shop-triptrus



Desa Wisata Religi Astana Cirebon, Potensi Wisata yang Ngehits dan Seru Banget!

TripTrus.Com - Menparekraf alias Sandiaga Salahuddin Uno tuh memberikan acungan jempol buat Desa Wisata Religi Astana di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Mereka sukses nembus posisi 75 besar di Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023.       View this post on Instagram A post shared by Desa Wisata Religi Astana Kabupaten Cirebon (@desawisatareligiastana) "Ini baru desa wisata lengkap banget. Ada alam, kuliner oke, belanja seru, sejarah budaya, sampai ziarah juga ada," bilang Sandiaga waktu nyambangi Desa Wisata Religi Astana, pas hari Minggu (6/8/2023). Potensinya tuh berfokus di urusan sejarah budaya dan ziarah. Makam Sunan Gunung Jati dan kawasan syeikh Dzatul Kahfi jadi spot keren di desa ini. Sunan Gunung Jati, salah satu dari sembilan Wali Songo yang sebarin Islam di Tanah Jawa, juga ada di sini. Setiap hari, orang dateng dari mana-mana buat ziarah dan berdoa di makam Sunan Gunung Jati. Kalau mau mampir ke Desa Wisata Religi Astana, lumayan deh. Naik kereta dari Stasiun Gambir, Jakarta Pusat ke Stasiun Cirebon sekitar 2,5 jam. Terus meluncur dengan mobil sekitar 10 menitan aja. Di sepanjang perjalanan ke makam, bisa mampir belanja oleh-oleh dan cicipin makanan khas Cirebon yang dijual para pedagang di sekitar situ. [Baca juga : "Desa Wisata Batulayang Berjaya Ke Delapan Besar UNWTO, Keren Banget, Geng!"] Menurut Sandiaga, potensi yang ditawarin Desa Wisata Religi Astana ini ngejanji banget buat para wisatawan. Makanya, dia berkomitmen banget nih untuk ajak berbagai pihak agar Desa Wisata Religi Astana dan desa-desa wisata religi di Indonesia bisa lebih berkembang lagi. "Desa-desa wisata religi ini bakal kita bikin semakin oke lewat travel pattern yang lengkap sama produk wisata keren dan juga event-event kelas dunia," tambahnya. Saat kunjungan kali ini, Sandiaga ditemenin sama Staf Khusus Menparekraf yang jaga soal destinasi wisata dan isu-isu penting, yaitu Brigjen TNI Ario Prawiseso. Gak ketinggalan, juga ada Wakil Gubernur Jabar, si Uu Ruzhanul Ulum; Bupati Cirebon, yakni Imron Rosyadi; Wakil Bupati Cirebon, alias Wahyu Tjiptaningsih; dan juga Kepala Dinas Kebudayaan serta Pariwisata Provinsi Jabar, yaitu Benny Bachtiar. (Sumber Foto @snfh57) 
...more

Pandemi Bikin Tren Wisata Berubah, Ini Destinasi yang Digemari Oleh Wisatawan

TripTrus.Com - Pandemi Covid-19 mengubah banyak hal dalam kehidupan. Termasuk pilihan destinasi wisata banyak orang ketika berlibur. Wisatawan kini lebih suka berlibur dan mencari tempat terbuka dan destinasi yang menawarkan pemandangan alam terbuka. Andhini Putri, VP Marketing Transport & Financial Services Traveloka mengatakan wisatawan domestik lebih memilih destinasi wisata yang memiliki aktivitas di luar ruangan. Dikutip dari ANTARA, minat masyarakat untuk berwisata pun semakin tinggi. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh kerinduan akan bepergian.       Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Nehemia Evan Gavrilla (@youka_and_picko_dog)   "Kita kan ada banyak banget ya di Indonesia yang menawarkan keindahan alam. Jadi memang secara minat lebih tinggi dan trennya selain destinasi yang menawarkan banyak kegiatan outdoor, orang juga banyak yang roadtrip," kata Andhini dalam peluncuran program "#PromoTengahTahun Traveloka" pada Rabu. Selama satu tahun belakangan, ada perubahan tren kenaikan wisatawan untuk melakukan roadtrip. Ini karena dengan roadtrip wisatawan bisa berhenti ke sejumlah destinasi dalam satu kali jalan. "Dari sisi akomodasi ada tren staycation, jadi berlibur dalam kota tuh jadi sesuatu yang kita lihat di 2021. Kalau kita bandingin di 2019, tren ini naiknya dua kali lipat," ujar Andhini. Sementara itu, Amalia Yaksa, Vice President Marketing & Distribution Channel, PT Citilink Indonesia mengatakan rute penerbangan menuju Bali dan Yogyakarta masih menjadi primadona untuk orang berlibur, khususnya selama pandemi COVID-19. "Terus sekarang yang lagi naik daun itu Labuan Bajo, orang pengin lihat pulau, pengin ngerasain pantai di tempat lain," ujar Amalia.  Seperti diketahui, Citilink, maskapai bertarif rendah (low-cost carrier) yang juga merupakan anak perusahaan maskapai BUMN Garuda Indonesia menggandeng Traveloka dengan memberikan promosi tengah tahun di lima kota Indonesia guna memulihkan geliat industri pariwisata Tanah Air yang terdisrupsi pandemi COVID-19. [Baca juga : "Libur Lebaran 2021, Tempat Wisata Boleh Beroperasi Dengan Prokes"] Program tersebut dapat ditemukan melalui produk Tiket Pesawat yang ada di aplikasi Traveloka. #PromoTengahTahun menawarkan harga khusus untuk "regular zone section" dengan potongan harga 20 persen untuk periode booking dari tanggal 16-27 Juni 2021. Promo ini berlaku untuk rute keberangkatan dari Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya atau Makassar ke seluruh destinasi domestik. (Sumber: Artikel suara.com Foto @sukawisata ) 
...more

