Papua dikenal memiliki beragam alat musik yang memiliki fungsinya masing-masing. Alat musik seperti tifa, krombi, menjadi beberapa nama alat musik yang berasal dari negeri berjuluk bumi cendrawasih tersebut. Selain dua nama tadi, ada satu alat musik tradisional khas Papua yang berfungsi untuk memanggil penduduk yaitu fuu.
Fuu merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup pada bagian yang berlubang atau terbuka. Selain digunakan untuk memanggil penduduk, alat musik ini juga biasa digunakan untuk mengiringi tari-tarian khas Papua khususnya masyarakat Suku Asmat, Kabupaten Merauke.
Bersama alat musik khas Papua lainnya seperti tifa dan kelambut, biasanya fuu dimainkan dan menjadi paduan harmonisasi yang memberikan warna tersendiri pada ciri khas musik Papua.
Fuu menjadi salah satu alat musik tradisional yang harus dilestarikan keberadaannya. Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Papua dan menjadi kearifan lokal dari identitas sebuah daerah.
Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...moreTripTrus.Com - Ditengah hingar-bingar DKI Jakarta, masih banyak berdiri bangunan-bangunan bersejarah, salah satunya adalah Masjid. Berikut ini beberapa Masjid tua dan bersejarah yang masih kokoh berdiri di tengah angkuhnya ibu kota :
1. Masjid Jami' Al-Anwar, Angke
View this post on Instagram
Masjid yg didirikan oleh seorang muslimah tionghoa yg bergaya hindu Bali, Eropa dan tionghoa pada tahun 1700-an. . Sudah menjadi cagar alam nasional sejak thn 1993 . #wisataedukasi #wisatakemasjid #wisatasekolah #masjid #masjidjamiangke @wisatasekolah
A post shared by shinta aryani dewi (@_shintaad) onJun 1, 2018 at 11:00pm PDT
Sejarah pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa di zaman Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741), beberapa kali terjadi ketegangan antara VOC dengan rakyat dan orang Tionghoa. Ketegangan memuncak pada tahun 1740 ketika orang-orang Tionghoa bersenjata menyusup dan menyerang Batavia. Karena kejadian ini, sang jenderal sangat marah dan memerintahkan pembunuhan massal terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa ini diketahui Pemerintah Belanda, sang jenderal dimintai pertanggungjawaban dan dianggap sebagai gubernur jenderal tercela. Akibatnya, ia kemudian dipenjarakan Pemerintah Belanda pada tahun 1741. Dan tak lama kemudian sang jenderal pun akhirnya mati di penjara.
Sewaktu terjadi pembunuhan massal itu, sebagian orang Tionghoa yang sempat bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam dari Banten, dan hidup bersama hingga tahun 1751. Mereka inilah yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon.
Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, masjid didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya’ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim dari Tartar bernama Ny. Tan Nio yang bersuamikan orang Banten, dan masih ada hubungannya dengan Ong Tin Nio, istri Syarif Hidayatullah. Arsitek pembangunan masjid ini adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana dari Ny. Tan Nio. Makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Jami Angke, yang berada di bagian belakang Masjid Jami Angke.
Menurut sejarawan Heuken dalam bukunya Historical Sights of Jakarta, kampung di sekitar Masjid Angke dulu disebut Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu. Kampung tersebut didirikan tahun 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi. Selama puluhan tahun orang-orang Bali menjadi kelompok terbesar kedua dari antara penduduk Batavia (A Heuken SJ, 1997:166).
Selain orang-orang Bali, kampung sekitar masjid dulunya juga banyak dihuni masyarakat Banten dan etnis Tionghoa. Mereka pernah tinggal bersama di sini sejak peristiwa pembunuhan massal masyarakat keturunan Tionghoa oleh Belanda. Bahkan jika kita berkunjung ke tempat tersebut saat ini, akan kita lihat masih banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di perkampungan tersebut.
2. Masjid Jami Tambora, Tambora
View this post on Instagram
With mosques, it's often difficult to guess if they're old or new. Some people get overzealous with upgrading or renovating them. Little expansion here, adding ceramic panels there, and the mosques look totally unrecognisable from the original. I'd thought that Masjid Jami Tambora (pictured above) and Tangerang's Masjid Jami Kalipasir were built pretty recently, perhaps in the last 30 or 40 years. It wasn't until I saw signs in front of the mosques that I came to understand that both were actually built in the 18th century.
A post shared by Heru Santoso (@sirhumphreyappleby) onFeb 3, 2019 at 6:23am PST
Masjid Jami Tambora dibangun pada tahun 1181 H (1761 M) oleh Kiai Haji Moestoyib, Ki Daeng, dan kawan-kawan. Mereka berasal dari Makasar dan lama tinggal di Sumbawa tepatnya di kaki Gunung Tambora. Pada tahun 1176 H (1756 M) KH. Moestodijb dan Ki Daeng dikirim ke Batavia oleh Kompeni karena menentang dan dihukum kerja paksa selama lima tahun.
Setelah hukuman selesai mereka tidak kembali ke Sumbawa, tetapi menetap di Kampung Angke Duri (sekarang Tambora) dan berkenalan dengan ulama setempat. Kemudian mereka menemukan ide untuk membangun sebuah masjid sebagai tanda syukur. Lokasinya sengaja dibuat di tepi Kali Krukut karena saat itu air kali masih jernih sehingga bisa dipakai untuk berwudlu.
