni arsitekturnya yang bikin kagum.
Bagaimana? Mengenal sejarah tetap bisa menyenangkan seperti berkunjung ke lokasi-lokasi di atas. Selain bersenang-senang kita juga mendapatkan ilmu di dalamnya. (Sumber: Artikel bantenbangkit.com, Foto Tanti Ruwani)
...moreTripTrus.Com - Ditengah hingar-bingar DKI Jakarta, masih banyak berdiri bangunan-bangunan bersejarah, salah satunya adalah Masjid. Berikut ini beberapa Masjid tua dan bersejarah yang masih kokoh berdiri di tengah angkuhnya ibu kota :
1. Masjid Langgar Tinggi, Pekojan
View this post on Instagram
Memotret kerusakan pada bangunan cagar budaya Mesjid Langgar Tinggi di Pekojan lalu hrs ke pusat konservasi. Matahari lagi terik2nya. Untung persediaan masker bengkoang masih ada.π¬π¬ #masjidlanggartinggi #cagarbudaya #pekojan
A post shared by Tukang Foto Pemalas (@gemalaputri) onJul 19, 2018 at 4:41pm PDT
Pada papan di atas pintu masuk masjid ditulis bahwa Masjid Langgar Tinggi didirikan pada tahun 1249 H/1829 M. Namun menurut Adolf Heuken, seorang sejarawan yang banyak meneliti sejarah kota Jakarta, tahun 1249 H itu berbetulan dengan 1833 atau 1834 M, dan bukan 1829 M. Sehingga jika tahun Hijriyah yang dijadikan pedoman, maka paling jauh masjid itu didirikan pada 1833 M.
Dari namanya, kemungkinan masjid ini semula hanyalah sebuah langgar atau musala (musholla, tempat shalat; surau), yang terletak di atas sebuah rumah penginapan di tepi Kali Angke. Pada abad ke 19, kali ini masih merupakan jalur pengangkutan dan perdagangan yang sibuk. Adalah Abu Bakar Shihab, seorang saudagar muslim asal Yaman, yang kemudian mendirikan tempat penginapan ini dengan langgar di bagian atasnya.
Pada November 1833 Masjid Langgar Tinggi diperbaiki oleh Syekh Sa’id Na’um (Sa’id bin Salim Na’um Basalamah), seorang saudagar kaya asal Palembang yang kemudian menjabat sebagai Kapitan Arab di wilayah Pekojan. Kapitan Arab ini diserahi kewenangan untuk mengurus tanah yang diwakafkan oleh Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi, yakni lahan tempat Masjid Langgar Tinggi berdiri dan tempat pemakaman umum di Tanah Abang(kini menjadi lokasi Rumah Susun Tanah Abang di Kebon Kacang). Makam Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi ini berada di dekat Masjid Pekojan.
Setelah masa itu Masjid Langgar Tinggi mengalami beberapa kali renovasi. Kini bagian bawah masjid tidak lagi difungsikan sebagai penginapan, melainkan sebagai kediaman pengurus masjid dan ruang toko. Demikian pula, dengan semakin dangkalnya Kali Angke dan semakin kotor airnya, pintu ke arah sungai –yang dahulu kemungkinan dipakai sebagai akses langsung pelancong sungai ke penginapan dan ke masjid– kini ditutup.
2. Masjid Jami At Taibin, Senen
View this post on Instagram
A post shared by aΜΎαRΝΘwΜ«aΜΎíαYΝΜΊ (@abaady11_77) onAug 9, 2015 at 1:24pm PDT
Masjid Jami At Taibin didirikan oleh sejumlah pedagang sayur di Pasar Senen dan penduduk setempat sekitar 1815 namun baru tercatat di peta Batavia tahun 1918. Pembangunannya atas prakarsa mereka sendiri dan dari dana swadaya. Awalnya, masjid ini bernama Masjid Kampung Besar Kemudian berganti nama menjadi Masjid Imroni’ah dan baru pada tahun 1970-an, namanya diganti lagi menjadi At Taibin hingga saat ini.