7 Tempat Pertapaan Bersejarah Bung Karno Yang Bisa Jadi Daftar Wisata Kalian

TripTrus.Com - Semua orang tahu dan sangat yakin bahwa Bung Karno, Sang Proklamator kita itu benar-benar memiliki kharisma yang tidak ada tandingan dengan siapa pun saat itu, bahkan juga sekarang. Kharisma, kewibawaan dan kedigdayaannya itu tentu tidak didapat begitu saja tanpa usaha keras untuk mendapatkannya.  Menurut kepercayaan orang Jawa, bahkan juga banyak suku di Nusantara, bahwa kharisma itu didapatkan lewat tapa brata dan puasa yang sangat keras. Bahwa sesuatu yang diperoleh itu bukan sekadar turun begitu saja dari langit biru.  Bagi Bung Karno, juga semua orang sakti, yang berilmu tinggi dengan kharisma yang tiada tandingan itu, biasanya memiliki tempat-tempat untuk meditasi dan tapa brata yang khusus dan sendiri.  Puasa dan tapa brata itu dilakukan sejak zaman dulu kala di berbagai suku di Nusantara.  Bung Karno, Soeharto, dan para raja zaman dulu di berbagai kerajaan di Nusantara ini memang memiliki kebiasaan itu.  Bung Karno memiliki 7 tempat pertapaannya.  1. Goa Istana, Banyuwangi Goa Istana berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi yang terkenal angker. Menurut masyarakat setempat, Soekarno pernah bertapa di beberapa goa yang terdapat di Alas Purwo, salah satunya adalah Goa Istana. Masyarakt setempat percaya jika di Goa Istana menyimpan berbagai benda pusaka dan cerita- cerita mistis. Terdapat mitos yang dipercaya oleh masyarakat jika si pertapa tertidur kemudian bertemu oleh ratu, maka hal tersebut pertanda baik. Hingga saat ini di Goa istana masih banyak orang yang melakukan pertapaan, bahkan para caleg yang akan mencalonkan dirinya mereka bertapa dahulu di goa istana. 2. Pertapaan Indrokilo, Prigen Tempat pertapaan Soekarno yang lain adalah Pertapaan Indrokilo, pertapaan yang terletak di desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan ini juga dipercaya pernah disinggahi oleh soekarno untuk menyepi.  Menurut masyarakat setempat, Bung Karno mencari Wahyu Cakraningrat yaitu wahyu yang dianggap sebagai syarat untuk mendapat kekuasaan dan takhta suatu kerajaan. Selain wahyu Cakraningrat, Bung Karno juga mendapatkan sebuah pusaka yang digunakannya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menurut pewayangan jawa, yang mendapatkan Wahyu Cakraningrat adalah putra dari R.Arjuno yaitu Abimanyu, Abimanyu mengalahkan beberapa pesaingnya, yaitu lesmana mandrakumara dan samba wisnubrata. 3. Goa Selomangleng, Kediri Tempat pertapaan Soekarno yang lain adalah Goa Selomangleng. Goa Selomangleng dalam bahasa jawa berarti batu miring, dinamakan Selomangleng dikarenakan lokasinya yang berada di lereng bukit yang miring. Pada saat ini Goa Selomangleng dijadikan sebagai objek wisata. Menurut cerita masyarakat setempat, pada zaman dahulu tempat ini digunakan oleh Dewi Kilisuci yang merupakan putri dari Sri Aji Jayabaya, Raja Erlangga yang kemudian dipercaya menjadi Nyi Roro Kidul. Karena itulah mengapa Goa Selomangleng ini disinggahi oleh Soekarno untuk bermeditasi dan memikirkan keadaan Indonesia. 4. Alas Ketonggo, Ngawi Tempat pertapaan Soekarno berikutnya adalah Alas Ketonggo. Alas Ketonggo ini merupakan kawasan hutan jati, di hutan inilah terdapat pemakaman prabu Brawijaya V yang lari dari kerajaan Majapahit karena serangan dari kerajaan Demak.  Kawasan hutan ini dipercaya memiliki daya mistis yang sangat tinggi karena adanya kerajaan gaib dan gerbang gaib yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia gaib. Di areal hutan ini juga terdapat pesanggrahan Soekarno yang merupakan tempat soekarno untuk bertapa. 5. Gedung Bentol, Istana Cipanas Tempat pertapaan Soekarno lainnya adalah Gedung Bentol yang berada di areal Istana Cipanas Presiden, Kabupaten Cianjur ini dibangun oleh R.M. Soedarsono dan F. Silaban.  Gedung Bentol ini berada di belakang bangunan utama dari Istana Cipanas. Gedung ini pernah digunakan oleh Presiden Soekarno untuk membuat naskah pidato yang bisa membangkitkan rasa nasionalisme Indonesia. Gedung bentol ini digunakan untuk mencari inspirasi dikarenakan arealnya yang sunyi sehingga cocok dijadikan tempat bersemedi oleh Bung Karno. 6. Goa Ratu, Cilacap Tempat pertapaan Soekarno yang lain adalah Goa Ratu, Goa yang terbentuk karena fenomena alam ini tidak diketahui persis dimana tempatnya. Namun goa Ratu sudah banyak yang mengunjunginya, pengunjungnya pun tidak hanya dari pulau Jawa melainkan juga Luar Jawa.  Orang-orang yang datang ke goa Ratu kebanyakan bermeditasi dan memohon suatu kepada sang pencipta. Banyak para pengunjung yang sering melihat sosok Kanjeng Ratu Kidul karena Goa ini merupakan salah satu tempat petilasan Ratu Kudul.  Menurut cerita warga sekitar, Presiden Soekarno dan Soeharto pernah menyepi di Goa Ratu. 7. Gunung Munara, Bogor Tempat pertapaan Soekarno berikutnya adalah Gunung Munara. Gunung Munara yang terdapat di daerah bogor ini merupakan tempat yang sakral, itu terbukti dari adanya beberapa titik yang sering dijadikan tempat untuk pertapaan.  Gunung Munara ini memiliki tiga puncakm beberapa goa serta batu – batu besar yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Sebut saja Batu Adzan dan Batu Qur’an, menurut masyarakat setempat batu adzan merupakan tempat Sultan Hasanuddin mengumandangkan Adzan yang dekat dengan tempat pertapaannya. Selain itu juga terdapat goa yang dinamakan Goa Soekarno, dinamakan Goa Soekarno dikarenakan goa ini tempat Bung Karno Bertapa. (Sumber: netralnews.com Foto bogor.tribunnews.com)
...more

