shop-triptrus



13 Bangunan Bersejarah di Pandeglang

TripTrus.Com - Pandeglang berada di bawah keresidenan Banten, sebagai ibukota dari wilayah Banten Tengah. Meskipun begitu, Pandeglang bukan merupakan sebuah kabupaten, tapi memiliki posisi sebagai daerah administratif yang menentukan dalam perpolitikan pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada saat itu (Dahlan dan Lasmiyati, 2007). Penetapan Pandeglang sebagai sebuah kabupaten terdapat dalam Staatblad Nomor 73 Tahun 1874, tentang pembagian daerah, dalam Ordonansi tanggal 1 April 1874. Dengan demikian, berdasarkan surat keputusan tersebut, Pandeglang merupakan kota yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Hal tersebut diperkuat dengan bukti tinggalan bangunan kolonial yang ada di Kota Pandeglang, yang mengindikasikan bahwa kota ini memiliki tata kota kolonial bentukan pemerintah Hindia Belanda pada masa lalu. 1. Gedung Lembaga Pemasyarakatan Pandeglang Bangunan LP atau Penjara terletak di Jalan Letnan Bolang, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang, dengan jarak tempuh dari Ibu Kota Provinsi Banten berkisar 23 km. Bangunan penjara Pandeglang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 2.000 m2, luas bangunan 40 x 40 m2, dibangun sekitar tahun 1918, seiring berlakunya sistem kepenjaraan di Indonesia. Sebelum tahun 1917 di Indonesia belum mengenal adanya pidana kurungan. Sistem ini diambil oleh pemerintah kolonial Belanda dari negara induknya, yakni Belanda. Hal ini sebenarnya merupakan cara pandang kaum liberalis sebagai perwujudan Revolusi Perancis yang sebelumnya memberlakukan hukuman pidana mati, potong tangan, dipukul, ditusuk dengan besi panas dan pidana buangan. Keaslian bangunan masih tampak pada bangunan di dalam komplek. Hanya saja pada pintu gerbang yang terdapat di bagian depan telah terjadi perubahaan, mungkin penggantian ini dikarenakan pertimbangan keamanan karena komponen pintu tersebut sudah mulai lapuk. 2. Eks Gedung Sipir Belanda Di antara bangunan bangunan kuno di sekitar Alun-Alun Menes, bekas gedung Sipir Belanda ini tampak unik dibandingkan bangunan yang sezaman. Bangunan ini termasuk bagian dari bangunan-bangunan kolonial yang masih tersisa yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848. Sisa-sisa dari keseluruhan bangunan masih dapat dilihat di bagian belakang yang masih luas ke belakang. Kepurbakalaan ini berbentuk bujur sangkar dengan luas 20 m x 12 m. Pada bagian muka terdapat dua jendela dan satu buah pintu masuk. Kedua jendela mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, yakni berbentuk persegi panjang dengan bentuk lubang angin seperti setengah lingkaran, yang terletak tepat di atas jendela dan di atas pintu masuk. Jendela diberi jeruji vertikal dan lubang angin berbentuk huruf “V” dan berbentuk setengah lingkaran. Terdapat dua tiang semu (pilaster) pada sudut bangunan dan dua pilaster yang mengapit bagian pintu. Pilaster ini memiliki hiasan berupa pelipit-pelipit. Pilaster bentuknya mirip pilar sebenarnya, hanya keletakannya yang menyatu dan menjadi bagian dari dinding. Atap bangunan ditutup genting. Terdapat semacam canopy yang menaungi pintu. Bangunan ini berada di Jalan Alun-Alun Barat Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan Menes dengan jarak tempuh sekitar 51 km dari Ibu Kota Provinsi, atau kurang lebih 28 km apabila ditempuh dari Kota Pandeglang. 3. Eks Gedung Kewedanaan Labuan Bangunan Gedung Kewedanaan Labuan terletak di Jalan Pegadean, Kelurahan Labuan, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Fungsinya sekarang adalah sebagai gedung serbaguna. Jarak tempuh untuk mencapai ke lokasi sekitar 64 km dari pusat Ibu Kota Provinsi Banten dan hanya ditempuh 41 km dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang. Bangunan ini berdiri di atas lahan ± 1000 m2. Luas bangunan 20 m x 22 m.  Berbentuk bujur sangkar, yang merupakan salah satu ciri arsitektur masa kolonial, sehingga bila terlihat tampak muka, simetris yang kokoh. Denah simetris ini memberikan kemudahan untuk melakukan penambahan pada samping bangunan. Bentuk bangunan ini berbentuk sederhana bergaya joglo dan memiliki sudut lancip di tengahnya. Penutup atap terbuat dari genteng. Pada bagian badan terdapat jendela dan pintu berukuran besar. Pada setiap dua jendela kaca terdapat daun jendela yang terbuat dari susunan kayu horisontal (jalosie window) sebanyak 4 buah pada masing-masing sisi bangunan. Tiga perempat daun pintu berbentuk jalosie window, sementara seperempat bagian bawah dihias motif panel persegi empat. 4. Gedung Pendopo Kecamatan Menes Bangunan yang terletak di Jalan Alun-alun Timur Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan menes, Kabupaten Pandeglang ini sekarang berfungsi sebagai gedung serba guna. Peruntukkan awal bangunan ini adalah untuk persiapan gedung dinas Bupati Caringin. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang masih tersisa dari beberapa bangunan kolonial yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848. Untuk menuju ke lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, dengan jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 51 km atau hanya sekitar 28 km dari Ibu Kota Kabupaten pandeglang. Arsitektur bangunan bekas Kewedanaan Menes ini merupakan gabungan antara arsitektur lokal berupa bangunan pendopo dan arsitektur kolonial yang diwakili oleh tembok-tembok berukuran tebal dan tinggi. Bangunan ini memiliki ukuran luas 20 m x 22 m. Arsitektur lokal terlihat pada bentuk atapnya yang memanjang, yang biasa disebut dengan istilah limasan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan berarsitektur jawa. Terdapat dua bangunan tambahan pada bagian depan, yakni bangunan serambi, dan yang kedua menyerupai bantuk seperti koridor dan menyatu dengan bangunan utama. bangunan ini didirikan pada pondasi yang kokoh dan masif, terdapat tiga terap tangga untuk naik ke bangunan ini. Sisi-sisi atap diberi lisplang yang berfungsi sebagai penutup tiris berbentuk mata tombak. Beberapa tiang ukuran kecil menopang atap bangunan. Bangunan ini berfungsi sebagai gedung dinas Camat kecamatan Menes. Mempunyai kesamaan bentuk dan arsitektur yang terdapat pada gedung Pendopo Kecamatan Pandeglang, gedung pendopo Kawedanaan Menes dan gedung Pendopo Kecamatan Saketi. Luas kawasan Kecamatan Menes ini ± 500 m2. Di depan bangunan utama terdapat sebuah bangunan berbentuk joglo bertiang dua belas buah tiang kecil. Bangunan ini tidak berdinding penuh, dinding terdapat pada tiap sudut bangunan yang masing-masing menempel pada tiga tiang. Sementara bangunan utama mempunyai empat persegi dan pada puncaknya terdapat limas. Bangunan ini mempunyai dinding pada setiap sisinya. Sebagian dinding bagian bawahnya diberi lapisan batu andesit. Sampai  saat ini tanggal pendirian bangunan belum diketahui, karena belum ada sumber-sumber yang memadai. Tetapi diperkirakan sekitar tahun 1848, se zaman dengan bangunan pemerintahan kolonial yang ada di wilayah Menes. 5. Eks Gedung Pendopo Kewedanaan Menes Bangunan yang terletak di Jalan Alun-alun Timur Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan menes, Kabupaten Pandeglang ini sekarang berfungsi sebagai gedung serba guna. Peruntukkan awal bangunan ini adalah untuk persiapan gedung dinas Bupati Caringin. Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang masih tersisa dari beberapa bangunan kolonial yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848. Untuk menuju ke lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, dengan jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 51 km atau hanya sekitar 28 km dari Ibu Kota Kabupaten pandeglang. Arsitektur bangunan bekas Kewedanaan Menes ini merupakan gabungan antara arsitektur lokal berupa bangunan pendopo dan arsitektur kolonial yang diwakili oleh tembok-tembok berukuran tebal dan tinggi. Bangunan ini memiliki ukuran luas 20 m x 22 m. Arsitektur lokal terlihat pada bentuk atapnya yang memanjang, yang biasa disebut dengan istilah limasan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan berarsitektur jawa. Terdapat dua bangunan tambahan pada bagian depan, yakni bangunan serambi, dan yang kedua menyerupai bantuk seperti koridor dan menyatu dengan bangunan utama. bangunan ini didirikan pada pondasi yang kokoh dan masif, terdapat tiga terap tangga untuk naik ke bangunan ini. Sisi-sisi atap diberi lisplang yang berfungsi sebagai penutup tiris berbentuk mata tombak. Beberapa tiang ukuran kecil menopang atap bangunan. 6. Gedung Kodim 0601 Pandeglang Gedung Kodim 0601 Pandeglang terletak di jl. alun-alun No. 2 Pandeglang. Adapun ciri-ciri arsitektural kolonial yang dapat ditemui pada bangunan ini yang sudah menjadi ciri umum bangunan masa kolonial antara lain: model atap yang rendah, dengan satu buah pintu masuk depan dan komposisi vertikal, dibangun pada tahun 1918. Bangunan ini mempunyai denah bujur sangkar dengan 4 terap anak tangga dan pondasi yang masif. Atap bangunan ini berbentuk atap limasan, namun iirisan gambar atapnya memiliki sudut lancip pada bagian atas dan luas atap hanya sedikit luas jika dibandingkan dengan luas dinding. Terdapat semacam atap tambahan yang menaungi bagian teras dan beberapa jendela, diduga bagian ini berfungsi sebagai pelindung dari tempias hujan. Pada bagian depan bangunan terdapat 4 buah pilar yan bergaya tuscan. di keempat sudut bangunan luar terdapat 4 pilar penopang. Secara umum dapat dikatakan bahwa bangunan ini bergaya arsitektur neo-klasik. 7. Eks Gedung Pendopo Kecamatan Saketi Gedung ini beralamat di Jalan Raya Labuan, Kelurahan Purwasari, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. Jarak tempuh dari Ibu Kota Provinsi sekitar 42 km, sementara jarak tempuh dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang ± 19 km. Keadaan bangunan ini sudah tidak terawat dan sebagian sudah mulai mengalami kerusakan. Luas bangunan sekitar 12 m x 18 m persegi. Bentuk atap bangunan ini menyerupai bentuk atap gedung bekas pendopo Kecamatan Pandeglang, yaitu atap limasan. Bangunan ini dulu berfungsi sebagai kantor Kecamatan yang kini menghuni gedung baru. Sebagai bangunan yang memiliki gaya yang khas pada masanya, bangunan ini menjadi penting artinya bagi ilmu pengetahuan. Tampaknya bentuk atap limasan pernah menjadi model arsitektur atap rumah pada sekitar tahun 1847-an, hal ini mungkin disesuaikan dengan keadaan iklim di Indonesia. 