Dalam perjalanan sejarahnya, masjid ini menjadi saksi dukungan dari para pedagang di pasar senen terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dengan memberi dukungan logistik kepada para pejuang yang dikumpulkan di masjid ini.
Masjid ini juga menjadi tempat menyusun strategi menghadapi kekuatan belanda. Khususnya dalam pertempuran Senen, Tanah Tinggi dan Keramat. Di masjid ini pula para pejuang berkumpul dan mendapat siraman rohani. Tak heran, setelah keluar dari masjid ini, semangat juang mereka semakin menyala-nyala.
Pada tahun 1980-an, atau sekitar dua abad setelah berdirinya, masjid ini berhasil diselamatkan dari pembongkaran Segi Tiga Senen. Ketika masayarakat muslim melakukan perlawanan dan penolakan. Alhamdulillah, Gubernur saat itu secara diplomatis mendukung langkah kami. Dia mengatakan boleh dibongkar asal disetujui oleh alim ulama setempat.
Kini, ditengah gencar berubahnya wajah kota Jakarta, Mesjid Jami Attaibin seakan tenggelam oleh gemerlap gedung-gedung pencakar langit di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Meski begitu, kesejukan masjid ini kian terasa. Di sinilah para pegawai gedung-gedung itu sembahyang. Lingkungannya yang asri, menambah kekhusukan ibadah.
Selain tempat beribadah, Masjid At Taibin juga memiliki sejumlah fasilitas sosial lain seperti lembaga pendidikan sederhana untuk anak-anak, baitul mal, dan koperasi simpan pinjam.
3. Masjid Agung Matraman, Matraman
View this post on Instagram
#masjidagungmataram
A post shared by Bôbby SeRvë (@enjoythedifferent) onOct 22, 2015 at 10:12pm PDT
Masjid Agung Matraman memang tak lepas dari aktivitas bekas pasukan Sultan Agung dari Mataram yang menetap di Batavia. Nama wilayah Matraman pun disinyalir karena dahulunya merupakan tempat perkumpulan bekas pasukan Mataram. Untuk menjalankan aktivitas keagamaan bekas pasukan Mataram mendirikan sebuah Masjid di kawasan tersebut. Masjid Jami’ Matraman semula merupakan gubuk kecil tempat pasukan Sultan Agung menjalankan sholat. Terletak di bekas kandang burung milik Belanda yang digunakan oleh orang Mataram sebagai pos komando panglima Mataraman.
Pada tahun 1837 dua orang generasi baru keturunan Mataram yang lahir di Batavia, H. Mursalun dan Bustanul Arifin (keturunan Sunan Kalijaga) memelopori pembangunan kembali tempat ibadah itu. Setelah selesai pembangunannya, dahulu masjid ini diberi nama Masjid Jami’ Mataraman Dalem. Yang artinya masjid milik para abdi dalem (pengikut) kerajaan Mataram. Dipilihnya nama itu dimaksudkan sebagai penguat identitas bahwa masjid itu didirikan oleh masyarakat yang berasal dari Mataram. Namun seiring perubahan zaman dan perbedaan dialek, nama Masjid Mataram pun berubah nama menjadi Masjid Jami Matraman.
Bangunan masjid masih berupa tumpukan batu batako Kemudian dibangun lagi oleh sekelompok warga Matraman yang diketuai orang Ambon yang bernama Nyai Patiloy (1930). H. Agus Salim juga pernah menjadi ketua pembangunan masjid ini. Belanda tidak setuju dengan pembangunan masjid yang berada di pinggir jalan dan memerintahkan supaya dibangun lebih ke dalam. Mereka berjanji akan membantu biaya sebesar 10.000 gulden.
Usul dari Belanda ini mendapat pertentangan dari pengurus pembangunan masjid bahkan sampai dipermasalahkan pada sidang Gemeenteraad. Masjid ini juga pernah mendapat bantuan dari Saudi Arabia (1940). Moh. Hatta, Bapak Proklamasi RI, dulu setiap Jumat selalu bersembahyang di masjid Jami Matraman dan di akhir hayatnya juga disembahyangkan di mesjid ini. Masjid Jami Matraman pertama kali dipugar pada tahun 1955-1960 dan dilanjutkan pada tahun 1977.
