shop-triptrus



Target Ngebet, Indonesia Incar 1,5 Juta Turis Tiongkok Di 2024 Dengan 13 Penerbangan Super Gokil!

TripTrus.Com - Waduh, bro! Indonesia lagi ngebet banget, nih, buat ngegandeng 1,5 juta turis Tiongkok di 2024! Di tahun lalu, targetnya cuma 361 ribu, eh malah tembus 707 ribu, bro! Nah, sekarang kita lagi naikin targetnya jadi 1 juta sampai 1,5 juta wisatawan. Wah, bakal diiringin sama 13 penerbangan, loh!       View this post on Instagram A post shared by Siti Holipah Asnawi (@sitiholipah89) Wisnu Sindhutrisno, Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bilang nih, kehadiran turis Tiongkok ini bakal bantu banget nge-rasain pariwisata di Indo. Katanya sih, "Tahun lalu kita target 361 ribu wisman Tiongkok, tercapai 707 ribu. Tahun ini dinaikkan targetnya menjadi 1 juta-1,5 juta, ini akan dibawa oleh 13 penerbangan dengan sejauh ini kapasitas kursi kita hitung sampai 1,1 juta." Alasan mereka ngelakuin ini juga, bro, karena model wisata anak muda Tiongkok sekarang udah beda. Katanya sih, 65 persen dari mereka itu anak muda yang suka wisata lebih lama, terutama yang demen petualangan, alam, dan budaya. Makanya, Kemenparekraf lagi dorong nih konsep desa wisata, homestay, dan tempat-tempat yang nyambung sama komunitas di desa-desa. Yogyakarta contohnya, bikin cokelat dan mandiin kerbau, gitu. [Baca juga : "Bali Kembali Gaspol Jadi Destinasi Paling Asyik Di Dunia 2024 Versi Tripadvisor!"] Wisnu juga bilang, karena bantuan internet, sekarang wisatawan Tiongkok lebih betah buat jalan-jalan ke tempat pendakian, petualangan alam, dan menyelam. Ini nggak cuma di Bali, tapi di mana-mana, bro! Mereka juga nggak cuma datang pas musim liburan aja, tapi sepanjang tahun, loh. Nah, kalo soal penerbangan, yang paling potensial menurut Wisnu itu dari Shanghai, Guangzhou, dan Beijing. Lalu ada juga dari Hong Kong sama Taiwan. Makanya, mereka lagi usaha keras buat tambah konektivitas penerbangan. Pokoknya, Indo lagi ngincer keras nih turis Tiongkok, katanya sih masih keempat setelah Australia dan India, tapi pasti bisa naikin peringkat. Semangat terus, Indo! (Sumber Foto @anastasiakosasih) 
...more

Inspirasi Event Malam Tahun Baru 2023 di Bali

TripTrus.Com - Tahun baru tinggal menghitung hari, nih! Banyak di antara kalian yang mungkin berencana untuk merayakan malam tahun baru di Bali. Itu adalah pilihan yang tepat karena Pulau Dewata memang memiliki sederet spot ciamik yang menjadi lokasi penyelenggaraan pesta untuk menyambut malam pergantian tahun. Pssst, beberapa pesta itu akan menghadirkan musisi-musisi ternama, lho. Kalau mau tahu, ayo simak dulu informasi penting ini! 1. Atlas Beach Fest       View this post on Instagram A post shared by Aditya Dimas Prasetyo (@adityadimas68) Siapa yang ingin berpesta ria di pinggir pantai selama tiga hari, dari 30 Desember 2022 hingga 1 Januari 2023, bareng belasan musisi? Yuk, datang ke Holyfest: New Year New Hope. Acara ini akan digelar di Atlas Beach Fest khusus untuk merayakan malam tahun baru. Enggak tanggung-tanggung, ada empat panggung spesial yang disiapkan untuk memberikan pengalaman terbaik buat kamu. Jadi, bersiaplah untuk nyanyi bareng Krewella, Timmy Trumpet, Kshmr, Niki, Clean Bandit, Fiersa Besari, Lyodra, Vierratale, dan masih banyak lagi. Siapkan juga kostum dan outfits terkece karena akan ada OOTD Competition dan Costume Competition. 2. Garuda Wisnu Kencana       View this post on Instagram A post shared by Indra Ardiaputra (@pakindro) Menghabiskan liburan akhir tahun di Bali, sempatkan mampir ke Garuda Wisnu Kencana! Tepat pada saat malam pergantian tahun, kamu dapat ikut seru-seruan di Bali Countdown 2023. Acara ini akan menampilkan pertunjukan kembang api musikal pertama dan terbesar di Bali. Selain itu, ada banyak musisi papan atas yang bakal tampil. Sebut saja Sheila on 7, Kahitna, Ungu, Navicula, Dialog Dini Hari, dan lainnya. Sebelum nonton penampilan mereka, kamu bisa isi energi dulu sambil icip-icip aneka makanan di Pasar Kuliner. 3. Finns Beach Club       View this post on Instagram A post shared by Raymond Howe (@raymaxhowe) Penyuka electronic music, ayo merapat ke Pulau Dewata saat malam tahun baru.  Di salah satu beach club di Canggu, Finns Beach Club, akan ada pertunjukan spesial dari sederet DJ ternama dunia. Ada yang bisa nebak atau mungkin sudah sempat dengar sekilas tentang Finns New Years Eve 2023? Mereka adalah Diplo, Gorgon City, Hayden James, dan Elderbrook. 4. Savaya       View this post on Instagram A post shared by Glamor And Luxury (@glamorandluxury) Kamu merasa sudah terlalu sering menghabiskan pesta tahun baru di tengah kota? Kali ini, kamu mau sesuatu yang beda? Ada rekomendasi bagus, nih. Kamu bisa menghabiskan malam tahun baru di Savaya, salah satu beach club yang punya pemandangan hutan Uluwatu dan berlatar belakang Samudera Hindia. Mantap banget, kan? Eits, itu baru keistimewaan pertama. Pada 31 Desember 2022 nanti, kamu juga bisa menikmati penampilan salah satu musisi pemenang Grammy Award. Dia adalah DJ sekaligus penulis lagu, Black Coffee. Yuk, segera ajak teman, keluarga, atau pasanganmu untuk menikmati momen langka ini! [Baca juga : "Simak 5 Tips Hadiri Event Tahun Baru 2023 Berikut!"] 5. Sundays Beach Club       View this post on Instagram A post shared by iqafadzul• (@ah.wanderlust) Menghabiskan malam pergantian tahun di tepi pantai sambil mendengarkan alunan musik dan melihat api unggun, itulah pengalaman yang akan kamu dapatkan kalau datang ke NYE Beach Festival. Event ini akan digelar pada 31 Desember 2022 di Sundays Beach Club, Bali. Selain keseruan yang sudah disebutkan tadi, di pesta malam tahun baru di Bali ini, kamu juga bisa menikmati pertunjukan fire dancers, water drum performance, dan pesta kembang api tepat saat tengah malam. Lengkap banget, kan? Itulah tadi lima rekomendasi tempat untuk merayakan malam tahun baru di Bali. Masing-masing tempat menawarkan pemandangan, aktivitas, ambience, dan line-up musisi yang berbeda. Kamu tinggal pilih sesuai seleramu. Supaya kamu dan semua orang yang datang ke event tersebut tetap nyaman dan aman di tengah kerumunan, pihak penyelenggara melangsungkan acara dengan memperhatikan protokol kesehatan. Kamu sendiri juga harus tetap pakai masker, jaga jarak, dan rajin cuci tangan secara berkala, ya! (Sumber: Artikel indonesia.travel Foto @sumberkimabeach) 
...more

