Kota Tomohon siap menebar pesona dan potensinya sebagai "Kota Bunga" dengan menggelar Tomohon Internasional Flower Festival (TIFF) 2016. Acara tersebut akan berlangsung pada 8-12 Agustus 2016. Acara ini akan jadi tontonan gratis bagi masyarakat lokal dan wisatawan mancanegara yang berlibur ke Tomohon.
Walikota Tomohon, Jimmy F Eman, mengatakan bahwa festival berskala internasional ini akan menghadirkan banyak wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara. Target Sulawesi Utara untuk wisatawan mancanegara sekira 1 juta, Tomohon optimis bisa meraih 10 persennya lewat Festival Bunga Tomohon ini.
"Ini sudah pasti akan berdampak luas bagi perekonimian, jasa dan barang, serta dampak lainnnya yang bisa dinikmati masyarakat Kota Tomohon," katanya.
Kehadiran peserta mancanegara tahun ini juga lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, dimana ada peserta baru berasal dari Tiongkok, Australia, New Zealand, Hongkong, Rusia, Amerika, Perancis, Thailand dan Filipina. Negara-negara tersebut akan mendekorasi mobil-mobil besar dengan bunga berwarna-warni.
Mariam Rau, Kepala Dinas Pariwisata Kota Tomohon menambahkan bahwa TIFF diselenggarakan dalam rangka memperkenalkan destinasi-destinasi wisata di Kota Tomohon. Semakin banyak promosi yang dilakukan, wisatawan semakin tahu potensi wisata yag tidak kalah menarik dibanding daerah lain.
Kota Tomohon berlokasi 22 km dari Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara. Kondisi tanah yang subur dan udara yang sejuk membuatnya cocok untuk membudidayakan berbagai jenis bunga dan sayuran. Kota ini dikenal sebagai penghasil bunga. Saat musim berbunga tiba maka di sinilah tempat bunga-bunga indah bermekaran bahkan taman di rumah penduduk lokal dapat turut Anda nikmati. (Sumber: Artikel pesona.indonesia.travel Foto jpnn.com)
May/18 | Mandar Culture Festival 2026
TripTrus.Com - Mandar Culture Festival (MCF) 2026 bakal jadi salah satu event budaya paling pecah di Sulawesi Barat. Mengusung tema “Menjaga Warisan, Merajut Masa Depan”, festival ini bukan cuma soal pertunjukan seni biasa, tapi juga jadi ruang buat ngenalin identitas budaya Mandar ke level yang lebih luas, bahkan internasional. Event keren ini dijadwalkan berlangsung pada 26–30 Mei 2026 di kawasan Sport Center Polewali dan siap menghadirkan vibes tradisional yang dikawinin sama sentuhan modern biar makin relate sama anak muda zaman sekarang.
View this post on Instagram
A post shared by Sastra Trotoar (@sastratrotoar02)
Festival ini digarap serius oleh Yayasan Badara bersama berbagai komunitas dan lintas profesi. Jadi bukan sekadar acara seremonial yang lewat gitu aja, bro. Founder Yayasan Badara sekaligus Project Director MCF 2026, Nurfadilah, bilang kalau konsep festival tahun ini sekitar 80 persen mengangkat budaya asli Mandar, sementara sisanya dikasih sentuhan kontemporer supaya lebih fresh dan kekinian. Menurutnya, budaya Mandar punya potensi besar buat dikenal dunia lewat pendekatan yang lebih kreatif dan dekat dengan generasi sekarang.
Sebelum acara utama dimulai, bakal ada pra-event pada 18–25 Mei 2026 sebagai pemanasan menuju festival utama. Nah, rangkaian acaranya juga nggak main-main. Selama empat hari empat malam, pengunjung bakal disuguhin berbagai pertunjukan seni tari, musik tradisional, teater budaya, tradisi maritim khas Mandar, sampai pemilihan Putra Putri Sutera Mandar. Pokoknya vibes budaya lokalnya dapet banget, tapi tetap dikemas modern biar nggak monoton.
Yang bikin makin menarik, kuliner khas Mandar juga ikut jadi spotlight di festival ini. Ada Bau Peapi, Jepa, dan aneka makanan tradisional lainnya yang bakal dikenalin ke publik sebagai bagian dari promosi budaya. Bahkan Jepa sekarang lagi diusulkan ke UNESCO bersama puluhan makanan tradisional lain yang sedang diproses hak patennya di Kemenkumham. Jadi bukan cuma soal makan enak, tapi juga menjaga identitas budaya lewat rasa dan tradisi kuliner.
[Baca juga : "Surabaya Vaganza Festival Of Lights 2026"]
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Polewali Mandar, A. A Rajab, menyampaikan kalau MCF jadi momentum penting buat kemajuan budaya daerah. Menurut dia, festival seperti ini adalah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur Mandar yang terus dijaga lewat tradisi seperti Passayang-Sayang dan Sayyang Pattuduq. Festival ini juga dianggap sebagai langkah nyata untuk memastikan budaya lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Dukungan penuh juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Kepala Dispoparekraf Sulbar, Bau Akram Dai, menegaskan bahwa persiapan acara harus matang dan detail supaya pelaksanaannya maksimal. Menurutnya, Mandar Culture Festival punya peluang besar jadi wajah promosi pariwisata Sulbar di tingkat nasional karena event ini sudah masuk dalam Karisma Event Nusantara 2026 dari Kementerian Pariwisata RI. Buat pemerintah daerah, festival ini bukan cuma soal hiburan, tapi juga harus mampu ngasih dampak ekonomi nyata buat masyarakat, terutama pelaku UMKM, ekonomi kreatif, dan sektor pariwisata.
MCF 2026 sendiri ditargetkan melibatkan sekitar 300 UMKM lokal. Jadi selain ngenalin budaya, event ini juga diharapkan bisa ningkatin pendapatan masyarakat dan membuka peluang usaha baru. Dari kuliner, kerajinan tangan, fashion sutera Mandar, sampai produk kreatif lokal bakal punya panggung buat tampil dan dikenal lebih luas. Bisa dibilang, festival ini jadi bukti kalau budaya bukan cuma warisan masa lalu, tapi juga modal penting buat masa depan ekonomi daerah.
Lewat Mandar Culture Festival 2026, Polewali Mandar pengin nunjukin kalau menjaga budaya itu nggak harus kaku dan jadul. Justru dengan kolaborasi, kreativitas, dan sentuhan modern, budaya lokal bisa tetap hidup, keren, dan dicintai generasi muda. Jadi kalau lo pengen ngerasain pengalaman budaya yang autentik tapi tetap fun dan relate sama vibe anak sekarang, MCF 2026 wajib banget masuk wishlist lo tahun depan. (Sumber Foto @sanggar_mabello)...
more.