Sumber lain menyebutkan, konon Masjid Tambora ini dibangun oleh H. Moestoyib, bersama seorang kontraktor Tionghoa Muslim yang berasal dari Makasar pada tahun 1761, kedua Muballigh itu ditahan oleh penguasa Belanda selama kurang lebih 5 Tahun dengan tuduhan makar, tetapi tuduhan itu tidak terbukti dan mereka pun dibebaskan, lalu penguasa Belanda memberikan sebidang tanah di luar tembok Batavia yang kemudian dibangun Masjid Tambora.
Sejak masjid selesai dibangun, peribadatan dimasjid ini dipimpin oleh K.H. Moestoyib sampai wafat. Haji Mustoyib dikuburkan di halaman depan masjid ini demikian pula dengan Ki Daeng. Guna kelanjutan kegiatan masjid setelah mereka wafat maka pada tahun 1256 H (1836 M) pimpinan masjid dialihkan kepada Imam Saiddin sampai wafat. Setelah itu masjid telah mengalami beberapa kali pergantian pimpinan. Terakhir pada tahun 1370 H (1950 M) pimpinan dipegang oleh Mad Supi dan kawan-kawannya dari gang Tambora. Masjid ini diperluas dan dipugar menyeluruh pada tahun 1980.
3. Masjid Jami Almubarak, Krukut
View this post on Instagram
Diantara kebaikan Di bulan Ramadhan adalah menuntut Ilmu
A post shared by arfan latif (@arfan_latif) onJun 2, 2017 at 7:04pm PDT
Masjid Jami Almubarak atau Masjid Krukut adalah salah satu masjid tua di Jakarta, dibangun sesudah tahun 1785 di atas sebidang tanah luasnya 1.000 m2 yang disebut Cobong Baru. Dibangun oleh kaum peranakan Tionghoa di Batavia, setelah memperoleh izin dari Gubemur Jenderal Alting. Izin tersebut diberikan kepada kapitan Cina peranakan (Muslim) yang bernama Tamien Dosol Seeng. Pada abad ke-19 dan abad ke20 masjid ini mengalami perubahan besar. Sebuah mimbar kayu pantas dianggap karya besar seni ukir Tionghoa. Sayang sekali, bentuk ukiran mimbar itu tak tajam lagi akibat dilapisi cat perak tebal pada tahun 1975 dan kini mimbar tersebut raib tak jelas keberada’annya.
Perombakan dan pembangunan total masjid ini dilakukan tahun 1994 14 Januari 1994, diperluas oleh tanah wakaf yang diberikan Syech Abdul Khaliq A Bakhsh dan dilaksanakan oleh Abdul Malik Muhammad Aliun sebagai wakaf untuk umat Islam. Di kawasan Krukut kini sudah hampir tak ada lagi muslim Tionghoa yang bermukim disana dan justru lebih banyak di dominasi muslim keturunan arab.
[Baca juga : "5 Fakta Sejarah Tentang Pulau Penyengat"]
4. Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Kebon Jeruk
View this post on Instagram
Masjid Jami Kebon Jeruk Jakarta Kota Markaz Dakwah dan Tabligh Indonesia Malam Markaz setiap malam jum'at di seluruh dunia #masjidkebonjeruk #malammarkaz #markazdakwahtablighindonesia #dsas #khurujindonesia
A post shared by Jefry Berahim (@jefryberahim) onDec 21, 2018 at 2:07am PST
Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di tahun 1786. Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat.
Sesampai di Batavia, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak serta tidak terpelihara lagi. Kemudian di tempat tersebut, ia dan teman-temannya, sesama pendatang dari Tiongkok mendirikan mesjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk. Alasan diberinya nama Masjid Kebon Jeruk, menurut petugas Istiqbal (humas-red) Masjid Kebon Jeruk, Abdul Salam, karena memang pada waktu itu di daerah ini ditumbuhi banyak pohon jeruk.
Jauh sebelumnya, tahun 1448 Masehi, di lokasi ini telah berdiri sebuah mesjid surau atau langgar. Bangunannya bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, masing-masing penuh dengan ukiran. Siapa saja pendirinya tidak diketahui. Chan tsin Hwa beserta istrinya Fatima hwu tiba di Batavia pada tahun 1718, dan menetap di daerah Kebon Jeruk sekarang ini. Mereka ini adalah rombongan muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negrinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama leluhur mereka, Budha.
Selain nilai historisnya, masjid ini menjadi terkenal karena Masjid Kebon Jeruk sebagai pusat kegiatan tabligh dan dakwah Islam di Indonesia. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini menjadi markas kegiatan Jemaah Tabligh untuk wilayah Indonesia dengan kegiatan jamaahnya adalah melakukan penyebaran Islam dengan mengunjungi berbagai tempat di seluruh nusantara dan berbagai negara.
