shop-triptrus

Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival 2025


When
: 06 - 07 Sep 2025
Location
: Kota Sawahlunto, Sumatera Barat
Short URL
: http://triptr.us/nRG9

TripTrus.Com Bro-Sis Traveler, lo siap buat festival yang blend antara heritage, fashion, dan kuliner hits dalam satu paket? SISSCa 2025—alias Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival—bakal ngebawa lo ke vibe yang unik abis. Bayangin: songket Silungkang, kain tradisional tertua Indonesia yang udah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda, diparodikan dalam karnaval sepanjang 950 meter plus pameran kreatif UMKM, seminar songket sama pakar Asia Tenggara, lomba melukis payung, fashion show keren bareng designer nasional & internasional, dan hiburan artis Sumbar + artis nasional. Semua ini GRATIS di Kota Tua Sawahlunto tanggal 6–7 September 2025. Jadi, lo bukan sekadar nonton—lo bakal jadi bagian dari cerita keren budaya nusantara yang elegan dan hits .

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by Ian Piliang (@ianpiliang)

Festivalnya itu bukan sekadar parade songket—ini celebration gaya yang penuh seni, budaya, dan edukasi. Lo bakal diajak keliling pameran ekonomi kreatif yang tampilkan karya UMKM & produk songket terbaik, lalu lanjut ke karnaval songket sepanjang 950 meter yang epic abis. Ghibahin tren fashion sambil liat karya warisan budaya go international. Sumpah, ini bukan cuma story IG; ini pengalaman nyata yang nge-boost kreativitas lokal sekaligus branding wisata Sawahlunto .

Ada juga seminar bareng pakar songket Asia Tenggara—nggak cuma buat pamer, tapi juga edukasi dan kolaborasi. Lo bisa dapet insight tentang teknik songket, filosofi motif, dan future weaving culture. Plus, lomba nge-cat payung dan fashion show songket bareng designer nasional & internasional siap bagi momen Insta-worthy. Semua ini bikin SISSCa bukan sekadar karnaval tapi branding budaya yang memorable .

[Baca juga : "Festival Payung Indonesia 2025"]

Last but not least, hiburannya juga gak kalah gaul! Ada pertunjukan seni lokal dan penampilan artis Sumatera Barat plus artis nasional buat bikin atmosfer makin hidup. Semua dikemas keren di Kota Tua Sawahlunto yang heritage banget; yang bikin festival ini autentik, edukatif, dan entertain. Bikin lo inget kalau budaya kita itu bisa trendy juga—asal kita eksplor dan apresiasi dengan gaya kekinian.

Bro-Sis, SISSCa 2025 bukan cuma festival kamu‐datang‐kelar—ini panggilan buat lo jadi bagian dari legacy songket Silungkang. Dari parade panjang yang dramatis, seminar budaya, fashion show keren, sampai pameran UMKM lokal, semuanya diramu buat lo yang bukan cuma pengen konten kece, tapi juga meaningful. Apalagi karena lo datang GRATIS alias zero rupiah—tinggal siapin outfit kece, kamera, dan vibes open mind untuk ngerasain sendiri keindahan songket tertua Indonesia dalam format festival modern. Jadi, kapan lagi lo bisa bilang “gue di songket runway karnaval terpanjang”? Cus langsung catet tanggal 6–7 September 2025, dan jadilah spotlight-nya – karena SISSCa ngajak kita semua jadi traveler yang cerdas, apresiatif, dan tentu saja kekinian maksimal! (Sumber Foto: @m.gazali75)

   

Other Event

Apr/29 | Solo Menari 2026

TripTrus.Com - Kalau lo lagi cari event budaya yang vibes-nya beda tapi tetap relate sama zaman sekarang, Solo Menari 2026 ini wajib banget masuk radar lo. Festival tari yang digelar sehari penuh di Kota Solo ini hadir buat ngerayain Hari Tari Dunia, tapi bukan sekadar seremoni biasa—ini tuh semacam ruang bebas buat para penari mengekspresikan diri dengan cara yang fresh, kreatif, dan tentunya tetap berakar pada budaya Nusantara. Tahun ini, temanya “Aku Kipas (Aha Pankha)”, yang terinspirasi dari perjalanan panjang kipas tangan dan kipas lipat yang udah eksis sejak ribuan tahun lalu dan jadi elemen penting dalam berbagai tradisi tari di dunia, termasuk di Indonesia. [Baca juga : "Gendhing Budaya 2025"] Menariknya, konsep “kipas” di sini nggak cuma dilihat sebagai properti tari doang, tapi juga sebagai simbol yang lebih dalam—kayak berbagi manfaat, menyebarkan energi positif, dan menghubungkan satu sama lain lewat gerak dan rasa. Jadi, para penari diajak buat ngeksplorasi kreativitas mereka sebebas mungkin, menciptakan karya-karya inovatif yang tetap nyambung sama akar budaya lokal. Bisa dibilang, Solo Menari ini jadi wadah di mana tradisi dan modernitas ketemu, terus di-mix jadi sesuatu yang relevan buat generasi sekarang—baik lo yang milenial, Gen Z, atau siapa pun yang pengin ngerasain seni dengan cara yang lebih hidup dan dekat.       Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Deffry Adyatama (@deffryadyatama) Dengan atmosfer yang terbuka untuk publik, festival ini juga jadi ajang buat masyarakat luas buat lebih dekat sama dunia tari. Nggak harus jadi penari profesional dulu kok buat menikmati—cukup datang, lihat, dan rasakan sendiri gimana energi budaya itu “hidup” di tengah kota. Jadi ya, kalau lo pengin ngerasain experience budaya yang nggak kaku dan justru penuh warna, Solo Menari 2026 ini bisa jadi jawaban yang lo cari. (Sumber Foto @kam.maula)...
more.