8. Eks Rumah Dinas Komisaris Polisi Rumah ini terletak di jalan Alun-alun Barat Menes, Kelurahan Purwareja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang. Jarak tempuh dari pusat Ibu Kota Provinsi sekitar 51 km atau 28 km dari Ibu Kota kabupaten Pandeglang. Semula berfungsi sebagai rumah Dinas Komisaris Polisi pada masa pemerintahan kolonial. Diperkirakan bangunan ini didirikan pada tahun 1848-an. Bangunan ini merupakan living monument dengan kondisi pemeliharaan cukup baik, sejak dibangun hingga sekarang belum mengalami perubahan maupun pemugaran yang sifatnya mendasar. Luas tanah yang ditempati oleh bangunan ini seluas ± 400 m2. Sementara luas bangunan 14 m x 12 m. Sekarang bangunan ini masih dipergunakan untuk rumah tinggal Kepala POLSEK Kecamatan Menes.  Bentuk denah bangunan ini bujur sangkar, dengan bentuk atap limasan. Pada bagian belakang terdapat beberapa bangunan tambahan yang tampaknya merupakan bangunan pelengkap. Jarak tempuh dari pusat Ibu Kota Provinsi sekitar 51 km atau 28 km dari Ibu Kota kabupaten Pandeglang. 9. Eks Gedung Pendopo Kecamatan Pandeglang Bangunan yang langka dan unik ini merupakan bangunan pendopo Kecamatan Pandeglang. Terletak di Jalan Letnan Bolang, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang. Dari pusat Ibu Kota Provinsi Banten untuk ke lokasi ini harus menempuh jarak sekitar 23 km, sedangkan jarak tempuh dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang 0,5 km. Bangunan ini tampak menonjol dibandingkan dengan bangunan lain yang ada disekitarnya. Keunikan yang menonjol tampak dari bentuk atap bangunan yang berbentuk limasan dan mempunyai ukuran cukup besar. Bentuk atap seperti ini dipengaruhi oleh arsitektur venakular Jawa. Di bagian depan terdapat bangunan tambahan yang disangga oleh dua tiang polos. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 500 meter persegi dengan luas bangunan ± 12 m x 18 m ini dibangun sekitar tahun 1848 dengan peruntukkan awal sebagai gedung dinas camat, sekarang dimanfaatkan sebagai kantor Dinas PU Pandeglang Bidang Kebersihan. Keadaan bangunan relatif cukup baik dan terpelihara karena masih terus dipergunakan. [Baca juga : "3 Bangunan Bersejarah Di Tangerang Yang Harus Dikunjungi"] 10. Eks Gedung Pendopo Kewedanaan Pandeglang Letak gedung ini di jalan KH. Abdul Halim, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang tepat di pusat Kota Pandeglang, yang berjarak sekitar 23 km dari Pusat Ibu Kota Provinsi Banten. Semula gedung ini digunakan sebagai gedung dinas wedana. Berdiri di atas lahan seluas ± 1500 m2 dengan luas bangunan ± 20 m x 10 m.  Ditopang oleh pondasimasif setinggi 40 cm yang terbuat dari batu bata. Atap bangunan berbentuk limasan, terdapat bagian mirip entablatur di bagian atas. Pada bagian muka terdapat selasar yang diberi atap tambahan. Daun jendela dandaun pintu gedung ini berukuran besar dengan engsel dorong. Bangunan ini diperkirakan berdiri sekitar tahun 1848. Kini gedung yang telah direhabilitasi pada tahun 2004 berada dalam lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang beralih pusat sebagai Bale Budaya. 11. Masjid Jami Al Khusaeni Carita       View this post on Instagram Bulit in 1889M #masjidalkhusaericarita A post shared by Budi Hartono (@bharton88) onMay 11, 2018 at 5:24pm PDT Ruang utama masjid ini dibatasi dinding pada keempat sisinya. Pintu terdapat pada sisi timur, utara dan selatan yang menghubungkan ruang utama dengan ruang serambi di sisi timur. Pada dinding sisi barat terdapat mihrab yang di sisi kanannya terdapat mimbar. Masjid Carita memiliki bentuk atap bertingkat atau tumpang yang berjumlah empat tingkatan. Atap tingkat keekmpat memiliki pagar langkan pada keempat sisinya. Puncak atap Masjid Carita ditutupi oleh sebuah mustoko. Seluruh kerangka atap ditutup oleh genting dan pada bagian lisplangnya terdapat deretan hiasan motif tumpal. Masjid Carita memiliki serambi pada keempat sisinya, yaitu serambi timur, utara dan selatan (serambi terbuka), sisi barat dan utara (serambi terbuka). 12. Masjid Salafiah Caringin       View this post on Instagram Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Photo : Masjid Agung Syekh Asnawi Sejarah : https://disbudpar.bantenprov.go.id/read/historic-mosque/626/MASJID-AGUNG-CARINGIN #pandeglang #explorepandeglang #explorebanten #banten A post shared by Labuan & Sekitar (@infolabuan) onJun 6, 2016 at 11:41pm PDT Didirikan sekitar tahun 1884 oleh penduduk Caringin secara bergotong royong yang dipimpin oleh Ulama Syekh Asnawi. Tidak jauh dari Masjid Caringin terdapat makam KH. Muhammad Asnawi (Syekh Asnawi bin Abdul Rohman) yang wafat pada tahun 1356 H (1937 M) yang terletak di tepi pantai, Desa Caringin , Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Dari Ibukota Privinsi Banten berjarak sekitar 66 km atau 43 km dari kota Pandeglang. 13. Menara Air Kota Pandeglang Menara Air ini terletak di Jl. Ciwasiat, Kelurahan Pandeglang Kecamatan Pandeglang tidak jahu dari bangunan Mesjid Agung Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, jarak tempuh untuk mencapai ke lokasi ini sekitar 25 km dari pusat Ibu Kota Provinsi Banten, Serang. Bangunan ini berbentuk slindrik yang berfungsi sebagai menara air (water tower) tinggi bangunan ini sekitar 25 meter dengan diameter 4 meter. Bangunan ini dibagi dua bagian, bagian bawah terbuat dari batu kali yang disusun sedemikian rupa terdapat pintu masuk yang terbuat dari besi dengan dua daun pintu yang dibingkai dengan lengkung sempurna. Bagian atas berbentuk slindrik terbuat dari bahan semen. Bagaian atas digunakan untuk penampung air. Bangunan ini dibangun pada tahun 1884. (Sumber: Artikel humaspdg.wordpress.com Foto kabar-banten.com)
...more

