shop-triptrus

Banyuwangi Ethno Carnival 2025


When
: 11 - 13 Jul 2025
Location
: Kab. Banyuwangi, Jawa Timur
Short URL
: http://triptr.us/nQW9

TripTrus.Com Bro-sis traveler, lo siap gak sih buat nyaksiin salah satu event budaya paling keren di tanah air? BEC alias Banyuwangi Ethno Carnival bakal balik lagi, bro! Dari tanggal 10 sampai 14 Juli 2025, jalanan Banyuwangi bakal disulap jadi runway budaya sejauh 2,5 km dari Alun-Alun Taman Blambangan sampe depan Kantor Bupati. Tahun ini temanya "Ngelukat – Tradition Ritual of Usingnese", dan lo bakal diajak ngintip perjalanan hidup orang Using, dari lahir sampe “afterlife” dalam kemasan yang artsy, estetik, dan tentunya super Instagramable. Fashion? Cek. Musik? Ada. Budaya? Full power. Siap-siap nambah stok konten buat feed dan story lo, ya!

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by YaKahhLusss (@kaloosh_marvin)

1. Tema “Ngelukat” yang Relate Abis sama Hidup Lo

Gak cuma sekadar parade, BEC 2025 bawa lo masuk ke dunia spiritual dan budaya Suku Using. Dari lahiran, masa kecil, nikah, sampe fase akhir hidup—all packed dalam performa yang dikemas kece. Kostumnya out of the box banget, lighting-nya gila, dan ada sentuhan kontemporer yang bikin vibes-nya tetap kekinian. Jadi, lo bisa belajar budaya sambil tetep gaya. Kapan lagi bisa spiritual trip yang stylish gini?

2. Jalan Protokol Disulap Jadi Catwalk Budaya

Lo hobi foto OOTD? Nah, BEC ini surganya! Bayangin deh, sepanjang 2,5 km jalan utama Banyuwangi jadi panggung budaya yang bisa lo telusuri sambil foto-foto. Dari Alun-Alun Taman Blambangan sampe depan Kantor Bupati, spotnya instagrammable semua. Cukup keluarin kamera, pilih angle, terus upload ke IG lo dengan hashtag #BEC2025—dijamin engagement naik! Bisa juga hunting konten buat TikTok, vlog, atau reels lo!

[Baca juga : "Festival Ronthek Pacitan 2025"]

3. Kolaborasi Musik Tradisional x Modern, Bikin Joget!

Musik di BEC ini beda dari karnaval biasa, bro. Lo bakal dengerin alat musik lokal khas Suku Using dipaduin sama beat zaman now yang catchy dan ngena. Ada yang etnik, ada juga yang indie vibes—pokoknya pas buat semua telinga Gen Z & millennial. Atmosfernya? Meriah parah. Cocok buat lo yang pengen explore musik budaya tapi tetep ngerasa fun dan hype.

4. Branding Kota Banyuwangi yang Makin Cuan dan Kreatif

BEC bukan cuma ajang show off budaya, tapi juga strategi keren buat ngebranding Banyuwangi sebagai kota kreatif dan destinasi pariwisata yang kece. Event ini juga jadi ajang bagi pelaku UMKM, kreator lokal, dan emak-emak entrepreneur buat shine di panggung nasional bahkan internasional. So, kalau lo anak muda yang cinta daerah, ini waktunya lo dukung karya lokal!

Bro-sis traveler, percaya deh, BEC 2025 tuh bukan event biasa—ini festival rasa lifestyle. Lo bisa healing, explore budaya, sambil tetep gaya dan eksis. Semua elemen millennial & Gen Z friendly banget: dari tema “Ngelukat” yang sakral tapi tetap relate, sampe musik dan visual yang wow! Dan yang paling penting, GRATIS! Jadi, tandain kalender lo: 10–14 Juli 2025, siapin outfit paling kece, ajak temen-temen lo, dan pastiin lo ada di tengah-tengah hype-nya Banyuwangi Ethno Carnival. Karena ini bukan sekadar nonton karnaval, ini momen lo ngerayain hidup bareng budaya lokal! (Sumber Foto: @morint_official)

