shop-triptrus



Juni Nggak Boleh Santai! Ini Deretan Event Gokil yang Harus Lo Sambangin!

TripTrus.Com - Bro sis, bulan Juni ini jangan cuma rebahan doang! Di bulan keenam ini, banyak banget event kece dari berbagai penjuru Indonesia yang sayang banget kalo lo lewatin. Mulai dari yang artsy di Jogja, sampai yang nyelam-nyelam sambil nikmatin jazz di Maratua, semua ada! Lo bisa eksplor budaya, olahraga ekstrim, sampe jajan-jajan lucu di festival kreatif. Pokoknya, lo nggak bakal kehabisan agenda buat nongkrong kece atau healing tipis-tipis. Yuk kita gas! 🎨 ArtJog 2025 – Jogja Bukan Cuma Gudeg, Tapi Juga Surga Seni! 🗓️ 21 Juni – 31 Agustus 2025 📍 Jogja National Museum, Yogyakarta Lo pernah ngerasain pameran seni yang isinya nggak cuma cakep tapi juga dalem banget maknanya? Nah, ArtJog ini tempatnya. Dari instalasi yang mind-blowing, lukisan yang ngena, patung sampe multimedia, semua karya di sini ngangkat tema Motif: Amalan. Gokil banget sih konsepnya. Awalnya ini dikenal dengan nama Jogja Art Fair pas 2008, dan sejak saat itu langsung jadi ajang yang ditunggu para seniman. Nggak cuma soal seni murni doang, tapi juga sering nyambungin isu-isu politik, sosial, sampe budaya. Di sinilah tempat lo bisa ngeliat gimana seni itu bisa jadi alat komunikasi paling ngena! 🏄 WSL Nias Pro 2025 – Spot Surfing Rasa Internasional di Pantai Sorake 🗓️ 21 – 28 Juni 2025 📍 Pantai Sorake, Nias Selatan, Sumatra Utara Lo kira ombak kenceng cuma ada di Hawaii atau Afrika Selatan? Salah besar bro! Di Pantai Sorake, Nias, para surfer dari seluruh dunia bakalan ngadu skill mereka lawan ombak ganas yang jadi incaran surfer profesional. WSL Qualifying Series 6000 tahun ini hadir lagi dan makin seru! Ada 4 kategori nih: Men’s QS 6000, Women’s QS 6000, Men’s Pro Junior, dan Women’s Pro Junior. Bayangin serunya liat atlet kelas dunia pamer aksi ekstrem di ombak lokal kita sendiri. Sumpah, ini bukan event kaleng-kaleng! 🏃 Dieng Caldera Race 2025 – Trail Running Sekalian Healing Liat Kabut 🗓️ 20 – 22 Juni 2025 📍 Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah       View this post on Instagram A post shared by Prita Sekar (@pritaskr) Buat lo yang suka tantangan dan pengen sekalian olahraga sambil liat pemandangan kece, wajib banget ikutan Dieng Caldera Race 2025. Nggak cuma soal lari, event ini juga peduli banget sama inklusi disabilitas lho, karena tahun ini temanya “Tea Run for Disability Inclusion”. Ada empat kategori jarak: 10 km, 25 km, 45 km, dan 85 km. Tapi yang bikin makin unik tuh bukan cuma lintas alamnya aja, ada juga panggung budaya lengkap sama tari-tarian lokal, seni tradisional dan pameran khas Dieng. Olahraga dapet, budaya juga dapet. Paket komplit! [Baca juga : "Tradisi Idul Adha Nusantara, Dari Ngejot Sampai Manten Sapi, Seru Banget!"] 🎷 Maratua Jazz & Dive Fiesta 2025 – Snorkeling Sambil Nikmatin Jazz? Bisa Banget! 🗓️ 25 – 29 Juni 2025 📍 Pulau Maratua, Kalimantan Timur Lo tau nggak sih ada konser jazz yang venue-nya literally di pulau tropis? Welcome to Maratua Jazz & Dive Fiesta 2025! Bukan cuma soal musik aja, event ini ngangkat lima konsep keren: Conservation, Community, Culture, Culinary & Concert. Sambil nikmatin alunan musik jazz dari musisi lokal dan internasional, lo juga bisa nyebur buat snorkeling atau diving, bahkan foto-foto sunrise yang epic banget. Diselenggarain bareng WartaJazz dan Yayasan Berau Lestari, ini salah satu event paling chill dan eksotis tahun ini! 🎭 Pesta Kesenian Bali 2025 – Budaya Bali All Out! 🗓️ 21 Juni – 19 Juli 2025 📍 Taman Budaya Provinsi Bali Bali nggak pernah gagal bikin lo jatuh cinta, apalagi kalo dateng ke PKB alias Pesta Kesenian Bali. Tahun ini udah edisi ke-47 lho! Bawain tema Jagat Kerthi: Lokahita Samudaya yang artinya “Harmoni Semesta Raya”, event ini bakal nampilin 20.000 seniman dari seluruh Bali dan luar daerah. Mulai dari parade budaya, lomba-lomba khas Bali kayak Layangan Bebean, lomba cerita rakyat Masatua Bali, sampe lomba jurnalistik buat wartawan lokal. Jadi lo nggak cuma nonton doang, tapi juga bisa ngerasain vibes lokal yang kental banget. 🌿 Semasa Piknik 2025 – Belanja Santai Sambil Rebahan di Taman 🗓️ 27 – 29 Juni 2025 📍 Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat Lo yang demen nongkrong cantik tapi tetep pengen belanja barang-barang lokal yang artsy, kudu dateng ke Semasa Piknik 2025. Di sini ada sekitar 275 tenant dari brand lokal yang jualan produk kreatif kekinian, plus 90 tenant kuliner yang bisa manjain lidah lo! Yang paling seru, ada live music juga! Sambil nikmatin performance dari musisi lokal, lo bisa rebahan di tikar taman atau bean bag yang udah disiapin. Mau dateng sendiri, sama doi, atau geng lo, vibe-nya tetep chill dan asik abis! Juni ini tuh bener-bener full vibes positif, Bro! Dari Jogja sampe Maratua, dari Bali sampe Nias, semuanya punya sesuatu yang spesial buat lo datengin. Lo bisa sambil healing, belajar, ngonten, atau sekedar cari angin segar bareng temen. Makanya, langsung deh catet tanggalnya di kalender lo dan siapin outfit terbaik! Jangan sampe nyesel karena kelewat event-event kece ini! (Sumber Foto @mahendraoka21)
...more