Ini 6 Peran Sentral Traveler dalam Menjaga Kelestarian Alam

TRIPTRUS - 22 April merupakan momen penting bagi setiap orang, perusahaan, dan pemerintah untuk menunjukkan komitmen mereka kepada alam dan generasi mendatang. Tanggal yang tiap tahun diperingati sebagai Hari Bumi ini juga menunggu peran lebih wisatawan, untuk menghargai dan melestarikan tempat yang pernah dan akan mereka kunjungi. Maggie Ozner, seorang Traveler WWF pernah mengatakan, “Ketika saya melakukan perjalanan, dan melihat keajaiban keindahan alam, saya menyadari ini semua akan hilang dikemudian hari. Hanya keinginan untuk melipatgandakan usaha memelihara dan menjaganya yang dapat memulihkan itu semua.” Wisatawan atau traveler sesungguhnya memiliki peran sentral untuk mengelola dan tetap kriitis dalam melestarikan keindahan alam yang mereka kagumi. Seperti dikutip dari lama WWF, Jumat (22/4/2016), berikut beberapa usaha yang bisa dilakukan traveler dalam perannya menjaga kelestarian alam. 1. Mengurangi KarbonMeningkatnya suhu bumi tentu mempengaruhi berbagai tempat, termasuk spesies di dalamnya dan mata pencaharian masyarakat. Bagi Anda para traveler, mulailah untuk memiliki gaya hidup cinta alam yang Anda kerap kagumi dengan memakai bahan bakar kendaraan ramah lingkungan. Kontribusi Anda juga bisa dilakukan dengan lebih banyak menanam pohon. Nampaknya Anda perlu membuat komitmen untuk setidaknya menamam satu pohon di tiap tempat yang Anda kunjungi saat berwisata. 2. Tidak Buang Sampah SembaranganBanyak orang mengaku cinta kepada alam dan di waktu bersamaan juga membuang sampah tidak pada tempatnya. Gaya hidup tidak mau repot ini sebenarnya bisa disiasati, misalnya saat traveling, Anda bisa menggunakan botol air mineral daur ulang, sehingga Anda tidak perlu lagi membeli air kemasan dan membuangnya sembarangan. 3. Hindari Membeli Sesuatu yang DilindungiBerbelanja di tempat wisata tentu sungguh mengasyikan, apalagi jika pusat perbelanjaan tersebut menyediakan beranekarupa koleksi barang unik. Namun Anda perlu diperhatikan, apakah benda yang Anda beli sudah benar? Membeli souvenir di tempat wisata dari produk bagian-bagian hewan yang dilindungi, tentu sama halnya dengan memperpanjang kejaharan terhadap satwa liar yang semakin hari semakin sedikit keberadaannya. 4. Meningkatkan Gaya Hidup Ramah LingkunganTraveler tanpa memiliki gaya hidup ramah lingkungan sama hal dengan omong kosong. Gaya hidup ramah lingkungan tentu modal awal untuk menjadi seorang penjelajah. Tepat di Hari Bumi ini berjanjilah pada diri sendiri, untuk tetap melestarikan keindahan alam dan budaya di berbagai tempat yang Anda kunjungi. 5. Ajari Anak-anak Traveling dan Cinta LingkunganMempersiapkan generasi masa depan yang cinta lingkungan adalah hal mutlak yang perlu diberikan orangtua pada anaknya. Mengajak anak menikmati keindahan alam sambil mengedukasi arti penting keletarian alam merupakan cara tepat menciptakan generasai cinta alam dan lingkungan. 6. Berikan DonasiIni cara terakhir yang bisa dilakukan traveler untuk memberikan kontribusinya pada kelestarian alam. Banyak organisasi nirlaba di luar sana yang perlu dukungan untuk tetap berdiri menjaga kelestarian alam. Tidak melulu soal uang, sambil traveling Anda juga bisa berkontribusi dengan memberikan edukasi pada anak-anak di pedalaman. (Sumber: Artikel liputan6.com Foto liputan6.com)
...more