5. Masjid Az-Zawiyah, Pekojan
View this post on Instagram
Masjid Az Zawiyah adalah salah satu masjid tua yang berada di kawasan Pekojan, Jakarta Barat. Masjid yang terletak di jalan Pekojan Kecil dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas dari Tarim, Yaman Selatan. Biasanya di 10 malam terakhir Ramadhan ada tradisi buka bersama di beberapa masjid tua di Jakarta salah satunya adalah masjid Azzawiyah di setiap tanggal ganjil. Dengan adanya buka bersama ini, terlihat semakin eratnya umat muslim di Indonesia, terbukti tidak dari Jakarta saja yang menghadiri acara buka bersama ini, ada yang dari Jonggol, Bogor, Depok dan sekitarnya. Semoga dengan adanya tradisi seperti ini umat muslim di Indonesia semakin mesra hubungannya dengan sang Maha Pencipta. __ Foto : @sugoroaprian __ #iwashere #bukber #masjidazzawiyah #pekojan #jakarta #detikdetikterakhirramadhan #indonesia
A post shared by Irfan Ramdhani (@ramdhani_irfann) onJun 22, 2017 at 3:28am PDT
Masjid Az-Zawiyah merupakan salah satu masjid tua Jakarta yang berada di kawasan Pekojan. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada tahun 1812M, Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Dan juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab “Fathul Mu’in” atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional.
Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor. Ketika dibangun, masjid ini tidak saja merupakan sebuah bangunan untuk ibadah semata namun juga merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan islam. Kini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.
Masjid Azzawiyah berada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalnya hanya berupa mushola kecil, Mushola ini kemudian diwakafkan hingga sekarang dan kemudian menjadi sebuah masjid. Kawasan Pekojan juga dikenal sebagai Kampung arab meskipun pada awalnya dihuni oleh Muslim dari India. Saat ini di Pekojan terdapat 4 Masjid Jami’ dan 26 mushola beberapa diantaranya sudah eksis sejak era kolonial.
Masjid kecil ini begitu ramai dikunjungi oleh muslim keturunan arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Mushola ini berdiri rumah tua bergaya Moor, rumah tersebut sekarang ditempati keluarga Saleh Aljufri. Keluarga Saleh Al-Jufri ini adalah salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan. (Sumber: Artikel situsbudaya.id Foto bujangmasjid.blogspot.com)
...moreTripTrus.Com - Setiap orang pasti memiliki caranya masing-masing untuk mengisi waktu di bulan Ramadan, terutama menjelang waktu berbuka puasa atau yang kerap disebut dengan ngabuburit. Ada yang mengisinya dengan berdoa serta melakukan kegiatan rohani, ada yang menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa, ada yang memilih untuk refreshing sembari menunggu azan Magrib berkumandang, lalu ada pula yang menunggu waktu buka puasa dengan cara yang lain dari biasanya.
Berkat suku dan budaya masyarakatnya yang beragam, umat Muslim dari berbagai daerah di Indonesia memiliki tradisi unik dan menyenangkan tersendiri saat ngabuburit, lho, Wegonesia. Penasaran apa saja kegiatannya? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!
1. Asmara Subuh, Palembang
Jangan buru-buru mengira bahwa tradisi ini berhubungan dengan cari jodoh. Sesungguhnya, Asmara Subuh adalah tradisi yang dilakukan warga Palembang dengan membakar sejumlah petasan di sepanjang Jembatan Ampera. Tak ada sumber pasti yang menyebutkan asal-usul nama tradisi yang dilakukan pada hari pertama Ramadan ini, begitu pula kapan pertama kali tradisi ini ada. Selain di Jembatan Ampera, Asmara Subuh juga dilakukan di sejumlah tempat di Palembang, salah satunya di pelataran Benteng Kuto.
2. Panjat Tebing, Madiun
Selama bulan Ramadan, anak-anak di kota Madiun kerap berkumpul di kawasan Stadion Wilis menjelang waktu berbuka puasa. Bukan untuk bermain sepak bola seperti yang biasa dilakukan anak-anak pada umumnya, mereka berkumpul untuk melakukan panjat tebing dengan memanfaatkan fasilitas panjat tebing yang tersedia di stadion!
Jangan bayangkan bidang panjat dengan kemiringan ekstrem dan jarak pijakan yang jauh, yang menjadi sasaran panjat mereka tebing dengan pijakan yang tidak terlalu sulit, dengan jarak satu pijakan ke pijakan lainnya yang cukup dekat dan tidak terjal. Dibandingkan dengan bermain sepak bola atau permainan lain yang menguras tenaga, aktivitas ini tampaknya cukup digemari karena tergolong lebih ringan namun tetap menyenangkan untuk dilakukan sambil menunggu waktu berbuka puasa.
3. Kumbohan, Lamongan
Kumbohan merupakan tradisi mencari ikan di Sungai Bengawan Solo yang kerap dilakukan oleh warga Lamongan sembari menunggu waktu buka puasa. Tradisi ini sudah dilakukan oleh warga sejak lama tiap kali air sungai surut, sehingga ikan-ikan menjadi mabuk atau munggut dan menjadi mudah ditangkap. Jenis ikan yang ditangkap bermacam-macam, dari mulai bandeng hingga udang.
Para warga, dari yang muda hingga paruh baya, laki-laki maupun perempuan, terlihat cukup antusias dalam menangkap ikan. Hasil tangkapan warga biasanya akan dibawa pulang untuk dimasak sebagai hidangan berbuka puasa atau dibagikan kepada saudara dan juga tetangga.
4. Perahu Layar Mini, Surabaya
Sementara itu, warga pesisir memanfaatkan lokasi sekitar tempat tinggal mereka untuk menciptakan permainan yang menghibur, yakni adu balap perahu layar mini di Rawa Tambak, pesisir utara Pantai Kenjeran Surabaya. Miniatur perahu layar dibuat menggunakan kayu, lidi, dan sehelai kain ataupun kertas yang cukup tebal sebagai layar.