Kota Tua Tegal, Sebuah Sejarah dan Cagar Budaya

TripTrus.Com - Kota Tegal merupakan salah satu Kota di Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah keseluruhan 39,5 km2 dan terbagi menjadi 4 Kecamatan dan 27 Desa. Kota Tegal merupakan sebuah Kota Tua yang berusia lebih dari 4 abad. Wilayah yang kaya akan jejak sejarah, terlihat dari berbagai bangunan legendaris peninggalan masa lampau yang menandakan Kota Tegal sudah berkembang sejak jaman dulu. Secara historis menjelaskan bahwa Kota Tegal sejak Zaman Belanda dikenal sebagai pusat perdagangan era kolonial. Secara letak yang strategis, tahun 1927 Kota Tegal menjadi Ibukota Keresidenan terdiri dari daerah Tegal, Pemalang, dan Brebes. Jadi tidak hanya Jakarta yang memiliki Kota Tua, Kota Tegal juga memiliki Kota Tuanya tersendiri dan teramat sayang untuk dilewatkan ketika berkunjung ke sana. Berikut ini merupakan bangunan-bangunan bersejarah dan menjadi cagar budaya Kota Tegal yang wajib dikunjungi 1. Dansional (Sumber foto: achmadrizal.staff.telkomuniversity.ac.id) Dansional Tegal yang terletak di Jalan Proklamasi, dibangun tahun 1914. Bangunan ini dulunya adalah Nederlandsch-Indisch Handelsbank yang sekarang digunakan oleh TNI sebagai markas besar di Tegal. Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, Kota Tegal menjadi lokasi didirikannya Badan Keamanan Rakyat – Laut (BKR Laut) yang merupakan cikal bakal dari pembentukan TNI Angkatan Laut saat ini. 2. Pasar Pagi (Sumber foto: panoramio.com) Pasar Pagi Tegal berdiri dibekas Benteng Kaloran. Bentuk benteng yang terbuat dari batu bata tebal dengan pilar-pilar berbentuk benteng berdiameter panjang 6 meter lebar 6 meter dan tinggi 3,5 meter. Meskipun telah banyak perubahan dikarenakan renovasi sana-sini, Pasar Pagi Tegal tidak menghilangkan jejak sejarahnya sebagai sebuah benteng. 3. Waterleideng (Sumber foto: traveluxion.web.id) Pada jaman Belanda di tahun 1917, Tower Woterleideng Bedrif of Province Maden Java (Watertoren) dibangun guna untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kota Tegal. Pada era tahun 60-an, sirine bagian atas menara difungsikan sebagai sirine tanda buka puasa dan tanda imsak. Bangunan ini sekarang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). 4. Gedung DPRD (Sumber foto: simpanglima.wordpress.com) Bangunan peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1750an oleh Mathijs Willem de Man (1720-1763) semula menjadi rumah pribadi Residen Tegal. Fungsi bangunan ini berubah menjadi Balai Kota Tegal, pada tahun 1987. Dan gedung ini resmi  menjadi kantor DPR Tegal setelah Balaikota Tegal pindah dari Jl. Pemuda ke Jl. Kigede Sebayu. 5. Kantor Pos Besar (Sumber foto: metropolispos.wordpress.com) Diperkirakan Kantor Pos Besar Tegal dibangun sekitar tahun 1930an yang digunakan untuk Markas Angkatan Laut. Kemudian diserahkan kepada PTT (Posts Telegraafend Telefoon Diensts) pada tahun 1954 dan pada tahun 1961 PTT berubah menjadi Perusahaan Negara (PN) Pos dan Telekomunikasi. 