Wisata Sejarah Bukittinggi, 6 Fakta Keren Museum Rumah Bung Hatta

TripTrus.Com - Kota Bukittinggi, yang jadi tempat lahirnya Wakil Presiden pertama sekaligus Proklamator RI, Bung Hatta, punya banyak destinasi seru, lho. Namanya juga Bukittinggi, kota ini ada di dataran tinggi Sumatera Barat, sekitar 100 km dari Bandara Internasional Minangkabau, Padang. Suasana sejuk dan view bukit bikin perjalanan ke sana makin asyik, apalagi jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan tebing di kanan kiri.       View this post on Instagram A post shared by Ikhsan Yody Farhan (@ikhsan.yody) Bukittinggi juga terkenal sama Jam Gadang, tapi ada destinasi yang nggak kalah bersejarah dan bikin kita tambah pinter, yaitu Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Di sini kamu bisa ngintip kehidupan Bung Hatta kecil sampai perjuangannya buat memerdekakan Indonesia! Sebelum mampir, yuk cek dulu 6 fakta menarik tentang museum ini. 1. Dibangun Sekitar Tahun 1860 Rumah masa kecil Bung Hatta dibangun sekitar 1860-an dengan kayu sebagai material utama. Ada bangunan utama, paviliun, lumbung padi, dapur, dan kandang kuda. Bangunan utama buat ruang tamu, makan, dan kamar keluarga. Nah, paviliun jadi kamar tidur Bung Hatta kecil. 2. Bung Hatta Tinggal di Sini Sampai Umur 11 Bung Hatta lahir di Bukittinggi, dulu namanya Fort De Kock, tanggal 12 Agustus 1902. Di rumah ini, dia tinggal sampai usia 11 tahun sebelum pindah ke Padang buat sekolah. Meski cuma 11 tahun, rumah ini berperan besar banget dalam pembentukan karakter Bung Hatta. Di sini, dia belajar disiplin, sederhana, dan penuh kasih sayang. [Baca juga : "5 Tempat Hits Di Bali Yang Bikin Lo Ngerasa Kayak Julia Roberts Di Eat Pray Love"] 3. Dibangun Ulang Tahun 1994 Rumah aslinya sempat runtuh tahun 1960-an, tapi kemudian dibangun ulang di tahun 1994 atas ide dari Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta. Proses pembangunan dimulai tanggal 15 Januari 1995, dan diresmikan pada 12 Agustus 1995, pas hari ulang tahun Bung Hatta dan 50 tahun Indonesia Merdeka. 4. Perabotannya Masih Asli, Lho! Rumah ini dibangun ulang tapi tetep pakai konsep asli. Sebagian besar perabotan di dalam rumah juga masih asli, warisan dari masa kecil Bung Hatta. Bahkan sepeda ontel yang sering dipakai Bung Hatta masih ada, tersimpan di paviliun belakang. 5. Info Sejarah Bung Hatta Lengkap Banget Di museum ini, kamu bisa lihat gimana sederhananya kamar Bung Hatta. Kamar kecil dengan lemari penuh buku. Selain itu, ada info tentang silsilah keluarga Bung Hatta dan foto-foto perjuangannya dalam meraih kemerdekaan Indonesia. 6. Lokasi Dekat Jantung Kota Bukittinggi Museum ini gampang banget dijangkau, lokasinya di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi. Hanya butuh waktu jalan kaki 15 menit dari Jam Gadang. Serunya lagi, masuk museum ini gratis! Buka setiap hari dari jam 08.00-17.00 WIB.Jadi, kapan mau ke sini? Jangan sampai kelewatan, ya! (Sumber Foto @khairawwrrr) 
...more

Kalender Event Wisata Jogja Bulan April 2022, Ada Sarkem Fest!

TripTrus.Com - Buat kamu yang hendak liburan ke Yogyakarta di bulan April 2022 ini, ada banyak event wisata yang digelar di Yogyakarta. Meski memasuki bulan puasa, bukan berarti kegiatan kesenian lantas mandek, loh, malah beberapa festival memang diadakan sebagai tradisi sambut Ramadan. Nah, berikut ini kalender event wisata Jogja pada April 2022. Catat tanggal dan tempatnya agar gak terlewat! 1. Festival Reog Jathilan - 1 April Bulan April dibuka dengan Festival Reog Jathilan yang rencananya akan digelar pada tanggal 1. Ini adalah atraksi kesenian tradisional yang menggabungkan antara tarian jathilan dan reog yang tentu akan menarik banyak pihak. Dan biasanya festival ini diadakan bergilir dari satu tempat wisata ke tempat wisata lain di Yogyakarta dan kali ini direncanakan digelar di Gunung Kidul. 2. Malem Selikuran - 22 April Malam selikuran adalah tradisi menyambut malam lailatul qadar. Sesuai namanya, selikur yang berarti 21, tradisi ini dilakukan setiap 21 Ramadan yang dihitung menurut kalende Islam atau Jawa. Tradisi malem selikuran diadakan di Keraton Yogyakarta pada tanggal 22 April 2022. 3. Yogyakarta Simfony Orkestra - 23 April Buat yang suka musik, jangan sampai melewatkan festival Yogyakarta Simfony Orkestra! Acara ini menyajikan pertunjukan orkestra pop dengan menampilkan musisi-musisi lokal yang keren. Rencananya, akan digelar pada 23 April 2022 mendatang! 4. Numplak Wajik Tumplak wajik adalah tradisi yang dilakukan oleh Kraton Yogyakarta sebagai tanda mengawali proses pembuatan gunungan Grebeg Syawal. Gunungan ini adalah simbol sedekah raja kepada rakyatnya yang berisi wajik. Wajik yang dibuat dari ketan dan lengket memiliki makna persaudaraan yang selalu erat. 5. Festival Apeman Diadakan di Kraton Yogyakarta, apeman adalah tradisi masyarakat Jawa yang diadakan pada saat Ruwah atau menjelang puasa Ramadan. agenda festival apeman ini adalah membuat apem lengkap dengan ketan dan kolak yang memiliki makna pembersihan jiwa sebelum berpuasa Ramadan. 6. Kirab Budaya Ambengan Ageng Nawu Jagang Dan Sendang Seliran Setiap bulan April, masyarakat Kotagede punya acara wajib yang bernama kirab budaya ambengan ageng nawu jagang dan sendang seliran. Ini adalah acara kirab membawa gunungan yang dilakukan oleh juru kunci Kotagede menuju Masjid Gede dan Makam Raja. 7. Pisungsung Ruwahan Kadipaten Dalam sambut bulan Ramasan, warga kadipaten Yogyakarta gelar Pisungsung Ruwahan Kadipaten. Acara ini berupa kirab yang dilakukan dari Ndalem Kaneman sampai Kemantren Kraton. [Baca juga : "Ini 3 Masjid Bersejarah Di Jakarta"] 8. Sarkem Fest Selama ini citra Pasar Kembang tampak negatif karena dianggap sebagai tempat prostitusi. Hal ini mendasari dibentuknya Festival Pasar Kembang atau Sarkem Fest yang untuk mengubah citra negatif ini menjadi lebih berbudaya dengan menghadirkan pertunjukan musik sampai tarian. 9. Nyadran Agung Nyadran Agung adalah tradisi sambut Ramadan yang dilakukan oleh warga Kulon Progo. Nyadran Agung berupa kirab dengan membawa gunungan hasil bumi. Lalu setelahnya, gunungan ini akan diperebutkan oleh warga.  10. Merti Tuk Umbul Tradisi padusan jelang bulan Ramadan di Yogyakarta memang tak bisa dihilangkan, salah satu yang akan tetap berjalan saat pandemik adalah merti tuk ambal. Agenda ini dilakukan oleh warga Warungboto yang dimulai dengan arak-arakan berupa Bregada Wira Tirta dan Wira Tirta Pratiwi yang merupakan ikon upacara ini. Bagaimana, seru-seru ‘kan festival di Yogyakarta bulan April? Kental akan budaya dan tradisi sambut Ramadan, tentu gak akan kamu temui di kota lain. Segera yuk, agendakan ke Yogyakarta! (Sumber: Artikel jogja.idntimes.com Foto @joyodino) 
...more