Para peserta balap menghias layar perahu masing-masing agar tampak lebih menarik. Ada yang menuliskan kata-kata lucu dan memancing tawa, ada pula yang menggambar aneka bentuk wajah. Tinggal tunggu saja kepada siapa angin laut berpihak, karena pemenangnya, tentu tak bisa mengatur ke mana angin laut bertiup.
[Baca juga : "Desa Poopoh Bersolek Menuju Anugerah Desa Wisata Indonesia"]
5. Menonton Kereta Api, Madiun
Deretan sepeda motor terlihat memadati kawasan sekitar jalur kereta api Madiun. Mereka yang datang umumnya adalah seorang bapak dengan anak-anaknya, serta segerombol anak muda yang ingin menghabiskan waktu menjelang buka puasa. Mereka memarkir motor di tepi luar pembatas rel kereta, lalu duduk santai di atas motor masing-masing sambil asyik menonton kereta yang melintas.
Bagi warga Madiun, ngabuburit sambil menonton kereta api adalah sebuah hal yang lumrah. Dibandingkan yang lain, aktivitas yang satu ini adalah yang paling tidak biasa dan cenderung berbahaya, mengingat jarak antara kereta api dan warga yang menonton cukup dekat. (Sumber: Artikel wego.com Foto @tv90an)
...moreTripTrus.Com - Nah, di Sungai Musi ada tradisi lomba perahu yang keren banget, namanya perahu bidar. Biasanya sih lomba ini digelar tiap tahun buat ngerayain Hari Jadi Kota Palembang pada 17 Juni dan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Sayangnya, tahun 2020 nggak ada lomba ini gara-gara pandemi COVID-19.
View this post on Instagram
A post shared by Muhammad Naufal (@mnaufallf)
Lomba perahu bidar di Sungai Musi ini ternyata udah lama banget, lho. Katanya sih, pertama kali diadain pas ulang tahun Ratu Wilhelmina dari Belanda pada tahun 1898 di Palembang, Sumatera Selatan. Sejak itu, lomba ini rutin diadain buat ngerayain Hari Jadi Kota Palembang dan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bidar itu artinya "perahu perang". Bentuknya tuh kayak perahu pencalang yang panjang tapi nggak ada tutupnya. Pencalang itu dalam bahasa Melayu artinya cepat melaju atau cepat pergi. Sejarawan bilang, perahu pencalang ini dipake prajurit di zaman Kedatuan Sriwijaya atau Kerajaan Palembang buat perang, abis turun dari kapal utama mereka.
Perahu bidar biasanya dibuat dari kayu, biasanya dari pohon rengas. Ada beberapa jenis perahu bidar, kayak Bidar Kecik (mini) yang pendayungnya 5-11 orang, Bidar Pecalangan sekitar 35 pendayung, dan Bidar Besak (besar) yang bisa angkut 57-58 pendayung. Perahu Bidar Besak itu panjangnya sekitar 26 meter, lebar 1,37 meter, dan tinggi 70 sentimeter di bagian tengahnya.
[Baca juga : "7 Summits Of Java"]
Terlepas dari sejarahnya yang panjang, tradisi perahu bidar ini selalu dinantikan masyarakat Palembang tiap tahun. Ada kampung namanya Kampung Keramasan, di Sungai Keramasan, anak Sungai Musi. Dari dulu, Keramasan terkenal menghasilkan pendayung-pendayung handal yang sering disewa sama pemerintah, organisasi, atau perusahaan buat ikut lomba perahu bidar.
Selain Kampung Keramasan, ada juga Kampung Kertapati dan 1 Ulu di tepi Sungai Ogan, juga anak Sungai Musi, yang menghasilkan pendayung perahu bidar hebat. Banyak atlet dayung Sumatera Selatan yang lahir dari masyarakat kampung-kampung ini yang punya tradisi kuat di bidang ini.
Pendayung-pendayung ini lahir secara alami, nggak ada pendidikan khusus. Mereka cuma dapet pelatihan dari pendayung sebelumnya. Tradisi turun-temurun ini bikin mereka jadi pendayung yang andal. (Sumber Foto palembang.go.id)
...moreTripTrus.Com - Aktivitas wisata mulai kembali menggeliat di masa new normal pandemi Covid-19. Kendati wabah corona masih terjadi, roda perekonomian tetap harus bergerak, meski belum sekencang dulu.
Pengelola destinasi wisata dan wisatawan wajib menerapkan berbagai protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona, sekaligus menggeliatkan usaha mereka. Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah, I Nyoman Sriadijaya menyatakan setidaknya ada lima tren wisata yang berubah di masa new normal pandemi Covid-19 ini.
Tren wisata tersebut, menurut dia, diubah oleh pemerintah, pengelola destinasi wisata, ataupun wisatawan itu sendiri. Berikut 5 tren wisata yang berubah di masa kebiasaan baru wabah corona ini:
1. Wisata ramai-ramai menjadi individual
I Nyoman Sriadijaya mengatakan sudah jarang agen travel yang menawarkan paket wisata rombongan, kecuali untuk keluarga atau komunitas, di mana setiap anggotanya saling mengenal satu sama lain. Wisatawan, menurut dia, kini cenderung memilih jalan-jalan sendiri, berdua, atau dalam kelompok kecil.