   

Other Event

Apr/29 | Solo Menari 2026

TripTrus.Com - Kalau lo lagi cari event budaya yang vibes-nya beda tapi tetap relate sama zaman sekarang, Solo Menari 2026 ini wajib banget masuk radar lo. Festival tari yang digelar sehari penuh di Kota Solo ini hadir buat ngerayain Hari Tari Dunia, tapi bukan sekadar seremoni biasa—ini tuh semacam ruang bebas buat para penari mengekspresikan diri dengan cara yang fresh, kreatif, dan tentunya tetap berakar pada budaya Nusantara. Tahun ini, temanya “Aku Kipas (Aha Pankha)”, yang terinspirasi dari perjalanan panjang kipas tangan dan kipas lipat yang udah eksis sejak ribuan tahun lalu dan jadi elemen penting dalam berbagai tradisi tari di dunia, termasuk di Indonesia. [Baca juga : "Gendhing Budaya 2025"] Menariknya, konsep “kipas” di sini nggak cuma dilihat sebagai properti tari doang, tapi juga sebagai simbol yang lebih dalam—kayak berbagi manfaat, menyebarkan energi positif, dan menghubungkan satu sama lain lewat gerak dan rasa. Jadi, para penari diajak buat ngeksplorasi kreativitas mereka sebebas mungkin, menciptakan karya-karya inovatif yang tetap nyambung sama akar budaya lokal. Bisa dibilang, Solo Menari ini jadi wadah di mana tradisi dan modernitas ketemu, terus di-mix jadi sesuatu yang relevan buat generasi sekarang—baik lo yang milenial, Gen Z, atau siapa pun yang pengin ngerasain seni dengan cara yang lebih hidup dan dekat.       Lihat postingan ini di Instagram Sebuah kiriman dibagikan oleh Deffry Adyatama (@deffryadyatama) Dengan atmosfer yang terbuka untuk publik, festival ini juga jadi ajang buat masyarakat luas buat lebih dekat sama dunia tari. Nggak harus jadi penari profesional dulu kok buat menikmati—cukup datang, lihat, dan rasakan sendiri gimana energi budaya itu “hidup” di tengah kota. Jadi ya, kalau lo pengin ngerasain experience budaya yang nggak kaku dan justru penuh warna, Solo Menari 2026 ini bisa jadi jawaban yang lo cari. (Sumber Foto @kam.maula)...
more.

Apr/08 | Aceh Culinary Festival 2026

TripTrus.Com - Aceh Culinary Festival 2026 (ACF26) balik lagi, dan kali ini vibes-nya makin niat, makin fresh, dan pastinya makin bikin lo ngiler, gue jamin. Dengan tema “Celebrating The Authenticity of Aceh’s Living Culinary Heritage,” festival ini nggak cuma soal makan enak, tapi juga ngerayain warisan kuliner khas Aceh yang hidup dan terus berkembang sampai sekarang. Lo bakal nemuin konsep baru yang disebut Foodscape Jalur Rasa, di mana kuliner dari 23 kabupaten/kota di Aceh sampai 10 provinsi di Sumatra dikurasi jadi satu pengalaman rasa yang super lengkap. Ditambah lagi ada 6 Pulau Kuliner dan 6 pameran tematik kekinian yang bikin festival ini terasa lebih immersive, bukan sekadar event makan biasa. [Baca juga : "Festival Adat Dan Budaya Lom Plai 2026"] Yang bikin ACF26 makin beda, mereka juga ngegabungin konsep Digital Gastronomy, jadi pengalaman kuliner lo nggak cuma analog tapi juga digital-savvy, cocok banget buat lo yang doyan konten dan update sosmed. Ada juga masterclass bareng chef kece sampai pengalaman eksklusif kayak Secret Dinner yang berasa fancy tapi tetap relate. Nggak cuma itu, festival ini juga makin peduli lingkungan, jadi lo bakal nemuin water station, sistem pemilahan sampah, dan campaign #BawaBotolSendiri—simple tapi impactful, bro.       View this post on Instagram A post shared by Valensia Harumi E. / Varumi (@valedgina) Terus, yang nggak kalah seru, ada Khanduri Aceh 23 Belanga yang vibes-nya tradisional tapi dikemas dengan cara yang lebih engaging, plus flashmob Seudati yang bikin suasana makin hidup. Bahkan pengunjung juga diajak ikut co-creation konten, jadi lo bukan cuma penonton, tapi juga bagian dari cerita. Setelah event selesai pun nggak langsung hilang gitu aja, karena bakal ada output lanjutan kayak buku kuliner, foto, sampai podcast yang makin nge-push posisi ACF sebagai ikon gastronomi Aceh. Jadi ya, kalau lo nanya ini festival worth it atau nggak—jawabannya: jelas banget iya, gue aja pengen banget ke sana. (Sumber Foto indonesia.travel)...
more.