Museum Multatuli Rangkasbitung, Destinasi Wisata Sejarah yang Keren Abis!

TripTrus.Com - Museum Multatuli Rangkasbitung di Rangkasbitung, Lebak, Banten tuh museum keren banget buat belajar sejarah, juga tempat wisata sejarah yang gampang dijangkau, deket banget dari ibu kota, dan gratis tiket masuknya. Di museum ini ada 34 artefak asli atau replika yang bisa bikin kita kenal sama sejarah. Buat para wisatawan yang naik Kereta Api atau Commuterline, aksesnya gampang banget, lokasinya deket Stasiun Kereta Api Rangkasbitung, di Jalan RM. Nata Atmaja, Rangkasbitung, Lebak, Banten. Museum Multatuli itu tempat wisata yang keren banget buat sejarah. Ada beberapa hal menarik di bawah ini! Akses masuknya yang Instagramable, pas mau masuk Museum Multatuli, kita bisa foto-foto dengan pintu masuknya yang bisa diunggah di Instagram buat para wisatawan. Patung tokoh-tokoh roman Max Havelaar Multatuli, Saijah, dan Adinda, pas masuk kawasan museum, kita disambut sama patung Multatuli yang lagi baca buku. Di sampingnya ada rak buku juga. [Baca juga : "Cerita Awal Mula Pulau Pahawang, Dari Nokoda Sampai Jadi Desa Wisata Seru!"] Sementara itu, patung Saijah lagi berdiri tegak. Nah, Adinda lagi duduk di kursi panjang sambil lihat-lihat rak buku. Saijah dan Adinda itu dua tokoh yang ada di bab buku Max Havelaar. Patung-patung karya Dolorosa Sinaga itu dari tembaga. Pesan pendek dari Multatuli, pas masuk ruang museum, ada wajah Multatuli dari kaca sama kalimat "Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia" yang bakal menyambut kita. Sebelum masuk lebih jauh, Sejarah awal Belanda datang ke Indonesia, pas masuk ruang teater, kita bisa nonton video dan diorama kapal layar Eropa yang ceritain gimana Belanda kolonial datang ke Indonesia. Mereka datang lewat perdagangan rempah-rempah kayak cengkeh, pala, kopi, lada, dan kayu manis. Dari ruangan ini, kita bisa tau juga tentang tanam paksa di selatan Banten atau Cultuurstelsel yang lahir dari situ. (Sumber Foto @inderaisme91) 
...more

Beberapa Chinatown atau Pecinan di Seluruh Dunia

TripTrus.Com - Kalian pasti tahu apa itu istilah Chinatown atau Pecinan, bukan? Chinatown atau Pecinan adalah merujuk pada kawasan di mana para penduduk keturunan Tiong Hoa tinggal ataupun mendirikan usaha di sebuah kawasan kecil di luar negeri. Tentunya Chinatown atau Pecinan tersebar dibeberapa kota di negara-negara di seluruh dunia (bukan di Cina sendiri).   ※※※ Istilah Chinatown atau Pecinan merujuk pada kawasan di mana para penduduk keturunan Tionghoa tinggal, bekerja, dan menjalankan bisnis. Kawasan Chinatown ini kemudian banyak dijadikan sebagai kawasan wisata di kota-kota besar di berbagai penjuru dunia. Begitu juga di Jawa Barat banyak nyaris setiap kota tua di Jawa Barat punya kawasan pecinan, beberapa diantaranya sudah dimaksimalkan untuk kawasan wisata. Keberadaan China Town di seluruh dunia. 1.Havana, Cuba 2. Calcutta, India 3. Bangkok Thailand 4. Manila, Filipina 5. Johannesburg, Afrika Selatan 6. Melbourne Australia 7. Vancouver, Kanada 8. San Fransisco, Amerika Serikat 9. London, Inggris 10. Bandung, Indonesia Explore Further #HayuKaJabar #lunarnewyear2018 Design by @cichacichuy _____ Lokasi : Jawa Barat Indonesia _____ @pesonajawabaratku @genpikuningan @genpi_pangandaran @genpi.bogor @genpisukabumi @genpiciamis @genpicianjur @genpicirebon @genpipriangantimur _____ @genpi_id @genpinews @genpiaceh @genpisumbar @genpisumsel @genpijabar @genpijateng @genpijatim @genpilomboksumbawa @genpimaluku @genpi.kepri @genpijogja @genpibanten @genpi_lampung @genpi_bali @genpi_ntt @kemenpar @pesonaid_travel _ @genwi_thailand @genwi_malaysia @genwitiongkok @genwi.singapura @genwi_int @ind.travel __ #GenPI #GenPIJabar #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia A post shared by GenPI Jawa Barat (@genpijabar) onFeb 7, 2018 at 4:12am PST Kawasan Chinatown atau Pecinan seringkali dijadikan sebuah kawasan wisata di banyak kota besar di berbagai belahan dunia. Kota-kota seperti New York, San Fransisco, Bangkok dan Manila pun memiliki kawasan Chinatown atau Pecinan yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Tak terkecuali di Indonesia, terletak di kota Bandung, kota yang dikenal dengan julukan Kota Kembang ini juga memiliki kawasan Chinatown atau Pecinan yang terletak di Jl. Cibadak dan Jl. Kelenteng. (Sumber: Artikel @Amieykha, Foto Danny Nicholson)
...more