"Ini dilakukan untuk menghindari potensi penularan dan penyebaran Covid-19," kata I Nyoman Siradijaya dalam diskusi daring bertajuk Hasil Hutan Bukan Kayu dan Pengembangan Sektor Wisata Berbasis Lingkungan di Landscape Lariang Taman Nasional Lore Lindu di Palu, Kamis 30 Juli 2020.
2. Wisata alam jadi tujuan
Wisatawan sekarang lebih memilih destinasi wisata alam untuk menyegarkan pikiran dan menghilangkan kepenatan setelah selama beberapa bulan di rumah saja. Mereka juga memilih destinasi wisata alam untuk menghirup udara segar dan meningkatkan imunitas tubuh.
3. Pedoman kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan
Wisatawan harus lebih memperhatikan pedoman kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan atau Clean, Healty, Safety, Environment CHSE) di destinasi wisata. Sebelum tiba di objek wisata tertentu, mereka tentu ingin memastikan seberapa siap dan patuhnya pengelola akan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.
[Baca juga : "Pelaku Industri Wisata Siap Terapkan Protokol Kesehatan"]
4. Wisatawan domestik
Dinas pariwisata kabupaten/kota dan pelaku usaha pariwisata menyasar wisatawan lokal atau regional di masa new normal wabah corona. Sebagian daerah juga belum mengizinkan mancanegara untuk datang. Bahkan wisatawan domestik yang berasal dari zona merah Covid-19 juga harus memenuhi berbagai persyaratan untuk memastikan dia dalam kondisi sehat.
5. Pembukaan destinasi wisata bertahap
Desatinasi wisata di sejumlah daerah mulai dibuka secara bertahap sesuai dengan kesiapan pengelolanya dalam menerapkan protokol kesehatan. Kategori wisatawan yang disasar juga secara perlahan mulai meluas. Mulai dari wisatawan lokal yang satu area, kemudian wisatawan lokal antar-daerah, dan wisatawan domestik antar-provinsi. (Sumber: Artikel travel.tempo.co Foto freepik.com)
...moreTripTrus.Com - Bro-sis, gue bocorin nih daftar event paling hits yang lagi ngegas banget di Jogja Januari 2026! Di awal tahun ini, Jogja tuh bener-bener hidup lagi dan siap manjain lo semua yang doyan jalan, olahraga, nonton konser sampe ngulik seni serta edukasi kece abis! Pokoknya dari yang suka lari-lari santai, teater keren, sampe pameran sejarah yang edukatif—semua ada, dan cocok banget buat lo jadikan alasan buat liburan asik atau sekedar staycation sambil seru-seruan bareng squad. Jadi kalo lo lagi nyusun itinerary buat traveling ke Jogja, jangan skip event-event gokil di bawah ini karena tiap acara punya vibe masing-masing yang bikin feed lo makin on point! Dari lanskap alam kece buat trail run sampai panggung musik penuh energi, semua nunggu buat lo sambangi!
1. Kulon Progo Trail Run – Lari Bareng Alam Sermo yang Epic!
View this post on Instagram
A post shared by Allen Pradyta (@allprasc)
Bros & sis yang suka ngegas, siapin sepatu lari lo buat Kulon Progo Trail Run 2026 tanggal 11 Januari! Ini bukan sekadar lari biasa, tapi lo bakal diajak ngeksplor Waduk Sermo yang pemandangannya juara banget, sambil ngelewatin jalur perbukitan Menoreh yang asik buat hunting konten pake drone atau handphone lo. Total jaraknya 11K, cocok buat lo yang suka tantangan fisik plus butuh feel alam yang beda dari kota besar. Selain itu, ada hadiah total sampai Rp10 juta yang bikin semangat lo makin membara! Gila sih, bro-sis, ini kombinasi olahraga & exploration yang kudu banget lo masukin bucket list traveling lo tahun ini biar instagram lo makin kece abis!
2. MKN UII Run 7K – Rayain Anniversary Bareng Komunitas Fun!
Bro-sis yang doyan event komunitas dan suka vibe santai tapi tetep fun, MKN UII Run 7K tanggal 17 Januari ini pas banget buat lo! Jadi ini tuh acara lari santai 7 kilometer yang diselenggarain buat ngerayain 10 tahun Magister Kenotariatan UII. Rutenya asik banget ngeliling area Fakultas Hukum UII, cocok buat lo yang pengen olahraga sambil nongkrong bareng temen, tuker story Instagram, atau sekedar cari vibe baru di Jogja. Lo yang daftar juga bakal dapet race pack eksklusif selain kesempatan buat rebut total hadiah sampe Rp6 juta. Pokoknya event ini tuh yang balance antara performance sama fun vibes bareng komunitas yang kekinian banget!
3. GMC Fun Run 2025 – Jogging Santai Komunitas Sehat!
Nah kalo lo cari sesuatu yang chill tapi tetep sehat, GMC Fun Run 2025 tanggal 18 Januari ini bakal jadi momen yang pas banget. Event ini tuh bagian dari perayaan 25 tahun Gadjah Mada Medical Center, jadi suasananya bukan kompetitif tapi lebih ke ajang silaturahmi dan gaya hidup sehat bareng komunitas. Lo cukup bayar Rp150 ribu aja buat join, dan udah dapet fasilitas kece plus suasana yang nyaman buat jalan-jalan santai sambil nikmatin pemandangan Jogja. Cocok banget buat lo yang baru mulai olahraga atau pengen quality time bareng keluarga & temen sambil nyari vibe hidup sehat!