6. Stasiun Kereta Api (Sumber foto: panoramio.com) Perusahaan trem Belanda JSM (Java Spoorweg Maatschappij) membangun Stasiun Kereta Api Tegal apda tahun 1885. Kemudian pada tahun 1897 Stasiun Kereta Api Tegal dibeli oleh maskapai perkeretaapian SCS (Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij. Sebagian bangunannya pada tahun 1918 direnovasi dengan karya arsitek Henri Maclaine Pont. 7. Pendopo Balaikota (Sumber foto: artonortega74.blogspot.co.id) Pendopo Balaikota Tegal  (Pendopo Ki Gede Sabayu) berdiri tahun 1825, yang sebelumnya berada di Kompleks Kaloran. Pada masa awal Kemerdekaan Gedung ini digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Tegal. Pada Masa pimpinan Sjamsuri Mastur Gedung ini di tempati Pemerintah Kota Tegal. 8. Gedung Birao (SCS) (Sumber foto: achmadrizal.staff.telkomuniversity.ac.id) Gedung Birao atau pada masa Belanda Gedung SCS (Samarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij) dibangun Belanda pada tahun 1913. Dengan konsep arsitektur eropa pada Negara jajahan (Euroeesche Stoomtram Maatschappij).  Pada tahun 1980 bekas gedung SCS di Jl. Pancasila No 2 sempat digunakan sebagai Kampus UPS (Universitas Panca Sakti) 9. Masjid Agung Kota Tegal (Sumber foto: artonortega74.blogspot.co.id) Berdasarkan cerita, pembangunan Masjid Agung Kota Tegal berbarengan dengan pembangunan Pendopo Balaikota pada tahun 1825. Meskipun pada akhirnya pembangunan Masjid Agung Kota Tegal dilakukan secara bertahap. Berdiri di atas tanah wakaf pemberian seorang Penghulu I di Tegal bernama Kiai Abdul Aziz yang dikenal juga sebagai seorang mubaligh 10. Kelenteng Tek Hay Kiong (Sumber foto: ditegal.com) Kelenteng Tek Hay Kiong didirikan pada tahun tahun ke 17 pemerintahan Kaisar Dao Guang dari Dinasti QING (1837 M) oleh Kapiten Tan Koen Hway (Chen Kun Huai) bersama rekan-rekannya serta masyarakat Tegal. Berdasarkan prasasti yang ada, pembangunan Kelenteng Tek Hay Kiong ini dianggap sebagai restorasi yang pertama. Yang kemudian disusul oleh restorasi kedua pada dilaksanakan pada tahun 1897, ketiga tahun 1957 dan restorasi keempat dilaksanakan pada tahun 1982. 11. Bioskop Dewa dan Bioskop Dewi (Sumber foto: artonortega74.blogspot.co.id) Bioskop Dewa (Rex) dan Bioskop Dewi (Roxy) merupakan bioskop pertama yang hadir di Kota Tegal. Bioskop Dewa dibangun di sebelah selatan alun-alun Kota Tegal sedangkan Bioskop Dewi dibangun di sebelah utara alun-alun. Tidak ada catatan yang jelas, di antara kedua bioskop tersebut siapa yang paling duluan beroperasi. Namun diperkirakan kedua bioskop tersebut sudah berdiri sejak tahun 1930an. (Sumber: Artikel @Amieykha Foto wovgo.com)
...more

Kapan Waktu Terbaik Buat Jalan-Jalan Berbagai Tempat Di Indonesia?