Menguak Tirai Pantai Sekongkang

TRIPTRUS - Nama Pantai Sekongkang mungkin belum akrab didengar oleh orang-orang di Indonesia. Tapi, pantai yang terletak di Desa Sekongkang Bawah, letaknya cukup tersembunyi maka wajar jika banyak tidak diketahui. Desa Sekongkang Bawah terletak di Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Dahulu, Sekongkang terisolir dan digunakan sebagai tempat pembuangan pemberontak atau tawanan perang. Sekongkang baru dapat diakses dengan mobil pada tahun 1984, dengan dibangunnya jembatan yang menghubungkan Sekongkang Bawah dan Sekongkang Atas. Pembangunan Sekongkang semakin pesat setelah PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) mulai beroperasi di Sumbawa. Para penduduk Sekongkang yang dulu lebih banyak bekerja sebagai petani, mulai didominasi dengan bekerja di pertambangan Newmont. Hanya kaum tua saja yang masih bercocok tanam, sementara kaum muda lebih memilih bekerja di sektor pertambangan. Ini juga alasan yang membuat potensi wisata Sekongkang jadi kurang digali oleh masyarakat setempat.  Untuk mencapai pantai Sekongkang bisa dibilang tidak mudah. Jalanan penuh kelokan sekitar 55 km, yang tidak rata dan berlubang akan membuat pengunjung bisa hampir kehilangan harapan. Tapi sesampainya di lokasi, pasir putih Pantai Sekokang seolah menjadi penghapus dahaga mata akan keindahan alam. Air yang biru kehijauan dan pemandangan bukit-bukit hijau di sekitar pantai memberikan kesan bahwa Pantai ini seperti menyembunyikan diri di balik kabut. Banyak peselancar yang tidak bisa melupakan kenikmatan mengendarai ombak di Pantai Sekongkang. Selain di situ, dua pantai lain -- Pantai Maluk dan Pantai Njlenga -- menjadi bagian dari segitiga emas yang wajib dikunjungi oleh para peselancar yang ingin menguji nyali dan kelihaian menaiki ombak. Menginap di Sekongkang tidaklah sulit. Tidak jauh dari Pantai Sekongkang ada resort indah yang bisa jadi alternatif menginap. Resort ini terletak di Pantai Tropical. Meski tidak menyediakan ombak seindah Pantai Sekongkang, di dekat Pantai Sekongkang juga ada Pantai Rantung yang juga menjadi tempat peselancar mengempos adrenalin saat mereka berburu ombak di lautan. Lalu bergeser sedikit, ada pula Pantai Lawar dan Pantai Tropical yang dikejar oleh para peselancar. Tapi jangan kecewa dulu, TripTroops. Di Sekongkang juga tidak hanya ideal untuk peselancar, PT Newmont Nusa Tenggara juga membuka beberapa area untuk dikunjungi. Di pertambangan itu terdapat tiga lubang raksasa yang digali untuk mendapatkan emas dan tembaga.Pengunjung dapat berdiri di atas platform yang disediakan dan melihat kegiatan pertambangan di Newmont. Dan di sini TripTroops juga bisa bergaya di depan truk angkut yang diameter rodanya berukuran 3 meter. Dan truk-truk pengangkut berukuran super besar ini tidak hanya dikemudikan oleh kaum pria saja, tapi juga ada beberapa perempuan yang menjadi supirnya. Wow! Di Sekongkang Bawah juga terdapat air terjun Perpas yang bisa jadi tujuan untuk trekking. Keunikan Air Terjun Perpas adalah konturnya yang mirip dengan tangga, dengan air terjun tertinggi sekitar 50 meter. TripTroops bisa bersantai menikmati pemandangan yang mengagumkan, atau lompat ke dalam air lalu berenang. Lalu sekitar 1 kilometer dari Pantai Lawar, TripTroops bisa mengunjungi Kebun Kering yang memiliki beragam tanaman dan terdapat rumah yang khusus untuk menanam jamur. Pengunjung Kebun Kering juga dapat belajar cara memanen jamur dengan panduan dari guide di kebun itu. Photos taken from: visitsekongkang.com, kookspretzel.com, panoramioo.com
...more

April Party Time! Deretan Event Paling Pecah Buat Lo yang Gak Mau FOMO di 2025!