Bali Bisa Jadi Destinasi Wisata Sepakbola

TRIPTRUS - "Kebanyakan klub luar negeri itu ingin bermain di Bali," kata Djohar. Sepakbola di Bali mulai kembali menggeliat. Ini tak lepas dari munculnya Bali United Pusam yang kini menjadi klub andalan Pulau Dewata.Sebelumnya, sepakbola di Bali terbilang "mati suri". Hanya empat tim yang pernah menghiasai sepakbola nasional, yaitu Gelora Dewata, Perseden Denpasar, PS Gianyar dan Bali Devata.Kehadiran Bali United Pusam pun memunculkan asa baru bagi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Induk organisasi sepakbola nasional ini punya mimpi Bali akan menjadi daerah wisata sepakbola.Untuk itu, PSSI berharap Bali memiliki stadion yang levelnya internasional. Ini agar mempermudah Indonesia mendatangkan klub luar negeri."Kebanyakan klub luar negeri itu ingin bermain di Bali. Jadi Bali kami harapkan punya stadion internasional sehinga memudahkan tim luar negeri untuk datang ke sana," ujar Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin."Jadi Bali bukan hanya jadi daerah wisata alam, tapi juga wisata sepakbola," tegas Djohar kepada wartawan di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Kamis 5 Maret 2015.Saat ini, Bali United Pusam tengah membangun stadion yang diharapkan bisa memenuhi standar internasional. Seperti diketahui, Stadion Kapten I Wayan Dipta tengah dipoles penampilannya.Stadion dengan kapasitas 25.000 tempat duduk ini akan direnovasi besar-besaran dari segi fasilitas. Bahkan, ruang ganti pemain diklaim memiliki konsep yang sama dengan ruang ganti Old Trafford, markas Manchester United.Dari sisi lampu penerangan juga diperbaiki secara luar biasa. Kini Stadion Dipta sudah bisa menggelar pertandingan malam karena punya total 96 lampu berkekuatan 192.000 watt. (Sumber: Artikel viva.co.id Foto tribunnews.com)
...more