TripTrus.Com - Waktu yang pas buat jalan-jalan ke Indonesia itu antara Mei sampai September. Di sini, cuaca kering, enak buat eksplorasi! Nah, Indonesia kan ada 17.508 pulau, jadi cuacanya beda-beda di setiap tempat. Di pulau-pulau barat dan tengah kayak Bali, Jawa, Gili, Lombok, dan Komodo, saat kering itu yang paling banyak dikunjungi. Tapi jangan lupa, musim hujan dari Oktober sampai April juga nggak kalah seru! Jadi gini, kalau lo mau ke Bali, waktu keringnya itu dari April sampai September, cuacanya cerah dan bikin betah. Momen paling oke itu di bulan Mei, Juni, dan September. Orang-orang yang pengen ke pantai kayak Jimbaran, Sanur, dan Seminyak juga gak bakal ketemu kerumunan yang bikin stress. Musim hujan di Bali itu antara Oktober sampai Maret, tapi biasanya hujannya cuma sebentar, bukan hujan lebat seharian.       View this post on Instagram A post shared by Yaron bindels (@yaronbindels) Di Jawa, waktu terbaik itu juga sama, dari Mei sampai September. Suasana cerah, kering, dan enak buat yang mau naik gunung kayak Bromo atau Ijen. Musim hujan di sini antara November sampai Maret, dan hujan yang paling banyak itu di bagian barat. Suhu di Jawa tetap hangat, sekitar 28-30°C, tapi malamnya bisa dingin di daerah pegunungan. Terus di Nusa Tenggara, kayak Lombok dan Gili, musim keringnya dari April sampai September. Cocok banget buat yang mau diving atau naik gunung Rinjani. Musim hujan di sini antara Oktober sampai Maret, dengan curah hujan tertinggi di November sampai Januari. Suhunya mirip Bali, sekitar 27-29°C. [Baca juga : "Safari Seru Di Jakarta, Petualangan Kekinian Yang Nggak Boleh Dilewatkan!"] Nah, Sumatra itu juga unik. Di Medan dan Sumatra Utara, hujan bisa turun kapan saja, terutama di daerah hutan. Hujan paling deras itu biasanya antara Oktober sampai Januari. Tapi, Palembang dan Sumatra Selatan lebih teratur, musim kering dari April sampai Oktober, dan hujan dari November sampai Maret. Suhunya ada di kisaran 27-28°C, tapi bisa sampai 33-34°C di bulan-bulan kering. Kalau lo ke Kalimantan, musim keringnya dari Juni sampai September, dengan bulan Agustus dan September jadi yang paling kering. Suhunya bisa panas banget, dari 23°C di malam hari sampai 33°C di siang hari. Orangutan juga bisa lo liat di Tanjung Puting, tapi lebih susah dicari saat musim hujan. Sulawesi itu juga beda-beda cuacanya. Di Toraja, hujan datang antara November sampai April, sedangkan Manado di utara itu hujan terus. Suhu di pantai bisa sampai 34°C, sedangkan di pegunungan bisa turun jadi 24°C. Di Moluccas, cuacanya juga beda. Antara Juni dan September ada hujan, jadi lebih baik ke sana antara Oktober dan Mei. Ke pulau-pulau di Moluccas selatan, waktu terbaiknya juga sama, antara Mei dan September. West Papua dan Raja Ampat sih bisa dikunjungi kapan aja, karena suhu di sini stabil. Di Raja Ampat, suhu harian sekitar 30°C sampai 34°C. Tapi dari Juni sampai September, ada kemungkinan hujan dan angin kencang, jadi hati-hati kalo mau naik perahu. Intinya, lo bisa nikmatin keindahan Indonesia dengan waktu yang tepat! Selamat jalan-jalan! (Sumber Foto @sacadosetcrustaces) 
...more