[Baca juga : "5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Jakarta - Part 3"]
4. Masjid Jami Al-Ma'mur, Cikini
View this post on Instagram
Masjid Al Ma'mur Cikini . . #masjid #mosque #building #oldarchitecture #streetphotography #cityscape #jakarta #canon #canonindonesia
A post shared by Antonius W (@haryocahyo) onJan 16, 2019 at 4:02am PST
Sejarah Masjid Jami Al-Ma'murdimulai pada tahun 1860, Raden Saleh dan masyarakat sekitar membangun sebuah surau disamping kediamannya (kini menjadi asrama perawat RS Cikini). Akibat kedekatan pelukis kondang ini dengan umat Islam setelah ia menikah kembali dengan wanita keturunan Kraton Yogyakarta ia dituduh terlibat dalam kerusuhan di Tambun (Kabupaten Bekasi). Kerusuhan tersebut digerakkan kelompok Islam yang menentang pemerintah kolonial Belanda. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, tapi Belanda tetap mengenakan tahanan rumah kepadanya.
Berdasarkan data yang dikeluarkan Yayasan Masjid Al Ma’mur, sesudah Raden Saleh meninggal dunia (1906), tanah itu dimiliki Sayed Abdullah bin Alwi Alatas, yang pemilikannya diperkuat oleh Keputusan Pengadilan Negeri No 694 tanggal 25 Juni 1906, sebagai suatu kelanjutan dari Keputusan Pengadilan Negeri No 145 tanggal 7 Juli 1905.
Tanah itu dibeli melalui sebuah pelelangan. Tanah yang sangat luas ini kemudian oleh Sayed Abdullah Bin Alwi Alatas, salah satu tokoh gerakan Pan Islam dijual kepada ‘Koningen Emma Stichingi’ (Yayasan Ratu Emma – yang bernaung di bawah Pemerintah Kolonial Belanda) dengan harga 100 ribu gulden. Tapi karena yayasan ini ingin membangun rumah sakit, harganya dikurangi menjadi 50 ribu gulden dengan penegasan bahwa masjid (surau) yang ada di sana tidak boleh dibongkar.
Keaslian Masjid Jami CIkini masih terkonservasi hingga kini, sebagai benda cagar budaya, Masjid Jami Cikini memang dirawat ke-asliannya termasuk tulisan nama masjid dalam huruf arab berikut dengan lambang Syarikat Islam di fasad depannya.
5. Masjid Baitul Mughni, Gatot Subroto
View this post on Instagram
Masjid Baitul Mughni . Masjid Baitul Mughni berdiri megah di tepian jalan Gatot Subroto, Jakarta, gambar masjid ini seakan akan tercetak pada diding kaca gedung Menara Global yang terletak di sebelahnya. Posisinya yang tak terlalu jauh dengan perempatan Kuningan membuatnya sering disebut Masjid Kuningan. Masjid Baitul Mughni, Jakarta, menempati areal 6.000-an meter persegi di lokasi amat strategis di Kavling 26 Jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan. Selain terdapat masjid tiga tingkat di komplek masjid ini juga berdiri megah dua gedung Sekolah Islam Al-Mughni, masing-masing lima lantai, Pusat Kajian Hadis, dan Al-Mughni Islamic Center. . Masjid Baitul Mughni merupakan wakaf dari Guru Mughni, ulama kondang Betawi tahun 1940-an, masjid tiga lantai ini kii dikepung pusat perkantoran dan sentra bisnis segitiga emas Jakarta: Gatot Subroto, Sudirman-Thamrin, dan Rasuna Said. Menara Jamsostek, Gedung Telkom, Hotel Kartika Chandra, Wisma Argo Manunggal, serta pusat bisnis Mega Kuningan mengelilingi kompleks Al-Mughni. . Sejarah Masjid Baitul Mughni dimulai sejak tahun 1901. Ketika itu Guru Mughni baru pulang dari tanah Suci, kembali ke Batavia. Ia membeli lahan dan langsung mendirikan sebuah masjid kecil berukuran 13 