Mar/20 | Festival Adat dan Budaya Lom Plai 2026

TripTrus.Com - Festival Adat dan Budaya Lom Plai bukan sekadar perayaan panen biasa, tapi refleksi mendalam tentang hubungan manusia, alam, dan leluhur yang masih dijaga erat oleh masyarakat adat Wehea di Muara Wahau. Di balik kemeriahannya, tersimpan makna filosofis yang kuat—bahwa hasil panen bukan cuma soal kerja keras, tapi juga bentuk harmoni antara manusia dan semesta. Makanya, saat puncak acara Embob Jengea digelar, seluruh warga tanpa terkecuali ikut larut dalam suasana yang sakral sekaligus hangat, dari anak-anak sampai para tetua adat, seakan semua generasi disatukan dalam satu napas tradisi yang sama. Lo bisa ngerasain kalau ini bukan event yang dibuat-buat, tapi benar-benar hidup dan tumbuh dari akar budaya mereka sendiri. [Baca juga : "Solo Menari 2026"] Dimulai dari dentuman gong sakral yang dipukul oleh keturunan raja, momen itu bukan cuma seremoni pembuka, tapi simbol izin sekaligus panggilan spiritual untuk memulai rangkaian ritual. Dari situ, gotong royong berjalan bukan sebagai kewajiban sosial semata, tapi sebagai bentuk kesadaran kolektif yang udah mendarah daging. Gue ngeliat Lom Plai ini kayak pengingat keras di tengah dunia yang makin individualistis—bahwa kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam itu bukan hal yang bisa diganti teknologi atau tren apa pun. Tradisi ini jadi semacam “ruang pulang” buat identitas mereka.       View this post on Instagram A post shared by Pesona Indonesia (@pesona.indonesia) Sejak Nehas Liah Bing ditetapkan sebagai Desa Adat dan Konservasi pada 2006, Lom Plai memang makin dikenal luas, bahkan jadi daya tarik wisata budaya. Tapi menariknya, di tengah eksposur itu, esensi sakralnya tetap dijaga, nggak berubah jadi sekadar tontonan. Justru di situlah letak kekuatannya—lo nggak cuma datang buat lihat budaya, tapi diajak untuk memahami cara hidup yang lebih selaras dan penuh makna. Jadi kalau lo pikir ini cuma festival buat konten atau estetika, jujur aja lo bakal ketinggalan inti paling pentingnya: ini adalah cerita tentang identitas, keberlanjutan, dan cara manusia menghargai hidup itu sendiri. (Sumber Foto indonesia.travel)...
more.

Comment

ButikTrip.id
remen-vintagephotography

Upcoming Trips

Open Trip Dieng Plateau
03 - 05 Apr 2026
Open Trip Dieng Plateau
03 - 05 Apr 2026
Open Trip Sebesi Krakatau
03 - 05 Apr 2026
Open Trip Pulau Pari
04 - 05 Apr 2026
Open Trip Pulau Tidung
04 - 05 Apr 2026
×

...