Wisata Sejarah Bukittinggi, 6 Fakta Keren Museum Rumah Bung Hatta

TripTrus.Com - Kota Bukittinggi, yang jadi tempat lahirnya Wakil Presiden pertama sekaligus Proklamator RI, Bung Hatta, punya banyak destinasi seru, lho. Namanya juga Bukittinggi, kota ini ada di dataran tinggi Sumatera Barat, sekitar 100 km dari Bandara Internasional Minangkabau, Padang. Suasana sejuk dan view bukit bikin perjalanan ke sana makin asyik, apalagi jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan tebing di kanan kiri.       View this post on Instagram A post shared by Ikhsan Yody Farhan (@ikhsan.yody) Bukittinggi juga terkenal sama Jam Gadang, tapi ada destinasi yang nggak kalah bersejarah dan bikin kita tambah pinter, yaitu Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Di sini kamu bisa ngintip kehidupan Bung Hatta kecil sampai perjuangannya buat memerdekakan Indonesia! Sebelum mampir, yuk cek dulu 6 fakta menarik tentang museum ini. 1. Dibangun Sekitar Tahun 1860 Rumah masa kecil Bung Hatta dibangun sekitar 1860-an dengan kayu sebagai material utama. Ada bangunan utama, paviliun, lumbung padi, dapur, dan kandang kuda. Bangunan utama buat ruang tamu, makan, dan kamar keluarga. Nah, paviliun jadi kamar tidur Bung Hatta kecil. 2. Bung Hatta Tinggal di Sini Sampai Umur 11 Bung Hatta lahir di Bukittinggi, dulu namanya Fort De Kock, tanggal 12 Agustus 1902. Di rumah ini, dia tinggal sampai usia 11 tahun sebelum pindah ke Padang buat sekolah. Meski cuma 11 tahun, rumah ini berperan besar banget dalam pembentukan karakter Bung Hatta. Di sini, dia belajar disiplin, sederhana, dan penuh kasih sayang. [Baca juga : "5 Tempat Hits Di Bali Yang Bikin Lo Ngerasa Kayak Julia Roberts Di Eat Pray Love"] 3. Dibangun Ulang Tahun 1994 Rumah aslinya sempat runtuh tahun 1960-an, tapi kemudian dibangun ulang di tahun 1994 atas ide dari Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta. Proses pembangunan dimulai tanggal 15 Januari 1995, dan diresmikan pada 12 Agustus 1995, pas hari ulang tahun Bung Hatta dan 50 tahun Indonesia Merdeka. 4. Perabotannya Masih Asli, Lho! Rumah ini dibangun ulang tapi tetep pakai konsep asli. Sebagian besar perabotan di dalam rumah juga masih asli, warisan dari masa kecil Bung Hatta. Bahkan sepeda ontel yang sering dipakai Bung Hatta masih ada, tersimpan di paviliun belakang. 5. Info Sejarah Bung Hatta Lengkap Banget Di museum ini, kamu bisa lihat gimana sederhananya kamar Bung Hatta. Kamar kecil dengan lemari penuh buku. Selain itu, ada info tentang silsilah keluarga Bung Hatta dan foto-foto perjuangannya dalam meraih kemerdekaan Indonesia. 6. Lokasi Dekat Jantung Kota Bukittinggi Museum ini gampang banget dijangkau, lokasinya di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi. Hanya butuh waktu jalan kaki 15 menit dari Jam Gadang. Serunya lagi, masuk museum ini gratis! Buka setiap hari dari jam 08.00-17.00 WIB.Jadi, kapan mau ke sini? Jangan sampai kelewatan, ya! (Sumber Foto @khairawwrrr) 
...more