x 13 meter yang pada awal pendiriannya belum memilki nama. Bahan bangunannya terdiri dari batu bata pada bagian dindingnya, lantainya berubin warna merah dengan beratapkan genteng . . ==================================== @masjidinfo π gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara. π informasi dunia Islam. Baca artikel masjid menarik di blog kami : π bujangmasjid.blogspot.co.id π bujanglanang.blogspot.co.id π singgahkemasjid.blogspot.co.id . Tag @masjidinfo for repost (no selfie please) . ==================================== #masjidinfo
A post shared by masjidinfo (@masjidinfo) onAug 1, 2017 at 12:04am PDT
Sejarah Masjid Baitul Mughni dimulai sejak tahun 1901. Ketika itu Guru Mughni baru pulang dari tanah Suci, kembali ke Batavia. Ia membeli lahan dan langsung mendirikan sebuah masjid kecil berukuran 13 x 13 meter yang pada awal pendiriannya belum memilki nama. Bahan bangunannya terdiri dari batu bata pada bagian dindingnya, lantainya berubin warna merah dengan beratapkan genteng. Bentuk masjid itu adalah empat persegi dengan mihrab di depan sebagai tempat imam memimpin shalat. Meski demikian, jika dibandingkan dengan bangunan yang ada di wilayah lain saat itu, bangunan masjid ini tergolong bangunan mewah.
Dengan bertambahnya jumlah jamaah, ukuran masjid ini pun diperluas, bagian belakangnya ditambah dengan bahan bangunan dari anyaman bambu. Bagian belakang ini dimanfaatkan sebagai tempat mengaji dan bermalam bagi murid-murid Guru Mughni yang datang dari tempat tempat yang jauh. Belum ada menara masjid pada waktu itu. Baru menjelang Guru Mughni wafat dibuat menara. Setelah itu menyusul renovasi demi renovasi berikutnya. satu-satunya peninggalan masjid lamanya ya pilar masjid bekas tiang penyangga masjid di sebelah dalam.
Sejak pertama pendiriannya, Masjid Baitul Mughni berfungsi tak hanya sebagai tempat ibadah namun juga sebagai tempat pendidikan dan penyebaran ilmu-ilmu agama, bahkan saat itu masjid ini juga sebagai pusat informasi Ru’yatul Hilal (penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal) bagi masyarakat Jakarta Selatan. Ketika itu, masjid ini melahirkan seorang tokoh ahli ilmu falak yakni K.H. Abdullah Suhaimi, yang juga menantu Guru Mughni sendiri. Ketika itu bisa dibilang masjid ini merupakan masjid rujukan bagi masjid-masjid kecil di sekitarnya. Seperti untuk menentukan kapan waktunya azan, biasanya masjid-masjid lainnya berpatokan pada masjid ini. Mereka tidak akan azan sebelum mendengar suara azan dari masjid ini. (Sumber: Artikel situsbudaya.id Foto jakarta-tourism.go.id)
...moreTripTrus.Com - Bro-sis traveler, kalo lo lagi pengen liburan yang vibes-nya kayak Bali tapi dompet lo nggak nangis dan kepala lo juga nggak mumet gara-gara macet atau tiket pesawat mahal, Batu Karas itu jawabannya, serius deh. Gue ngerasa tempat ini tuh kayak Bali versi chill, versi lebih adem, dan versi lebih ramah buat lo yang pengen healing tanpa harus ribet. Lo cukup nyetir atau naik kendaraan darat aja, udah bisa nyampe di satu pantai yang tenang, cakep, dan suasananya tuh jauh dari hiruk pikuk kota. Batu Karas ini bukan cuma pantai biasa, tapi udah kayak surga kecil di Jawa Barat yang vibes-nya santai, romantis, dan bikin lo betah berlama-lama sambil ngopi atau sekadar bengong nikmatin ombak.