5 Masjid Tertua Dan Bersejarah di Banten - Part 2

TripTrus.Com - Terdapat beberapa teori tentang kapan tepatnya Islam masuk ke Nusantara. Ada yang mengatakan bahwa Islam datang dari Gujarat bersama pedagang India muslim pada abad ke-13 M, ada yang mengatakan Islam datang oleh pedagang Arab dari Timur Tengah pada abad ke-7 M, serta yang terakhir mengatakan bahwa Islam datang dari pedagang asal Persia pada sekitar abad ke-13 M. Wisata religi Banten banyak diminati oleh pengunjung baik lokal maupun luar daerah. Misalnya kawasan Banten Lama yang merupakan ibu kota Kesultanan Banten, di utara Banten ini peninggalan Islam sangat lekat. Tidak hanya di Banten Lama, beberapa masjid yang dahulu menjadi pusat penyebaran Islam masih dapat dikunjungi bahkan masih dipergunakan untuk beribadah. Berikut 5 masjid tua bersejarah di Banten yang bisa menjadi pengingat dan bahan pelajaran generasi saat ini. 1. Masjid Jami' Kalipasir       View this post on Instagram A post shared by Heru Santoso (@sirhumphreyappleby) onJan 5, 2019 at 7:22pm PST Masjid Kali Pasir adalah masjid tertua di Kota Tangerang peninggalan Kerajaan Pajajaran. Masjid ini berada di sebelah timur bantaran Sungai Cisadane, tepatnya di tengah pemukiman warga Tionghoa kelurahan Sukasari. Bangunannya pun bercorak China. Masjid tertua di Tangerang ini mencerminkan kerukunan umat beragama pada masanya. Hingga kini masjid yang sudah berusia ratusan tahun tersebut masih digunakan sebagai tempat beribadah. Namun, masjid ini tidak lagi digunakan untuk salat Jumat. Masjid Kali Pasir dibangun bersebelahan dengan Klenteng Boen Tek Bio yang saat itu sudah berdiri tegak. Masjid yang berukuran sekitar 288 meter persegi ini didirikan pada tahun 1700 oleh Tumenggung Pamit Wijaya yang berasal dari Kahuripan Bogor. Selain menjadi tempat ibadah dan syiar agama, Masjid Kali Pasir memiliki nilai sejarah yang tinggi. Masjid ini menjadi tempat akulturasi budaya dan saksi perjuangan anak bangsa melawan penjajah. 2. Masjid Agung Ar Rahman       View this post on Instagram A post shared by Idha Daffariz (@ida_nurwahida03) onMay 30, 2018 at 2:32am PDT Kabupaten Pandeglang sebagai kota santri memang sudah selayaknya memiliki masjid yang agung. Masjid Agung Ar-Rahman terletak di Jl. Masjid Agung No. 2 Kel Pandeglang, Kec. Pandeglang, Kab. Pandeglang. Tepatnya berada di sebelah barat Alun-alun Pandeglang Tentu saja menjadi tempat cukup strategis sebagai tempat ibadah. Masjid Agung Ar-Rahman berdiri sejak tahun 1870 atas Tanah wakaf dari Raden Adipati Arya Natadiningrat atau Raden Alya atau Dalem Ciekek. Masjid Agung Ar-Rahman yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina dan Eropa, dengan luas tanah 2.280 m2 dan luas bangunan 2.182 m2. Masjid Agung Pandeglang yang bernama Ar-Rahman ini memang tidak seramai masjid Banten Lama dalam sehari-harinya. 