Tari Kipas Pakarena

Tari Kipas Pakarena merupakan ekspresi kesenian masyarakat Gowa yang sering dipentaskan untuk mempromosi pariwisata Sulawesi Selatan. Dalam bahasa setempat, “pakarena” berasal dari kata “karena” yang memiliki arti “main”. Tarian ini sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Gowa yang merupakan bekas Kerajaan Gowa.Tidak ada yang tahu persis sejarah tarian ini. Namun menurut mitos, tarian Pakarena berawal dari kisah perpisahan antara penghuni boting langi (negeri khayangan) dengan penghuni lino (Bumi) pada zaman dahulu. Konon sebelum berpisah, penghuni boting langi sempat mengajarkan bagaimana cara menjalani hidup, bercocok tanam, beternak, dan berburu kepada penghuni lino, melalui gerakan-gerakan badan dan kaki. Selanjutnya, gerakan-gerakan itu pula yang dipakai penghuni limo sebagai ritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada penghuni boting langi.Ekspresi kelembutan akan banyak terlihat dalam gerakan tarian ini, mencerminkan karakter perempuan Gowa yang sopan, setia, patuh dan hormat terhadap laki-laki pada umumnya, khususnya terhadap suami. Tarian ini sebenarnya terbagi dalam 12 bagian, meski agak susah dibedakan oleh orang awam karena pola gerakan pada satu bagian cenderung mirip dengan bagian lainnya. Tapi setiap pola mempunyai maknanya sendiri. Seperti gerakan duduk yang menjadi tanda awal dan akhir pementasan tarian Pakarena. Gerakan berputar searah jarum jam melambangkan siklus hidup manusia. Sementara gerakan naik turun mencerminkan roda kehidupan yang kadang berada di bawah dan kadang di atas.Tarian Kipas Pakarena memiliki aturan yang cukup unik, di mana penarinya tidak diperkenankan membuka matanya terlalu lebar, sementara gerakan kakinya tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Tarian ini biasanya berlangsung selama sekitar dua jam, jadi penarinya dituntut untuk memiliki kondisi fisik yang prima.Sementara itu, tabuhan Gandrang Pakarena yang disambut dengan bunyi tuip-tuip atau seruling akan mengiringi gerakan penari. Gemuruh hentakan Gandrang Pakarena yang berfungi sebagai pengatur irama dianggap sebagai cermin dari watak kaum lelaki Sulawesi Selatan yang keras. Sebagai pengatur irama musik pengiring, pemain Gandrang harus paham dengan gerakan tarian Pakarena. Kelompok pemusik yang mengiringi tarian ini biasanya berjumlah tujuh orang, dan dikenal dengan istilah Gondrong Rinci. Tidak hanya penari saja yang bergerak, penabuh gandrang juga ikut menggerakkan bagian tubuhnya, terutama kepala.  Ada dua jenis pukulan yang dikenal dalam menabuh gandrang, yaitu menggunakan stik atau bambawa yang terbuat dari tanduk kerbau, dan menggunakan tangan. Sumber: http://www.indonesiakaya.com
...more

Pojok Selfie Instagramable Kampung Berkelir Tangerang

TripTrus.Com - Jika mendengar nama kota Tangerang, mungkin akan langsung terbesit wisata kuliner Pasar Lama, atau wisata sejarah Klenteng Tua Boen Tak Bio. Namun, ternyata kota Tangerang memiliki satu lagi objek wisata yang wajib Anda kunjungi jika berada di kota tersebut. Terletak di pusat jantung kota Tangerang, dan menjadi pintu gerbang dari objek wisata Tangerang, tempat wisata dengan nama Kampung Berkelir ini wajib untuk dikunjungi Saat berkunjung ke sini, Anda bisa berpose dengan latar belakang lebih dari 1.121 mural dan grafiti yang Instagramable. Kampung ini sengaja dibuat penuh warna dengan menghabiskan sekitar 1.435 kaleng cat, dibantu oleh 120 seniman dari berbagai kota di Indonesia, dan warga kampung babakan sendiri yang dengan antusias bekerja hingga 24 jam. Tak hanya berswafoto, saat berada di sini, Anda juga bisa berkeliling kota Tangerang, dan menikmati segala objek wisata menggunakan kendaran khas kota Tangerang, yaitu odong-odong yang juga berhias mural dan grafiti. Mulai dari pijakan, dinding, hingga atap, semua penuh warna dan dihiasi mural warna-warni. Saat menginjakkan kaki di tempat ini, Anda juga bisa sekaligus mencicipi makanan khas Kampung Berkelir, seperti nasi ulam, getuk, emping jengkol, Tauge Kacang Hijau, Sayuran Hidroponik, Jahe Merah, Dodol Jahe Wijen, dan Sambel Pecel khas Kota Tangerang. (Sumber: Artikel viva.co.id Foto housing-estate.com)
...more