View this post on Instagram
A post shared by Livescoot (@livescoot.googas)
1. Bali Vibes Tanpa Naik Pesawat
Yang bikin Batu Karas makin gokil, bro-sis, adalah vibes-nya yang mirip Bali tapi versi lebih bersahabat. Lo nggak perlu ribet beli tiket pesawat, transit sana-sini, atau stress mikirin bagasi dan delay. Cukup naik mobil atau motor, lo udah bisa ngerasain suasana pantai dengan ombak kece, pasir yang enak buat jalan kaki, dan langit senja yang aesthetic banget buat konten Instagram lo. Gue ngerasa Batu Karas itu kayak Bali yang lagi low season, lebih sepi, lebih tenang, tapi tetap punya pesona yang bikin jatuh cinta. Jadi kalo lo pengen liburan ala Bali tapi versi Jawa Barat, tempat ini tuh bener-bener masuk list wajib.
2. Tenang, Sepi, dan Cocok Buat Healing
Lo tau nggak sih, bro-sis traveler, salah satu hal yang bikin Batu Karas beda dari pantai lain itu adalah suasananya yang tenang banget. Di sini lo nggak bakal ketemu keramaian lebay atau turis yang berisik tiap lima menit. Justru yang lo dapet adalah suara ombak, angin laut, dan suasana kampung pantai yang adem di hati. Buat gue pribadi, Batu Karas itu cocok banget buat healing, entah lo lagi capek kerja, patah hati, atau cuma pengen kabur dari rutinitas kota. Duduk di pinggir pantai sambil ngeliat ombak aja udah bikin pikiran lo pelan-pelan reset dan balik fresh lagi.
[Baca juga : "Ini Hot List Event Kece Jogja Yang Wajib Lo Catet Januari 2026!"]
3. Kampung Turis yang Jadi “Jimbaran-nya” Jawa Barat
Sekarang Batu Karas, terutama area Kampung Turisnya, udah kayak Jimbaran versi Jawa Barat, bro-sis. Banyak banget spot nongkrong, café pantai, dan penginapan yang vibes-nya cozy dan instagramable. Lo bisa sarapan sambil liat laut, makan seafood sambil nikmatin sunset, atau sekadar ngopi sore sambil dengerin suara ombak. Suasananya tuh bikin lo pengen duduk lama-lama tanpa mikir waktu. Nggak heran kalo banyak traveler bilang Batu Karas itu tempat yang bikin betah dan selalu pengen balik lagi. Gue aja kalo ditanya mau ke sini lagi apa nggak, jawabannya jelas: MAUUU banget.
4. Lokasi Strategis Dekat Grand Pangandaran
Yang makin bikin Batu Karas makin worth it buat dikunjungi adalah lokasinya yang strategis, bro-sis traveler. Dari kawasan Grand Pangandaran, lo tinggal jalan dikit buat sampai ke sini. Jadi abis lo puas eksplor pusat bisnis dan wisata di Pangandaran, Batu Karas itu cocok banget buat jadi tempat pelarian buat nyari suasana yang lebih tenang. Ibaratnya, siang lo sibuk keliling Pangandaran, malamnya lo bisa chill di Batu Karas sambil nikmatin suasana pantai yang lebih private dan santai. Kombinasi ini bikin trip lo jadi makin lengkap dan nggak ngebosenin.
Jadi bro-sis traveler, kalo lo lagi nyari destinasi liburan yang punya vibes Bali, tapi lebih murah, lebih sepi, dan lebih ramah buat jiwa yang lagi butuh healing, Batu Karas wajib banget masuk bucket list lo. Tempat ini bukan cuma soal pantai, tapi juga soal suasana, ketenangan, dan rasa betah yang susah dijelasin pake kata-kata. Dari Kampung Turis yang vibes-nya kayak Jimbaran, sampai lokasi strategis dekat Grand Pangandaran, semuanya bikin Batu Karas terasa kayak hidden gem yang siap lo eksplor. Sekali ke sini, besar kemungkinan lo bakal kepikiran buat balik lagi, sama kayak gue. (Sumber Foto @ria_augustine)
...moreTripTrus.Com - Pabrik Gula Madukismo didirikan pada tahun 1955 pada awalnya bernama Pabrik Gula Padokan. Pada masa pejajahan Belanda pabrik ini hancur lebur dan selanjutnya dirintis kembali oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Selanjutnya didirikan kembali Pabrik Gula Padokan dengan nama Pabrik Gula Madukismo. Gagasan pendirian Pabrik Gula Madukismo bertujuan menolong rakyat karena banyak dari karyawan pabrik yang kehilangan pekerjaan semenjak pabrik tersebut dihancurkan oleh Belanda. Pembangunan kembali Pabrik Gula Madukismo diharapkan dapat menampung lebih banyak lagi orang bekerja dan terlibat dalam usaha Pabrik Gula Madukismo.