4. JEC Fun Run – Lari Seru Buat Keluarga & Squad Lo!
Bro sis, tutup rangkaian olahraga Januari ini dengan JEC Fun Run tanggal 25 Januari! Ini event lari santai kategori 3K dan 5K yang friendly banget buat semua umur, jadi lo bisa ajak keluarga atau squad lo ikutan bareng. Acara ini juara banget buat lo yang cari hangout sehat sambil dapetin medali finisher lucu dan kesempatan menang doorprize kece di garis finish! Emang sih lari santai, tapi vibes yang tercipta di Jogja Expo Center tuh rame, penuh semangat, dan bener-bener bikin lo ngerasa bagian dari gaya hidup aktif yang kekinian banget!
5. Pelatnas Metronom: Mukti Entutz – Komika Bikin Ketawa PeDe!
Kalo lo butuh hiburan yang beda dari yang lain, Pelatnas Metronom: Mukti Entutz tanggal 17 Januari di Taman Budaya Embung Giwangan siap ngebuat lo ngakak! Ini bukan lari, bukan konser musik, tapi pertunjukan komedi cerdas yang nge-satir dunia sepakbola—ya bro sis, lo kira sepakbola cuma bola doang? Di acara ini, Mukti Entutz bakal bawain jokes yang relate banget buat traveler kekinian yang ngerti meme dan kultur sepakbola masa kini. Tiketnya affordable dari Rp100 ribu sampai Rp350 ribu, jadi worth banget buat lo pecinta komedi & penikmat hiburan yang beda!
[Baca juga : "8 Event Kece Buat Lo Yang Hobi Jalan Juga Nyantai"]
6. Pementasan Teater “Air” – Seni Kontemporer yang Bikin Lo Ngelam!
Sis & bro yang suka art vibe, markirin tanggal 23 Januari karena Pementasan Teater “Air” di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta tuh acara yang kudu lo datengin. Ini produksi dari Unit Studi Sastra dan Teater UNY, dan tiketnya cuma mulai Rp20 ribu yang super ramah di kantong anak muda. Selain nambah wawasan, lo bakal ngerasain seni pertunjukan kontemporer yang elegan banget buat konten estetis di feed lo. Cocok buat lo yang lagi cari inspirasi baru atau sekedar liat sisi seni Jogja yang gak kalah keren dari musik atau olahraga!
7. Pameran Pangastho Aji – Belajar Sejarah Kerajaan Jogja!
Bro sis yang suka sejarah, jangan lewatkan Pameran Pangastho Aji yang berlangsung sampai 24 Januari di kompleks Keraton Yogyakarta. Lo bisa ngulik cerita kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII lewat artefak autentik dan arsip sejarah yang jarang banget lo liat di tempat lain. Ini bukan sekadar pameran biasa, tapi pengalaman edukatif yang bisa lo share di TikTok atau Reels sambil nge-tag lokasi yang bernilai budaya tinggi. Pokoknya event ini bikin lo makin #CultureSmart kalau lo beneran pengen explore sisi lain Jogja!
8. Awalan Fest – Punk Rock Vibes di Maguwoharjo!
Lo fans musik alternatif? Awalan Fest tanggal 24 Januari di Stadion Maguwoharjo kudu banget lo sambangi! Deretan headliner kayak Superman Is Dead, The Jeblogs, dan Rebellionrose siap nge-drop energi panggung yang liar abis! Tiket presale udah tersedia mulai Rp125 ribu, jadi worth banget buat lo yang pengen ngerasain vibes konser musik punk rock langsung dan nge-capture momen live buat konten lo. Ini tuh event yang pas banget buat lo yang nganggep musik sebagai lifestyle!
9. Padzchestra – Orkestra & Pop Fusion yang Elegan!
Bro sis yang pengen ngerasain sisi lain dari musik, Padzchestra juga tampil tanggal 24 Januari di Auditorium Dwiyarkara. Kolaborasi klasik & pop modern bareng Kunto Aji bakal ngehasilin sound yang unik banget! Tiketnya mulai dari Rp140 ribu sampai Rp248 ribu, dan cocok buat lo yang suka estetika musik yang classy sekaligus kekinian. Cocok banget buat lo pamerin di story sambil dengerin not musik yang nendang!
10. Study Abroad Expo IDP – Kuliah di Luar Negeri? Cus!
Dan buat bro sis yang lagi mikir soal masa depan, Study Abroad Expo IDP tanggal 29 Januari di Sahid Raya Hotel & Convention tuh acara kece yang gratis! Lo bisa dapetin info langsung dari institusi pendidikan mancanegara tanpa keluarin uang, networking bareng senior, dan nanya soal beasiswa yang bikin peluang lo makin terbuka lebar. Event ini tuh opsi edukatif yang gak kalah penting sama konser atau olahraga.