TripTrus.Com - Bro sis, lo udah siap belum buat April 2025 yang bakal rame banget kayak pasar malam? Abis Lebaran, vibes-nya gak cuma chill, tapi langsung dihajar sama segudang event seru dari ujung barat sampe timur Indo! Dari yang suka makan, dengerin musik, sampe pencinta budaya tradisional yang estetik banget—semuanya ada! Nah, daripada cuma scroll TikTok doang, mending catet nih event-event kece yang bisa lo samperin bareng temen, gebetan, atau sendirian juga boleh, yang penting happy!        View this post on Instagram A post shared by Wahid IE (@wahidie88) 1. Tjap Toendjoengan 2025 – Pasar Malam Rasa Nostalgia (28 Feb – 6 Apr 2025) Lo pernah ngerasain vibe-nya pasar malam jadul yang campur Tionghoa-Peranakan gitu gak sih? Nah di Surabaya, Pasar Malam Tjap Toendjoengan ini bener-bener kayak portal waktu! Lo bisa ngemil lontong kupang, sate klopo, sampai jajanan yang udah jarang ditemuin sekarang. Terus sambil makan, ada barongsai, wayang potehi, musik keroncong—vibes-nya tuh kayak ngumpul bareng keluarga besar di malam Imlek, tapi versi Indonesia banget! 2. Golo Mori Jazz 2025 – Jazz di Tengah Surga Alam (12 April 2025) Coba bayangin lo duduk santai, angin laut semilir, terus ada musisi jazz kelas dunia yang perform di depan lo. Gak lebay, tapi itulah yang bakal lo rasain di Golo Mori Jazz Festival di NTT. Ini bukan sekadar konser, men. Ini healing, meditasi musikal, dan liburan yang classy banget. Lo bakal lupa sama stress kantor atau skripsi gara-gara tempatnya tuh surreal parah! 3. Melanda Fest 2025 – Line-Up Musik Lokal yang Gila! (19 April 2025) Siapa yang gak kenal Juicy Luicy, The Changcuters, NDX AKA, sampe Nadin Amizah? Nah, semua ini ada di satu panggung, bro! Di Melanda Fest yang digelar di Sentul, lo gak cuma diajak goyang, tapi juga jajan di area kuliner, sambil ngeliat bazar kreatif anak muda yang vibes-nya artsy banget. Lo yang anak tongkrongan, wajib merapat sih. Bisa sekalian cari mutualan, siapa tau jodoh kan? [Baca juga : "Mudik? Biar Gak Gitu-Gitu Aja, Cobain 5 Aktivitas Seru Ini!"] 4. M2M Live in Jakarta – Soundtrack Masa Remaja Comeback! (26 April 2025) Lo generasi 90-an yang dulu demen dengerin “Pretty Boy” dan “Mirror Mirror”? Wah, kabar bahagia nih: M2M bakal konser lagi di Jakarta! Beneran, Marion sama Marit bakal bawa lo balik ke era kaset dan radio. Lokasinya di Ecovention Ancol, jadi sekalian bisa nongkrong tepi pantai abis konser. Nostalgia maksimal, tapi tetep kece dan relevan buat story IG lo! 5. Semarang Color Run LightFest – Lari Tapi Gaya! (27 April 2025) Mau olahraga tapi tetep estetik? Ikutan Color Run di Semarang aja! Ini tuh bukan lari biasa. Malem-malem, tapi penuh lampu warna-warni kayak EDM festival. Lo lari sambil diterangi lampu LED, cat warna-warni nempel di baju, plus musik nge-beat yang bikin semangat lari sampe finish. Super Instagramable dan pastinya full of fun! Selain lima event tadi, masih banyak acara lokal yang gak kalah gokil. Di Banyuwangi ada Puter Kayun Boyolangu Culture Fest (6-9 April), terus di Pati ada Lomban Kupatan Tayu dan Festival Kali Silugonggo tanggal 8 April. Lo yang doyan budaya bisa juga mampir ke Festival Topeng di Cirebon tanggal 25 April, atau nonton Festival Larung Sesaji di Juwana. Mau yang vibes-nya lebih chill? Coba cicipin kuliner di Makassar Culinary Night (25-27 April) atau ajak temen ke Menoreh Food Festival di Waduk Sermo, Yogyakarta. Intinya sih, bulan April ini tuh bukan bulan rebahan. Ini bulan buat explore Indo lebih jauh, kenal budaya lokal, nikmatin musik, jajan sepuasnya, dan bikin feed lo makin kece. Jangan nunggu diajak, lo yang harus ngajak! Jadi, dari semua event ini, lo mau gas ke yang mana dulu, nih? (Sumber Foto @step_acoustic
...more

Erzaldi Berharap Babel Bisa Jadi Icon Destinasi Wisata Indonesia Selain Bali

TripTrus.Com - Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Roesman berharap Babel mampu menjadi salah satu Icon Destinasi Wisata Indonesia selain Bali. Hal ini diungkapkannya ketika memberi sambutan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Hotel Novotel Kabupaten Bangka Tengah. "Kami berharap kepada semua perempuan dan anak selalu dilindungi agar tidak lagi terjadinya kekerasan pada perempuan dan anak di Indonesia Sebagai tuan rumah kita juga berharap kedepan Babel mampu menjadi destinasi wisata yang bisa diangkat sebagai Icon Indonesia selain Bali,' ujarnya  Rakornas dengan tema " Maju Bersama Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak" juga dihadiri Menteri Pemberdaya Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise dan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Kemanusiaan dan Kebudayaan, Puan Maharani.   Pretend that you live alone in an island, would you like it or not ? πŸ˜† I πŸ’— island #lengkuasisland #belitong #belitung #bangkabelitungislands #belitongisland #belitungisland #bangkabelitong #sumatera #indonesia #indonesian #island #islandlife #paradise #sea #seashore #ocean #sand #whitesandbeach #boat #ship #travelicious #travel #instatravel #asiatravel #southeastasia #exploreindonesia #exploreasia #wonderfulindonesia #wonderfulbelitung A post shared by Vero's new IG (@veroveranine) onFeb 23, 2018 at 4:47am PST Hadir juga Anggota MPR RI, M Ali Taher Parasong, Ketua DPRD Provinsi Babel, Didit Srigusjaya, serta tamu undangan lainnya    Acara yang berlangsung pada pukul 19:00 wib ini dibuka oleh sambutan Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan. Dalam sambutanya ia mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada semua masyarakat Indonesia yang sudah mempercayai Bangka Belitung sebagai tempat diselenggarakannya rakornas tahun ini. "Selamat datang di negeri serumpun sebalai kepada semua hadirin yang hadir di acara Rakornas Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak, seperti maknanya satu rumput namun tetap sebalai" Ungkap Erzaldi dalam sambutannya. (Sumber: Artikel bangkapos.com, Foto pixabay.com)
...more