black smokeπ¨ •••••••• Lokomotif PG Madukismo nomor 3 yang sedang menarik lori isi tebu menuju penggilingan dan seorang pegawai yang sedang menabur pasir supaya roda gak selip #pgmadukismo #pabrikgulamadukismo #madubaru #madukismo #loritebu #dieselhidrolik #veblokomotivbau #karlmarx #babelsberg
A post shared by Novian Ananda Perdana (@novian_rf_daop6yk) onMay 23, 2018 at 2:30am PDT
Akan banyak para petani terlibat proses penanaman, pemeliharaan, panen dan pabrik sendiri akan banyak menyerap tenaga kerja terutama pada saat musim giling. Perjalanan Wisata Agro Industri adalah melihat proses dari produksi yang dilakukan Pabrik Gula Madukismo. Wisatawan dapat menaiki gerbong yang ditarik lokomotif tua. Wisata ini biasanya dilaksanakan saat musim giling yaitu bulan Mei – September.Wisatawan dapat menyaksikan dari dekat proses produksi gula secara langsung. Proses ini diawali dengan pemerahan nira untuk mendapatkan sari gula kemudian pemurnian nira dengan cara sulfitasi, penguapan nira, kristalisasi, puteran gula dan pengemasan gula.
[Baca juga : "Banten Lama, Cerita Yang Memudar"]
Saat musim penggilingan tebu datang pada bulan Mei – September, wisatawan dapat melihat ritual cembengan yang dilaksanakan warga sekitar dan karyawan pabrik. Ritual tersebut bertujuan memohon doa restu agar proses penggilingan berjalan dengan lancar. Selama ritual, wisatawan dapat melihat kirab tebu temanten dan berbagai acara kesenian lainnya seperti pasar malam, jathilan dan wayang kulit semalam suntuk. Selain mencermati proses produksi gula, wisatawandapat melihat mesin-mesin tua yang menjadi alat produksi Pabrik Gula Madukismo.
Pabrik Gula Madukismo dengan Jembatan Sungai Kwai di Thailand
Besi – besi bekas dari mesin produksi di Pabrik Gula Madukismo ini pernah diangkut ke Thailand yang selanjutnya digunakan untuk membangun Jembatan Sungai Kwai. Jembatan tersebut merupakan penghubung antara Thailand dengan Burma yang dahulu merupakan lokasi pertempuran hebat pada masa Perang Dunia ke 2 dan sudah pernah dipakai dalam pembuatan film The Bridge of the River Kwai termasuk dalam Best Movie yang dalam penayangannya berhasil memenangkan 7 Oscar pada tahun 1957.
Pabrik Gula Madukismo dengan Jembatan Sungai Kwai di Thailand Besi – besi bekas dari mesin produksi di Pabrik Gula Madukismo ini pernah diangkut ke Thailand yang selanjutnya digunakan untuk membangun Jembatan Sungai Kwai. Jembatan tersebut merupakan penghubung antara Thailand dengan Burma yang dahulu merupakan lokasi pertempuran hebat pada masa Perang Dunia ke 2 dan sudah pernah dipakai dalam pembuatan film The Bridge of the River Kwai termasuk dalam Best Movie yang dalam penayangannya berhasil memenangkan 7 Oscar pada tahun 1957. #pabrikgulamadukismo #yogya_istimewa
A post shared by Rbt (@bintang_rbt78) onAug 3, 2017 at 11:04pm PDT
Sekarang jembatan yang dibangun dari besi bekas dari Pabrik Gula Madukismo menjadi obyek wisata ziarah andalan negara Thailand untuk mengenang para pekerja romusa dan pertempuran dengan Sekutu. (Sumber: Artikel njogja.co.id Foto @noviannuliangga )
...more