Limun Oriental

TRIPTRUS.COM - Oriental  yang didirikan oleh Njoo Giok Lien sekitar tahun 1920. Oriental merupakan pelopor pabrik rumahan yang memproduksi minuman bersoda yang khas. Fakta yang unik pabrik rumahan Limun Oriental ini lebih tua dibanding minuman terkenal Amerika Serikat Coca Cola atau Sprite yang baru berdiri tahun 1944 silam. Njoo Giok Lien bersama sang istri mendirikan pabrik Limun Oriental, Di zaman dulu minuman ini hanya diminum oleh orang-orang kaya zaman itu. Limun Oriental memproduksi 9 varian rasa yaitu rasa nanas, kopi, moka, jeruk, framboze, sirsak sitrun, anggur dan leci, limun-limun ini dipasarkan di wilayah Semarang. Kita bisa menikmati kesegaran soft drinks ini langsung dari pabriknya yang terletak di belakang lapas Pekalongan kota atau masuk dari jalan antara Batik TV dan Museum Batik 50 meter di kiri jalan. Limun Oriental lebih memproduksi dalam jumlah terbatas karena kalah saing dengan minuman softdrinks lainya, Oriental ini lebih menjual air sodanya ke penduduk lokal Pekalongan dengan cara pembuatannya yang masih tradisional. Limun Oriental ini berbentuk rumah yang bernuansa jadul dengan pajangan-pajangan jaman dulu di rumah itu juga menyediakan tempat duduk untuk menikmati minuman limun tersebut dan didalam rumahnya itu ada pabriknya langsung, Anda bisa melihat proses pembuatanya antara lain seperti mengolah gula sendiri direbus dengan kayu bakar menggunakan loyang yang besar, mesin untuk cuci nya manual direndam botolnya di suhu yang tinggi, untuk produksinya ada mesin pencampuran air dan gas, mesin pencampuran rasa,dan penutupan botol dilakukan dengan mesin tradisonal. Resep untuk membuat minuman soda itu awalnya pemiliknya diajari oleh orang Belanda dan kalau rasanya itu mereka mencoba-coba sendiri hingga menjadi nikmat.
...more

Pariwisata Aceh Siap Bangkit, 101 Event dalam Khazanah Piasan Nanggroe 2022 Diluncurkan

TripTrus.Com - Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh meluncurkan sebanyak 101 event wisata selama tahun 2022. Peluncuran itu digelar di gedung Amel Convention Hall, Banda Aceh. 101 event wisata yang dikemas dalam Khazanah Piasan Nanggroe 2022 itu meliputi wisata berbasis alam, budaya dan sejarah. Dengan jumlah event yang terbilang banyak ini diharapkan bisa memperkuat posisi Aceh sebagai destinasi wisata yang patut diperhitungkan di Indonesia. Dari jumlah itu, tiga event wisata unggulan Aceh masuk dalam program Kharisma Event Nusantara (KEN) 2022 Kemenparekraf, yakni Aceh Festival Ramadhan, Aceh Culinary Festival, dan Aceh Perkusi.        Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Lasqi Aceh Official (@dpw.lasqiaceh) Salah satunya terpilih dalam Top Ten KEN 2022, yakni Aceh Culinary Festival yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Jamaluddin meyakini semakin banyak atraksi wisata, akan mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke Tanah Rencong. Apalagi atraksi wisata tersebut juga akan dikemas dengan semenarik mungkin, agar wisatawan bisa betah dan bertahan lama di Aceh.  "Tahun ini Khazanah Piasan Nanggroe akan menampilkan 101 event wisata dan budaya yang merupakan hasil kurasi event-event berkualitas pengajuan dari 23 kabupaten/kota," kata Kadisbudpar Aceh Jamaluddin, selaku ketua panitia kegiatan. Menurut Jamaluddin, peluncuran Khazanah Piasan Nanggroe dan Festival The Light Of Aceh hari ini sebagai momentum kebangkitan industri dan promosi pariwisata di Aceh untuk pemulihan ekonomi masyarakat. Sebelumnya, Khazanah Piasan Nanggroe 2022 atau yang selama ini dikenal sebagai Kalender of Event (CoE) merupakan kolaborasi Pemerintah Aceh melalui Disbudpar Aceh dan pemerintah kabupaten/kota serta instansi lainnya. “Event Khazanah Piasan Nanggroe dilandasi pada prinsip pembangunan keberlanjutan yakni meningkatkan kunjungan wisatawan, memberdayakan ekonomi lokal, dan memberikan dampak positif pada ekonomi, sosial, budaya, serta lingkungan,” katanya. Aktivitas penyelenggaraan event dalam masa pandemi ini, kata Jamaluddin harus dilakukan dengan kombinasi online dan offline, adaptif dan inovatif, mengedepankan protokol kesehatan serta menerapkan CHSE atau 4K, yakni kesehatan, kebersihan, keamanan, dan kelestarian lingkungan. “Semakin banyak jumlah atraksi wisata akan semakin berkembang destinasi baru di Aceh, dan semakin terbukanya Aceh kepada wisatawan sebagai destinasi yang aman dan nyaman,” ujarnya. Sementara itu, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyambut baik agenda wisata di Aceh setelah sempat terhenti karena pandemi Covid-19. Meskipun sempat mengalami penurunan jumlah kunjungan wisatawan, Gubernur Nova yakin, tahun ini semangat wisata Aceh kembali bergeliat.  Untuk itu, Pemerintah Aceh bergerak cepat menyusun event wisata semenarik mungkin agar mampu mendatangkan wisatawan domestik dan mancanegara untuk bisa berkunjung ke Aceh.  [Baca juga : "Pengamat: Pariwisata Indonesia Perlahan Bangkit Seiring Libur Lebaran"] “Aktivitas wisata kita sempat mengalami penurunan akibat pandemi, namun kita harus yakin, tahun ini pandemi bisa mereda dan geliat wisata kembali bergeliat dan normal,” ujar Gubernur saat memberikan sambutan. Pembangunan pariwisata di Aceh, kata Gubernur, juga mendapat prioritas untuk dikembangkan melalui tiga komponen yaitu Aksesbilitas, Amenitas dan Atraksi. Ia berharap masyarakat dunia bisa mengambil momentum ini untuk bisa mengenal lebih dekat wisata, seni dan budaya Aceh.  “Ini seperti perintah Presiden, kita harus melakukan pemulihan ekonomi nasional melalui pintu-pintu industri pariwisata,” ujar Gubernur Aceh, sekaligus meluncurkan Khazanah Piasan Nanggroe 2022 dan Festival The Light Of Aceh. (Sumber: Artikel acehprov.go.id Foto @riza_azhari) 
...more