3. Masjid Kuno Kaujon       View this post on Instagram A post shared by indrasusenoSE (@indrasusenose) onOct 23, 2019 at 11:11pm PDT Masjid Kuno Kaujon terletak di Kaujon RT. 01 RW. 01 Kel. Serang, Kec. Serang, Kab. Serang. Menurut sesepuh yang ada di sekitar masjid ini, Masjid Kuno Kaujon jauh lebih tua dari usia jembatan Kaujon yang dibangun pada tahun 1875. Meski tidak seorang pun mengetahui kapan pendiriannya, masjid ini tergolong kuno karena masuk ke dalam daftar cagar budaya Provinsi Banten. Masjid Kuno Kaujon berdiri di atas pondasi masif yang tingginya 60 cm. Adapun luasnya adalah 703 m². Ruang utama yang berbentuk empat persegi dengan ukuran  10 m x 10 m, ditopang oleh empat buah tiang kayu /soko guru di bagian bawahnya terdapat empat buah umpak batu berbentuk labu. Mihrab terdapat pada dinding sebelah barat berupa ruang yang menjorok ke dalam. [Baca juga : "5 Masjid Tertua Dan Bersejarah Di Banten - Part 1"] 4. Masjid Salafiah Caringin       View this post on Instagram A post shared by ketan bintul (@ketan_bintul) onMar 17, 2018 at 8:26pm PDT Masjid Salafiah Caringin terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 31, Desa Caringin, Kec. Labuan, Kab. Pandeglang. Masjid Salafiah Caringin menjadi peninggalan muslim Banten pada masa pemerintahan kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Herman Hillem Daendels. Pada 1883 Desa Caringin ditinggalkan oleh penduduknya karena terjadi gempa bumi akibat Gunung Krakatau meletus. Keadaannya menjadi hancur dan gersang. Setelah setahun ditinggalkan akhirnya mereka kembali ke Caringin pada 1884. Sekembalinya mereka ke Caringin, tak lama kemudian ada seorang ulama yang bernama Syekh Asnawi bersama dengan penduduk secara gotong royong membangun masjid pada tahun 1884. Masjid ini diberi nama Masjid Caringin sampai sekarang. Syekh Asnawi adalah putra KH. Mas Abdurrahman (penghulu Caringin) dan ibunya Ratu Syafiah (keturunan Sultan Banten) yang lahir pada 1852. 5. Masjid Agung Carita (Al Khusaeni)       View this post on Instagram A post shared by Labuan Banten (@infolabuan) onMay 6, 2019 at 6:45pm PDT Di daerah wisata Pantai Carita lebih tepatnya di Kampung Pagedongan, Desa Sukajadi, Kec. Carita, Kab. Pandeglang, berdiri masjid tua peninggalan masa penjajahan. Masjid ini diberi nama Masjid Al-Khusaeni Carita. Menurut sejarah, pembangunan Masjid Al-Khusaeni Carita dipimpin oleh salah seorang murid Syekh Nawawi Al-Bantani, Al-Khusaeni. Ia mulai membangun masjid ini tahun 1889 selesai tahun 1895 masehi. Masjid Al Khusaeni ini memiliki arah hadap ke timur dengan empat serambi di setiap sisi mata angin. Pada bagian serambi ini, berdirilah tiang-tiang penyangga atap yang bentuknya berupa kolom seperti pada bangunan kolonial. i sisi barat masjid terdapat makam KHM Husein atau pendiri masjid beserta dengan keturunannya (4 makam) yang sudah diberikan atap dan berlantai keramik. (Sumber: Artikel gpswisataindonesia.info, wikipedia.org, situsbudaya.id Foto medcom.id)
...more