Mengenal 5 Klenteng dan Vihara Tua di Tangerang

TripTrus.Com - Menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang dan Batavia sudah ada setidak-tidaknya sejak 1407 NI.  Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Tiongkok yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane, yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga. "Oleh karena itu, Tangerang tidak mungkin dapat dipisahkan dengan kebudaya Tionghoa-nya. Kebudayaan yang berkembang di sana sejak berabad-abad lalu." Maka tidak mengherankan jika wilayah Tangerang Raya (Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang) memiliki beberapa klenteng dan vihara tua yang bersejarah. 1. Klenteng Beon Hay Bio   Chinese New Year 270117 A post shared by Kemala D. Larasati (@k_larasati) onJan 27, 2017 at 9:46am PST Klenteng Boen Hay Bio yang terletak di Jl. Pasar Lama Serpong, Desa Cilenggang, Serpong, Kota Tangerang Selatan. Berdasarkan informasi dari pengurus, Klenteng tertua di Serpong ini berdiri tahun 1694 atau sudah berusia tiga ratus tahun. Pada saat hari jadi Klenteng yang diperingati tanggal 24 bulan keenam penanggalan Cina, biasanya Klenteng dipadati pengunjung yang datang untuk berdoa. Selain itu untuk memeriahkan acara hari jadi, Klenteng Boen Hay Bio juga sering dimeriahkan dengan berbagai atraksi pertunjukan barongsai, gambang kromong, serta lenong. 2. Vihara Boen Tek Bio   #VIHARABOENTEKBIO #VIHARA #PASARLAMA #PEI76ETC A post shared by Sri Rezeki Tjandra (@tjansriki) onNov 26, 2016 at 6:56am PST Vihara Boen Tek Bio diperkirakan mulai dibuat pada akhir abad ke-17, hal tersebut berasalan dikarenakan ukiran kayu yang terdapat pada langit-langit dibuat awal tahun 1800. Vihara yang terletak di Jl. Bhakti No. 14, Pasar Lama, Kota Tangerang ini memiliki pengaruh besar pada perkembangan budaya Cina di Tangerang. Yang menasrik dari Vihara Boen Tek Bio adalah beberapa artfeak kuno yang dimiliki oleh Vihara, seperti: patung singa penjaga klenteng (Ciok-say), lonceng tua yang berasal dari tanah Tiongkok tahun 1835, tempat batang hio yang terbuat tahun 1805 dan juga tempat pembakaran yang berasal dari abad ke-19. 3. Vihara Boen San Bio   Vihara boen san bioπŸ™ note : viharaboensanbio atau Klenteng Boen San Bio dibangun oleh pedagang asal Tiongkok yang bernama Lim Tau Koen. Klenteng ini dibangun sebagai tempat untuk menempatkan patung Dewa Bumi (Kim Sin Khongco Hok Tek Tjeng Sin) yang dibawa pedagang tersebut dari Banten. Secara harfiah, “boen san bio” berarti kebajikan setinggi gunung. #viharaboensanbio #viharatangerang #vihara #viharadewikwanim #kelenteng A post shared by Enjoy Your LifeπŸ—½ (@travelmania7550) onOct 19, 2017 at 11:30pm PDT Vihara Boen San Bio atau yang dikenal juga sebagai Vihara Nimmala. Vihara yang berasitektur mewah ini dibuat tahun 1689. Vihara yang terletak di Jl. Pasar Baru, Kelurahan Kranjaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang ini digunakan sebagai tempat ibadah baik oleh penganut Kong Hu Chu, Taoisme dan Budha (Tri Dharma). Selain memiliki nilai sejarah, Vihara Boen San Bio juga terkenal dengan keindahan arsitekturnya. Di bagian atap terdapat patung sepasang burung fenghuang atau hong (phoenix) yang mengapit sebuah mutiara jagat, di bagian depan pengunjung disambut oleh megahnya patung dewa bumi yang dahulu dibawa Lim Tau Koen dari Banten dan banyak lagi oranamen-orname lain yang menjadi daya tarik lain untuk dikunjungi. 4. Klenteng Sampo Tay Jin   #temple #dragonandliondance #semarang #centraljava #sampotayjin #culturalfestival #2017 A post shared by Tio Januar (@januartio) onJul 23, 2017 at 6:55am PDT Tempat ibadah etnis Tionghoa yang terletak di salah satu Gang Jl. Otto Iskandardinata, Kota Tangerang ini bernama Klenteng Sampo Tay Jin. Konon keberadaan klenteng ini erat kaitannya dengan laksamana besar Cina yang memimpin pelayaran pada abad ke-15 dengan kekuatan 300 kapal, yaitu Laksamana Ceng Ho (Sampo Tay Jin). Meskipun bertolak belakang dengan fakta, bahwa Laksamana Ceng Ho adalah seorang muslim, di Klenteng Sampo Tay Jin terdapat altar utama yang menjadikan Laksamana Ceng Ho sebagai dewa utama Klenteng tersebut. Dan uniknya lagi, meskipun tidak memeluk agama Islam, pemuja Laksamana Ceng Ho juga tidak mengkonsumsi daging babi. 5. Klenteng Tjo Soe Kong   πŸ‘ΌπŸ‘ΌπŸ‘Ό . . . . . #temple #vihara #tjosoekong #tanjungkait #tangerang #indonesia #pray A post shared by Aldieka | #sydika #sydikastore (@sy.dika) onDec 10, 2016 at 8:02pm PST Terletak di pesisir utara Kabupaten Tangerang, terdapat bangunan bersejarah etnis Tioanghoa. M asyarakat sekitar klenteng percaya bahwa klenteng itu dibuat tahun 1792 atau berusia tiga abad. Klenteng tersebut bernama Tjo Soe Kong. Pada musibah tsunami akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1883, Klenteng ini berhasil selamat meskioun terletak di bibir pantai. Klenteng yang berlokasi di Dusun Tanjung Anom, Desa Tanjung Kait, Mauk, Kabupaten Tangerang merupakan salah satu cagar budaya di Kabupaten Tangerang juga dikenal dengan nama Klenteng Tanjung Kait atau Klenteng Qing Shui Zhu Sui. Untuk memperingati tradisi Cina sekaligus menghibur masyarakat sekitar, Klenteng Tjo Soe Kong kerap menggelar event tahunan dengan berbagai pertunjukan, seperti: pertunjukan wayang Po Te Hi, Tari Naga, dan kesenian barongsai. Tertarik mengenal lebih jauh Klenteng dan Vihara tua bersejarah di Tangerang? Silakan ajak teman-teman kalian untuk menjelajahinya! (Sumber: Artikel-Foto Amieykha)
...more