Bro-sis traveler, Jogja awal Januari 2026 tuh udah siap banget manjain lo dengan beragam event yang nge-blend banget antara olahraga, musik, seni, sejarah, sampai edukasi beasiswa! Pokoknya lo punya banyak pilihan buat nambah pengalaman liburan yang beda dari biasanya, dari yang bener-bener aktif sampe yang santai tapi penuh konten kece buat feed lo. Jangan lupa catet tanggalnya, ajak squad atau keluarga lo, dan siapin kamera buat capture momen tak terlupakan di Jogja! (Sumber Foto @deeahprasetyo)
...moreTripTrus.Com - Bro‑sis traveler, Desember 2025 bakal jadi bulan yang super vibes banget buat lo yang doyan jalan-jalan, nyari pengalaman baru, atau sekadar nge-refresh otak dari rutinitas harian. Bayangin aja, dari tradisi lokal yang unik, festival musik yang enerjik, sampai event budaya penuh warna, semua siap bikin feed IG lo makin kece dan memory lo makin berkesan.
View this post on Instagram
A post shared by Lombok Sumbawa Tourism (@bppdntb)
Gak cuma buat yang hobi jalan-jalan, tapi juga buat lo yang pengen healing sambil belajar budaya baru, ketemu orang-orang seru, atau sekadar ngerasain atmosfer kota dan desa yang beda dari biasanya. Pokoknya, Desember kali ini bisa jadi momen epic buat lo kumpulin pengalaman dan vibes positif sebelum tahun berganti. Jadi siap-siap, catat kalender lo, dan jangan sampe kelewatan event kece yang bikin akhir taun lo makin memorable! 8 Agenda Kece Desember 2025:
Pasar Kangen Yogyakarta Lo yang suka nostalgia atau kepengen ngerasain vibe klasik kek kampung halaman — Pasar Kangen bisa jadi pilihan. Event ini bakal nyajikan atmosfer jadul, penuh dengan barang-barang antik, kuliner tradisional, dan suasana nostalgic yang bikin lo terenyuh sambil senyum-senyum sendiri. Cocok banget buat lo yang mau santai, ngulik sejarah lokal, sambil nostalgia bareng temen.
Perang Topat 2025 (di Lombok Barat, 4 Desember 2025) Buat lo yang tertarik budaya dan tradisi unik, Perang Topat wajib masuk bucket list. Event ini ngasih lo pengalaman mendalam soal toleransi, adat, dan komunitas asli Lombok Barat — sambil lihat keramaian dan warna‑warni tradisi yang jarang lo temuin di keseharian. Seru, bro sis!
Hello Fello City 2025 Kalau lo anak urban, suka musik dan pengen hiburan modern, Hello Fello City 2025 adalah acara yang cocok banget. Lo bisa dapet kombinasi musik, kreatifitas, dan suasana kekinian — perfect buat lo yang pengen refreshing dengan gaya hidup millennial / gen Z sambil ngerasain vibes kota yang energik.
Festival Musik Komposer Song Genai 2025 Buat para pecinta musik dan karya lokal, festival ini bakal jadi tempat lo menikmati kombinasi seni tradisional dan modern dalam satu panggung. Musik, kreativitas, dan kultur bersatu — cocok banget buat lo yang open minded dan pengen explore karya dalam negeri dengan cara yang asik.
Event Wisata & Budaya Lokal Lainnya Des 2025 (gabungan dari beberapa agenda lain yang disebut di list) Selain event besar, bakal banyak event kecil nan asik: dari komunitas, seni budaya lokal, sampai aktivitas wisata alternatif. Cocok banget buat lo yang suka spontan — bisa pilih sesuai mood, lokasi, atau waktu luang lo. Intinya ada banyak pilihan jadi gak bakal ngebosenin akhir tahun lo.
Event buat lo yang pengen healing & chill Gak wajib selalu rame — ada agenda buat lo yang pengen jalan santai, nikmatin suasana budaya, atau sekadar escape dari keramaian kota. Kadang, yang simpel malah paling berkesan; jadi jangan ragu buat milih event yang vibe-nya mellow dan adem.
[Baca juga : "Jabodetabek Desember 2025: Bazar, Live Music & Holiday Vibes On!"]
Kombinasi budaya + musik + komunitas = perfect mixBeberapa event bakal nyatuin budaya tradisional, musik modern, dan komunitas kreatif — jadi lo bisa dapet pengalaman yang beda dari biasanya. Lo gak cuma jadi penonton, tapi bisa ngerasain atmosfer, kenalan orang baru, bahkan gali inspirasi. Asik banget buat lo yang suka interaksi.
Akhir tahun 2025? Saat yang pas banget buat travelingDengan banyak event kece plus suasana liburan akhir tahun, Desember 2025 jadi waktu yang mantap buat lo jalan‑jalan. Entah lo solo traveling, sama temen, atau nyari quality time — semua bisa. Jadi manfaatin momentum, bro sis!