Ribuan Lampion Hiasi Singkawang

TripTrus.Com  - Menjelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2018, ribuan lampion sudah mulai menghiasi Kota Singkawang. Ketua panitia Imlek dan Cap Go Meh Singkawang, Tjhai Leonardi mengaku akan memasang 10.000 lampion di Kota Singkawang.  "Saat ini kami sudah memulai menghias Kota Singkawang dengan lampion," katanya, Minggu.  Dia memastikan, Imlek dan Cap Go Meh tahun ini ada perbedaan pada hiasan seperti tahun-tahun sebelumnya di mana salah satu ikon Kota Singkawang yaitu Gapura Cap Go Meh yang akan didirikan dekat simpang BNI.    Lampu nya udah nyala... semakin cantik #lampion nya... 《01.02.2016》 #lampioncantik #imleksingkawang #ChineseNewYear2016 #nuansamerah A post shared by Multi Juniar Siahaan (@multisiahaan) onFeb 1, 2016 at 6:59am PST "Kemudian, di jalan-jalan protokol seperti di sepanjang jalan Pangeran Diponegoro ada hiasan 12 Shiau dengan lampion seni ukuran 2,5 - 3 Meter di mana pada malam hari lampunya akan menyala," ujarnya.  Imlek dan Cap Go Meh tahun ini juga akan diramaikan dengan pawai Kilin binatang langit yang paling tinggi setelah liong.  "Kemudian, ada reflika 9 liong naga dari kawan-kawan St Yosep Singkawang Group," ungkap dia.  Pengelola Rumah Makan Kampung Rawit tepi sawah ini juga memastikan Festival Cap Go Meh akan diikuti para tatung.  "Mereka (tatung) akan kita tata dengan rapi sehingga punya seni, indah dan enak ditonton," katanya.  Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan, berdasarkan hasil audiensi dia dengan Kementerian Pariwisata, bahwa pemerintah pusat sangat peduli dan mendukung kegiatan ini, bahkan akan mempromosikan event ini sampai tingkat nasional dan internasional. (Sumber: Artikel antaranews.com, Foto Paul Hessels)
...more

Inilah Delapan Tren Wisata Dunia Tahun 2018

TripTrus.Com - Berbeda dengan bidang usaha lain yang mengalami kelesuan, usaha wisata justru makin moncer saja. Begitu tingginya minat berwisata masyarakat di seluruh dunia saat ini sehingga bahkan sampai merubah daya beli masyarakat. Kini orang lebih suka berwisata daripada menghabiskan uang untuk belanja. Pertanyaannya, tren wisata dunia apa saja yang akan ditahun 2018? Ini adalah hasil survey independen booking.com, sebuah website wisata asal Belanda. Perusahaan layanan wisata ini melakukan survey kepada 18.500 wisatawan dari berbagai negara yakni Inggris, Amerika Serikat, Brasil, China, Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, India dan Rusia dengan responden lebih dari 1.000 dari masing-masing negara. Bukan hanya itu, para responden juga berasal dari Australia, Argentina, Belgia, Kanada, Denmark, Hong Kong, Kroasia, Indonesia, Jepang, Meksiko, Belanda, Selandia Baru, Swedia, Thailand dan Taiwan (masing-masing sekitar 500 responden). Responden menyelesaikan survei online pada Agustus 2017. Hasilnya, inilah delapan tren wisata dunia dan bakal booming pada 2018: Mewujudkan impian yang terpendam Mengunjungi tempat-tempat yang masuk dalam daftar keajaiban dunia adalah pilihan yang paling banyak disuka. Sebanyak 47 persen responden memilih tempat-tempat ini dalam daftar perjalanan mereka tahun 2018. Pelancong yang lain memilih kelezatan lokal, pulau yang indah, dan ada lagi yang memburu obyek wisata menegangkan di seluruh dunia. Nostalgia masa lalu Mengenang masa lalu adalah kesenangan semua orang. Sebagian wisatawan selalu ingin mengunjungi tempat masa kecil mereka. Dalam hal ini wisatawan sangat suka mengunjungi tempat wisata yang pernah mereka kunjungi di masa lalu dan menikmati perubahan detail yang ada di tempat wisata itu. Sebanyak 60 persen responden memilih wisata ini untuk mengisi liburan mereka pada 2018 dan membagikan postingan mereka melalui media social setelanya. Datang ke tempat-tempat budaya popular Banyaknya informasi melalui internet seperti website, blog, media sosial dan berbagai tempat shooting film adalah tujuan wisata yang bakal banyak didatangi orang pada 2018 nanti. Lebih dari 39 persen wisatawan memilih sebuah tempat untuk dikunjungi karena melihat melalui Youtube, dan 22 persen memilih mengunjungi tempat penyelenggaraan olahraga besar dan terutama tempat-tempat yang menjadi setting film-film terkenal. Jalan-jalan untuk kesehatan Wisata untuk kesehatan juga masuk sebagai tren wisata dunia di tahun 2018 nanti. Sebanyak 33 persen orang ingin bepergian ke tempat yang membuat mereka menjadi sehat. Tempat yang dimaksud adalah tempat yang memungkinkan mereka bisa berjalan kaki menikmati suasana, hiking, trekking dan kegiatan menyehatkan lainnya. Termasuk dalam golongan ini adalah wisata yang menawarkan berbagai hiburan sekaligus olahraga seperti bersepeda, olahraga air dan tempat-tempat untuk meditasi. Intuisi ekonomi Tahun 2018 akan banyak wisatawan yang lebih suka bepergian sendiri, menciptakan peta perjalanan sendiri dan merancang rencana perjalanan sendiri dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi seperti website yang menjual jasa ticketing, booking hotel, pesawat dan sebagainya. Melancong bersama teman Jika tidak sendirian maka teman adalah orang yang paling banyak diinginkan untuk berwisata. Tahun 2018 banyak orang memilih pergi wisata dengan teman-temannya. Ini berarti mereka lebih mementingkan mendapatkan kesenangan ketimbang tempat yang dituju. Mereka bakal memilih tempat yang membuat mereka bisa bersenang-senang, mengurangi stress dan membangun hubungan pertemanan yang lebih baik melalui wisata. Hidup seperti penduduk setempat Banyak orang mulai suka menginap di Homestay atau rumah sewa yang memungkinkan mereka bisa menikmati situasi seadanya tempat itu. Wisatawan 2018 juga sangat ingin menikmati makanan local, kisah hidup orang local dan berinteraksi dengan para pemilik rumah dan warga lokal di tempat mereka menginap. Maka tahun 2018 para pemilik homestay harus bersiap-siap meladeni keingintahuan mereka mengenai segala sesuatu yang bersifat lokal. Itulah delapan tren wisata dunia yang bakal meledak di 2018 nanti. Indonesia adalah salah satu negeri yang menjadi incaran para wisatawan dunia. Sudah siapkan Anda menerima kedatangan orang-orang dari berbagai negara menginap dan menikmati suasana desa Anda? (Sumber: dasun.desa.id Foto Simon Sees)
...more