Melintasi Hadangan Pulau Sangiang

Ayo ikuti trip ke Pulang Sangiang di: http://triptr.us/Br TRIPTRUS - Provinsi Banten memiliki satu destinasi wisata yang kini mulai dilirik. Destinasi itu bernama Pulau Sangiang yang berada dalam wilayah Kabupaten Serang. Terletak di antara Pulau sumatera dan Pulau Jawa, Pulau Sangiang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit dari Anyer dengan menggunakan kapal atau perahu bermotor. Pulau yang dijadikan Taman Wisata Alam oleh Pemerintah Indonesia ini awalnya ditetapkan sebagai cagar alam yang memiliki luas 700, 35 hektar (Ha). Kemudian pada tahun 1991, wilayah perairan di sekitarnya ditetapkan jadi Taman Wisata Alam Laut seluas 720 Ha, sehingga total Taman Wisata Alam Pulau Sangiang menjadi 1420,35 Ha. Lalu pada tahun 1993, Taman wisata Alam Pulau Sangiang ditetapkan menjadi seluas 528, 15 Ha. Pada waktu masa penjajahan Belanda, Pulau Sangiang memiliki nama Dwars-in-den-weg, atau kurang lebih berarti menghalangi jalan. Nama ini diambil karena lokasi Pulau Sangiang tepat berada di tengah penyempitan Selat Sunda yang membatasi Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Lalu menurut cerita penduduk setempat, pada masa penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, Pulau Sangiang merupakan tempat pertemuan para wali untuk mengadakan rapat dan mengambil keputusan menjalankan penyebaran agama. Di masa penjajahan Jepang, Pulau Sangiang merupakan titik penyimpanan berbagai kekayaan bumi yang diambil Jepang di Indonesia sebelum dibawa ke negaranya. Sebagian besar Pulau Sangiang tidak dihuni oleh manusia untuk menjaga kelestarian alamnya. Tetapi di Pulau Sangiang terdapat sebuah pemukiman yang hanya berjumlah sekitar 50 kepala keluarga yang bernama Legon Waru. Para penduduk perkampungan ini berkomunikasi menggunakan 3 bahasa, yaitu Bahasa Sunda, Jawa, dan Lampung. Daya tarik Pulau Sangiang terdapat pada kelestarian alamnya baik kawasan daratan pulau yang masih dijaga keindahannya, maupun kawasan wisata laut penuh dengan biota laut seperti karang dan ratusan spesies ikan yang dapat dilihat di air yang jernih. Untuk penggemar wisata laut, Pulau Sangiang menyediakan fasilitas snorkeling maupun diving di beberapa kawasan seperti perairan Batu Raden, Pantai Perawan dan Legon Waru. Sementara, untuk penggemar trekking dan wisata budaya, Pulau Sangiang memiliki banyak gua dan benteng-benteng peninggalan masa penjajahan Jepang serta gua kelelawar yang di bawahnya merupakan tempat berkeliarannya ikan hiu yang siap memakan kelelawar yang jatuh dari atas gua. Keindahan alam Pulau Sangiang membuat banyak pengunjung yang pernah datang menobatkannya sebagai salah satu dari Seven Wonders of Banten (Tujuh Keajaiban Banten).   Photos courtesy of: commons.wikimedia.org, gunungtukung.blogspot.com, savingfunvacation.blogspot.com, panoramio.com
...more