Indonesia Mountain Tourism Conference, Ngehitsnya Wisata Gunung di Indonesia

TripTrus.Com - Ministry of Tourism and Creative Economy/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) ngasih support buat acara 1st Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) buat nunjukin potensi wisata gunung yang keren banget di Indonesia. Nah, buat yang gak tau, acara ini digelar pas hari Pariwisata Dunia, yakni tanggal 27 September nanti. Info ini kita dapet dari "The Weekly Brief With Sandi Uno" yang diadain di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, pada Senin (18/9/2023). Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf/Baparekraf yang akrab disapa Itok Parikesit cerita kalo konferensi keren ini bakal diadain di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk, Jakarta Barat, dan ini juga jadi salah satu side event keketuaan Indonesia di ASEAN. Dalam pembicaraannya, Itok ngarepin banget konferensi ini bisa jadi kesempatan buat ngerangkul semua pihak di Indonesia buat ngegali potensi wisata gunung yang keren abis. Tau gak, Indonesia punya banyak banget destinasi wisata gunung yang bisa bikin mata kita melek. "Itu nih, Indonesia punya gunung lebih banyak dari negara lain di dunia, tapi masalah pengelolaan atraksi dan pengunjungnya masih rada ribet. Nah, di konferensi ini, kita bakal undang semua orang penting buat diskusiin cara mengembangkan wisata gunung di Indonesia," kata Itok. [Baca juga : "Efek Wisata Halal, Jumlah Hotel Syariah Di Indonesia Melejit 500%"] Nia Niscaya, si Ahli Utama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif dari Kemenparekraf/Baparekraf, nambahin juga kalo selain membahas potensi wisata gunung, konferensi ini juga bakal ngebahas aturan-aturan yang harus diikutin sama para penggemar wisata gunung. Soalnya, wisata gunung jadi favorit banget buat para wisatawan selama pandemi COVID-19, dan trennya masih terus berlanjut. "Di event ini, kita juga bakal bahas apa yang boleh dan nggak boleh dilakuin sama wisatawan dan pihak-pihak terkait. Semua itu buat bikin wisata gunung jadi sesuatu yang bisa berlanjut terus," kata Nia. (Sumber Foto @infopublik.id) 
...more

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Open Trip Dieng Plateau
10 - 12 Jul 2026
Treaking Gunung Papandayan
10 - 11 Jul 2026
Open Trip Pulau Pari
11 - 12 Jul 2026
Open Trip Pulau Tidung
11 - 12 Jul 2026
×

...