Letusan Krakatau, Kramat Karam, dan Klenteng Tjoe Soe Kong

TripTrus.Com - "emak, bapak si nona mati, sayang disayang tiap malam saya tangisin, Kramat Karem ada lagunya", tiga kalimat tersebut adalah lirik Keramat Karam, lagu yang dinyanyikan almarhum Masnah Pang Tjin Nio dengan iringan Gambang Kromong (GK) Naga Mustika. Lagu itu mengabadikan saat-saat ketika sekujur kawasan pantai Tangerang dilanda tsunami akibat letusan Gunung Krakatau. Tidak diketahui siapa pencipta lagu ini. Cerita tutur masyarakat Tionghoa Tangerang, atau Cina Benteng, menyebutkan lagu itu muncul tidak lama setelah tsunami melanda sekujur kawasan pantai dan menewaskan banyak orang.       View this post on Instagram Nothing can dim the light, which shines from within.. A post shared by Emma ( I am a nature lover ) (@tinjj88) onJul 30, 2017 at 9:25pm PDT Versi lain lagu ini digubah Sanusi dan dinyanyikan dengan irama ragtime Orkes Kerontjong Sinar Djakarta. Yang membedakan, versi gambang keromong mendayu-dayu, versi keroncong agak sedikit menghentak. Liriknya juga relatif berbeda. Cerita tentang letusan Gunung Krakatau 1883 dan dampaknya terhadap kawasan pantai Tangerang dan Batavia terekam dalam cerita tutur di Klenteng Tjoe Soe Kong dan ditulis Tio Tek Hong dalam buku Keadaan Jakarta Tempo Doeloe. Tjoe Soe Kong adalah klenteng tertua di Tangerang. Letaknya di Kampung Tanjung Kait, Desa Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Warga sekitar, terutama keturunan Tionghoa Benteng, lebih suka menyebutnya Klenteng Tanjung Kait. Sedangkan nama lain klenteng ini adalah Rong Jia Yi Da Bo Gong Miao dan Qing Shui Zhu Sui. Buku saku yang dikeluarkan pengelola menyebutkan Klenteng Tjoe Soe Kong dibangun akhir abad ke-17. Andries Teisseire, pedagang gula Belanda yang mencari komoditas sampai ke Tangerang, menulis adanya klenteng ini saat berkunjung ke Tanjung Kait tahun 1792. Informasi resmi menyebutkan klenteng dibangun imigran dari Propinsi Anxi, Hokkian, Tiongkok Selatan. Semula, klenteng dibangun dengan sangat sederhana, dan menjadi daya tarik setelah mendapat banyak sumbangan benda-benda khas klenteng dari pedagang-pedagang Cina di Batavia. Berbeda dari kebanyakan klenteng di pesisir Pulau Jawa, Klenteng Tjoe Soe Kong tidak dibangun untuk menghormati dewa, tapi seorang shinshe yang hidup di era Dinasti Song. Tjoe Soe Kong, nama tabib itu, berasal dari Propinsi Cuanciu, Propinsi Hokkian. Selama hidup, Soe Kong mengabdikan diri untuk mengobati penduduk yang sakit. Ia mendatangi rumah-rumah penduduk yang sakit, mengobati, dan memberi obat, tapi tak pernah mau diberi imbalan. Versi lain menyebutkan Tjoe So Kong lahir saat Cina diperintah Kaisra Ren Cong dari Dinasti Song. Tahun 1083, wilayah Anxi dilanda kekeringan parah. Tjoe Soe Kong memimpin upacara meminta hujan, dan berhasil. Ia diminta menetap di Anxi, tepat di kaki Gunung Peng Lai. Setelah meningal, masyarakat Anxi yang petani tebu mendirikan klenteng untuk menghormati Tjoe Soe Kong. Di Mauk, masyarakat Tionghoa -- yang juga menanam tebu dan membuat gula -- mendirikan klenteng yang sama. Semula, Klenteng Tjoe Soe Kong di Mauk berupa gubuk tapi menjadi bukti masyarakat yang mapan. Klenteng menjadi pusat pertemuan komunitas Tionghoa di Mauk dan kampung-kampung lain sepanjang pantai Tangerang. [Baca juga : "Menjelajahi Pesona White Sand Island Bintan Yang Memukau"] Tahun 1883, saat Gunung Krakatau meletus, Klenteng Tjoe Soe Kong adalah satu-satunya bangunan selamat dari tsunami. Rumah-rumah penduduk di sekitar klenteng tersapu air bah. Banyak keluarga kehilangan orang tercinta. Seorang seniman orkes gambang, saat itu gambang belum dikenal, mengabadikannya dalam lagu berjudul Kramat Karam atau Gambang Kramat. Wirya Dharma, sesepuh warga Tionghoa Mauk dan generasi kelima imigran asal Anxi, mengatakan klenteng direnovasi tahun 1959 oleh Lim Tiang Pah -- anak Lim Tju Ban, anak Lim Tjeng Houw yang selamat dari tsunami karena berlindung di klenteng. Kini, klenteng diperbesar, indah, dan menjadi salah satu tempat wisata di Tangerang. Penduduk juga membangun altar untuk Hok Tek Ceng Sin, dewa bumi yang banyak dipuja penduduk Tionghoa di pesisir Pulau Jawa. Ada pula altar untuk Embah Rachman, Empe Dato, dan Dewi Neng. Bagian belakang klenteng adalah vihara Buddha. Pada hari-hari tertentu, klenteng menggelar acara yang dihadiri warga dari luar Tangerang. Klenteng Tjoe Soe Kong juga saksi bisu Pembantaian Cina 1740 di Batavia. Saat itu, ratusan warga Tionghoa Batavia yang selamat melarikan diri ke Mauk. Sebagian menetap, dan lainnya melanjutkan pelarian sampai ke seberang Sungai Cisadane dan menetap di desa-desa di Kecamatan Panongan saat ini. (Sumber: Artikel sportourism.id Foto onthehardway.blogspot.com)
...more