5 Masjid Tertua Dan Bersejarah di Jakarta - Part 4

TripTrus.Com - Ditengah hingar-bingar DKI Jakarta, masih banyak berdiri bangunan-bangunan bersejarah, salah satunya adalah Masjid. Berikut ini beberapa Masjid tua dan bersejarah yang masih kokoh berdiri di tengah angkuhnya ibu kota : 1. Masjid Langgar Tinggi, Pekojan       View this post on Instagram Memotret kerusakan pada bangunan cagar budaya Mesjid Langgar Tinggi di Pekojan lalu hrs ke pusat konservasi. Matahari lagi terik2nya. Untung persediaan masker bengkoang masih ada.😬😬 #masjidlanggartinggi #cagarbudaya #pekojan A post shared by Tukang Foto Pemalas (@gemalaputri) onJul 19, 2018 at 4:41pm PDT Pada papan di atas pintu masuk masjid ditulis bahwa Masjid Langgar Tinggi didirikan pada tahun 1249 H/1829 M. Namun menurut Adolf Heuken, seorang sejarawan yang banyak meneliti sejarah kota Jakarta, tahun 1249 H itu berbetulan dengan 1833 atau 1834 M, dan bukan 1829 M. Sehingga jika tahun Hijriyah yang dijadikan pedoman, maka paling jauh masjid itu didirikan pada 1833 M. Dari namanya, kemungkinan masjid ini semula hanyalah sebuah langgar atau musala (musholla, tempat shalat; surau), yang terletak di atas sebuah rumah penginapan di tepi Kali Angke. Pada abad ke 19, kali ini masih merupakan jalur pengangkutan dan perdagangan yang sibuk. Adalah Abu Bakar Shihab, seorang saudagar muslim asal Yaman, yang kemudian mendirikan tempat penginapan ini dengan langgar di bagian atasnya. Pada November 1833 Masjid Langgar Tinggi diperbaiki oleh Syekh Sa’id Na’um (Sa’id bin Salim Na’um Basalamah), seorang saudagar kaya asal Palembang yang kemudian menjabat sebagai Kapitan Arab di wilayah Pekojan. Kapitan Arab ini diserahi kewenangan untuk mengurus tanah yang diwakafkan oleh Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi, yakni lahan tempat Masjid Langgar Tinggi berdiri dan tempat pemakaman umum di Tanah Abang(kini menjadi lokasi Rumah Susun Tanah Abang di Kebon Kacang). Makam Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi ini berada di dekat Masjid Pekojan. Setelah masa itu Masjid Langgar Tinggi mengalami beberapa kali renovasi. Kini bagian bawah masjid tidak lagi difungsikan sebagai penginapan, melainkan sebagai kediaman pengurus masjid dan ruang toko. Demikian pula, dengan semakin dangkalnya Kali Angke dan semakin kotor airnya, pintu ke arah sungai –yang dahulu kemungkinan dipakai sebagai akses langsung pelancong sungai ke penginapan dan ke masjid– kini ditutup. 2. Masjid Jami At Taibin, Senen       View this post on Instagram A post shared by a̾ᏞR͟ȏwΜ«aΜΎíᏞYΝ†ΜΊ (@abaady11_77) onAug 9, 2015 at 1:24pm PDT Masjid Jami At Taibin didirikan oleh sejumlah pedagang sayur di Pasar Senen dan penduduk setempat sekitar 1815 namun baru tercatat di peta Batavia tahun 1918. Pembangunannya atas prakarsa mereka sendiri dan dari dana swadaya. Awalnya, masjid ini bernama Masjid Kampung Besar Kemudian berganti nama menjadi Masjid Imroni’ah dan baru pada tahun 1970-an, namanya diganti lagi menjadi At Taibin hingga saat ini. Dalam perjalanan sejarahnya, masjid ini menjadi saksi dukungan dari para pedagang di pasar senen terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dengan memberi dukungan logistik kepada para pejuang yang dikumpulkan di masjid ini. Masjid ini juga menjadi tempat menyusun strategi menghadapi kekuatan belanda. Khususnya dalam pertempuran Senen, Tanah Tinggi dan Keramat. Di masjid ini pula para pejuang berkumpul dan mendapat siraman rohani. Tak heran, setelah keluar dari masjid ini, semangat juang mereka semakin menyala-nyala. Pada tahun 1980-an, atau sekitar dua abad setelah berdirinya, masjid ini berhasil diselamatkan dari pembongkaran Segi Tiga Senen. Ketika masayarakat muslim melakukan perlawanan dan penolakan. Alhamdulillah, Gubernur saat itu secara diplomatis mendukung langkah kami. Dia mengatakan boleh dibongkar asal disetujui oleh alim ulama setempat. Kini, ditengah gencar berubahnya wajah kota Jakarta, Mesjid Jami Attaibin seakan tenggelam oleh gemerlap gedung-gedung pencakar langit di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Meski begitu, kesejukan masjid ini kian terasa. Di sinilah para pegawai gedung-gedung itu sembahyang. Lingkungannya yang asri, menambah kekhusukan ibadah. Selain tempat beribadah, Masjid At Taibin juga memiliki sejumlah fasilitas sosial lain seperti lembaga pendidikan sederhana untuk anak-anak, baitul mal, dan koperasi simpan pinjam. 3. Masjid Agung Matraman, Matraman       View this post on Instagram #masjidagungmataram A post shared by Bôbby SeRvë (@enjoythedifferent) onOct 22, 2015 at 10:12pm PDT Masjid Agung Matraman memang tak lepas dari aktivitas bekas pasukan Sultan Agung dari Mataram yang menetap di Batavia. Nama wilayah Matraman pun disinyalir karena dahulunya merupakan tempat perkumpulan bekas pasukan Mataram. Untuk menjalankan aktivitas keagamaan bekas pasukan Mataram mendirikan sebuah Masjid di kawasan tersebut. Masjid Jami’ Matraman semula merupakan gubuk kecil tempat pasukan Sultan Agung menjalankan sholat. Terletak di bekas kandang burung milik Belanda yang digunakan oleh orang Mataram sebagai pos komando panglima Mataraman. Pada tahun 1837 dua orang generasi baru keturunan Mataram yang lahir di Batavia, H. Mursalun dan Bustanul Arifin (keturunan Sunan Kalijaga) memelopori pembangunan kembali tempat ibadah itu. Setelah selesai pembangunannya, dahulu masjid ini diberi nama Masjid Jami’ Mataraman Dalem. Yang artinya masjid milik para abdi dalem (pengikut) kerajaan Mataram. Dipilihnya nama itu dimaksudkan sebagai penguat identitas bahwa masjid itu didirikan oleh masyarakat yang berasal dari Mataram. Namun seiring perubahan zaman dan perbedaan dialek, nama Masjid Mataram pun berubah nama menjadi Masjid Jami Matraman. Bangunan masjid masih berupa tumpukan batu batako Kemudian dibangun lagi oleh sekelompok warga Matraman yang diketuai orang Ambon yang bernama Nyai Patiloy (1930). H. Agus Salim juga pernah menjadi ketua pembangunan masjid ini. Belanda tidak setuju dengan pembangunan masjid yang berada di pinggir jalan dan memerintahkan supaya dibangun lebih ke dalam. Mereka berjanji akan membantu biaya sebesar 10.000 gulden. Usul dari Belanda ini mendapat pertentangan dari pengurus pembangunan masjid