Gengs, setelah liat semua event kece dan budaya seru yang bakal rame di Desember 2025, jelas banget kalau bulan ini penuh peluang buat lo nge-refresh diri, ketemu orang baru, dan bikin memory epic bareng temen atau keluarga. Dari musik, tradisi, kuliner, sampai aktivitas kreatif, semua ada buat lo pilih sesuai mood dan gaya lo masing-masing. Jadi jangan ragu buat eksplor, ambil vibes positif, dan nikmatin setiap momen seru yang ada. Pokoknya, akhir tahun ini bukan cuma soal liburan biasa, tapi kesempatan buat lo upgrade pengalaman, bikin cerita seru, dan pulang bawa kenangan yang bakal terus lo inget. Jadi, siap-siap, bro-sis traveler, karena Desember 2025 bakal penuh warna, kejutan, dan adventure yang ga bakal lo lupain! (Sumber Foto @prokopimlobar)
...moreTripTrus.Com - Siapa bilang liburan ke Jember itu biasa aja? Nih, Jember di Jawa Timur punya hidden gems yang gak kalah kece dari kota lain, loh! Mulai dari gunung epic, pantai-pantai keren, kebun binatang mini, sampai museum unik. Buat lo yang pengen liburan dengan vibes beda, wajib banget dateng ke sini. Nih, ada 5 spot wisata di Jember yang mungkin lo belum tau. Catet yaa!
1. Gunung Argopuro – Jalur Terpanjang Pulau Jawa!
Lo demen hiking? Coba deh jelajah Gunung Argopuro yang juga dikenal dengan nama Gunung Argapura. Gunung ini keren banget buat lo yang mau pengalaman mendaki dengan tantangan maksimal, karena jalurnya sepanjang 63 km, alias yang terpanjang di Jawa. Kebayang gak tuh, lo bisa nikmatin pemandangan super indah sepanjang jalan. Plus, suasananya masih sepi, cocok buat yang nyari ketenangan.
2. Tanjung Papuma – Pantai Pasir Putih Hits Abis
View this post on Instagram
A post shared by Adrian Hartanto Lokaria (@adrianloa)
Kalo urusan pantai, gak ada matinya! Apalagi kalo lo main ke Tanjung Papuma. Di sini, lo bakal nemuin pasir putih yang bersih banget dan view laut yang cakep parah! Nama "Papuma" tuh singkatan dari "Pasir Putih Malikan", dan letaknya ada di Desa Lojejer, Wuluhan, Jember. Buat spot foto, udah pasti juara, deh. Pokoknya gak bakal nyesel lo ke sini!
3. Pantai Watu Ulo – Pantai Ular di Jawa Timur
Pantai yang satu ini emang unik banget! Watu Ulo itu artinya "batu ular" dalam bahasa Jawa, dan sesuai banget sama pemandangannya. Di sini ada batu panjang yang bentuknya mirip ular sepanjang 110 meter dengan lebar 4 meter. Lo bisa langsung main ke Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu buat nikmatin pantai dan batu ular ini, gak usah jauh-jauh ke luar negeri buat cari spot epic kayak gini!
[Baca juga : "7 Spot Tersembunyi Di Bali Utara Yang Bakal Bikin Lo Terpukau!"]
4. Jember Mini Zoo – Kebun Binatang Mini Buat Semua Usia
Buat lo yang mau wisata edukasi sekaligus seru-seruan bareng keluarga, pasangan, atau geng lo, Jember Mini Zoo pilihan pas! Buka sejak 2021, tempat ini punya 300-an satwa yang seru buat diliat, kayak kura-kura Afrika, musang Asia Timur, sampai burung hantu. Selain itu, lo bisa coba aktivitas keren kayak ngasih makan kelinci, outbond, atau belajar perah susu sapi. Yakin gak penasaran?
5. Museum Huruf Jember – Tempat Belajar Aksara dan Bahasa Nusantara
Nah, buat yang demen sejarah atau lagi cari wisata edukasi, ada Museum Huruf Jember yang bakal kasih lo insight baru soal aksara dari Nusantara dan dunia. Lokasinya di Jalan Bengawan Solo, Jember, museum ini keren buat nambah wawasan lo soal asal-muasal berbagai aksara yang ada di Indonesia dan sekitarnya. Cocok banget buat yang mau liburan sambil belajar hal baru!
Jember emang punya vibes yang beda buat lo yang pengen liburan asik dan gak mainstream. Dari list ini, spot mana nih yang bakal lo cobain duluan? Jangan lupa ajak orang tersayang, ya! (Sumber Foto @titisnitiswari)
...moreTRIPTRUS - Kaum muslim yang berada di Wamena, Pengunungan tengah Papua memiliki tradisi unik saat bulan puasa. Adalah tradisi bakar batu.
Tradisi itu adalah memasak menggunakan batu yang dipanasi dengan dibakar di atas api sejak nenek moyang warga Papua sebelum memeluk agama Islam. Selama bulan Ramadan, tradisi ini tetap dilakukan untuk memasak makanan berbuka puasa.
Karena memasak dengan cara bakar batu memakan waktu lama, warga memanggang batu di atas kayu bakar hingga membara. Menunggu batu siap digunakan para kaum perempuan membersihkan sayuran, umbi-umbian, dan daging ayam yang telah dicuci bersih.
Begitu batu siap, warga membuat lubang kecil dan menaruh alang alang sebagai alas, lalu batu panas dimasukkan ke dalam lubang beralas alang-alang. Bahan makanan seperti singkong betatas serta jagung ditaruh di atas batu panas disusul sayur-mayur yang terdiri daun singkong dan daun betatas, daging ayam lalu ditutup menggunakan daun pisang.
Butuh waktu sekitar 2 jam hingga tak ada asap yang keluar dari lubang dan seluruh bahan makanan matang dan siap untuk berbuka puasa Komunitas Muslim Wamena yang berjumlah sekitar 24 kepala keluarga. (Sumber: Artikel dan Foto tv.liputan6.com)
...more