5 Alasan Mengapa Menjadi Tour Guide Itu Menyenangkan

TripTrus.Com - Selama ini, profesi pemandu wisata atau lebih dikenal dengan tour guide belum dipandang sebagai profesi yang dianggap keren dibandingkan dengan profesi lainnya. Banyak yang mengatakan bahwa profesi tour guide itu melelahkan dan sulit untuk dikerjakan karena harus bertemu dan bercerita ke banyak wisatawan yang memiliki kepribadian, bahasa dan budaya yang berbeda-beda. Tapi, bagi orang-orang yang mengetahui keuntungan dan peran tour guide dalam membantu perkembangan pariwisata Indonesia, tentu semua kesulitan-kesulitan tersebut akan dengan mudah ditepis.Oleh karena itu, pada artikel ini akan dirangkum 5 keuntungan menjadi seorang tour guide. Keuntungan Menjadi Tour Guide Silahkan dibagikan ke teman dan sahabat yang masih perlu diyakinkan bahwa profesi tour guide adalah profesi yang menyenangkan dan menguntungkan! 1. Tour Guide Pasti Banyak Teman Tour guide merupakan profesi yang sangat ideal untuk orang-orang yang ingin memiliki banyak teman. Setiap bertugas, tour guide akan bertemu dengan banyak wisatawan yang tentu saja memiliki latar belakang berbeda-beda. Karena dalam melaksanakan pekerjaannya peran tour guide tidak kaku, bahkan bisa bersenda gurau dengan wisatawan yang sedang dihandle, maka wisatawan-wisatawan tersebut acap kali menjadi kenalan dan bahkan sahabat. 2. Sengaja atau Tidak, Menjadi Tour Guide akan Menambah Wawasan Seorang tour guide haruslah mempunyai wawasan yang luas. Kemampuan untuk bergaul dengan wisatawan yang berasal dari latar belakang berbeda-beda sangat ditunjang oleh pengetahuan umum yang memadai. Tidak hanya pengetahuan tentang destinasi wisata ataupun P3K saja. Oleh karena itu, wajar jika banyak wisatawan yang kagum dengan tour guide yang memandu mereka dikarenakan si tour guide bisa diajak untuk ngobrol dengan topik apapun. Selain pengetahuan umum yang dipelajari oleh seorang tour guide secara mandiri, wawasan juga akan terus bertambah seiring dengan semakin bertambahnya jam terbang. Bisa saja di tengah-tengah perjalanan, ada wisatawan yang bercerita mengenai daerah asalnya ataupun topik lain yang mungkin belum diketahui, sehingga wawasan tour guide tersebut semakin luas dan bertambah. 3. Tour Guide Bisa Mendapat Banyak Uang dengan Mudah? Poin ini sengaja saya beri tanda tanya karena memang ada dua persepsi yang berbeda tentang uang yang bisa didapat oleh seorang tour guide. Persepsi yang pertama, tour guide dianggap sebagai profesi yang mudah dan enak jika dibandingkan dengan profesi lain. Ketika memandu wisatawan, seorang tour guide bisa dianggap sedang “ikut jalan-jalan”, bahkan jika sedang ditugaskan untuk memandu wisatawan nusantara ke luar negeri, maka tour guide juga bisa ikut nimbrung berwisata, bahkan sambil mendapat bayaran dan tips dari wisatawan. Inilah mengapa profesi tour guide dianggap merupakan profesi yang dapat menghasilkan uang dengan mudah. Tapi… Di sisi lain, atau bisa juga dianggap dari sudut pandang seorang tour guide. Uang yang didapat ini – berapapun jumlahnya – merupakan cerminan dari resiko, kesulitan dan berbagai tuntutan yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang tour guide. Resiko dan kesulitan menjadi tour guide tentu cukup banyak, apalagi jika sedang memandu grup wisatawan dalam jumlah besar. Jika ada wisatawan yang sakit mendadak, marah-marah atau tidak puas dengan pelayanan di suatu destinasi, maka yang dicari pertama kali adalah tour guide yang sedang bertugas memandu mereka. Begitu juga dengan tuntutan sebagai seorang tour guide. Perlunya mengikuti berbagai uji profesi untuk mendapatkan sertifikat tour guide, harus menguasai beberapa bahasa, bisa diajak berdiskusi dalam topik apapun, harus mampu membuat wisatawan enjoy selama perjalanan dan berbagai hal lainnya merupakan tantangan tersendiri yang jarang ditemukan di profesi lain. 4. Bangun Relasi dengan Menjadi Tour Guide Karena hubungan antara tour guide dan wisatawan bisa sangat dekat, maka kemungkinan untuk mendapatkan relasi dari wisatawan yang dipandu menjadi sangat besar. Seorang tour guide juga bisa mendapat relasi dari agen perjalanan tempat bekerja. Jika tour guide tersebut adalah freelancer atau tour guide lepas, maka bisa dipastikan tour guide tersebut pernah bekerja di lebih dari satu agen perjalanan wisata. Semakin banyak wisatawan yang di-handle dan semakin banyak agen perjalanan wisata yang pernah menjadi tempat kerja, maka kesempatan untuk membangun relasi juga semakin besar. Saya sendiri pernah bertemu dengan seorang tour guide senior di Yogyakarta yang mampu membuat restoran dengan target konsumen wisatawan mancanegara dari relasi dengan agen perjalanan wisata. 5. Ikut Berperan dalam Mengembangkan Pariwisata Indonesia Sedikit sekali orang yang sadar tentang betapa pentingnya peran tour guide dalam perkembangan industri pariwisata di suatu negara. Tour guide adalah ujung tombak pariwisata. Hal ini dikarenakan peran tour guide adalah sebagai fasilitator ataupun orang yang menjadi penghubung antara wisatawan dengan daya tarik wisata di suatu destinasi. Tour guide akan memberikan penjelasan mengenai keunikan suatu destinasi dengan lebih jelas dan menyenangkan kepada wisatawan, sehingga kepuasan wisatawan selama perjalanan wisata juga semakin bertambah. (Sumber: Artikel studipariwisata.com Foto vakansinesia.com)  
...more

Bagaimana Tren Orang Indonesia Traveling Bareng Keluarga?

TripTrus.Com - Bagaimana tren orang Indonesia Traveling bareng keluarga? Apa keuntungannya traveling bareng keluarga dan apa kesulitan traveling bareng keluarga?   Yg depan keren bet sih😄 . #bananaboat #perahupisang #latepost #liburankeluargabesar #pantai9 #fff #lfl A post shared by Maulana Fajar Fathoni (@double_f23) onJul 7, 2017 at 12:32pm PDT HomeAway yang berbasis di Austin, ASmenyewakan lebih dari dua juta pilihan tempat tinggal yang terdapat di 190 negara dan juga merupakan bagian dari Expedia, Inc. Melalui HomeAway, pemilik dan manajer properti menawarkan aneka pilihan akomodasi liburan yang menyajikan pengalaman tak terlupakan dan keuntungan lebih, seperti ruangan yang lebih besar untuk beristirahat dan tambahan privasi, yang seringkali lebih terjangkau dibandingkan akomodasi hotel.HomeAway pun melakukan survei kepada 300 responden di Indonesia pada bulan Mei 2017, tentang treng orang Indonesia traveling bareng keluarga. Dalam rilis yang diterima detikTravel, lebih dari setengah jumlah koresponden traveling bersama keluarga paling tidak satu tahun sekali. "Jumlah orang Indonesia yang ingin lebih sering bepergian bersama keluarga pun lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga. Alasan berpergian dengan keluarga adalah dapat membantu mereka untuk melepaskan diri dari tekanan yang diadapi setiap hari." Namun ternyata, traveling bareng keluarga juga ada sulitnya. Ada 3 hal sebabnya, yaitu susahnya mengatur tanggal dan jadwal waktu yang pas bagi seluruh anggota keluarga, keterjangkauan harga dan ketidakmampuan untuk menemukan akomodasi yang cocok dan sesuai untuk semua orang.Lebih dari setengah koresponden juga membeberkan, bahwa akomodasi untuk bermalam bersama keluarga adalah di homestay dan apartemen. Mereka memilih opsi akomodasi tersebut dibanding hotel dan resor. Mungkin karena perihal harga sepertinya. (Sumber: detik.com, Foto freepik.com)
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography
×

...