Mengenal 5 Fakta Menarik tentang Alas Purwo, Hutan Keramat di Jawa Timur

TripTrus.Com - Alas Purwo terletak di Banyuwangi, Jawa Timur dan memiliki luas 434 ribu kilometer, menjadikannya hutan terbesar di Indonesia. Meskipun terkenal dengan cerita mistis yang berkembang di kalangan masyarakat, Alas Purwo berada di dalam kawasan wisata Taman Nasional Alas Purwo. Berikut adalah 5 fakta unik tentang Alas Purwo.       View this post on Instagram A post shared by Jasa Foto Banyuwangi (@osingstudio) 1. Pantangan Alas Purwo dikenal sebagai tempat yang sangat dikeramatkan, sehingga ketika mengunjungi tempat tersebut, jangan pernah melanggar pantangan. Jika melanggar pantangan, bisa jadi sial akan menimpa selama berada di Alas Purwo. Beberapa pantangan yang harus dihindari, antara lain pikiran buruk atau niat jelek. 2. Orang Hilang Karena hutan ini sangat luas dan ditumbuhi pohon yang lebat, akan sangat sulit mencari orang yang hilang di Alas Purwo. Beberapa kasus orang hilang pernah terjadi di Alas Purwo, diduga karena melanggar pantangan atau melakukan hal-hal yang tidak baik selama berada di hutan. Ada yang percaya bahwa orang-orang yang hilang tersebut masuk ke portal gaib yang ada di Alas Purwo. Jika benar masuk ke portal dimensi gaib, tentu manusia mana pun akan kesulitan untuk menemukan orang hilang tersebut. 3. Tempat Pertapaan Di Alas Purwo terdapat beberapa tempat sakral yang dijadikan lokasi pertapaan. Di dalam Alas Purwo terdapat banyak gua, salah satunya adalah Gua Istana. Gua Istana sering didatangi oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, untuk bertapa. Di dalam Gua Istana, terdapat berbagai benda pusaka yang telah tersimpan sejak dulu. Ada mitos yang berkembang bahwa siapa yang bertapa dan tertidur dalam tidurnya bertemu seorang sosok ratu, maka hal baik akan didapatkannya. Sampai sekarang, Gua Istana masih sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mencalonkan diri untuk mendapatkan kekuasaan, seperti menjadi pejabat publik, kepala daerah, hingga calon legislatif atau wakil rakyat. 4. Makhluk Halus Salah satu pakar spiritual, Ki Joko Gondrong, mengatakan bahwa Alas Purwo dihuni oleh banyak sosok gaib seperti genderuwo, jin, dan setan berwujud lain. Para makhluk halus di Alas Purwo adalah pengikut Nyi Roro Kidul. Selain itu, sering bermunculan siluman-siluman berwujud hewan di kawasan hutan tersebut. "Alas Purwo angker karena letaknya strategis di paling ujung dan banyak pertapa di sana. Angkernya hutan tersebut menjadi sarang dedemit dan jin yang menjadi penganut ratu pantai selatan," ujar Ki Joko Gondrong seperti dilansir dari Detik Travel. [Baca juga : "Mudik Tapi Tidak Bosan: Tips Menghabiskan Waktu Liburan Lebaran Di Kota Asal"] 5. Pemandangan Indah Manfaatkan momen Lebaran untuk menghadiri acara budaya atau agama yang ada di kota asal dan memperdalam pengetahuan kita tentang budaya atau agama, serta merasakan suasana Lebaran yang berbeda dari kota tempat tinggal kita. (Sumber Foto @baayx__) 
...more