bahkan sampai dipermasalahkan pada sidang Gemeenteraad. Masjid ini juga pernah mendapat bantuan dari Saudi Arabia (1940). Moh. Hatta, Bapak Proklamasi RI, dulu setiap Jumat selalu bersembahyang di masjid Jami Matraman dan di akhir hayatnya juga disembahyangkan di mesjid ini. Masjid Jami Matraman pertama kali dipugar pada tahun 1955-1960 dan dilanjutkan pada tahun 1977. [Baca juga : "5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Jakarta - Part 3"] 4. Masjid Jami Al-Ma'mur, Cikini       View this post on Instagram Masjid Al Ma'mur Cikini . . #masjid #mosque #building #oldarchitecture #streetphotography #cityscape #jakarta #canon #canonindonesia A post shared by Antonius W (@haryocahyo) onJan 16, 2019 at 4:02am PST Sejarah Masjid Jami Al-Ma'murdimulai pada tahun 1860, Raden Saleh dan masyarakat sekitar membangun sebuah surau disamping kediamannya (kini menjadi asrama perawat RS Cikini). Akibat kedekatan pelukis kondang ini dengan umat Islam setelah ia menikah kembali dengan wanita keturunan Kraton Yogyakarta ia dituduh terlibat dalam kerusuhan di Tambun (Kabupaten Bekasi). Kerusuhan tersebut digerakkan kelompok Islam yang menentang pemerintah kolonial Belanda. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, tapi Belanda tetap mengenakan tahanan rumah kepadanya. Berdasarkan data yang dikeluarkan Yayasan Masjid Al Ma’mur, sesudah Raden Saleh meninggal dunia (1906), tanah itu dimiliki Sayed Abdullah bin Alwi Alatas, yang pemilikannya diperkuat oleh Keputusan Pengadilan Negeri No 694 tanggal 25 Juni 1906, sebagai suatu kelanjutan dari Keputusan Pengadilan Negeri No 145 tanggal 7 Juli 1905. Tanah itu dibeli melalui sebuah pelelangan. Tanah yang sangat luas ini kemudian oleh Sayed Abdullah Bin Alwi Alatas, salah satu tokoh gerakan Pan Islam dijual kepada ‘Koningen Emma Stichingi’ (Yayasan Ratu Emma – yang bernaung di bawah Pemerintah Kolonial Belanda) dengan harga 100 ribu gulden. Tapi karena yayasan ini ingin membangun rumah sakit, harganya dikurangi menjadi 50 ribu gulden dengan penegasan bahwa masjid (surau) yang ada di sana tidak boleh dibongkar. Keaslian Masjid Jami CIkini masih terkonservasi hingga kini, sebagai benda cagar budaya, Masjid Jami Cikini memang dirawat ke-asliannya termasuk tulisan nama masjid dalam huruf arab berikut dengan lambang Syarikat Islam di fasad depannya. 5. Masjid Baitul Mughni, Gatot Subroto       View this post on Instagram Masjid Baitul Mughni . Masjid Baitul Mughni berdiri megah di tepian jalan Gatot Subroto, Jakarta, gambar masjid ini seakan akan tercetak pada diding kaca gedung Menara Global yang terletak di sebelahnya. Posisinya yang tak terlalu jauh dengan perempatan Kuningan membuatnya sering disebut Masjid Kuningan. Masjid Baitul Mughni, Jakarta, menempati areal 6.000-an meter persegi di lokasi amat strategis di Kavling 26 Jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan. Selain terdapat masjid tiga tingkat di komplek masjid ini juga berdiri megah dua gedung Sekolah Islam Al-Mughni, masing-masing lima lantai, Pusat Kajian Hadis, dan Al-Mughni Islamic Center. . Masjid Baitul Mughni merupakan wakaf dari Guru Mughni, ulama kondang Betawi tahun 1940-an, masjid tiga lantai ini kii dikepung pusat perkantoran dan sentra bisnis segitiga emas Jakarta: Gatot Subroto, Sudirman-Thamrin, dan Rasuna Said. Menara Jamsostek, Gedung Telkom, Hotel Kartika Chandra, Wisma Argo Manunggal, serta pusat bisnis Mega Kuningan mengelilingi kompleks Al-Mughni. . Sejarah Masjid Baitul Mughni dimulai sejak tahun 1901. Ketika itu Guru Mughni baru pulang dari tanah Suci, kembali ke Batavia. Ia membeli lahan dan langsung mendirikan sebuah masjid kecil berukuran 13 x 13 meter yang pada awal pendiriannya belum memilki nama. Bahan bangunannya terdiri dari batu bata pada bagian dindingnya, lantainya berubin warna merah dengan beratapkan genteng . . ==================================== @masjidinfo 🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara. 🌎 informasi dunia Islam. Baca artikel masjid menarik di blog kami : πŸ‘‰ bujangmasjid.blogspot.co.id πŸ‘‰ bujanglanang.blogspot.co.id πŸ‘‰ singgahkemasjid.blogspot.co.id . Tag @masjidinfo for repost (no selfie please) . ==================================== #masjidinfo A post shared by masjidinfo (@masjidinfo) onAug 1, 2017 at 12:04am PDT Sejarah Masjid Baitul Mughni dimulai sejak tahun 1901. Ketika itu Guru Mughni baru pulang dari tanah Suci, kembali ke Batavia. Ia membeli lahan dan langsung mendirikan sebuah masjid kecil berukuran 13 x 13 meter yang pada awal pendiriannya belum memilki nama. Bahan bangunannya terdiri dari batu bata pada bagian dindingnya, lantainya berubin warna merah dengan beratapkan genteng. Bentuk masjid itu adalah empat persegi dengan mihrab di depan sebagai tempat imam memimpin shalat. Meski demikian, jika dibandingkan dengan bangunan yang ada di wilayah lain saat itu, bangunan masjid ini tergolong bangunan mewah. Dengan bertambahnya jumlah jamaah, ukuran masjid ini pun diperluas, bagian belakangnya ditambah dengan bahan bangunan dari anyaman bambu. Bagian belakang ini dimanfaatkan sebagai tempat mengaji dan bermalam bagi murid-murid Guru Mughni yang datang dari tempat tempat yang jauh. Belum ada menara masjid pada waktu itu. Baru menjelang Guru Mughni wafat dibuat menara. Setelah itu menyusul renovasi demi renovasi berikutnya. satu-satunya peninggalan masjid lamanya ya pilar masjid bekas tiang penyangga masjid di sebelah dalam. Sejak pertama pendiriannya, Masjid Baitul Mughni berfungsi tak hanya sebagai tempat ibadah namun juga sebagai tempat pendidikan dan penyebaran ilmu-ilmu agama, bahkan saat itu masjid ini juga sebagai pusat informasi Ru’yatul Hilal (penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal) bagi masyarakat Jakarta Selatan. Ketika itu, masjid ini melahirkan seorang tokoh ahli ilmu falak yakni K.H. Abdullah Suhaimi, yang juga menantu Guru Mughni sendiri. Ketika itu bisa dibilang masjid ini merupakan masjid rujukan bagi masjid-masjid kecil di sekitarnya. Seperti untuk menentukan kapan waktunya azan, biasanya masjid-masjid lainnya berpatokan pada masjid ini. Mereka tidak akan azan sebelum mendengar suara azan dari masjid ini. (Sumber: Artikel situsbudaya.id Foto jakarta-tourism.go.id)
...more