Apr/08 | Aceh Culinary Festival 2026

TripTrus.Com - Aceh Culinary Festival 2026 (ACF26) balik lagi, dan kali ini vibes-nya makin niat, makin fresh, dan pastinya makin bikin lo ngiler, gue jamin. Dengan tema “Celebrating The Authenticity of Aceh’s Living Culinary Heritage,” festival ini nggak cuma soal makan enak, tapi juga ngerayain warisan kuliner khas Aceh yang hidup dan terus berkembang sampai sekarang. Lo bakal nemuin konsep baru yang disebut Foodscape Jalur Rasa, di mana kuliner dari 23 kabupaten/kota di Aceh sampai 10 provinsi di Sumatra dikurasi jadi satu pengalaman rasa yang super lengkap. Ditambah lagi ada 6 Pulau Kuliner dan 6 pameran tematik kekinian yang bikin festival ini terasa lebih immersive, bukan sekadar event makan biasa. [Baca juga : "Festival Adat Dan Budaya Lom Plai 2026"] Yang bikin ACF26 makin beda, mereka juga ngegabungin konsep Digital Gastronomy, jadi pengalaman kuliner lo nggak cuma analog tapi juga digital-savvy, cocok banget buat lo yang doyan konten dan update sosmed. Ada juga masterclass bareng chef kece sampai pengalaman eksklusif kayak Secret Dinner yang berasa fancy tapi tetap relate. Nggak cuma itu, festival ini juga makin peduli lingkungan, jadi lo bakal nemuin water station, sistem pemilahan sampah, dan campaign #BawaBotolSendiri—simple tapi impactful, bro.       View this post on Instagram A post shared by Valensia Harumi E. / Varumi (@valedgina) Terus, yang nggak kalah seru, ada Khanduri Aceh 23 Belanga yang vibes-nya tradisional tapi dikemas dengan cara yang lebih engaging, plus flashmob Seudati yang bikin suasana makin hidup. Bahkan pengunjung juga diajak ikut co-creation konten, jadi lo bukan cuma penonton, tapi juga bagian dari cerita. Setelah event selesai pun nggak langsung hilang gitu aja, karena bakal ada output lanjutan kayak buku kuliner, foto, sampai podcast yang makin nge-push posisi ACF sebagai ikon gastronomi Aceh. Jadi ya, kalau lo nanya ini festival worth it atau nggak—jawabannya: jelas banget iya, gue aja pengen banget ke sana. (Sumber Foto indonesia.travel)...
more.

Mar/20 | Festival Adat dan Budaya Lom Plai 2026

TripTrus.Com - Festival Adat dan Budaya Lom Plai bukan sekadar perayaan panen biasa, tapi refleksi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan leluhur yang masih dijaga erat oleh masyarakat adat Wehea di Muara Wahau. Di balik kemeriahannya, tersimpan makna filosofis yang kuat—bahwa hasil panen bukan cuma soal kerja keras, tapi juga bentuk harmoni antara manusia dan semesta. Makanya, saat puncak acara Embob Jengea digelar, seluruh warga tanpa terkecuali ikut larut dalam suasana yang sakral sekaligus hangat, dari anak-anak sampai para tetua adat, seakan semua generasi disatukan dalam satu napas tradisi yang sama. Lo bisa ngerasain kalau ini bukan event yang dibuat-buat, tapi benar-benar hidup dan tumbuh dari akar budaya mereka sendiri. [Baca juga : "Solo Menari 2026"] Dimulai dari dentuman gong sakral yang dipukul oleh keturunan raja, momen itu bukan cuma seremoni pembuka, tapi simbol izin sekaligus panggilan spiritual untuk memulai rangkaian ritual. Dari situ, gotong royong berjalan bukan sebagai kewajiban sosial semata, tapi sebagai bentuk kesadaran kolektif yang udah mendarah daging. Gue ngeliat Lom Plai ini kayak pengingat keras di tengah dunia yang makin individualistis—bahwa kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam itu bukan hal yang bisa diganti teknologi atau tren apa pun. Tradisi ini jadi semacam “ruang pulang” buat identitas mereka.       View this post on Instagram A post shared by Pesona Indonesia (@pesona.indonesia) Sejak Nehas Liah Bing ditetapkan sebagai Desa Adat dan Konservasi pada 2006, Lom Plai memang makin dikenal luas, bahkan jadi daya tarik wisata budaya. Tapi menariknya, di tengah eksposur itu, esensi sakralnya tetap dijaga, nggak berubah jadi sekadar tontonan. Justru di situlah letak kekuatannya—lo nggak cuma datang buat lihat budaya, tapi diajak untuk memahami cara hidup yang lebih selaras dan penuh makna. Jadi kalau lo pikir ini cuma festival buat konten atau estetika, jujur aja lo bakal ketinggalan inti paling pentingnya: ini adalah cerita tentang identitas, keberlanjutan, dan cara manusia menghargai hidup itu sendiri. (Sumber Foto indonesia.travel)...
more.

Comment

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Open Trip Dieng Plateau
03 - 05 Apr 2026
Open Trip Dieng Plateau
03 - 05 Apr 2026
Open Trip Sebesi Krakatau
03 - 05 Apr 2026
Open Trip Pulau Pari
04 - 05 Apr 2026
Open Trip Pulau Tidung
04 - 05 Apr 2026
×

...