Candra Naya, Cagar Budaya yang Terhimpit Gedung Pencakar Langit

TripTrus.Com - Ada sekelumit cerita bangsa Tiongkok di rumah ini. Candra Naya namanya. Bangunan yang terletak di Jakarta Barat ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang dimiliki Indonesia. Ada yang menarik dari bangunan ini. Siapa saja akan terdiam sesaat ketika pertama kali melihatnya. Penasaran, mari kita cari tahu apa yang membuat pengunjung itu tak mampu berkata-kata.   ini yg namanya harmonis. kekunoan bersatu dgn kekinian, perbedaan yg tajam ini bersanding keren di #chandranaya jalan gajah mada, #jakarta barat. . met #imlek2018 buat sahabat yang merayakan.. semoga berbahagia dan doa serta harapannya bisa terwujud.. Aamiin A post shared by si yepe (@kuncir.dua.tanpa.pita) onFeb 15, 2018 at 6:31pm PST Candra Naya begitu ia dikenal, merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An. Ia adalah Mayor Tionghoa yang terakhir di Batavia, pada pemerintahan tahun 1910-1918 dan diangkat kembali pada tahun 1927-1942. Tidak ada catatan pasti yang menandakan tahun pendiriannya, tapi diperkirakan Candra Naya didirikan sekitar tahun Dingmao (kelinci api), yaitu tahun 1807 oleh Khouw Tian Sek dalam rangka menyambut kelahiran anaknya yang bernama Khouw Tjeng Tjoan setahun kemudian. Namun adapula versi lainnya yang menceritakan bahwa yang membangun Candra Naya ini adalah Khouw Tjeng Tjoan pada tahun 1867 dan masih masuk kedalam tahun Dingmao. [Baca juga : Menelusuri Kawasan Glodok Sebagai Kota Pecinan] Khouw Tian Sek adalah seorang tuan tanah yang memiliki tiga orang putra dan masing-masing diberikan satu buah gedung. Salah satunya adalah Khouw Tjeng Tjoan yang mendapatkan gedung Candra Naya di Jalan Gajah Mada 188 Jakarta Barat. Ia menggunakan Candra Naya sebagai kantor sekaligus tempat tinggalnya. Rumah itu kemudian diwariskan kepada salah satu anaknya yang bernama Khouw Kim An yang lahir di Batavia pada 5 Juni 1876. Sejak diangkatnya Khouw Kim An sebagai Mayor Tionghoa, maka rumah itu dikenal juga dengan sebutan Rumah Mayor. Khouw Kim An mulai menempati gedung Candra Naya pada tahun 1934, setelah sebelumnya tinggal di Bogor. Desain arsitektur rumah Candra Naya sangat kental dengan budaya Tiongkok. Pada bagian atapnya melengkung yang kedua ujungnya terbelah dua. Bentuk seperti ini disebut “Yanwei” atau ekor walet. Struktur atap yang melengkung ini juga terdapat pada bangunan kelenteng yang menandakan status sosial penghuninya. Kemudian, pada pemisah antara halaman depan dan halaman samping terdapat jendela penghubung yang disebut jendela bulan atau moon gate. Secara keseluruhan bangunan Candra Naya ini terdiri dari ruang tamu, ruang semi pribadi, ruang pribadi, ruang pelayan dan halaman. Sedangkan untuk ornamennya yang menempel ada Ba Gua (Delapan Diagram) yang berupa pengetuk pintu berbentuk segi delapan untuk penolak bala, hiasan berupa jamur lingzhipada pintu masuk utama yang melambangkan umur panjang dan ragam hias bergambar buku, papan catur, kecapi serta gulungan lukisan di bagian atas teras depan yang melambangkan sang pemilik rumah adalah seorang cendekiawan (scholar) juga seorang hartawan. Candra Naya terletak di Jl Gajah Mada No 188, Jakarta Barat. Rumah Mayor ini kini diapit oleh gedung-gedung pencakar langit di komplek bangunan Green Central City. Ada Hotel Novotel yang menjulang tinggi disebelah kiri dan waralaba 711 di sebelah kanan. Dilihat dari bagian depan, Candra Naya tampak begitu kecil di antara bangunan-bangunan raksasa yang berada di sekelilingnya. Meskipun ukurannya tidak begitu besar, tapi Candra Naya seperti magnet bagi siapa saja yang melihatnya. Dengan gaya arsitektur tiongkok kuno, rumah ini begitu terlihat mencolok diantara yang lain. Terlebih lagi dengan gaya arsitekturnya yang manawan. Kondisi inilah yang membuat siapa saja yang melihatnya seakan terdiam sesaat. Siapa sangka di antara kompleks hotel bintang lima, terselip bangunan bersejarah. Jika Anda ingin berkunjung ke Candra Naya dapat menggunakan bus Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M – Kota.  (Sumber: Artikel jakarta.panduanwisata.id, Foto flickr.com)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography
×

...