5 Masjid Tertua Dan Bersejarah di Kudus - Part 1

TripTrus.Com - Sepanjang wilayah Pantai Utara Timur dari Demak-Kudus hingga ke Jawa Timur dikenal sebagai daerah-daerah persinggahan para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam. Tak heran, jika budaya dan sisa-sisa peninggalan sejarah Islam masih melekat di daerah tersebut. Seperti di Kota Kudus, terdapat makam Sunan Muria dan Sunan Kudus, sebagai penyebar agama Islam yang sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi peziarah. Dengan kehadiran dua tokoh tersebut, banyak meninggalkan kisah dan artefak kebudayaan Islam yang masih dapat dijumpai di sejumlah tempat. Salah satunya peninggalan masjid-masjid yang memiliki sejarah panjang. Berikut 5 masjid tua bersejarah di Kudus yang bisa menjadi pengingat dan bahan pelajaran generasi saat ini. 1. Masjid Langgar Dalem Masjid Langgar Dalem terletak di Desa Langgar Dalem, Kec. Kota Kudus. Masjid ini merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah pada masa awal perkembangan islam, khususnya di wilayah Kudus. Berdasarkan sengkalan memet yang dibaca trisula pinulet naga di perkirakan Masjid Langgar Dalem didirikan pada tahun 885 H atau 1480 M.  Berdirinya Masjid Langgar Dalem ini dihubungkan dengan Sunan Kudus yang merupakan salah satu tokoh penyebar agama islam dan merupakan salah satu dari Walisango. Hal itu dibuktikan juga dengan  cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat Kudus, yang menceritakan bahwa Masjid Langgar Dalem dibuat oleh para seniman dari Madura. Para seniman tersebut merupakan tawanan perang yang kemudian dibawah oleh Sunan Kudus untuk membangun kota Kudus. Dan jika dilihat secara sepitas, Ciri dari keunikan Masjid Langgar Dalem terletak pada bentuk atapnya yang berupa atap tumpang susun tiga yang dilengkapi dengan hiasan mustoko dipuncaknya. 2. Masjid Jami' Nganguk Wali Kramat       View this post on Instagram A post shared by Azkayra (@afnahaqy987) onJan 11, 2020 at 12:41am PST Masjid berukuran 25×20 meter ini ada kaitannya dengan Kyai Telingsing. Sang kyai adalah seorang keturunan Tionghoa yang bernama asli The Ling Sing (Tan Ling Sing/Tee Ling Sing). Disebut sebagai Masjid Nganguk Wali, karena konon masjid ini didirikan oleh para wali yang pengawasannya kemudian diserahkan kepada Kyai Telingsing. Pada blandar masjid terdapat tulisan yang berasal dari ajaran Kyai Telingsing, yaitu sholat sacolo saloho donga sampurna atau shalat adalah sebagai do’a yang sempurna, serta ada pula tulisan berbunyi lenggahing panggenan tersetihing ngaji yang bermakna menempatkan diri pada yang benar, suci dan terpuji. Salah satu yang membuat Masjid Nganguk Wali kini lebih menarik untuk dikunjungi adalah dinding tembok luar dan gapura paduraksa yang memisahkan pelataran luar dengan pelataran dalam yang lebih tinggi, dihubungkan sejumlah undakan. Pada lubang gapura terdapat struktur kayu yang diukir indah. Gapura ini belum lama dibuat, untuk mengembalikan bentuk bangunan aslinya. 3. Masjid Madureksan Masjid yang terletak di Dukuh Madureksan, Kel. Kerjasan, Kec. Kudus ini, dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1520 M. Masjid Madureksan dibangun oleh Sunan Kudus sebelum dibangunnya Masjid Menara Kudus. Pada masa itu, Masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah dan dakwah oleh Sunan Kudus dan para santrinya. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat musyawarah berbagai permasalahan agama dan menyusun siasat perang. Selain Sunan Kudus, ada seorang tokoh yang mewarnai keberadaan Masjid Madureksan ini, ia adalah Kyai Telingsing. Ulama asal Tiongkok ini juga memiliki peranan besar dalam penyebaran Islam di Kota Kudus. Bergulirnya waktu, bangunan Masjid Madureksan mulai terpendam hingga kedalaman 70 sentimeter. Hal ini disebabkan bangunan jalan dan pemukiman sekitar yang lebih tinggi, menjadikan Masjid ini seperti terpendam. Sehingga pada tahun 1998, Masjid Madureksan dipugar total dan berdiri sebuah bangunan baru seperti yang masyarakat kenal saat ini. [Baca juga : "5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Banten - Part 3"] 4. Masjid Menara Kudus (Al Aqsa)       View this post on Instagram A post shared by @mamotomo onApr 30, 2020 at 6:21pm PDT Masjid ini tergolong unik karena desain bangunannya, yang merupakan penggabungan antara Budaya Hindu dan Budaya Islam. Hal itu menjadi bukti, bagaimana sebuah perpaduan antara Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Hindu telah menghasilkan sebuah bangunan yang tergolong unik dan bergaya arsitektur tinggi. Sebuah bangunan masjid, namun dengan menara dalam bentuk candi dan berbagai ornamen lain yang bergaya Hindu. Gaya arsitektur candi pada Menara Kudus menyerupai candi-candi di Jawa Timur, salah satunya seperti Candi Jago di Malang. Selain itu, bangunan masjid ini juga menyerupai Menara Kukul di Bali. Menurut sejarah, masjid Kudus dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H atau 1549 M. Menurut cerita, Sunan Kudus membangun menara ini dengan cara menggosok-gosokkan batu bata yang satu dengan lain sehingga menjadi lengket. Selain itu, terdapat juga mustaka mirip atap tumpang pada masjid tradisional Jawa. Fungsi dari menara itu adalah untuk tempat mengumandangkan adzan. 5. Masjid Wali Loram Kulon (Jami At Taqwa) Nama resmi masjid ini adalah Masjid Jami At-Taqwa, namun masyarakat setempat lebih suka menyebutnya Masjid Wali Loram Kulon. Masjid ini berada di Desa Loram Kulon, Kec. Jati, Kab. Kudus. Seperti laiknya bangun masjid pada zaman dahulu, masjid ini dibuat dengan kayu jati yang telah dilengkapi dengan menara, sumur tempat berwudhu dan bedug. Bangunan asli masjid ini dibangun pada 1596-1597 oleh seorang Tionghoa Muslim asal Campa bernama Tjie Wie Gwan atas perintah Sultan Hadlirin. Namun seiring bertambahnya usia, masjid ini dilakukan pemugaran pada awal 1990-an. Bagian yang sama sekali tidak diubah pada bagian gapura paduraksa yang berada di depan masjid. Ada aksara arab berbunyi “Allhumma baariklana bil khoir” dan di bawahnya ada terjemahannya yang berbunyi “Ya Allah, berkahilah kebaikan kepada kami” yang tertera di gapura itu. Seperti Masjid Menara Kudus, Masjid Wali Loram Kulon ini juga berarsitektur Jawa Hindu dan mengkombinasikannya dengan gaya Timur Tengah. (Sumber: Artikel kemdikbud.go.id, isknews.com, situsbudaya.id, islamic-center.or.id, indonesiakaya.com, inibaru.id Foto instagram.com/artetaarie)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography
×

...